Bab 20 Sepotong Ingatan

Samuel masih terdiam ketika Soraya menemuinya dikamar rumah sakit.

Sekembalinya dia mengejar anggota gangster lorong kucing, Soraya langsung memutuskan kembali kerumah sakit atas perintah Samuel.

Soraya lalu duduk dikursi dekat tempat tidur.

"Apa kau akan terus menatapku seperti itu ?" tanya Soraya.

Soraya melirik diam-diam kearah Samuel yang duduk bersandar dibahu tempat tidur sedang memandanginya.

Samuel menghela nafas panjang lalu mendongak keatas.

"Hufhhh..., setidaknya kau menyadari bahwa aku sangat mengkhawatirkanmu", kata Samuel seraya menatap kembali pada Soraya.

"Aku tahu itu...", sahut Soraya dengan kepala tertunduk sembari memainkan ujung-ujung jari tangannya.

"Lantas ? Kenapa kamu tidak mendengar panggilanku ?" tanya Samuel.

"Aku hanya ingin membantumu", sahut Soraya pasrah.

"Tapi itu justru tidak membantuku malah semakin membuat pusing kepalaku", kata Samuel.

"Maaf...", jawab Soraya.

"Tidakkah kau tahu bahwa aku harus terpaksa disuntik obat penenang setelah kau pergi dariku", kata Samuel.

Samuel menatap dingin kearah Soraya.

"Itu sangat sakit sekali, sakit, Soraya", ucap Samuel.

"Ya...", jawab Soraya dengan kedua mata berkaca-kaca.

"Jika kau tahu itu sangatlah sakit lalu kenapa kamu tidak segera kembali padaku malah kau pergi tanpa menghiraukan diriku", kata Samuel.

"Tapi mereka harus dikejar", ucap Soraya.

Samuel mendengus kesal seraya menyisir rambutnya kebelakang.

"Tanpa seijin dariku, mustahil semua terselesaikan, untung Raymond memberitahuku jika kau pergi mengejar mereka", kata Samuel.

"Mereka menembaki kantor dan orang-orang disana, Samuel ! Bahkan mereka membuat kerusuhan dengan menciptakan kebakaran !" ucap Soraya membela dirinya.

"Dan kau tahu kalau hal itu sangat membahayakanmu bahkan dapat mencelakakanmu jika mereka menangkap dirimu, Soraya", sahut Samuel.

"Aku tidak peduli...", ucap Soraya.

"Dan bagaimana pedulinya aku terhadapmu, Soraya ?!" kata Samuel.

Soraya mendadak terdiam, hanya memandangi Samuel dengan wajah serius.

"Aku sangat mempedulikanmu bahkan aku tidak peduli seandainya kantorku hangus tak tersisa sekalipun, asal kau baik-baik saja", kata Samuel.

"Oh, Samuel...", sahut Soraya terharu.

"Demi Tuhan ! Aku bersyukur dapat melihatmu dan kita masih bisa bertemu kembali !" kata Samuel.

Samuel menarik pelan tangan Soraya lalu mendekap tubuh istrinya itu dengan penuh perasaaan mendalam.

"Betapa cemasnya aku saat kau berlari pergi, Soraya !" bisik laki-laki tampan itu ditelinga Soraya.

"Lantas bagaimana dengan para gangster itu ?" tanya Soraya.

"Kenapa yang ada dipikiranmu justru mereka ? Tidakkah kamu mempedulikan diriku yang sangat mengkhawatirkanmu ?!" sahut Samuel.

"Benarkah itu...", ucap Soraya sambil mendongak kearah Samuel.

Samuel menatapnya dengan pandangan teduhnya lalu tersenyum lembut pada Soraya.

"Haruskah aku berkata berulang-ulangkali tentang perasaanku ini ?" ucap Samuel.

"Aku hanya butuh kepastian darimu saja", kata Soraya lalu memeluk kembali tubuh Samuel.

"Jangan pernah meragukan diriku lagi, tetaplah yakin akan cintaku ini padamu, Soraya", jawab Samuel sembari mempererat pelukannya.

