Bab 17 Sial !

Tampak ketiga orang tertawa ceria didalam kamar rumah sakit.

Wajah Samuel sangat bahagia saat ini karena Sarah dapat berdamai dengan Soraya.

Sesekali Samuel menghela nafas lega jika melihat kebersamaan diantara mereka bertiga terjalin harmonis.

Samuel sangat tahu dengan sifat adik perempuannya itu jika Sarah sebenarnya mengagumi Soraya tapi renggangnya hubungan pernikahannya yang dulu dengan Soraya, membuat sikap Sarah menjadi sangat apatis terhadap kakak iparnya itu.

Cenderung sikap Sarah memusuhi Soraya selama ini.

Namun, sejak kejadian ini, semua berubah total, Soraya seperti mengalami perubahan besar sekarang, setelah dia tahu Samuel mengalami siksaan dari gangster lorong kucing, sikap serta perhatian Soraya sepenuhnya tercurahkan teruntuk Samuel.

Samuel dapat tersenyum sekarang bahkan hatinya mulai senang melihat perubahan sikap Soraya terutama pada dirinya.

Tiba-tiba pintu terbuka keras, muncul seorang pria berjalan masuk dengan langkah cepat.

"Pak Samuel !" sapanya panik.

Samuel mengalihkan pandangannya ke arah pria itu.

"Raymond !" sahutnya terkejut kaget.

"Ada masalah besar, pak Samuel", ucapnya lalu menghentikan langkah kakinya tepat disisi tempat tidur.

"Masalah besar apa ?" tanya Samuel.

"Anggota gangster lorong kucing kembali menuntut balas dan mereka mengancam akan menghancurkan kantor kita jika anda tidak menemui ketua mereka", sahut Raymond.

"Apa ? Mereka ?" ucap Samuel tertegun diam.

"Ya, benar, pak Samuel", sahut Raymond sembari mengangguk.

"Astaga ! Untuk apa mereka senekat itu ! Tidakkah jalan damai ditempuh untuk menyelesaikan masalah ini ?" ucap Samuel.

"Masalahnya tuntutan uang keamanan serta uang pajak tidak kita penuhi sehingga mereka menuntut itu, disamping adanya perlawanan dari kita semakin membuat mereka marah", sahut Raymond.

"Kita tidak perlu memberi mereka uang karena bukan kewajiban kita untuk itu", kata Samuel.

"Mereka mafia yang berkuasa didaerah ini, wajar saja bagi mereka meminta uang pada setiap kantor yang berdomisili didaerah kekuasaan mereka, pak Samuel", sahut Raymond.

Raymond berdiri dengan sikap patuh sembari menatap ke arah Samuel dengan hati-hati.

"Tapi yang mereka minta sekarang ini adalah anda, pak Samuel", lanjut Raymond.

"Aku ?" sahut Samuel.

"Benar, pak", jawab Raymond.

"Parah ! Sangat parah !" kata Samuel seraya menggelengkan kepala.

"Sekarang, langkah apa yang harus kita ambil untuk mengatasi masalah ini, apa mungkin kita memenuhi permintaan mereka sebelum para gangster itu menghancurkan kantor kita, pak Samuel", ucap Raymond.

Samuel terlihat hendak turun dari atas tempat tidur akan tetapi dia langsung kesakitan.

"Auwh !!!" pekiknya mengadu sakit ketika dia menggerakkan tubuhnya.

"Samuel !" ucap Soraya dengan sigapnya menahan tubuh Samuel agar tidak jatuh.

"Kakak Samuel...", panggil Sarah yang ikut panik melihat kakak laki-lakinya mengeluh kesakitan ketika dia hendak turun dari atas tempat tidurnya.

Sarah bergerak cepat membantu Soraya untuk menyandarkan kembali Samuel ke tempat tidur.

"Jangan memaksakan dirimu, Samuel ! Kesehatanmu belum pulih sepenuhnya, jaga diri lebih baik lagi !" ucap Soraya mengingatkan Samuel.

