"Heh!" teriak Prita.
Tia yang sedang tertidur di bangku panjang yang ada di rooftop pun terkejut, hampir saja dia jatuh dari kursinya.
"Nggak tidur ap-... ya ampun, mata lu kenapa sembab gitu? emang lu putus sama pacar lu? kan lu nggak punya pacar!" cerocos Prita. Dia sedikit kesal dengan sahabatnya ini, dari pagi dia terus menerus mencari Tia karena ingin nitip nasi uduk, eh, si empunya malah tak terlihat barang hidungnya.
"Apa sih lu, berisik amat pagi-pagi!" kesal Tia sambil duduk dan menyandarkan kepalanya di tembok. Matanya menyipit karena cahaya matahari yang sangat menyilaukan.
"Duhh silaunya..." gumamnya.
"Tuh, lu tau silau! berarti ini bukan pagi lagi, tapi siang! kemana aja si lu? gue cari cari dari tadi," Prita kesal namun tetap duduk di sebelah Tia. Sebenarnya dia penasaran ada apa gerangan dengan temannya ini.
"Bintang sakit?" tanyanya dengan nada yang lebih tenang.
Tia menggelengkan kepalanya.
"Trus kenapa?"
"Gue udah nggak tinggal sama Bintang," Tia tertunduk.
"Hah?! kok bisa? Bintang ke mana? di taruh panti? Ibu mu yang melakukannya?" Prita menggoyang goyangkan kedua pundak Tia dengan tangannya, meminta jawaban dari sahabatnya yang tampak lesu.
Tia menghela napas dengan keras, "dia di bawa bapaknya!"
"Hah?! ba-bapaknya? Ayah Nya Bintang muncul? siapa dia? di mana rumahnya?! ayo kita ambil lagi si Bintang! dasar lelaki durjana! sudah bikin anak, nggak mau ngurusin, anak udah besar main ambil aja! harus di sliding beneran nih laki!"
lagi lagi Tia mendesah, "lu kalo marah-marah, bisa nggak di kondisikan biar iler lu kagak muncrat semua," ucap Tia sambil mengusap pipinya.
"Gue kesel, Tia! lu kok diem aja, nggak kayak lu yang biasanya! lawan dong! bila perlu lapor polisi!" Prita dengan menggebu-gebu menyuarakan ide nya.
"Gue nggak diem, dia datang bawa hasil tes DNA, trus bawa duit sekoper buat Ibu. Gue nggak bisa berbuat apa-apa lagi, apalagi lu tau sendiri kan? nyokap gue gimana kalau liat duit..."
Prita terdiam, "bawa duit sekoper? ayahnya Bintang orang kaya? kayak apa orangnya? gue penasaran nih?"
Tia menatap Prita, "Pak Troy itu ayahnya Bintang!"
"Apa!!!!"
"Tunggu.. tunggu, biar gue mencerna semuanya..." Prita menghembuskan napas beberapa kali, mencoba mengatur emosi yang bergejolak dalam dirinya. Ini benar-benar kabar terheboh tahun ini! Prita benar-benar tak menyangka jika CEO yang baru pulang dari luar negri itu ayahnya Bintang, sang CEO yang tampan rupawan bak dewa Yunani ternyata ayahnya Bintang, keponakan nya yang ganteng? pantas saja Bintang begitu mempesona, ternyata memang keturunan gen unggul dari ayahnya.
"Tunggu, berarti Pak Troy mantan pacar Kak Rani, dong? waktu Kak Rani meninggal dia nggak datang, kan? seharusnya kalau dia menginginkan anaknya, saat kak Rani meninggal dia datang dong, bawa anaknya itu. Bukan malah ngebiarin begitu saja!"
"Itu karena Troy nggak tau kalau Rani punya anak."
Suara yang tiba-tiba muncul, sontak mengagetkan Prita dan Tia. Mereka berdua kompak menoleh tanpa di komando.
"Pak Okta?!"
Okta tersenyum dan berjalan mendekati Tia. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya daan menyerahkannya pada Tia.
