Lolos Dari Penculikan

Bab6

Mobil yang menculik Alya akhirnya berhenti. Alya diseret keluar dan dibawa masuk ke sebuah bangunan tua yang gelap dan berdebu. Cahaya remang-remang dari jendela yang pecah hanya memperlihatkan bayangan samar-samar. Alya diikat di sebuah kursi dengan tangan dan kaki terbelenggu kuat. Suara langkah kaki penculiknya perlahan menghilang, meninggalkannya sendirian dalam keheningan yang mencekam.

 

Alya berusaha mengumpulkan keberanian. Matanya mencoba menyesuaikan diri dengan kegelapan, mencari-cari celah untuk melarikan diri. Namun, ikatan di pergelangan tangannya begitu erat, membuat kulitnya terasa perih. Napasnya tersengal-sengal, dan pikirannya penuh dengan berbagai kemungkinan buruk. Siapa yang menculiknya? Apa yang mereka inginkan darinya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, sementara waktu seakan berhenti berjalan di tempat gelap dan asing itu.

 

 #Di sekolah#

 

Sore itu, Lita dan Bimo duduk di kantin sekolah, menunggu Alya yang biasanya selalu bergabung dengan mereka setelah pulang sekolah. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, namun Alya belum juga muncul. Lita, sahabat dekat Alya, mulai merasa tidak tenang.

 

“Alya biasanya sudah di sini jam segini,” gumam Lita sambil melihat ke arah pintu kantin.

 

Bimo, yang sedang mengerjakan tugas matematika, mengangkat kepalanya. “Mungkin dia ada urusan lain, Lita. Tapi, memang biasanya dia selalu tepat waktu.”

 

Kekhawatiran di wajah Lita semakin terlihat. “Kita coba hubungi dia, Bim.”

 

Lita merogoh tasnya, mencari ponsel. Ia mencoba menghubungi Alya beberapa kali, tetapi panggilannya tidak dijawab. “Gak diangkat. Ini kaya bukan Alya,” katanya dengan suara gemetar.

 

Bimo merasa ada yang tidak beres. Ia segera merapikan bukunya dan berdiri. “Kita harus melaporkan ini ke sekolah. Mungkin ada yang tahu di mana dia.”

 

Mereka segera menuju ruang guru, di mana mereka bertemu dengan Bu Yanti, wali kelas Alya. “Bu Yanti, kami khawatir tentang Alya. Dia belum pulang dan tidak bisa dihubungi,” ujar Bimo dengan cemas.

 

Bu Yanti mengerutkan dahi, merasa prihatin. “Ini tidak seperti Alya. Kita harus segera bertindak. Saya akan menghubungi orang tuanya dan pihak sekolah.”

 

Mereka lalu menuju ruang kepala sekolah, di mana mereka bertemu dengan Pak Ridwan, kepala sekolah yang tegas namun peduli. Setelah mendengar laporan Lita dan Bimo, Pak Ridwan segera menghubungi polisi dan meminta bantuan.

 

Sementara itu, Andre, ketua tim basket yang juga masih berada di sekolah, mendapat kabar dari Lita. Tanpa ragu, ia bergabung dalam pencarian. “Aku akan bantu mencari Alya. Kita harus menemukannya secepat mungkin,” katanya dengan suara tegas.

 

Dengan informasi yang terbatas, mereka mulai mencari petunjuk di sekitar sekolah dan tempat-tempat yang sering dikunjungi Alya. Mereka bertemu dengan berbagai rintangan, terutama dari geng cantik yang dipimpin oleh Rina. Mereka yakin ada yang tidak beres, sebab mereka tahu Alya belum hapal benar kota ini. Gadis itu belum banyak main di kota ini.

 

Di aula sekolah, mereka berpapasan dengan Rina, Sari, Siska, dan Gea yang tampak tenang. Rina tersenyum sinis saat melihat kegelisahan Lita dan Bimo. “Kalian mencari Alya? Mungkin dia bosan dan pergi tanpa memberitahu kalian,” katanya dengan nada mengejek.

 

Andre tidak bisa menahan diri. “Rina, kami tahu kamu tidak suka Alya, tapi ini serius. Dia benar-benar hilang.”

 

Rina mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. “Itu bukan urusan kami.”

 

Meskipun menghadapi sikap dingin Rina, mereka tidak menyerah. Polisi mulai menyelidiki, namun pengaruh keluarga Rina membuat beberapa saksi takut untuk berbicara. Di tengah pencarian, Andre dan Bimo menemukan petunjuk penting—sebuah kalung milik Alya yang tergeletak di jalan.

 

“Bimo, ini kalung Alya!” seru Andre sambil memungut kalung tersebut. “Dia pasti melewati jalan ini.”

