Bab 11 Ternyata Lamunan

Soraya tersentak dari lamunannya lalu tersadar sepenuhnya.

Bayangan dia mencium mesra Samuel terlintas sesaat ketika dia memandang ke arah wajah tampan suaminya yang menatap kepadanya.

Soraya membayangkan bahwa dia dan Samuel sedang berciuman mesra barusan saja, dialihkannya pandangannya ke arah lain ketika dia berpikir tentang semua khayalannya itu.

Wajahnya berubah semburat memerah saat memikirkan keinginannya bersama Samuel.

Soraya terburu-buru bangun dari atas tempat tidur rumah sakit seusai para perawat itu pergi dari kamar Samuel dirawat.

Sret... ! Soraya menarik cepat selimut agar menutupi tubuhnya yang terbuka polos karena baju atasannya robek oleh tarikan tangan Samuel.

Tap... Tap... Tap... Soraya berjalan ke arah meja, berniat mengambil ponsel miliknya yang tersimpan didalam tasnya tanpa menyadari jika Samuel terus memperhatikan dirinya.

Soraya mengeluarkan ponsel pribadinya untuk membeli baju lewat online.

"Apa yang kau lakukan ?" tanya Samuel dari tempat tidurnya seraya menatap ke arah Soraya.

"Aku hendak membeli atasan baju lewat pemesanan online", sahut Soraya gugup sembari menyibakkan rambutnya ke arah belakang telinga.

"Coba aku pinjam ponselmu !" kata Samuel.

"Apa ?!" sahut Soraya tertegun.

"Kemarikan ponselmu padaku !" ucap Samuel sambil mengulurkan tangan ke arah Soraya.

Soraya hanya terdiam tertegun sembari menimang-nimang ponsel miliknya, terlihat ragu-ragu untuk memberikannya pada Samuel.

"Jangan bingung ! Aku mau pinjam sebentar ponselmu ! Bolehkan ?" kata Samuel.

"Umm... ?!" gumam pelan Soraya sembari melirik sekilas ponsel yang ada ditangannya, bimbang.

"Cepatlah !" kata Samuel.

Soraya berjalan pelan mendekati tempat tidur Samuel, berdiri terdiam dengan memandang ke arah suaminya.

"Umm..., untuk apa kamu meminjam ponselku ?" tanya Soraya lalu menyerahkan ponsel miliknya kepada Samuel.

Samuel mengambil ponsel dari tangan Soraya tanpa menjawab kemudian dia terlihat sibuk dengan ponsel milik Soraya.

"Sudah !" ucapnya seraya mengembalikan ponsel Soraya.

"Apa ? Apa yang sudah ?" sahut Soraya agak keheranan.

Samuel menatap dingin kearah Soraya lalu berdecak pelan.

"Aku sudah memesan sebuah gaun baru untukmu dan sebentar lagi, akan diantar kemari", sahut Samuel.

"Apa kamu membeli gaun untukku ?" kata Soraya tak percaya dengan ucapan Samuel.

"Ya... Kenapa ?" sahut Samuel.

"Emm..., tidak apa-apa...", ucap Soraya sembari menggeleng pelan lalu terdiam termenung.

"Kalau begitu, kau bisa duduk disana !" kata Samuel sambil menunjuk ke arah kursi dekat meja.

Soraya menoleh sebentar ke arah kursi yang ditunjuk oleh Samuel lalu menghela nafas pelan.

"Kenapa kamu memintaku untuk duduk jauh darimu ? Disana ?" kata Soraya dengan wajah tertunduk malu.

Samuel menatap lama ke arah Soraya tanpa bergeming.

"Lalu ?" sahut Samuel seraya menaikkan kedua alisnya.

"Lalu ???" jawab Soraya.

"Lalu kau ingin duduk dimana ? Dipangkuanku ?" kata Samuel.

Soraya terhenyak kaget, cepat-cepat dia bereaksi dan berjalan agak menjauh dari sisi Samuel.

