"Aku nggak mau!!! aku mau Mama!!!!" teriakan Bintang menggelegar memenuhi kamar mewah yang sengaja Troy buatkan untuknya.
"Di sini kamu punya mainan banyak, kamar yang luas, kamu mau apa lagi? nanti semua kubelikan!" ucap Troy, berusaha menenangkan anaknya.
Rasanya kepala Troy mau pecah karena terus terusan mendengarkan suara Bintang yang super nyaring. Awalnya Bintang sangat tenang, namun saat dia menanyakan keberadaan Tia dan mendapatkan jawaban yang membuatnya kesal, dia langsung marah dan berteriak tak mau berhenti.
"Aku nggak mau!!! aku mau Mama!!!"
"Sekarang kamu sama Papa! aku Papa mu!" ucap Troy setengah membentak dan sontak membuat Bintang terdiam lalu menangis.
Troy mendengus, hampir saja dia merasa putus asa.
Kenapa anak kecil sulit sekali di atur! "Aku nggak tahan lagi!" Troy bergegas ke luar dari kamar Bintang dan duduk di sofa ruang tamu. Dia merebahkan kepalanya dan mulai mengatur napas untuk meredakan emosi. Dia tak boleh marah, bisa bisa Bintang membencinya, dan Troy tidak mau hal itu terjadi.
Troy mengambil ponselnya dan mulai menelpon okta, asistennya.
"O, gimana? Lo sudah dapat?"
"Sudah? thanks God! gue hampir gila di sini!" geram Troy.
"Kapan Lo sampai? sebentar lagi?"
Ting tong.
Troy terdiam, "lo, yang pencet bel? sialan!" dengan perasaan lega, Troy bangun dari duduknya dan berlari kecil menuju pintu.
"Kangen banget Lo sama gue?" kelakar Okta saat melihat Troy terburu-buru membuka pintu apartement nya.
"Sial, Lo. Mana orangnya?"
Okta tersenyum kemudian bergeser untuk menunjukkan wanita yang dia bawa. Seorang wanita bertubuh gemuk dengan rambut di kucir kuda tersenyum pada Troy.
"Selamat sore, Pak. Nama saya Puji."
"Berapa umurmu?"
"Saya 25 tahun pak, masih single," jawabnya sambil tersenyum.
Troy terdiam lalu akhirnya mempersilahkan Puji untuk masuk.
"Memangnya nggak kemudaan ya? apa dia bisa mengurus Bintang, anak aja belum pernah punya?" bisik Troy pada Okta.
"Ck, gue ambil dia dari yayasan, nggak sembarangan! dia di sana juga pasti sudah di latih, kan. Sudah percaya aja sama gue!" Okta berusaha meyakinkan Troy.
Troy menghela napas dan menganggukkan kepalanya.
"Pak, di mana kamar saya?" tanya Puji sambil tersenyum cerah.
"Oh, iya. Kamu bisa pakai kamar tamu yang ini..." sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Troy menunjukkan sebuah kamar yang lumayan besar yang ada di sebelah kamar Bintang.
Apartement milik Troy hanya memiliki tiga kamar tidur, dan tak ada kamar pembantu. Sewaktu membeli apartement ini, tak pernah terlintas dalam pikirinnya, dia bakal tinggal dengan seorang anak dan seorang pengasuh.
"Aku harus beli apartement yang lebih besar," gumam Troy sambil berkacak pinggang menyaksikan kamar tamunya di gunakan oleh pengasuh. Sebab kamar itu biasanya dia gunakan untuk menghabiskan malam dengan Ross atau siapapun yang dia inginkan.
"Beli rumah sepertinya lebih cocok," timpal Okta.
Troy mengangguk, "aku setuju denganmu," ucap Troy sambil bergumam.
"Oh, ya. Nanti malam lo ada acara di Hotel One, jangan lupa."
Troy menarik napas untuk kesekian kalinya, "No problem, lagipula Bintang sudah ada pengasuh, gue bisa tenang."
***
"Sh*t! gue minum terlalu banyak..." gumam Troy sambil berusaha berdiri tegak di depan pintu apartement nya.
"Sudah jam 12 malam, Bintang pasti sudah tidur..." gumamnya lagi sambil berusaha membuka pintu karena matanya sedikit kabur akibat mabuk.
Saat pintu rumahnya berhasil terbuka, Troy menghela napas lega. Buru-buru dia pun masuk, namun karena keadaan di dalam rumah yang gelap, tangannya menggapai-gapai mencari saklar lampu. Untuk berdiri tegak saja dia susah, apalagi harus berjalan dalam kondisi gelap gulita begini.
