"Tia?"
Tia menoleh ke arah Tuti dengan tatapan kosong.
"Kamu kenapa?" melihat wajah Tia yang sangat kusam di pagi yang cerah ini membuat Tuti terkejut. Tidak biasanya Tia memasang tampang seperti ini, Tia yang dia kenal selalu ceria bukan mendung seperti langit yang akan turun hujan.
"Ada masalah?"
"Mbak Tuti... anakku di ambil orang..." ucap Tia setengah berbisik karena menahan tangisnya.
"Hah? gimana ceritanya?" Tuti meraih lengan Tia dan memapahnya ke sebuah bangku yang ada di dekat pantry. Dia mengajak Tia duduk dan bersiap mendengarkan ceritanya.
"Anakku di ambil oleh ayahnya," ucap Tia sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Hah? lalu bagaimana? kamu biarkan begitu saja dia mengambil anakmu?!"
"Dia bawa bukti tes DNA, kalau aku maju ke pengadilan, pasti aku kalah, karena Bintang bukan anak kandungku..." suara Tia makin lirih dan akhirnya dia menangis. Matanya sudah bengkak, di tambah menangis lagi entah akan jadi apa kantong matanya itu.
Tuti terdiam mendengar ucapan Tia, "tunggu, aku kok nggak paham ya?"
"Jadi sebenarnya selama ini aku mengasuh anak dari almarhum kakakku, dan tiba-tiba ayah dari si anak datang dan membawanya," tutur Tia.
Tuti hanya bisa membulatkan bibirnya sambil mengeluarkan suara "ooohhh..."
"Aku sayang banget sama Bintang, mbak. Aku nggak bisa hidup tanpa dia. Dia pasti menangis terus, dia nggak bisa tidur di tempat yang asing buatnya, dia pasti nyariin aku... memikirkannya aku jadi sedih dan nggak bisa tidur, aku... aku..."
"Eh, stt stt, ada Pak Troy!" Tuti menyenggol lengan Tia agar Tia berhenti bicara sampai bos besar nya itu berlalu pergi.
Namun bukannya diam, Tia malah langsung berlari mendekati CEO rasa model majalah dewasa itu.
"Bagaimana Bintang!" Tia meraih lengan jas Troy yang berwarna khaki, mencoba menghentikan langkahnya yang super panjang karena kakinya yang sangat jenjang.
Troy menatap Tia dengan jengah, "dia baik-baik saja. Dia kan bersama Ayahnya," ucap Troy cuek sambil melepaskan cengkraman tangan Tia yang sangat kencang hingga membuat lengan jas nya berkerut.
"Apakah Bintang tidak menangis? apakah dia bisa tidur? dia tak bisa tidur di tempat asing, dia pasti menangis," ucap Tia bertubi-tubi.
"Ck! dia tidak menangis, ya memang awalnya menangis namun sekarang dia sudah baik-baik saja. Tadi pagi saja dia sarapan dengan tenang lalu berangkat ke sekolah," ucap Troy sambil berusaha merapikan lengan jas nya yang kisut. Sebenarnya Troy tidak ingin bercerita sedetail itu pada Tia, namun melihat wajah sembab Tia, dia sedikit merasa iba. Tia pasti menangis semalaman karena berpisah dengan Bintang. Yah, selain miskin, sebenarnya Tia sangat sempurna merawat Bintang. Dia baik pada Bintang seperti kepada anaknya sendiri.
"Tolong Troy, eh, maksudku Mister Troy, tolong ijinkan Saya bertemu Bintang. Tidak setiap hari tak apa, seminggu sekali pun boleh, tolong..." pinta Tia memelas sambil menangkup kan kedua tangannya.
"Akan ku pikirkan... tergantung bagaimana kau..." Troy sengaja menggantung ucapannya.