Namun, Samuel dengan sigapnya menangkap kain selimut yang melilit tubuh Soraya dan tak sengaja menyebabkan Soraya terjengkang jatuh kedalam pelukannya.

Keduanya saling berpelukan erat dan sama-sama terdiam.

Bayangan tentang ciuman mereka kembali melintas dibenak Soraya, mungkinkah bayangan itu akan benar-benar terwujud nyata.

Soraya masih terdiam ketika dia didekat Samuel, tak berani bergerak sedikitpun karena takut, jika dia akan membuat kesalahan.

"Soraya...", panggil Samuel dengan berbisik.

Panggilan Samuel sontak membuat seluruh pancaindra Soraya bereaksi tegang bahkan dia merasakan panas dalam dirinya.

Soraya tetap tidak berani bergerak dari posisinya sekarang sedangkan pelukan tangan Samuel mulai terasa membakar dirinya, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Tak terasa Soraya mencengkram kuat-kuat bahu Samuel sehingga laki-laki itu merasakan ketegangan yang dirasakan oleh Soraya.

Ditariknya pelan ujung dagu Soraya agar mendekat kepadanya.

Samuel tersenyum tipis ke arah istrinya dengan tatapan lembutnya, seolah-olah dia hendak menenangkan hati Soraya yang terlihat gundah saat bersamanya.

"Jangan takut padaku...", bisik Samuel.

Samuel memandang wajah cantik Soraya dengan teduhnya.

"Aku tidak akan memakanmu, Soraya", ucapnya lagi.

Soraya tersentak kaget saat Samuel mengucapkan kata-kata itu, dia agak menjauhkan wajahnya dari suaminya, akan tetapi Samuel menahannya.

"Aku bukan pria yang rakus akan tubuh cantik wanita karena aku masih punya harga diri yang tinggi untuk melakukan kesalahan", ucap Samuel.

Soraya terdiam tanpa menjawabnya sedangkan wajahnya terarah mendekat lekat ke arah wajah Samuel.

"Setidaknya aku bermartabat dan memiliki nurani untuk memakan wanita karena aku tidak suka memaksa", ucap Samuel.

Sudut bibir Samuel membentuk lengkungan indah, terlihat ambigu saat menatap wajah cantik istrinya.

Samuel menurunkan pandangannya ke arah dada Soraya lalu terdiam lama.

"Kecuali wanita itu memang menginginkan diriku bersamanya...", ucap Samuel lalu menurunkan tangannya ke arah bagian dada Soraya dengan mengusapnya cepat.

Tubuh Soraya menggelinjang kuat, setiap nadinya berdenyut cepat saat merasakan usapan tangan Samuel didadanya.

Suhu tubuh Soraya berubah sangat cepat dan mendadak seluruh tubuhnya menjadi panas dingin.

Soraya mencengkram kembali bahu Samuel tapi kali ini dia tidak mampu menahan desahannya.

Pikiran Soraya berubah pening serta berputar-putar melayang tak karuan saat Samuel mempercepat usapan tangannya. Dan bayangan kemesraan diantara mereka kembali melintas dipikiran Soraya, disaat-saat bayangan semu mereka berciuman.

Samuel mulai berani menyentuh dada Soraya dan menangkupkan telapak tangannya lama didaerah itu tanpa rasa jengah.

"Kau sungguh luar biasa Soraya...", bisik Samuel sambil mendengus pelan.

Samuel mendekatkan bibirnya pada leher Soraya lalu mengigitnya lembut dan membuat bekas memerah disana.

Soraya terengah-engah sesaat, tubuhnya berubah demam serta memanas kian tak menentu, tanpa dia sadari, Soraya menjerit pelan ketika Samuel kembali menggigitnya.

"Samuel...", jeritnya tertahan.

Soraya semakin menarik Samuel kedalam tubuhnya serta membiarkan suaminya berbuat leluasa padanya, gigitan-gigitan bibir tipis milik Samuel bertambah dalam disetiap jengkal leher Soraya dan seluruh leher Soraya dipenuhi oleh bekas merah disana.