"Seandainya kita bisa berjanji dan menepatinya", kata Soraya.

"Pernikahan adalah janji suci yang sesungguhnya, tidak seharusnya ada keraguan didalam rumah tangga kita, Soraya", sahut Samuel sambil membelai lembut kepala Soraya.

Soraya termenung diam usai Samuel berkata demikian tentang arti sebuah mahligai pernikahan.

Suasana terasa berbeda, lebih tenang dirasakan oleh Soraya saat dirinya berpelukan dengan Samuel.

"Apa yang akan kita lakukan terhadap mereka ?" tanya Soraya.

"Tidak ada untuk sekarang", sahut Samuel.

...***...

Keesokan harinya..

Soraya berjanji akan mengantarkan Samuel untuk foto rontgen hari ini.

Berjanji akan datang pagi sekali sekitar jam enam pagi tetapi Soraya terlambat bangun sehingga dia terpaksa menunda waktu sarapannya.

"Aduh... ?! Aku terlambat bangun !" ucapnya sembari membasuh cepat wajahnya dengan air.

Soraya berencana tidak mandi tetapi tubuhnya menolak hal itu.

"Ahk ! Kenapa tubuhku selalu berkeringat, dan ini membuatku gerah ?!" keluhnya putus asa.

Soraya terburu-buru mandi tanpa berendam terlebih dahulu, seperti kebiasaan yang dia lakukan selama ini.

Diguyurnya seluruh tubuhnya dengan air shower seraya mencuci rambutnya.

Bayangan kejadian buruk dimasa lalunya sebelum terlahir kembali sekarang ini, tentang sebuah ledakan hebat yang dia alami, bayangan itu hadir kembali dibenaknya.

Namun, Soraya hanya bisa teringat akan peristiwa mencekam itu tetapi tidak, ingatan-ingatan sebelum ledakan tersebut terjadi.

Suara ledakan besar masih terngiang-ngiang ditelinga Soraya jika dia mengingatnya.

Bagaimana raut wajah Samuel ketika suaminya itu berhasil menyelamatkan dirinya dari kobaran api dahsyat yang mengepung dirinya kala itu.

Saat Samuel membawanya keluar dari ledakan itu, Soraya kembali mengingat hal sedih itu dibenaknya, wajah Samuel yang penuh luka serta memerah karena terbakar masih diingatnya hingga kini.

Serrr... ! Soraya mematikan air shower lalu mengenakan handuk ditubuhnya.

Soraya berjalan kearah cermin yang tersedia dikamar mandi kemudian berdiri disana, sembari bercermin lama.

"Samuel...", bisiknya saat menatap lurus kearah cermin.

Soraya masih tidak mengerti akan kejadian naas yang menimpanya dan tiba-tiba Samuel telah membawanya keluar dari ledakan itu.

"Apa yang sebenarnya terjadi waktu itu ?" tanyanya saat dia mematut didepan cermin.

Pikiran Soraya dipenuhi dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan tentang peristiwa mematikan itu. Dan apakah yang terjadi pada mereka saat itu.

"Siapa yang telah menciptakan peristiwa mencekam itu ?" tanya Soraya melamun.

Soraya terus memikirkan peristiwa buruk itu, sayangnya, dia tidak menemukan apa yang menyebabkan ledakan besar itu terjadi.

Hal yang dia ingat dari peristiwa buruk itu hanyalah sepenggal ingatan jika dia dibawa oleh Samuel keluar dari kobaran api saat ledakan terjadi.

Entah dimana peristiwa itu terjadi, hanya yang dia ingat adalah wajah Samuel.

Soraya mengusap wajahnya dengan handuk berulangkali, mencoba menenangkan rasa gundah dalam hatinya.

"Dan dimana peristiwa ledakan itu terjadi ? Kenapa aku tidak mengingat sama sekali kronologi ledakan itu ?" tanyanya.

Kebingungan merambati diri Soraya ketika dia mengingat peristiwa buruk dimasa lalunya sebelum terlahir kembali.

"Dan apa penyebab semua itu terjadi ???" tanyanya dengan wajah putus asa.

Tiba-tiba Soraya mengingat kata-kata Kevin yang menjelekkan dirinya.

Mengatakan bahwa dia adalah perempuan jelek dan gemuk, sangat tidak menyenangkan masih terngiang hingga saat ini.

"Betina tak tahu diri ???" ucap Soraya mengulang kalimat yang diucapkan oleh Kevin didepan Hira ketika dicafe kopi.

Tangan Soraya mendadak bergetar jika mengingat ucapan Kevin yang menghina dirinya terus terang.

"Dia juga menyebutkan bahwa aku tak layak bahagia ?! Apa maksud dari perkataannya itu ?!" kata Soraya.

Soraya bergidik ngeri apabila mengingat ucapan Kevin.

Tiap kata-kata Kevin melekat dalam dihati Soraya padahal dia sangat baik terhadap Kevin selama ini.

Bagaimana bisa laki-laki brengsek itu mengkhianatinya ?

Apa hanya karena kekurangan dia yang tidak enak dipandang penampilannya oleh Kevin ?

Kenapa tidak dari dulu, Kevin meninggalkannya ?

Soraya mendekap tubuhnya dengan erat-erat.

"Astaga..., dia hanya ingin uangku...", keluh Soraya sambil mendongak keatas.

Tampak kedua matanya mulai berkaca-kaca karena ucapan Kevin tentang dirinya.

"Betapa naifnya aku dimata laki-laki brengsek seperti Kevin !" ucap Soraya seraya menggigit kuat bibirnya.

Soraya merasakan tubuhnya mulai menggigil tapi tidak kedinginan melainkan dirinya merasa kepanasan jika mengingat ucapan Kevin dengan Hira saat dicafe kopi.

"Tuhan...", ucapnya menyesal.

Menyesal karena pernah mempercayai Kevin bahkan memberi laki-laki itu ruang dihatinya hingga mengabaikan kehadiran Samuel, suaminya sendiri.

"Tuhan..., apa yang telah kuperbuat dulu ? Mengapa aku bisa jatuh kedalam muslihat Kevin dan terperdaya rayuannya ?" ucap Soraya lalu menitikkan air mata.

Namun, semua telah terjadi, tidak perlu lagi disesali semuanya, ibarat nasi telah menjadi bubur, dan tidak mungkin dapat kembali menjadi nasi seperti sebelumnya.

Terpenting sekarang ini, Soraya dapat kembali bersama dengan Samuel, pelan-pelan mereka mulai menata biduk rumah tangga mereka berdua kearah yang lebih baik serta menyongsong masa depan yang cerah.

Itulah harapan Soraya bersama Samuel saat ini, dikehidupan baru mereka, dikelahiran kembali dengan kesempatan kedua yang tak ingin mereka sia-siakan lagi.

