Panas Geng Syantik

Alya melangkah masuk ke dalam kelas dengan hati berdebar-debar. Suara langkah kakinya yang lembut hampir tenggelam oleh riuh rendah murid-murid yang baru saja kembali dari istirahat pertama. Matanya yang jernih dan berbinar-binar menatap sekitar, mencari-cari tempat kosong. Sesaat kemudian, seorang guru perempuan dengan senyum ramah mendekatinya.

 

“Anak-anak, tenang sebentar. Kita ada murid baru hari ini,” ujar Bu Aini dengan suara tegas namun lembut. Suara kelas perlahan-lahan mereda, dan semua mata kini tertuju pada Alya.

 

Dengan sedikit gugup, Alya berdiri di depan kelas. Ia menggenggam tali tasnya erat-erat, mencoba menenangkan dirinya. Walaupun wajahnya tampak tenang, hatinya berdetak kencang. Ia menarik napas dalam-dalam dan mulai berbicara.

 

“Nama saya Alya,” ucapnya dengan suara yang lembut namun tegas. “Saya baru pindah dari kampung Ngora. Senang bisa bergabung dengan kalian di sini.”

 

Seluruh kelas terdiam sejenak, menatap sosok Alya yang memancarkan kecantikan alami. Rambut panjangnya yang hitam legam tergerai dengan anggun, matanya yang bulat penuh ketulusan, dan senyumnya yang hangat menambah pesonanya. Ia tampak berbeda dari gadis kota pada umumnya, ada kesederhanaan yang memancar dari dirinya.

 

Alya melanjutkan, “Saya harap kita bisa berteman baik dan belajar bersama. Mohon bantuannya, ya.”

 

Bu Aini mengangguk dengan bangga. “Baik, Alya. Silakan duduk di sana,” katanya sambil menunjuk kursi kosong di barisan tengah. Alya berjalan ke tempat yang ditunjukkan, diiringi tatapan penasaran dari teman-teman barunya.

 

Saat ia duduk, seorang gadis dengan rambut kuncir kuda dan senyum ramah di sebelahnya memperkenalkan diri. “Hai, aku Lita. Selamat datang di sekolah kami. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk tanya aku ya.”

 

Alya membalas senyuman Lita. “Terima kasih, Lita.”

 

Di balik penampilan lugunya, Alya memiliki ketegasan dan kecerdasan yang luar biasa. Ia tahu, hidup di kota akan menjadi tantangan baru baginya, namun ia siap menghadapinya dengan segala kemampuan dan keanggunannya. Kelas kembali hidup dengan obrolan dan tawa, namun kini ada sosok baru yang memancarkan sinar berbeda, sosok Alya yang cerdas, cantik, dan tetap anggun dalam kesederhanaannya.

 

Di salah satu sudut kelas, sekelompok gadis terlihat saling berbisik dengan wajah penuh intrik. Mereka adalah geng wanita syantik paling populer di sekolah, yang selalu menjadi pusat perhatian. Saat Alya memperkenalkan diri di depan kelas, mata-mata mereka sudah tertuju padanya dengan tatapan curiga dan sinis.

 

“Dia cantik sekali, ya,” bisik Siska, gadis dengan rambut pirang yang selalu terlihat rapi.

 

Rina, pemimpin geng yang selalu tampil sempurna, menatap Alya dengan mata tajam. “Baru datang sudah menarik perhatian semua orang,” gumamnya dengan nada tak suka. “Kita harus berhati-hati. Jangan sampai dia merebut perhatian Andre.”

 

Andre adalah pria paling populer di sekolah, kapten tim basket yang juga diam-diam disukai oleh Rina. Selama ini, Rina dan gengnya selalu berhasil menjaga posisinya sebagai ratu sekolah tanpa saingan berarti. Namun, kedatangan Alya tampaknya mulai mengusik ketenangan mereka.

 

“Aku dengar dia pintar juga,” tambah Sari, gadis dengan kacamata tebal yang selalu tahu semua gosip terbaru. “Kabarnya, dia selalu juara kelas di sekolahnya yang lama.”

 

Rina mengerutkan keningnya, merasakan ada ancaman nyata di hadapannya. “Kita lihat saja nanti,” katanya dengan nada yang sarat dengan niat tersembunyi. “Kalau dia mencoba-coba mendekati Andre atau mengambil perhatian dari kita, dia harus siap menerima konsekuensinya.”

 

Geng syantik itu tertawa kecil, seolah sudah merencanakan langkah-langkah berikutnya. Sementara itu, Alya duduk di tempatnya dengan tenang, tidak menyadari bahwa kehadirannya sudah memicu perasaan tidak suka dari beberapa murid. Baginya, ini adalah awal yang baru dan ia hanya ingin fokus pada pelajaran serta beradaptasi dengan lingkungan barunya.