Tiba-tiba Samuel menghentikan gerakan bibirnya lalu menjauhkan dirinya dari Soraya.

Soraya yang terbenam dalam lautan kenikmatan mendadak bingung.

Kepalanya pusing saat Samuel menghentikan gerakan tangannya pada tubuhnya, tanpa sadar, Soraya agak limbung dan dia hendak terjatuh.

Samuel dengan tangkasnya segera menangkap tubuh Soraya.

"Bertahanlah ! Sampai aku pulih sediakala, sayangku...", bisik mesra Samuel tepat ditelinga Soraya.

Soraya semakin gelisah, seakan-akan dipermainkan oleh Samuel, dia mendorong keras Samuel. Bruk !

"Aduh !" pekik Samuel dengan agak membungkuk karena menahan nyeri pada punggungnya.

Soraya bertambah panik ketika melihat Samuel kesakitan karena ulahnya lalu memperbaiki kesalahannya dengan mendekati suaminya.

"Maaf, aku tak sengaja...", ucapnya cemas.

Samuel masih menundukkan pandangannya sembari memegangi bahunya.

"Apa ada yang retak ?" tanya Soraya semakin panik karena dia tidak mendapatkan respon dari Samuel.

Samuel masih terdiam, sikapnya itu semakin membuat Soraya kebingungan serta bertambah cemas.

"Katakan padaku, mana yang sakit ??? Aku akan memanggil dokter untuk melihatnya !" ucap Soraya.

Samuel mengangkat kepalanya lalu menatap lurus ke arah Soraya.

"Bisakah kamu tidak selalu mengandalkan pada dokter ? Dan lebih memperhatikanku dengan sungguh-sungguh ?" ucap Samuel agak terlihat kesal.

"Maksudmu ?" sahut Soraya tak mengerti.

"Coba kamu periksa sendiri bagian punggungku ! Apakah terluka sobek atau baik-baik saja keadaannya ???" ucap Samuel sembari memiringkan punggungnya menghadap ke arah Soraya.

Soraya termenung diam saat Samuel menunjuk ke arah bagian punggungnya.

"Sekarang periksalah keadaannya !" perintah Samuel.

"Bagaimana aku memeriksanya ???" tanya Soraya dengan wajah bingung.

Sret... Sret... Sret... Samuel melepaskan seluruh kancing piyamanya lalu memperlihatkan bagian punggungnya kepada Soraya.

Episodes
1 Bab 1 Terlahir Kembali
2 Bab 2 Dejavu
3 Bab 3 Tersadar
4 Bab 4 Kabar Mengejutkan
5 Bab 5 Tiba Dimarkas Geng Lorong Kucing
6 Bab 6 Akan Kubalas Kalian
7 Bab 7 Aku Tak Bisa
8 Bab 8 Selalu Ada Untukmu
9 Bab 9 Mulai Dekat
10 Bab 10 Romantisnya
11 Bab 11 Ternyata Lamunan
12 Bab 12 Penyesalan
13 Bab 13 Lembutnya Dia
14 Bab 14 Sentuhan Kecil
15 Bab 15 Kata-kata Ajaib
16 Bab 16 Adakah Kesempatan Itu
17 Bab 17 Sial !
18 Bab 18 Waktu Itu Seperti Bilah Pedang
19 Bab 19 Perintah Tetaplah Perintah
20 Bab 20 Sepotong Ingatan
21 Bab 21 Mulai Dari Hari Ini
22 Bab 22 Aku Ingin Kamu
23 Bab 23 Kita Sama
24 Bab 24 Waktu Pulang
25 Bab 25 Saat Kami Berdua
26 Bab 26 Malam Yang Panas
27 Bab 27 Pertama Masuk Kerja
28 Bab 28 Pertemuan Tak Sengaja
29 Bab 29 Ingatan Yang Aneh
30 Bab 30 Kegiatan Baru Soraya
31 Bab 31 Tanda Tanya Besar
32 Bab 32 Sesuatu Yang Mengesankan
33 Bab 33 Rahasia Selembar Foto
34 Bab 34 Kisah Dalam Foto
35 Bab 35 Menarik Perhatiannya
36 Bab 36 Perselisihan Kecil
37 Bab 37 Didalam Mobil
38 Bab 38 Waktu Bersama
39 Bab 39 Datangnya Kevin
40 Bab 40 Pertengkaran Terjadi
41 Bab 41 Sedetik Yang Menggairahkan
42 Bab 42 Kami Berdua Seperti Ini
43 Bab 43 Pagi Yang Bersemangat
44 Bab 44 Mesra
45 Bab 45 Dua Orang Dari Emerald Corp
46 Bab 46 Undangan Pesta
47 Bab 47 Tidak Ada Yang Perlu Kau Takuti
48 Bab 48 Berangkat Ke Pesta
49 Bab 49 Kau Selalu Berarti Buatku
50 Bab 50 Kejutan Di Pesta
51 Bab 51 Malam Pesta
52 Bab 52 Sebuah Kejutan Tak Terduga
53 Bab 53 Mengambil Kesempatan
Episodes

Updated 53 Episodes

1
Bab 1 Terlahir Kembali
2
Bab 2 Dejavu
3
Bab 3 Tersadar
4
Bab 4 Kabar Mengejutkan
5
Bab 5 Tiba Dimarkas Geng Lorong Kucing
6
Bab 6 Akan Kubalas Kalian
7
Bab 7 Aku Tak Bisa
8
Bab 8 Selalu Ada Untukmu
9
Bab 9 Mulai Dekat
10
Bab 10 Romantisnya
11
Bab 11 Ternyata Lamunan
12
Bab 12 Penyesalan
13
Bab 13 Lembutnya Dia
14
Bab 14 Sentuhan Kecil
15
Bab 15 Kata-kata Ajaib
16
Bab 16 Adakah Kesempatan Itu
17
Bab 17 Sial !
18
Bab 18 Waktu Itu Seperti Bilah Pedang
19
Bab 19 Perintah Tetaplah Perintah
20
Bab 20 Sepotong Ingatan
21
Bab 21 Mulai Dari Hari Ini
22
Bab 22 Aku Ingin Kamu
23
Bab 23 Kita Sama
24
Bab 24 Waktu Pulang
25
Bab 25 Saat Kami Berdua
26
Bab 26 Malam Yang Panas
27
Bab 27 Pertama Masuk Kerja
28
Bab 28 Pertemuan Tak Sengaja
29
Bab 29 Ingatan Yang Aneh
30
Bab 30 Kegiatan Baru Soraya
31
Bab 31 Tanda Tanya Besar
32
Bab 32 Sesuatu Yang Mengesankan
33
Bab 33 Rahasia Selembar Foto
34
Bab 34 Kisah Dalam Foto
35
Bab 35 Menarik Perhatiannya
36
Bab 36 Perselisihan Kecil
37
Bab 37 Didalam Mobil
38
Bab 38 Waktu Bersama
39
Bab 39 Datangnya Kevin
40
Bab 40 Pertengkaran Terjadi
41
Bab 41 Sedetik Yang Menggairahkan
42
Bab 42 Kami Berdua Seperti Ini
43
Bab 43 Pagi Yang Bersemangat
44
Bab 44 Mesra
45
Bab 45 Dua Orang Dari Emerald Corp
46
Bab 46 Undangan Pesta
47
Bab 47 Tidak Ada Yang Perlu Kau Takuti
48
Bab 48 Berangkat Ke Pesta
49
Bab 49 Kau Selalu Berarti Buatku
50
Bab 50 Kejutan Di Pesta
51
Bab 51 Malam Pesta
52
Bab 52 Sebuah Kejutan Tak Terduga
53
Bab 53 Mengambil Kesempatan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!