"Apa? aku harus apa supaya kau mengijinkan aku bertemu Bintang?" Tia sudah tak perduli lagi dengan harga dirinya, dia yang biasanya berani menentang Troy, kali ini dia mengalah. Tia harus mengalah demi bisa bertemu Bintang.
Merasa menang, Troy tak bisa menutupi senyumnya.
"Aku ingin makan siang dengan steak, steak ribeye kobe. Kamu tau, steak jenis apa itu?"
Tia menggelengkan kepalanya.
"hmhh..." Troy tersenyum mengejek, "mana mungkin kau tau, makan saja pasti belum pernah. Ribeye Kobe itu menggunakan daging dari jenis sapi Tajima yang hanya di kembang biakkan di Hyogo -Jepang."
Tia terperangah, mana dia tau daging yang mau dia makan berasal dari Jepang atau dari Bekasi. Memangnya rasanya lain kalau sapinya tinggal di luar negri? bukankah hasilnya nanti sama saja jadi kotoran!
"Haha.. susah ngobrol sama orang miskin!"
Tia mengatupkan rahangnya, mengepal keras kedua tangannya, berusaha menahan emosi yang berkecamuk di dadanya. Semua demi Bintang.
"Saya akan menuruti semua perintah anda, asalkan Saya boleh bertemu Bintang..." ucap Tia mencoba terdengar kalem dan sopan.
"Ok, lupakan tentang makanan, aku akan pergi dan membelinya sendiri. Jika aku menyuruhmu, bisa bisa kau membelikan ku makanan nggak jelas lagi. Aku ingin kamu membersihkan ruangan ku. Jangan lupa siapkan buah buahan segar seperti apel dan jeruk di dekat meja kerjaku, setiap hari. Paham?"
Tia mengangguk anggukan kepalanya.
"Ganti pengharum AC ruangan ku setiap hari, aku suka bau green tea, jangan lupa itu!"
"Baik, ada lagi?" tanya Tia sambil mencatat semua perintah Troy.
"Untuk sementara itu dulu, nanti kalau aku butuh yang lain, aku akan menghubungi mu." Troy melambaikan tangannya dan berlalu meninggalkan Tia.
"Lalu kapan aku bisa bertemu Bintang?" tanya Tia setengah berteriak.
"Mungkin satu minggu lagi atau satu bulan lagi? tergantung bagaimana sikap dan kinerjamu!" ucap Troy cuek sambil berjalan meninggalkan Tia.
Tanpa sepengetahuan Tia, Troy tersenyum lebar. Dia bahagia karena merasa menang dari Tia. Saking senangnya dia bahkan sampai bersiul bahagia.
"Ck, ck, ck... gue nggak nyangka, Lo bisa gitu juga," ucapan Okta membuyarkan perasaan bahagia yang sedang berpesta di hati Troy.
"begitu bagaimana?"
"Bersikap kekanak-kanakkan saat bersama Tia, Lo kayak yang menikmati sekali, kenapa
sih, lo senang bisa menggoda bocah itu?"
"Bocah? umurnya sudah 20 tahun lebih kan? dia bukan lagi 'bocah'," balas Troy sambil terus tersenyum.
Troy menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Okta, "kenapa ya? mengganggu dia rasanya menyenangkan, gue jadi bersemangat."
"Hati-hati lo, lama lama jadi cinta, tau rasa!"
"Hahaha... kayak nggak ada cewek lain di dunia ini! Oh ya, by the way.. Puji itu beneran kompeten kan? soalnya sikapnya sedikit mengganggu."
"Mengganggu? mengganggu gimana?"
"Ah, sudahlah. gue bisa handle, yang penting dia bisa kerja mengurus Bintang dengan baik, yang lainnya bisa gue maklumin. Ayo kita ke ruang meeting!"
"Siap, bos."
"Oh, ya. credit card untuk Tia sudah Lo buat?"
"Sudah, nanti siang bakal gue serahin ke orangnya."
"Great! this is perfect day!" seru Troy girang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments