Bab 14 Sentuhan Kecil

Suara ketukan dari arah pintu terdengar keras.

Membuyarkan kemesraan diantara Samuel dan Soraya.

Soraya mendorong pelan dada Samuel agak menjauh darinya lalu melilitkan kembali kain selimut pada tubuhnya.

Samuel menoleh ke arah pintu kamar rumah sakit.

"Masuk !" ucapnya.

Soraya beringsut turun dari atas tempat tidur lalu berlari ke dalam kamar mandi.

Samuel mengalihkan sejenak pandangannya ke arah kamar mandi ketika Soraya masuk kesana.

Pintu kamar rumah sakit terbuka, seseorang masuk sembari membawa bungkusan besar lalu menyapa ramah pada Samuel.

"Selamat siang, pak Samuel ! Bagaimana kondisi anda sekarang ?" ucap pria itu seraya menghampiri tempat tidur Samuel.

"Baik, kondisiku sangat sehat", sahut Samuel sembari membalas dengan senyuman ramah.

"Maaf, jika saya mengganggu waktu istirahat anda, pak Samuel", kata pria itu lagi.

Samuel melirik ke arah bungkusan ditangan pria didekatnya.

"Apa yang kamu bawa itu ?" tanya Samuel.

"Oh, ini, pak ! Pesanan anda !" sahut pria itu seraya menyerahkan bungkusan besar ditangannya.

"Terimakasih, cepat juga kalian menyelesaikan pesanan gaun untukku", kata Samuel.

"Layanan butik pakaian kami selalu tersedia hingga 24 jam nonstop dan sesuai pesanan pelanggan akan diantarkan tepat waktu, pak Samuel", ucap pria dari butik pakaian dengan memberi hormat.

"Kukira gaun pesananku akan diantar malam hari, ternyata kalian mengirimnya awal sekali", sahut Samuel lalu membuka bungkusan besar itu.

Sebuah gaun pendek dengan tali kecil pada bahunya terpampang jelas dihadapan Samuel.

Gaun berwarna abu-abu tua itu terlihat sangat cantik.

Samuel tersenyum simpul seraya bernafas lega ketika dia melihat gaun indah ditangannya.

"Cantik ! Cantik sekali, gaun ini ! Aku suka dengan gaun ini !" kata Samuel.

Pria dari butik pakaian mengangguk ringan.

"Syukurlah, anda merasa puas, pak Samuel", sahutnya.

"Tidak salah jika aku memilih butik pakaian kalian karena selalu memuaskan pesanan dengan waktu yang tepat", kata Samuel.

"Sanjungan anda menjadi harapan serta motivasi kami untuk lebih berkembang baik, pak Samuel", sahut pria dari butik.

"Baiklah, aku akan memberikan gaun ini untuk istriku, kurasa dia akan senang menerimanya", lanjut Samuel.

"Semoga istri anda terpuaskan, pak Samuel", ucap pria dari butik dengan wajah sumringah.

"Terimakasih...", kata Samuel.

Pria dari butik pakaian berpamitan pergi dari kamar rumah sakit setelah dia menyerahkan gaun pesanan Samuel.

Samuel masih memandangi gaun cantik ditangannya.

"Soraya !" panggilnya kemudian.

Samuel memalingkan mukanya ke arah kamar mandi lalu memanggil Soraya lagi.

"Soraya ! Keluarlah ! Tidak ada siapa-siapa disini !" panggil Samuel.

Krieet... ! Pintu kamar mandi terbuka, muncul Soraya dari dalam sana.

Soraya menengok hati-hati ke arah sekeliling ruangan kamar ini saat dia berjalan keluar dari kamar mandi.

Tap... Tap... Tap..., suara langkah kakinya melangkah cepat ke arah tempat tidur.

Samuel memandanginya dengan senyuman ambigu ketika Soraya menghampirinya.

"Untuk apa bersembunyi ?'' tanyanya sembari meraih tangan Soraya lalu menariknya mendekat.