 

Namun, tanpa disadarinya, hari pertama di sekolah sudah menempatkannya di tengah-tengah permainan sosial yang rumit. Di satu sisi, ada teman-teman yang tulus menyambutnya, seperti Lita. Di sisi lain, ada geng syantik yang merasa terancam oleh pesona dan kecerdasan Alya. Alya harus pintar-pintar menavigasi dinamika ini sambil tetap menjadi dirinya sendiri—cerdas, anggun, dan lugu.

 

Hari pertama Alya di sekolah mungkin baru saja dimulai, tetapi gelombang pertama dari tantangan yang harus dihadapinya sudah tampak di kejauhan. Dengan ketegasan dan kecerdasannya, Alya bertekad untuk menghadapi segala rintangan, termasuk geng populer yang merasa tersaingi oleh kehadirannya.

Alya duduk di bangkunya dengan tenang, menyesuaikan diri dengan jadwal pelajaran yang telah diberikan kepadanya. Hari pertama di sekolah baru ternyata langsung diwarnai dengan tantangan: ulangan dadakan yang telah diumumkan oleh Bu Aini kemarin. Namun, bagi Alya, ulangan mendadak bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. Ia selalu rajin belajar dan suka membaca informasi di media sosial sebagai tambahan pengetahuannya.

 

Ketika Bu Aini membagikan lembar ulangan, Alya merasa siap. Soal-soal yang diberikan tidak terlalu sulit baginya. Dengan tenang, ia mengisi setiap jawaban dengan keyakinan penuh. Di sekelilingnya, suasana kelas terasa tegang. Beberapa murid tampak gelisah, namun Alya tetap fokus hingga selesai.

 

Setelah waktu habis, Bu Aini mengumpulkan lembar ulangan dan mulai melakukan koreksi secara terbuka. Caranya, dengan membagikan kembali lembar ulangan yang telah diisi kepada murid lain untuk dikoreksi. Teman yang memegang lembar ulangan harus jujur menandai jawaban yang salah saat Bu Rina menyebutkan jawaban yang benar.

 

Tanpa disadarinya, lembar ulangan Alya berada di tangan Rina, pemimpin geng syantik. Rina menatap kertas ulangan Alya dengan penuh perhatian, berusaha mencari kesalahan sekecil apapun. Saat Bu Aini mulai menyebutkan jawaban yang benar, Rina mendengarkan dengan seksama, sesekali melihat ke arah Alya.

 

“Sebutkan hasil panen utama di Pulau Jawa,” ujar Bu Aini.

 

“A. Padi,” jawab Alya dalam hati, sama seperti yang dituliskannya di lembar jawaban.

 

Rina mengecek dan menandainya benar. Satu demi satu jawaban diumumkan, dan Rina mulai merasa kesal karena tidak menemukan satu kesalahan pun.

 

“Jumlah planet di tata surya yang dikenal saat ini?” tanya Bu Aini.

 

“B. Delapan,” lagi-lagi jawaban Alya benar. Rina menggigit bibirnya, mencoba tetap tenang meskipun hatinya mendidih.

 

Saat semua jawaban sudah dibacakan, Rina tidak punya pilihan selain menyerahkan lembar jawaban Alya tanpa satu kesalahan pun. Bu Rina mengambilnya dan tersenyum bangga.

 

“Selamat, Alya. Hasilmu sempurna di hari pertama ini,” kata Bu Aini dengan bangga.

 

Alya tersenyum malu-malu dan mengucapkan terima kasih. Suasana kelas sejenak hening, semua murid terkesima dengan pencapaian Alya yang baru pertama kali masuk sudah mendapat nilai sempurna. Lita, yang duduk di sebelahnya, bertepuk tangan pelan.

 

“Hebat, Alya! Kamu benar-benar pintar,” kata Lita dengan kagum.

 

Namun, di sudut lain, geng wanita syantik tampak semakin tidak suka. Rina menatap Alya dengan tatapan tajam, merasa posisinya terancam oleh murid baru yang cerdas dan anggun ini. Di dalam hatinya, ia bertekad untuk tidak membiarkan Alya dengan mudah merebut perhatian dan popularitas yang selama ini menjadi miliknya.

 

Bersambung....

Terpopuler

Comments

Kamaya

Kamaya

kenapa ya, geng cewek ky gini merasa harus memiliki cowok populer di sekolahny. pdhal aslinya dia gak dilirik samsek ma tuh cowok. tapi ttp aja mngklaim jgn direbut org lain. hm.,..