"Pak Troy?"
Troy terkesiap mendengar suara seseorang, akhirnya dia menemukan saklar lampu dan menekannya hingga ruangan itu menjadi terang benderang.
Sebenarnya Troy sudah tau ada orang di dekatnya karena tadi dia mendengar suara wanita pengasuh Bintang, tapi dia tak mengira jika Puji berdiri sangat dekat dengannya. Dia bahkan memakai baju tidur yang sangat tipis, hingga Troy bisa melihat warna bra yang melekat erat itu.
"Kau... belum tidur?"
Puji tersenyum, "mari saya bantu..." ucapnya sambil melingkarkan tangannya di pinggang Troy. Dengan cepat, Troy mengelak.
"No! jangan hiraukan aku, pergi..." gerutu Troy sambil berjalan gontai menuju kamarnya.
Setelah masuk ke dalam kamar, Troy langsung melemparkan tubuhnya di atas ranjang, dia pusing dan ingin tidur secepatnya.
"Pak, minum dulu," tiba-tiba Puji si pengasuh Bintang sudah ada di samping ranjang Troy, masih mengenakan pakaian tipisnya, dia membawakan segelas air mineral untuk Troy.
Lagi-lagi, Troy di buat terkejut olehnya.
"Damn!" geramnya.
"Tolong hargai privasi Saya! jangan pernah masuk ke kamar Saya, kalau kamu masih ingin bekerja di sini!" ucap Troy dengan tegas.
"Oh, maaf Pak. Saya cuma mau mengantar ini," puji meletakkan gelas yang di bawanya ke atas nakas. "Saya permisi," lalu bergegas keluar dari kamar Troy.
"Dasar orang tolol! kenapa semua perempuan miskin selalu bermimpi jadi Cinderella, konyol!" geram Troy.
Dengan susah payah dia bangun dan berjalan menuju pintu kamarnya, lalu menguncinya.
"Gue harus waspada! jangan sampai ada yang menjebak gue saat mabuk!" gumamnya sambil berjalan kembali ke ranjangnya dan merebahkan tubuhnya. Tak memakan waktu lama dia pun terlelap.
***
Troy mengejapkan matanya beberapa kali saat mendengar ponselnya terus menerus berdering. Dengan mendengus kesal dia meraba-raba kantong celananya untuk mengambil ponsel yang terus berdering dan bergetar.
"Haloo...," ucapnya dengan suara parau.
"Benar firasat gue, lo pasti masih tidur," ucap suara dari sebrang telepon.
"Gue masih ngantuk banget, O... jangan ganggu..." gumam Troy sambil melemparkan ponselnya.
"Satu jam lagi, gue jemput! Lo ada meeting penting!" teriak Okta dan hanya di jawab dengan erangan Troy.
"Sh*t! harusnya gue nggak minum semalam!" ucap Troy bermonolog sambil berusaha bangun dari tidurnya.
"Oh.. God... gue bau..." gerutunya lagi sambil berjalan menuju kamar mandi.
Dan saat Troy berdiri di bawah shower dan terkena siraman air dingin, rasa mabuknya berangsur pulih.
Setelah memakai setelan lengkap, Troy pun keluar dari kamarnya. Saat melihat seseorang duduk di ruang makan, dia tampak terkejut sekaligus senang.
"Bintang?" panggilnya tak percaya. Anak yang kemarin seharian menangis dan tantrum, hari ini dia duduk dengan tenang sambil makan roti bakar yang di olesi selai nanas.
Bintang hanya diam sambil terus menunduk dan menikmati sarapannya.
Troy tak mempermasalahkannya, yang penting baginya adalah Bintang sudah tenang dan mau makan. Ternyata, walaupun agak kurang ajar, Puji bisa mengerjakan tugasnya mengasuh Bintang dengan baik. Troy berpikir untuk memberinya bonus nanti saat gajian.
"Bintang, sudah waktunya berangkat," Puji meraih tas bintang dan menarik tangan Bintang perlahan. Binatang pun menurut dan berjalan pelan mengikuti Puji.
"Belajar yang rajin ya."
Ucapan Troy tak mendapatkan respon sama sekali dari Bintang, namun Troy tetap memaklumi nya, yah... anak kecil kan memang suka ngambek.
Troy tersenyum sambil terus memperhatikan Bintang.
"Kenapa jalannya terseok-seok begitu? memangnya kemarin dia berjalan seperti itu?" gumam Troy sambil menyesap kopinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Ddek Aish
jangan-jangan di siksa lagi sama pengasuhnya
2024-11-10
1