Episodes
1 Bab 1 Terlahir Kembali
2 Bab 2 Dejavu
3 Bab 3 Tersadar
4 Bab 4 Kabar Mengejutkan
5 Bab 5 Tiba Dimarkas Geng Lorong Kucing
6 Bab 6 Akan Kubalas Kalian
7 Bab 7 Aku Tak Bisa
8 Bab 8 Selalu Ada Untukmu
9 Bab 9 Mulai Dekat
10 Bab 10 Romantisnya
11 Bab 11 Ternyata Lamunan
12 Bab 12 Penyesalan
13 Bab 13 Lembutnya Dia
14 Bab 14 Sentuhan Kecil
15 Bab 15 Kata-kata Ajaib
16 Bab 16 Adakah Kesempatan Itu
17 Bab 17 Sial !
18 Bab 18 Waktu Itu Seperti Bilah Pedang
19 Bab 19 Perintah Tetaplah Perintah
20 Bab 20 Sepotong Ingatan
21 Bab 21 Mulai Dari Hari Ini
22 Bab 22 Aku Ingin Kamu
23 Bab 23 Kita Sama
24 Bab 24 Waktu Pulang
25 Bab 25 Saat Kami Berdua
26 Bab 26 Malam Yang Panas
27 Bab 27 Pertama Masuk Kerja
28 Bab 28 Pertemuan Tak Sengaja
29 Bab 29 Ingatan Yang Aneh
30 Bab 30 Kegiatan Baru Soraya
31 Bab 31 Tanda Tanya Besar
32 Bab 32 Sesuatu Yang Mengesankan
33 Bab 33 Rahasia Selembar Foto
34 Bab 34 Kisah Dalam Foto
35 Bab 35 Menarik Perhatiannya
36 Bab 36 Perselisihan Kecil
37 Bab 37 Didalam Mobil
38 Bab 38 Waktu Bersama
39 Bab 39 Datangnya Kevin
40 Bab 40 Pertengkaran Terjadi
41 Bab 41 Sedetik Yang Menggairahkan
42 Bab 42 Kami Berdua Seperti Ini
43 Bab 43 Pagi Yang Bersemangat
44 Bab 44 Mesra
45 Bab 45 Dua Orang Dari Emerald Corp
46 Bab 46 Undangan Pesta
47 Bab 47 Tidak Ada Yang Perlu Kau Takuti
48 Bab 48 Berangkat Ke Pesta
49 Bab 49 Kau Selalu Berarti Buatku
50 Bab 50 Kejutan Di Pesta
51 Bab 51 Malam Pesta
52 Bab 52 Sebuah Kejutan Tak Terduga
53 Bab 53 Mengambil Kesempatan
Episodes

Updated 53 Episodes

1
Bab 1 Terlahir Kembali
2
Bab 2 Dejavu
3
Bab 3 Tersadar
4
Bab 4 Kabar Mengejutkan
5
Bab 5 Tiba Dimarkas Geng Lorong Kucing
6
Bab 6 Akan Kubalas Kalian
7
Bab 7 Aku Tak Bisa
8
Bab 8 Selalu Ada Untukmu
9
Bab 9 Mulai Dekat
10
Bab 10 Romantisnya
11
Bab 11 Ternyata Lamunan
12
Bab 12 Penyesalan
13
Bab 13 Lembutnya Dia
14
Bab 14 Sentuhan Kecil
15
Bab 15 Kata-kata Ajaib
16
Bab 16 Adakah Kesempatan Itu
17
Bab 17 Sial !
18
Bab 18 Waktu Itu Seperti Bilah Pedang
19
Bab 19 Perintah Tetaplah Perintah
20
Bab 20 Sepotong Ingatan
21
Bab 21 Mulai Dari Hari Ini
22
Bab 22 Aku Ingin Kamu
23
Bab 23 Kita Sama
24
Bab 24 Waktu Pulang
25
Bab 25 Saat Kami Berdua
26
Bab 26 Malam Yang Panas
27
Bab 27 Pertama Masuk Kerja
28
Bab 28 Pertemuan Tak Sengaja
29
Bab 29 Ingatan Yang Aneh
30
Bab 30 Kegiatan Baru Soraya
31
Bab 31 Tanda Tanya Besar
32
Bab 32 Sesuatu Yang Mengesankan
33
Bab 33 Rahasia Selembar Foto
34
Bab 34 Kisah Dalam Foto
35
Bab 35 Menarik Perhatiannya
36
Bab 36 Perselisihan Kecil
37
Bab 37 Didalam Mobil
38
Bab 38 Waktu Bersama
39
Bab 39 Datangnya Kevin
40
Bab 40 Pertengkaran Terjadi
41
Bab 41 Sedetik Yang Menggairahkan
42
Bab 42 Kami Berdua Seperti Ini
43
Bab 43 Pagi Yang Bersemangat
44
Bab 44 Mesra
45
Bab 45 Dua Orang Dari Emerald Corp
46
Bab 46 Undangan Pesta
47
Bab 47 Tidak Ada Yang Perlu Kau Takuti
48
Bab 48 Berangkat Ke Pesta
49
Bab 49 Kau Selalu Berarti Buatku
50
Bab 50 Kejutan Di Pesta
51
Bab 51 Malam Pesta
52
Bab 52 Sebuah Kejutan Tak Terduga
53
Bab 53 Mengambil Kesempatan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!