 

Bimo mengangguk. “Kita harus memberi tahu polisi. Ini mungkin petunjuk yang bisa membantu.”

 

Dengan semangat baru, mereka melaporkan temuan tersebut kepada polisi dan terus mencari dengan harapan dapat menemukan Alya sebelum terlambat. Waktu terus berjalan, dan ketegangan semakin meningkat. Semua orang berharap Alya bisa ditemukan dengan selamat dan semua misteri ini segera terungkap.

 

Di tempat persembunyiannya yang gelap dan sunyi, Alya duduk dengan napas yang masih tersengal-sengal. Ia berusaha menenangkan diri, meskipun hatinya dipenuhi ketakutan. Ingatan akan wajah-wajah teman-temannya memberikan semangat dalam situasi yang mengerikan ini. "Aku harus keluar dari sini. Mereka pasti mencariku," gumamnya pada diri sendiri.

 

Ruangan tempat Alya dikurung adalah sebuah gudang tua, dengan dinding batu yang dingin dan lembab. Cahaya remang-remang dari jendela yang pecah hanya memberikan sedikit penerangan, cukup untuk melihat sekeliling. Lantai beton yang keras dan berdebu membuatnya sulit bergerak dengan nyaman. Alya duduk di kursi dengan tangan terikat di belakang, namun dia tidak menyerah.

 

Alya mencoba menggerakkan tangannya, mencari celah di antara tali yang mengikat. Setelah beberapa saat, ia merasakan sedikit kelonggaran. Ia menggunakan segala kekuatan dan ketelitian yang dimilikinya untuk mengurai tali tersebut. "Ayo, Alya, kamu bisa," bisiknya pada diri sendiri, memberikan dorongan moral.

 

Setelah beberapa waktu yang terasa sangat lama, Alya akhirnya berhasil melepaskan ikatan di tangannya. Dengan cepat, dia membuka ikatan di kakinya dan berdiri, meski tubuhnya terasa lemah dan kaku. Ia melihat sekeliling, mencari jalan keluar. Di sudut ruangan, dia menemukan sebuah pintu kayu yang tampak sudah tua dan rapuh.

 

Dengan hati-hati, Alya mendekati pintu itu dan mencoba membuka. Pintu tersebut berderit pelan, membuat suara yang memecah keheningan. Ia mengintip keluar, memastikan tidak ada orang di sekitar. Setelah merasa aman, ia melangkah keluar, merasakan angin dingin yang menyapu wajahnya.

 

Alya berlari secepat yang ia bisa, meskipun kakinya masih terasa lemas. Pikirannya terus-menerus berputar, berharap tidak ada yang mengejarnya. Ia menyusuri jalan setapak yang berkelok-kelok, mencoba mencari jalan keluar dari tempat asing itu. Ketakutan terus menghantuinya, tetapi tekad untuk bertemu kembali dengan teman-temannya memberikan kekuatan.

 

Sementara itu, Lita, Bimo, dan Andre terus mencari Alya dengan cemas. Andre meminta salah satu sopirnya untuk menyetir. Sebab mereka harus sesekali turun mencari ke jalan-jalan kecil. Jika pencarian dilakukan seluruhnya dengan berjalan, sepertinya itu kurang efisien.

 

Mereka menyisir setiap sudut kota, berharap menemukan petunjuk baru. Saat mereka sampai di sebuah jalan kecil yang sunyi, Lita tiba-tiba berhenti dan menatap ke depan. "Itu Alya!" teriaknya sambil menunjuk ke arah sosok yang berlari mendekat.

 

Andre dan Bimo segera berlari mendekati Alya. "Alya, kamu baik-baik saja?" tanya Andre dengan suara penuh kekhawatiran.

 

Alya yang kelelahan, hampir jatuh ke dalam pelukan mereka. "Aku berhasil melarikan diri," katanya dengan suara serak. "Terima kasih sudah mencariku."

 

Bimo memeluk Alya dengan lega. "Kami semua sangat khawatir. Kamu luar biasa, Alya."

 

Pemandangan tidak mengenakkan membuat Andre sedikit menjauh, dia lebih memilih masuk ke dalam mobil, menunggu mereka. Sesekali sudut matanya menuju pada Bimo yang kini memapah Alya menuju mobil Andre.

 

“Kan bisa yang mapah itu Lita. Kenapa harus kamu, Bimo?” gumam Andre, tidak suka.

 

Lita menghapus air matanya. "Yang penting kamu sudah selamat. Kita harus segera melapor ke polisi dan membawamu ke tempat yang aman."

 

Bersambung...