"Iya, kak ! Luka-lukamu masih baru saja dirawat dan belum sembuh, tenanglah, kak !" kata Sarah.

Samuel menyandarkan tubuhnya kembali ke tempat tidur sembari memejamkan kedua matanya.

"Yah...", sahutnya dengan menghela nafas panjang.

Soraya menoleh ke arah Raymond lalu bertanya padanya.

"Dimana mereka sekarang ?" tanya Soraya.

"Sejumlah anggota gangster lorong kucing masih memantau kantor dan mereka sekarang ini sudah berada di halaman kantor", sahut Raymond.

Soraya terdiam sembari berpikir.

"Bawa aku kesana untuk menemui mereka !" kata Soraya.

"Kau akan kemana Soraya ?" tanya Samuel.

"Menemui mereka, menggantikanmu, Samuel", sahut Soraya.

"Tidak !" ucap Samuel tegas dan terlihat marah.

"Tapi Samuel...", sahut Soraya. "Mereka akan menghancurkan kantormu, kita tidak bisa membiarkannya itu terjadi" sambungnya.

"Aku akan pergi bersamamu jika kamu memaksanya", ucap Samuel.

"Tidak, Samuel", kata Soraya lalu berjalan menghampiri ke arah tempat tidur.

Tiba-tiba Soraya memeluk erat Samuel dan menciumnya mesra.

"Tunggu aku kembali..., Samuel...", bisik Soraya lalu berlalu pergi dari hadapan Samuel.

Samuel tertegun diam ketika Soraya berpamitan padanya.

"Ayo, pergi Raymond !" ucap Soraya sembari berjalan keluar kamar rumah sakit.

Raymond mengangguk pelan kemudian mengikuti langkah Soraya menuju keluar.

Terdengar teriakan Samuel yang memanggil nama Soraya ketika istrinya itu pergi bersama Raymond untuk menemui para anggota gangster lorong kucing.

Namun, Soraya tidak mengindahkan panggilan Samuel dan terus berlalu pergi.

Sarah berusaha menenangkan Samuel yang terlihat panik ketika Soraya nekat menemui para anggota gangster lorong kucing.

Teriakan Samuel terus terdengar hingga keluar ruangan.

Dua orang perawat rumah sakit masuk ke dalam kamar rumah sakit untuk menenangkan Samuel yang berontak ingin pergi menyusul Soraya.

Terpaksa Samuel disuntik obat penenang agar dia tertidur.

Soraya terus berjalan pergi bersama Raymond menuju keluar gedung rumah sakit.

Sejumlah mobil telah terparkir diluar gedung rumah sakit, menunggu kedatangan Raymond.

"Silahkan masuk kedalam mobil, bu Soraya !" ucap Raymond sembari membukakan pintu untuknya.

"Terimakasih, Raymond", sahut Soraya lalu melangkah masuk kedalam mobil berwarna hitam didepannya.

Serentak kemudian, sejumlah mobil bergerak pergi meninggalkan halaman depan gedung rumah sakit.

Deru asap mobil terlihat membekas diudara ketika iring-iringan mobil itu pergi.

Ketegangan terasa saat ini, bahkan tak terkecuali Soraya yang terlihat sangat serius ketika mobil membawanya menuju ke kantor.

"Raymond...", panggilnya pada laki-laki yang duduk disampingnya.

"Ya, bu Soraya", sahut Raymond.

"Bisakah kita mampir kerumah sebentar", kata Soraya.

"Bisa, bu Soraya", sahut Raymond.

"Kalau begitu kita kerumah, ada sesuatu yang harus aku ambil disana", kata Soraya.

"Siap, bu Soraya", jawab Raymond.

Raymond melirik kearah jam ditangannya sembari berkata pada laki-laki yang mengemudikan mobil.

"Putar balik kerumah sekarang !" perintah Raymond.

Mobil langsung berbelok cepat ke arah selatan lalu melaju kencang, dibelakangnya terlihat sejumlah mobil mengikutinya.

Soraya hanya berpikir untuk mengambil minuman kesukaannya sebelum perang dimulai.

Wajahnya terlihat agak lega ketika mobil bergerak menuju pulang kerumah.

Perjalanan kerumah cukup jauh karena jarak antara kantor dan rumah sangat jauh terpisah, butuh waktu dua jam lebih untuk sampai kekantor jika ditempuh dari rumah.

Kawasan tinggal Soraya dan Samuel memang berada dikomplek perumahan khusus, dimana setiap rumah disana, berjarak jauh dengan halaman luas mirip kebun yang memisahkan rumah-rumah lainnya.

Beberapa jam kemudian, mobil telah sampai didepan rumah.

Soraya segera turun dari dalam mobil, terlihat Linda menyambutnya saat dipintu masuk.

"Nyonya Soraya !" sapa Linda terburu-buru membukakan pintu rumah.

"Apa kabarmu, Linda ?" sapa balik Soraya.

"Baik, nyonya. Dan bagaimana kabar tuan Samuel ?" tanya Linda saat mereka berjalan bersama memasuki rumah.

"Syukurlah, kondisi Samuel sudah baikan, dia kini masih harus dirawat dirumah sakit sampai keadaannya stabil", sahut Soraya.

"Demi Tuhan ! Syukurlah kalau begitu ! Terimakasih pada Tuhan telah melindungi kalian !" ucap Linda sambil menengadahkan kepalanya.

"Doamu ternyata dikabulkan, Linda...", kata Soraya seraya tersenyum.

Soraya terus berjalan kedalam rumah.

"Lalu kenapa anda pulang dan tidak menemani tuan bos dirumah sakit ?" tanya Linda heran. "Apa kalian kembali bermusuhan lagi ?" sambungnya selidik.

"Tidak...", sahut Soraya lalu menghentikan langkah kakinya kemudian menghadap lurus ke arah Linda.

Terdiam sejenak seraya menatap tajam.

Linda tertegun diam ketika melihat Soraya menatapnya tajam, pelayan setia itu terlihat tegang, takut jika ucapanya keliru.

Soraya tersenyum kemudian berkata pada Linda.

"Aku hanya ingin mengambil minuman kesukaanku, dan aku melupakannya", kata Soraya.

Linda langsung mengerti dengan maksud ucapan Soraya, dia bergegas pergi untuk mengambilkan barang-barang yang diinginkan oleh Soraya.

Tak lama kemudian, Linda telah kembali ke ruangan tengah dimana Soraya berada saat ini, Linda berjalan mendekat dengan membawa barang-barang milik Soraya lalu menyerahkan sebuah kotak khusus berisi senjata api serta sebotol minuman pada bos perempuannya itu.

Episodes
1 Bab 1 Terlahir Kembali
2 Bab 2 Dejavu
3 Bab 3 Tersadar
4 Bab 4 Kabar Mengejutkan
5 Bab 5 Tiba Dimarkas Geng Lorong Kucing
6 Bab 6 Akan Kubalas Kalian
7 Bab 7 Aku Tak Bisa
8 Bab 8 Selalu Ada Untukmu
9 Bab 9 Mulai Dekat
10 Bab 10 Romantisnya
11 Bab 11 Ternyata Lamunan
12 Bab 12 Penyesalan
13 Bab 13 Lembutnya Dia
14 Bab 14 Sentuhan Kecil
15 Bab 15 Kata-kata Ajaib
16 Bab 16 Adakah Kesempatan Itu
17 Bab 17 Sial !
18 Bab 18 Waktu Itu Seperti Bilah Pedang
19 Bab 19 Perintah Tetaplah Perintah
20 Bab 20 Sepotong Ingatan
21 Bab 21 Mulai Dari Hari Ini
22 Bab 22 Aku Ingin Kamu
23 Bab 23 Kita Sama
24 Bab 24 Waktu Pulang
25 Bab 25 Saat Kami Berdua
26 Bab 26 Malam Yang Panas
27 Bab 27 Pertama Masuk Kerja
28 Bab 28 Pertemuan Tak Sengaja
29 Bab 29 Ingatan Yang Aneh
30 Bab 30 Kegiatan Baru Soraya
31 Bab 31 Tanda Tanya Besar
32 Bab 32 Sesuatu Yang Mengesankan
33 Bab 33 Rahasia Selembar Foto
34 Bab 34 Kisah Dalam Foto
35 Bab 35 Menarik Perhatiannya
36 Bab 36 Perselisihan Kecil
37 Bab 37 Didalam Mobil
38 Bab 38 Waktu Bersama
39 Bab 39 Datangnya Kevin
40 Bab 40 Pertengkaran Terjadi
41 Bab 41 Sedetik Yang Menggairahkan
42 Bab 42 Kami Berdua Seperti Ini
43 Bab 43 Pagi Yang Bersemangat
44 Bab 44 Mesra
45 Bab 45 Dua Orang Dari Emerald Corp
46 Bab 46 Undangan Pesta
47 Bab 47 Tidak Ada Yang Perlu Kau Takuti
48 Bab 48 Berangkat Ke Pesta
49 Bab 49 Kau Selalu Berarti Buatku
50 Bab 50 Kejutan Di Pesta
51 Bab 51 Malam Pesta
52 Bab 52 Sebuah Kejutan Tak Terduga
53 Bab 53 Mengambil Kesempatan
Episodes

