Soraya masih terus menangis didalam pelukan Samuel, suaminya.
Samuel tertegun ketika dia melihat sikap Soraya yang mendadak aneh itu.
Namun, Samuel berusaha tetap tenang walaupun dirinya dalam kondisi tidak sehat karena terluka.
Dihiburnya hati Soraya yang bersedih dengan belaian-belaian lembut agar dia tenang.
Berulangkali Samuel mendesiskan suaranya didekat telinga Soraya sembari memeluk erat tubuh istrinya.
"Tenanglah Soraya...", panggilnya sabar.
Soraya masih tersedu-sedu sedih diantara tangisannya.
"Kenapa kamu menangis, Soraya ?" tanya Samuel.
Soraya tetap menangis bahkan kali ini, tangisannya terdengar meraung-raung keras.
"Soraya...", panggil Samuel semakin merapatkan tubuh Soraya pada tubuhnya.
Soraya masih terus beruraian air mata dalam dekapan Samuel.
Tangisannya pecah bahkan semakin terdengar kencang.
Samuel bertambah kebingungan dengan sikap Soraya yang tiba-tiba saja menangis tanpa sebab.
"Sudah..., sudah..., jangan menangis lagi, Soraya...", ucap Samuel sembari menggoyangkan tubuh Soraya pelan.
Soraya masih menyesali perbuatannya terhadap Samuel dikehidupan masa lalunya, rasa sesal itu masih melekat kuat dalam hatinya jika dia mengingat akan kesalahannya dulu.
Meninggalkan Samuel sendirian untuk menghadapi peristiwa buruk ini terjadi, semakin menghukum Soraya yang khilaf.
Mungkin Soraya tidak dapat menerimanya akan tetapi dia tetap berusaha sadar bahwa ini adalah takdir hidup.
Suratan hidup yang tidak dapat diubah sama sekali olehnya dalam situasi apapun itu, meski dirinya terus terlahir kembali berulang-ulang, tetap kejadian buruk yang menimpa suaminya tidak dapat dia ubah.
Samuel tetap terluka tapi setidaknya Soraya kini bersamanya.
Saat Soraya mulai tenang, dia mengalihkan perhatiannya kepada Samuel.
"Samuel...", panggilnya lirih.
"Ya..., apa, Soraya ?" sahut Samuel.
Samuel menundukkan pandangannya ke arah Soraya yang berada dalam dekapannya, lama memandanginya dengan hati sabar.
"Aku akan membalut lukamu dengan perban", ucap Soraya lalu beranjak duduk tegak.
Disekanya air matanya yang berlinangan deras diwajah cantiknya dengan cepat.
"Aku akan memanggil perawat untuk mengambilkan perban", kata Soraya sembari bangkit berdiri.
"Tunggu", cegah Samuel seraya menarik kembali tubuh Soraya ke dalam pelukannya.
"Kenapa kamu mencegahku ?" sahut Soraya tak mengerti sambil memandangi wajah tampan suaminya itu lekat-lekat.
"Percuma saja...", ucap Samuel lalu tersenyum lembut.
"Percuma ? Kenapa percuma ?" tanya Soraya semakin tak mengerti dengan ucapan Samuel.
"Sebab aku hanya ingin bersamamu", sahut Samuel.
Samuel merebahkan kepalanya diatas bahu Soraya saat mereka berdua berpelukan.
Lingkaran lengan Samuel terasa kuat dipinggang Soraya.
"Tapi lukamu terbuka sekarang ini, seharusnya luka itu diperban", kata Soraya.
"Tidak...", ucap Samuel.
"Samuel...", panggil Soraya.
Soraya tidak memahami sikap Samuel yang berbeda dan aneh, menolak lukanya dirawat.
Diam-diam Soraya menyentuhkan tangannya ke atas kepala Samuel yang ditumbuhi oleh rambut tebal berwarna hitam pekat.
Pada saat dia hendak membelai rambut Samuel, dia segera menahan tangannya.
Soraya menghela nafas panjang lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Jangan bersikap kekanakan seperti ini, karena lukamu akan semakin parah jika tidak dirawat dengan benar, Samuel !" kata Soraya.
Samuel menggeleng pelan dengan tetap memeluk Soraya.
"Samuel... Ayolah, jangan bersikap layaknya anak kecil !" ucap Soraya.
Samuel kembali menggelengkan kepalanya lalu menatap ke arah Soraya.
"Tidakkah kau menyadari sesuatu saat ini, Soraya", kata Samuel.
"Apa ?" tanya Soraya yang memang tak menyadari pada dirinya.
Samuel mengalihkan pandangannya ke arah bagian atas tubuh Soraya yang hanya dililit oleh kain selimut rumah sakit.
"Mungkinkah kau akan pergi dengan penampilan aneh ini ?!" ucapnya lalu menyeringai misteri.
Soraya menaikkan kedua alisnya ke atas saat Samuel memperhatikan dirinya.
Tiba-tiba wajah Soraya berubah memerah ketika melihat Samuel mengamati tubuhnya.
"Menjauhlah...", pekik Soraya lalu melepaskan pelukan Samuel.
Soraya memutar tubuhnya ke arah lain, supaya Samuel tidak melihat dirinya seperti itu.
Rasa malu menjalar dihati Soraya yang masih canggung jika berdekatan dengan Samuel.