Soraya langsung terduduk disamping Samuel dengan malu-malu.

"Nih !" ucap Samuel seraya memberikan gaun baru pada Soraya.

"Apa ini ?'' tanya Soraya terkejut.

"Gaun baru buatmu", sahut Samuel.

"Untukku ?" tanya Soraya.

"Ya, untukmu", sahut Samuel sembari mengangguk cepat.

"Terimakasih...", ucap Soraya.

Soraya memperhatikan gaun baru ditangannya.

Sebuah gaun cantik berwarna abu-abu tua jelas terlihat didepan matanya.

"Cantik...", puji Soraya sambil menempelkan gaun itu ke arah tubuhnya.

"Kau suka ?" tanya Samuel.

"Suka sekali", sahut Soraya semabari mengangguk pelan.

Samuel tersenyum misterius lalu menarik kembali kain selimut dari badan istrinya hingga jatuh terlepas.

Sret..., Soraya masih belum tersadar jika kain selimut yang menutupi tubuhnya lepas.

"Kau yang cantik..., Soraya...", bisik Samuel.

Samuel menarik tubuh Soraya agar mendekat lagi ke dalam pelukannya.

Ctas... ! Samuel menarik keras kaitan pada rok Soraya lalu melepaskannya.

"Kau tak harus berpakaian lengkap jika bersamaku, Soraya", bisik Samuel ditelinga istrinya.

Soraya menahan tangan Samuel supaya suaminya itu tidak menarik roknya ke bawah.

"Samuel, hentikan !" kata Soraya.

"Kenapa harus malu, sayangku", ucap Samuel yang terus memaksa untuk melepaskan seluruh pakaian milik Soraya.

"Samuel, biar aku yang melakukannya...", ucap Soraya.

Namun, kekuatan Samuel lebih besar dari Soraya sehingga dia tidak berhasil menahan tarikan tangan Samuel pada roknya.

Rok kulit berwarna coklat muda itu jatuh terlepas ke lantai ketika Samuel menariknya kasar.

Sekarang, keadaan Soraya benar-benar polos tanpa sehelai kain yang melekat ditubuhnya, tak ada yang bisa dia lakukan karena Samuel terus memperhatikan setiap lekuk tubuhnya.

Samuel mendengus kesal sambil memalingkan muka.

"Sial !" umpatnya.

Soraya cepat-cepat mengenakan gaun baru pemberian Samuel ke tubuhnya sedangkan wajahnya merah padam karena malu.

"Terimakasih atas hadiah gaunnya", kata Soraya sambil menyelipkan helai rambutnya kebelakang telinga.

"Ya...", jawab Samuel lalu menatap Soraya.

Terlihat tubuh Soraya sama menariknya ketika dia tanpa busana tadi, sebab gaun berwarna abu-abu tua yang membalut tubuh Soraya dengan cantiknya itu semakin membuat Soraya lebih menggairahkan.

Senyum ambigu kembali terlihat disudut bibir Samuel.

Entah apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki itu saat dia melihat kecantikan istrinya itu.

Tiba-tiba Samuel menarik lepas tali gaun milik Soraya hingga terputus, memperlihatkan kembali dada Soraya yang ranum indah.

Samuel menangkupkan kedua telapak tangannya pada dua bukit yang membusung indah itu lalu melahapnya dengan nikmat.

"Samuel...", bisik Soraya disela-sela erangannya.

Suasana panas mengalir kembali, memenuhi ruangan kamar rumah sakit, tempat dirawatnya Samuel disana.

Samuel tak memperdulikan rintihan Soraya dan terus melahap habis dada yang membusung cantik itu.

Soraya mengejang kuat ketika Samuel meremasnya sedangkan suaminya terus menikmati setiap gerakan tangannya.

Brak..., pintu terdorong keras sehingga terbuka lebar.

Seseorang melangkah masuk sembari mendorong kereta medis ke dalam kamar.

Soraya terdiam tertegun ketika orang itu masuk sedangkan Samuel dengan cepatnya menarik tubuh Soraya kedalam pelukannya.

"Selamat siang, pak Samuel..., Bagaimana kabarnya ?" sapa perawat rumah sakit sembari melirik ke arah Soraya yang membeku didekapan Samuel.

"Ya, kondisiku mulai baikan meski aku belum bisa turun", kata Samuel.

"Seharusnya anda tidak terlalu memaksakan diri anda, dengan melakukan aktivitas berat akan membuat luka anda semakin lama sembuhnya jika anda beraktivitas keras, pak Samuel", sahut perawat rumah sakit.

"Tidak, aku tidak melakukan tindakan kekerasan apapun", ucap Samuel datar.

Perawat rumah sakit melirik kembali ke arah Soraya lalu terdiam.

"Saatnya pemeriksaan, pak Samuel", ucap perawat rumah sakit.

"Ya, baik", sahut Samuel.

"Maaf, apa bisa anda melepaskan pelukan anda ?" ucap perawat rumah sakit.

Samuel melirik sebentar ke arah Soraya yang ada didekapannya.

"Apa tidak bisa melakukannya dengan seperti ini ?" tanya Samuel yang memahami jika Soraya sedang kebingungan sekarang ini.

Perawat rumah sakit menggeleng pelan.

"Maaf, akan menyulitkan pemeriksaan lanjutan pada luka anda, pak Samuel", sahutnya sembari tersenyum bijak.

"Oh, baiklah kalau begitu...", ucap Samuel lalu melepaskan pelukannya dari Soraya.

Soraya kembali berlari ke dalam kamar mandi, menghindari pandangan yang terarah kepadanya.

Bagaimana tidak, seluruh bagian atas tubuhnya dipenuhi oleh bekas ciuman Samuel yang terlihat sangat jelas disana.

Blam... ! Pintu kamar mandi terkunci rapat ketika Soraya berada didalamnya.

Soraya memandangi dirinya pada cermin sambil menyeka wajahnya dengan air kran dari wastafel kamar mandi.

Dilihatnya penampilannya yang bernantakan serta kusut masai ketika dia bercermin.

"Ya, Tuhan... ! Apa yang telah aku lakukan dengannya tadi... ???" gumam Soraya linglung.

Soraya memutar keran sehingga air keluar deras dari wastafel, dibasuhnya kembali wajahnya dengan air agar pikirannya menjadi tenang.

Terpopuler

Comments

Yunia Afida

Yunia Afida

semangat terus 💪💪💪💪

2024-08-24

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Terlahir Kembali
2 Bab 2 Dejavu
3 Bab 3 Tersadar
4 Bab 4 Kabar Mengejutkan
5 Bab 5 Tiba Dimarkas Geng Lorong Kucing
6 Bab 6 Akan Kubalas Kalian
7 Bab 7 Aku Tak Bisa
8 Bab 8 Selalu Ada Untukmu
9 Bab 9 Mulai Dekat
10 Bab 10 Romantisnya
11 Bab 11 Ternyata Lamunan
12 Bab 12 Penyesalan
13 Bab 13 Lembutnya Dia
14 Bab 14 Sentuhan Kecil
15 Bab 15 Kata-kata Ajaib
16 Bab 16 Adakah Kesempatan Itu
17 Bab 17 Sial !
18 Bab 18 Waktu Itu Seperti Bilah Pedang
19 Bab 19 Perintah Tetaplah Perintah
20 Bab 20 Sepotong Ingatan
21 Bab 21 Mulai Dari Hari Ini
22 Bab 22 Aku Ingin Kamu
23 Bab 23 Kita Sama
24 Bab 24 Waktu Pulang
25 Bab 25 Saat Kami Berdua
26 Bab 26 Malam Yang Panas
27 Bab 27 Pertama Masuk Kerja
28 Bab 28 Pertemuan Tak Sengaja
29 Bab 29 Ingatan Yang Aneh
30 Bab 30 Kegiatan Baru Soraya
31 Bab 31 Tanda Tanya Besar
32 Bab 32 Sesuatu Yang Mengesankan
33 Bab 33 Rahasia Selembar Foto
34 Bab 34 Kisah Dalam Foto
35 Bab 35 Menarik Perhatiannya
36 Bab 36 Perselisihan Kecil
37 Bab 37 Didalam Mobil
38 Bab 38 Waktu Bersama
39 Bab 39 Datangnya Kevin
40 Bab 40 Pertengkaran Terjadi
41 Bab 41 Sedetik Yang Menggairahkan
42 Bab 42 Kami Berdua Seperti Ini
43 Bab 43 Pagi Yang Bersemangat
44 Bab 44 Mesra
45 Bab 45 Dua Orang Dari Emerald Corp
46 Bab 46 Undangan Pesta
47 Bab 47 Tidak Ada Yang Perlu Kau Takuti
48 Bab 48 Berangkat Ke Pesta
49 Bab 49 Kau Selalu Berarti Buatku
50 Bab 50 Kejutan Di Pesta
51 Bab 51 Malam Pesta
52 Bab 52 Sebuah Kejutan Tak Terduga
53 Bab 53 Mengambil Kesempatan
Episodes