Episodes
1 Prolog
2 Panas Geng Syantik
3 Hari Pertama Penuh Ancaman
4 Semakin Dekat Semakin Dibenci
5 Geng Syantik Kalap
6 Usaha Selalu Gagal
7 Lolos Dari Penculikan
8 Memilih Kamu
9 Bisa-Bisanya Dijodohkan
10 Cemburu Diam-Diam
11 Rahasia Berdua
12 Rencana Pertama
13 Benar Perjodohan itu
14 Malam Pesta Sekolah Tiba
15 Cemburu dan Hukuman
16 Butuh Bukti Lagi
17 Bimo Mulai Menyebalkan
18 Berbincang dengan Calon Besan
19 Salah Sangka
20 Pesona Tersembunyi dari Bimo
21 Waktu Begitu Cepat
22 Rindu Rahasia
23 Malam Pertama Syahdu
24 Bulan Madu London
25 Melihat Bimo
26 Terluka Tapi Bahagia
27 Dilema Anak + Suami
28 Bimo Mencari Alya
29 Alya Bertemu Bimo
30 Awas Selingkuh
31 Masih Rindu
32 Teman Dekat Wanita
33 Reuni Sekolah Gemilang
34 Bukan Sekedar Teman
35 Cinta atau Bukan?
36 Tidak Jujur Pada Perasaan
37 Prahara Rina dan Andre
38 Jadi Kambing Conge
39 Dendam Teman Lama
40 Kesepakatan
41 Strategi Jebakan
42 Siasat Rina
43 Interogasi Alya dan Bimo
44 Saling Terbuka
45 Gangguan Hati
46 Menurut Rina
47 Momen Kejutan
48 Kabar Baik dan Buruk
49 Kedatangan Lagi Ibu Mertua
50 Kembali Tekanan Mertua
51 Berusaha Adil
52 Semakin Hilang
53 Salah Paham
54 Ketegangan dan Ketergantungan
55 Pulang ke Rumah Orang Tua
56 Kejutan tak Terduga
57 Kembali ke Rumah
58 Menghadapi Kebenaran
59 Konfrontasi dan Ketegangan
60 Ketegangan Baru
61 Pertarungan di Rumah
62 Keberanian di Tengah Kesulitan
63 Bukti Kecurigaan
64 Langkah Keberanian
65 64 Momen Penentu
66 Keputusan dan Perpisahan
Episodes

Updated 66 Episodes

1
Prolog
2
Panas Geng Syantik
3
Hari Pertama Penuh Ancaman
4
Semakin Dekat Semakin Dibenci
5
Geng Syantik Kalap
6
Usaha Selalu Gagal
7
Lolos Dari Penculikan
8
Memilih Kamu
9
Bisa-Bisanya Dijodohkan
10
Cemburu Diam-Diam
11
Rahasia Berdua
12
Rencana Pertama
13
Benar Perjodohan itu
14
Malam Pesta Sekolah Tiba
15
Cemburu dan Hukuman
16
Butuh Bukti Lagi
17
Bimo Mulai Menyebalkan
18
Berbincang dengan Calon Besan
19
Salah Sangka
20
Pesona Tersembunyi dari Bimo
21
Waktu Begitu Cepat
22
Rindu Rahasia
23
Malam Pertama Syahdu
24
Bulan Madu London
25
Melihat Bimo
26
Terluka Tapi Bahagia
27
Dilema Anak + Suami
28
Bimo Mencari Alya
29
Alya Bertemu Bimo
30
Awas Selingkuh
31
Masih Rindu
32
Teman Dekat Wanita
33
Reuni Sekolah Gemilang
34
Bukan Sekedar Teman
35
Cinta atau Bukan?
36
Tidak Jujur Pada Perasaan
37
Prahara Rina dan Andre
38
Jadi Kambing Conge
39
Dendam Teman Lama
40
Kesepakatan
41
Strategi Jebakan
42
Siasat Rina
43
Interogasi Alya dan Bimo
44
Saling Terbuka
45
Gangguan Hati
46
Menurut Rina
47
Momen Kejutan
48
Kabar Baik dan Buruk
49
Kedatangan Lagi Ibu Mertua
50
Kembali Tekanan Mertua
51
Berusaha Adil
52
Semakin Hilang
53
Salah Paham
54
Ketegangan dan Ketergantungan
55
Pulang ke Rumah Orang Tua
56
Kejutan tak Terduga
57
Kembali ke Rumah
58
Menghadapi Kebenaran
59
Konfrontasi dan Ketegangan
60
Ketegangan Baru
61
Pertarungan di Rumah
62
Keberanian di Tengah Kesulitan
63
Bukti Kecurigaan
64
Langkah Keberanian
65
64 Momen Penentu
66
Keputusan dan Perpisahan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!