"A-apa ini?" tanya Tia bingung sambil terus memperhatikan benda berbentuk persegi tipis berwarna hitam.
"Itu kartu kredit perusahaan, Troy bilang kamu harus punya, supaya saat dia meminta kamu beli sesuatu, nggak ada alasan kamu nggak punya uang."
"Ck! bilang sama bos mu itu, kalau makan yang normal normal aja! gado gado kek, nasi uduk kek, ketoprak atau apa gitu! nggak usah steak aneh aneh, segala sapi Jepang di bawa-bawa! sono makan di Jepang aja!"
Okta terkekeh, "Aku nggak ikutan, ya!" ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya.
"Oh ya, ngomong-ngomong, apa Rani pernah memberi tahu sesuatu?"
"Memberi tahu apa?"
"Ya, alasan dia meninggalkan Troy dan memilih uang satu milyar..."
"Apa? Kak Rani meninggalkan Troy demi 1M? jangan ngomong sembarangan, kamu?!" Tia yang tahu betul sifat kakaknya, tak Terima jika kakaknya dianggap sebagai wanita mata duitan.
"Troy yang ninggalin kak Rani! dia tahu kak Rani hamil lalu kabur, lepas tanggung jawab!"
Okta menggelengkan kepala, "kalau Troy tahu Rani hamil, dia tak akan mau di putuskan begitu saja. Gue kenal sekali sifat Troy, walaupun terlihat seperti orang yang nggak perduli dan seenaknya, dia itu sangat bertanggung jawab, untuk apapun."
Tia terdiam, memikirkan ucapan Okta. Benarkah kak Rani meninggalkan kekasihnya demi uang? tapi kalau tidak, dari mana kak Rani bisa membeli rumah dan meninggalkan uang ratusan juta untuk biaya hidup Bintang dan sekolah Tia?
Mungkinkah ucapan Okta benar adanya?
Tia bangun dari duduknya sambil mengepalkan tangan, "a-aku masih punya banyak pekerjaan," ucapnya sambil berlalu pergi meninggalkan Okta dan Prita yang masih membeku di kursinya.
"Pst!" Okta menjentikkan jarinya beberapa kali di depan Prita yang masih bengong.
"Hei!"
"Ah! i-iya, Pak! Saya Prita dari divisi umum," ucap Prita reflek saat tersadar dari lamunannya.
Okta tersenyum, "kembali ke ruangan mu, jam makan siang hampir habis," ucapnya sambil menunjukkan arloji mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ah.. i-iya, Pak!" jawab Prita gugup, sambil berlari mengejar Tia.
***
"Di mana si OG kampungan itu! jam makan siang sudah hampir selesai," Troy mengambil ponselnya yang tergeletak di meja kerjanya.
Dia langsung menekan tombol nomer 5 dan munculah nama 'OG kampungan' di layarnya.
"Ck! temponya nggak aktif!" gumamnya kesal.
"Kemana juga si Okta ini!" kekesalannya bertambah karena dia tak menemukan asisten pribadinya itu. Setelah meeting usai, Okta langsung kabur entah ke mana. Bahkan ponselnya masih tertinggal di ruangan Troy.
'I wish... I was who you drunk texted at midnight... wish i was the reason you stay up till 3...' tiba-tiba terdengar lagu 'drunk text' dari ponsel Troy.
Troy melirik ponselnya sekilas, hanya nomer asing yang muncul di sana.
"Siapa?" gumamnya bermonolog.
"Ya Hallo?" akhirnya Troy memutuskan untuk menjawab telpon dari nomer tak di kenal itu.
"Halo? ini ayahnya Bintang?" tanya seorang wanita dari seberang telepon.
"Iya, dari mana ini?"
"Saya Septi, guru Bintang di TK..."
"Oh iya, ada apa ya? kalau ada hal yang ibu butuhkan, Ibu bisa bicarakan dengan pengasuh Bintang. Dia ada di sana, kan?"
"Masalahnya... Bintang sekarang ada di Rumah Sakit... "
"Apa!!!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
sunshine wings
Huhhh!!!
2024-09-05
4