Updated 53 Episodes

1
Bab 1 Terlahir Kembali
2
Bab 2 Dejavu
3
Bab 3 Tersadar
4
Bab 4 Kabar Mengejutkan
5
Bab 5 Tiba Dimarkas Geng Lorong Kucing
6
Bab 6 Akan Kubalas Kalian
7
Bab 7 Aku Tak Bisa
8
Bab 8 Selalu Ada Untukmu
9
Bab 9 Mulai Dekat
10
Bab 10 Romantisnya
11
Bab 11 Ternyata Lamunan
12
Bab 12 Penyesalan
13
Bab 13 Lembutnya Dia
14
Bab 14 Sentuhan Kecil
15
Bab 15 Kata-kata Ajaib
16
Bab 16 Adakah Kesempatan Itu
17
Bab 17 Sial !
18
Bab 18 Waktu Itu Seperti Bilah Pedang
19
Bab 19 Perintah Tetaplah Perintah
20
Bab 20 Sepotong Ingatan
21
Bab 21 Mulai Dari Hari Ini
22
Bab 22 Aku Ingin Kamu
23
Bab 23 Kita Sama
24
Bab 24 Waktu Pulang
25
Bab 25 Saat Kami Berdua
26
Bab 26 Malam Yang Panas
27
Bab 27 Pertama Masuk Kerja
28
Bab 28 Pertemuan Tak Sengaja
29
Bab 29 Ingatan Yang Aneh
30
Bab 30 Kegiatan Baru Soraya
31
Bab 31 Tanda Tanya Besar
32
Bab 32 Sesuatu Yang Mengesankan
33
Bab 33 Rahasia Selembar Foto
34
Bab 34 Kisah Dalam Foto
35
Bab 35 Menarik Perhatiannya
36
Bab 36 Perselisihan Kecil
37
Bab 37 Didalam Mobil
38
Bab 38 Waktu Bersama
39
Bab 39 Datangnya Kevin
40
Bab 40 Pertengkaran Terjadi
41
Bab 41 Sedetik Yang Menggairahkan
42
Bab 42 Kami Berdua Seperti Ini
43
Bab 43 Pagi Yang Bersemangat
44
Bab 44 Mesra
45
Bab 45 Dua Orang Dari Emerald Corp
46
Bab 46 Undangan Pesta
47
Bab 47 Tidak Ada Yang Perlu Kau Takuti
48
Bab 48 Berangkat Ke Pesta
49
Bab 49 Kau Selalu Berarti Buatku
50
Bab 50 Kejutan Di Pesta
51
Bab 51 Malam Pesta
52
Bab 52 Sebuah Kejutan Tak Terduga
53
Bab 53 Mengambil Kesempatan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!