2024-07-30

4

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Panas Geng Syantik
3 Hari Pertama Penuh Ancaman
4 Semakin Dekat Semakin Dibenci
5 Geng Syantik Kalap
6 Usaha Selalu Gagal
7 Lolos Dari Penculikan
8 Memilih Kamu
9 Bisa-Bisanya Dijodohkan
10 Cemburu Diam-Diam
11 Rahasia Berdua
12 Rencana Pertama
13 Benar Perjodohan itu
14 Malam Pesta Sekolah Tiba
15 Cemburu dan Hukuman
16 Butuh Bukti Lagi
17 Bimo Mulai Menyebalkan
18 Berbincang dengan Calon Besan
19 Salah Sangka
20 Pesona Tersembunyi dari Bimo
21 Waktu Begitu Cepat
22 Rindu Rahasia
23 Malam Pertama Syahdu
24 Bulan Madu London
25 Melihat Bimo
26 Terluka Tapi Bahagia
27 Dilema Anak + Suami
28 Bimo Mencari Alya
29 Alya Bertemu Bimo
30 Awas Selingkuh
31 Masih Rindu
32 Teman Dekat Wanita
33 Reuni Sekolah Gemilang
34 Bukan Sekedar Teman
35 Cinta atau Bukan?
36 Tidak Jujur Pada Perasaan
37 Prahara Rina dan Andre
38 Jadi Kambing Conge
39 Dendam Teman Lama
40 Kesepakatan
41 Strategi Jebakan
42 Siasat Rina
43 Interogasi Alya dan Bimo
44 Saling Terbuka
45 Gangguan Hati
46 Menurut Rina
47 Momen Kejutan
48 Kabar Baik dan Buruk
49 Kedatangan Lagi Ibu Mertua
50 Kembali Tekanan Mertua
51 Berusaha Adil
52 Semakin Hilang
53 Salah Paham
54 Ketegangan dan Ketergantungan
55 Pulang ke Rumah Orang Tua
56 Kejutan tak Terduga
57 Kembali ke Rumah
58 Menghadapi Kebenaran
59 Konfrontasi dan Ketegangan
60 Ketegangan Baru
61 Pertarungan di Rumah
62 Keberanian di Tengah Kesulitan
63 Bukti Kecurigaan
64 Langkah Keberanian
65 64 Momen Penentu
66 Keputusan dan Perpisahan
Episodes

Updated 66 Episodes

1
Prolog
2
Panas Geng Syantik
3
Hari Pertama Penuh Ancaman
4
Semakin Dekat Semakin Dibenci
5
Geng Syantik Kalap
6
Usaha Selalu Gagal
7
Lolos Dari Penculikan
8
Memilih Kamu
9
Bisa-Bisanya Dijodohkan
10
Cemburu Diam-Diam
11
Rahasia Berdua
12
Rencana Pertama
13
Benar Perjodohan itu
14
Malam Pesta Sekolah Tiba
15
Cemburu dan Hukuman
16
Butuh Bukti Lagi
17
Bimo Mulai Menyebalkan
18
Berbincang dengan Calon Besan
19
Salah Sangka
20
Pesona Tersembunyi dari Bimo
21
Waktu Begitu Cepat
22
Rindu Rahasia
23
Malam Pertama Syahdu
24
Bulan Madu London
25
Melihat Bimo
26
Terluka Tapi Bahagia
27
Dilema Anak + Suami
28
Bimo Mencari Alya
29
Alya Bertemu Bimo
30
Awas Selingkuh
31
Masih Rindu
32
Teman Dekat Wanita
33
Reuni Sekolah Gemilang
34
Bukan Sekedar Teman
35
Cinta atau Bukan?
36
Tidak Jujur Pada Perasaan
37
Prahara Rina dan Andre
38
Jadi Kambing Conge
39
Dendam Teman Lama
40
Kesepakatan
41
Strategi Jebakan
42
Siasat Rina
43
Interogasi Alya dan Bimo
44
Saling Terbuka
45
Gangguan Hati
46
Menurut Rina
47
Momen Kejutan
48
Kabar Baik dan Buruk
49
Kedatangan Lagi Ibu Mertua
50
Kembali Tekanan Mertua
51
Berusaha Adil
52
Semakin Hilang
53
Salah Paham
54
Ketegangan dan Ketergantungan
55
Pulang ke Rumah Orang Tua
56
Kejutan tak Terduga
57
Kembali ke Rumah
58
Menghadapi Kebenaran
59
Konfrontasi dan Ketegangan
60
Ketegangan Baru
61
Pertarungan di Rumah
62
Keberanian di Tengah Kesulitan
63
Bukti Kecurigaan
64
Langkah Keberanian
65
64 Momen Penentu
66
Keputusan dan Perpisahan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!