Updated 53 Episodes

1
Bab 1 Terlahir Kembali
2
Bab 2 Dejavu
3
Bab 3 Tersadar
4
Bab 4 Kabar Mengejutkan
5
Bab 5 Tiba Dimarkas Geng Lorong Kucing
6
Bab 6 Akan Kubalas Kalian
7
Bab 7 Aku Tak Bisa
8
Bab 8 Selalu Ada Untukmu
9
Bab 9 Mulai Dekat
10
Bab 10 Romantisnya
11
Bab 11 Ternyata Lamunan
12
Bab 12 Penyesalan
13
Bab 13 Lembutnya Dia
14
Bab 14 Sentuhan Kecil
15
Bab 15 Kata-kata Ajaib
16
Bab 16 Adakah Kesempatan Itu
17
Bab 17 Sial !
18
Bab 18 Waktu Itu Seperti Bilah Pedang
19
Bab 19 Perintah Tetaplah Perintah
20
Bab 20 Sepotong Ingatan
21
Bab 21 Mulai Dari Hari Ini
22
Bab 22 Aku Ingin Kamu
23
Bab 23 Kita Sama
24
Bab 24 Waktu Pulang
25
Bab 25 Saat Kami Berdua
26
Bab 26 Malam Yang Panas
27
Bab 27 Pertama Masuk Kerja
28
Bab 28 Pertemuan Tak Sengaja
29
Bab 29 Ingatan Yang Aneh
30
Bab 30 Kegiatan Baru Soraya
31
Bab 31 Tanda Tanya Besar
32
Bab 32 Sesuatu Yang Mengesankan
33
Bab 33 Rahasia Selembar Foto
34
Bab 34 Kisah Dalam Foto
35
Bab 35 Menarik Perhatiannya
36
Bab 36 Perselisihan Kecil
37
Bab 37 Didalam Mobil
38
Bab 38 Waktu Bersama
39
Bab 39 Datangnya Kevin
40
Bab 40 Pertengkaran Terjadi
41
Bab 41 Sedetik Yang Menggairahkan
42
Bab 42 Kami Berdua Seperti Ini
43
Bab 43 Pagi Yang Bersemangat
44
Bab 44 Mesra
45
Bab 45 Dua Orang Dari Emerald Corp
46
Bab 46 Undangan Pesta
47
Bab 47 Tidak Ada Yang Perlu Kau Takuti
48
Bab 48 Berangkat Ke Pesta
49
Bab 49 Kau Selalu Berarti Buatku
50
Bab 50 Kejutan Di Pesta
51
Bab 51 Malam Pesta
52
Bab 52 Sebuah Kejutan Tak Terduga
53
Bab 53 Mengambil Kesempatan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!