"Soraya...", panggil Samuel sembari menarik pelan tangan Soraya agar menghadap ke arahnya.
Soraya tidak merespon panggilan Samuel, dia masih menghadap ke arah lain sambil memegangi kain selimut ditubuhnya.
"Soraya...", ucap Samuel.
Soraya menoleh ke arah Samuel lantas terdiam.
"Apa kau malu... ?" tanya Samuel sembari melirik bekas merah pada leher Soraya akibat gigitannya.
Soraya langsung menundukkan pandangannya ke bawah, tidak menjawab.
"Tidak usah malu...", ucap Samuel lalu mengangkat dagu Soraya agar wajah istrinya itu terarah kepadanya.
Samuel tersenyum lembut pada Soraya kemudian dia mendekatkan tubuh istrinya itu ke arah dirinya.
Ditatapnya wajah Soraya lekat-lekat sambil menangkupkan kembali telapak tangannya ke arah leher Soraya sembari mengusapnya lembut.
"Maaf..., jika aku menyakitimu...", bisik Samuel.
"Ti-tidak...", sahut Soraya dengan tubuh bergetar pelan.
"Kau suka ?" tanya Samuel sambil mengerutkan keningnya.
Wajah Soraya semburat memerah saat Samuel berterus terang menanyakan tentang perasaannya.
Soraya hanya menatap termenung ke wajah Samuel sedangkan tangan laki-laki tampan itu tidak kunjung berhenti bergerak.
Gerakan tangan Samuel semakin intens dan terus-menerus mengusap setiap inchi tubuh Soraya tanpa hentinya.
"Katakan padaku, jika kau suka", ucap Samuel seraya tersenyum.
Namun, senyuman Samuel terlihat penuh arti ambigu sehingga membuatnya merasakan suaminya sedang menginginkan dirinya.
Soraya menarik dirinya agar menjauh dari pelukan Samuel tapi suaminya tidak membiarkan dirinya jauh.
"Jangan selalu menjauhiku, Soraya !" bisik Samuel.
Dipeluknya tubuh Soraya dari arah belakang sembari mencium mesra pundak istrinya itu.
"Samuel...", sahut Soraya seraya menoleh ke samping kanan.
"Ya, sayangku...", ucap Samuel dengan suara paraunya.
"Apa kau akan selalu bersamaku ?" kata Soraya.
"Tentu saja...'', sahut Samuel yang tanpa henti membelai bagian punggung Soraya.
"Apa kau ingin diriku ?" tanya Soraya masih membelakangi Samuel.
Samuel menghentikan gerakan tangannya lalu terdiam.
Kata-kata Soraya seperti sebuah ajakan bagi Samuel untuk berhubungan intim.
Samuel menarik pelan kain selimut yang menutupi tubuh Soraya hingga terlepas.
"Soraya...", ucapnya saat Soraya memutar pelan tubuhnya, menghadap pada Samuel.
Sesaat keduanya terdiam, saling berpandangan satu sama lain dengan lama.
Soraya menggerakkan telapak tangannya ke arah bagian dadanya lalu memainkannya tepat didepan mata Samuel.
Sikapnya membuat Samuel terpana diam ketika melihat gerakan liar yang sedang diperagakan oleh Soraya.
"Soraya...'', bisik Samuel tertahan.
Soraya tersenyum lembut lalu menarik tangan Samuel ke arah dadanya yang membusung indah itu.
"Aku milikmu sekarang...", bisik lembut Soraya dengan bibir terbuka merekah.
"So-Soraya...", sahut Samuel gelisah.
Soraya semakin mempercepat gerakan tangannya saat dia menuntun tangan Samuel bermain-main didadanya, membiarkan tangan kekar itu menciptakan sensasi-sensasi kuat pada tubuhnya.
Terdengar suara erangan pelan dari bibir Soraya, sontak langsung mengejutkan Samuel.
Samuel terkesiap diam, dirasakannya wajahnya yang berubah memerah ketika melihat Soraya menikmati permainan tangan mereka didadanya yang membukit indah.
Naluri kelaki-lakian Samuel bangkit sepenuhnya, tubuhnya mengeras saat Soraya menggodanya terang-terangan.
Gairah dalam dirinya terbakar kuat ketika mendengar desahan lirih dari bibir Soraya.
Samuel langsung menarik paksa tubuh Soraya, mendekatkan wajah mereka lebih dekat hingga hanya berjarak seinchi.
Dipandanginya wajah memerah milik istrinya itu dengan sungguh-sungguh.
Bibir Soraya yang merekah merah langsung dilahapnya tanpa ampun saat Soraya membuat suara erangan yang menggugah hasrat cintanya.
Suara ciuman mesra milik Samuel dibibir Soraya terdengar intens sedangkan Soraya membiarkan dirinya dinikmati oleh suaminya.
Mereka tenggelam dalam iringan gairah yang memabukkan keduanya.
Samuel semakin dalam mencium mesra bibir Soraya dan larut dalam kubangan penuh cinta yang menggelora diantara keduanya.
Bayangan ilusi tentang mereka berciuman mesra milik Soraya menjadi kenyataan sekarang. Dan saat ini, Samuel benar-benar melahap bibirnya dengan sangat nikmat.
Soraya tersenyum lega ketika bayangan itu menjadi kenyataan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments