Bab 13
Suatu pagi, saat Alya sedang duduk di taman sekolah, dia menunggu Lita. Kemudian Bimo datang dengan wajah serius. “Aku punya berita penting! Aku mendengar bahwa Rina dan geng syantik sedang merencanakan sesuatu yang besar untuk malam pesta sekolah minggu depan.”
Alya sedikit terkejut, dia sampai lupa bahwa di sekolah itu ada Bimo, seseorang yang berusaha Alya hindari, sebab benar-benar jadi hilang respect pada Bimo yang selama ini dianggap paling sederhana, perhatian, teman pria yang tidak menunjukkan gelagat genit dan cari perhatian padanya.
Namun, setelah mendengar perjodohan itu, jadi merasa semua kesederhanaan yang Bimo tunjukkan adalah kepalsuan. Padahal mungkin sama saja seperti yang lainnya, mencoba memikat Alya, tapi Bimo dengan cara tersembunyi.
“Heh, kok melamun?” tanya Bimo.
Alya terperanjat, dia menatap Bimo dengan serius. “Eh. I- iya, Bimo. Kita harus waspada. Ini bisa menjadi kesempatan kita untuk mengungkap mereka.”
Alya harus bisa mengendalikan perasaannya. Dia tidak mungkin tiba-tiba jaga jarak dari Bimo. Lagi pula, antara dirinya dan Bimo kan sedang ada misi, mau tidak mau Alya harus respons Bimo seperti biasanya. Hal ini juga dilama buat Alya.
Bimo mengangguk setuju. “Kita harus merencanakan dengan baik. Kita tidak bisa membuat kesalahan.”
“Eh, tapi, kamu tahu dari mana informasi ini?”
“Ada... lah, dari teman SMP ku yang sekolah di sini juga. Tapi dia beda kelas.”
Alya mengangguk-angguk, dia percayai ucapan Bimo. Kemudian datang Lita dengan wajah sedikit layu. Alya bertanya tentang keadaan Lita.
“Kasihan Arga dia harus pulang,” jawab Lita, sambil duduk di samping Alya.
“Separah itu ya, sampai harus pulang?”
Lita mengangguk lesu, “Tadi aja jalannya di papah ke samping sekolah, biar cepet sampai ke mobilnya.”
“Bukankah kemarin kelihatannya gak separah itu ya? Buktinya hari ini bisa masuk sekolah.” Bimo juga merasa heran.
“Tadi pagi saat masuk memang kaya biasa-biasa aja, meski aga sedikit pincang jalannya. Tapi barusan pas mau istirahat, tiba-tiba dia jatuh. Kakinya lemas.”
Bimo dan Alya memang ke luar kelas terlebih dahulu, sebab jadwal hari ini adalah ulangan. Siswa yang sudah selesai duluan, bisa ke luar untuk istirahat. Mereka berdua tentu saja ke luar lebih awal, bagi mereka ulangan seperti itu sangatlah mudah.
Alya mendengar cerita dari Lita merasa bersalah, harusnya dia yang berada di posisi Arga. Dia merasa jadi mengorbankan orang lain, padahal geng syantik benci pada dirinya saja.
“Tapi tangga itu udah dibersihkan mungkin ya? Kasihan kalau ada korban lagi.” Alya merasa cemas.
Lita mengangguk, dia tadi melihat ke sana sedang ada dua petugas kebersihan. Tangga itu pastinya akan bersih seperti semula. Bimo melihat wajah Alya yang lesu, pastinya Bimo paham dengan rasa bersalah temannya itu.
“Hei, kalian di sini rupanya.” Tiba-tiba Andre datang dengan wajah semringah.
“Eh, Ndre. Tumben kemari?” tanya Lita.
“Sengaja, cari Alya.” Andre menjawab begitu enteng.
Darah Bimo berdesir mendengar itu, meskipun dalam hati Bimo menolak dia cemburu. Dia sadar diri dengan keadaannya. Seorang Alya meskipun dari desa, tentunya tetap memilih yang terbaik jika ada pria mendekati. Selain penampilan yang bagus, latar belakang keluarga dan prestasi tentunya Alya pertimbangan. Dan semua hal itu ada di Andre, jago main basket, dari keluarga berada serta menjadi siswa populer di sekolah, sudah pasti penampilannya bisa dibilang sempurna. Idaman semua wanita.
“Ada apa Ndre?” tanya Alya.
“Kamu udah denger kan? Pesta sekolah minggu depan? Aku ngajak kamu khusus untuk datang bareng.”
Alya menjadi grogi, dia juga merasa tidak enak pada Bimo. Namun, dia juga tidak mengerti kenapa harus merasa tidak enak pada pria kharismatik itu. Bukankah saat ini sedang tidak respect terhadapnya? Harusnya momen ini dimanfaatkan oleh Alya untuk menunjukkan pada Bimo, bahwa kaya bukan tipe perempuan yang suka akan perjodohan.
Alya yakin, orang tua Bimo sudah memberi tahu Bimo tentang perjodohan ini. Makanya Bimo begitu baik pada Alya. Jadi Alya harus menunjukkan sikap menentang perjodohan. Andaikan tidak ada kata perjodohan, bisa saja kaya sungguhan suka pada pria yang selalu bintang kelas itu.
“Nanti aku pikirkan dulu ya Ndre. Masih minggu depan kan?” jawab Alya sangat hati-hati.
Andre mengangguk setuju. Dia tak masalah dengan jawaban Alya, meski sebelum pergi dari sana Andre sangat amat mempertimbangkan supaya Alya menerima permintaannya.
Di hati kecil Bimo, jelas terasa ada sayatan kecil. Meski Bimo menampik itu adalah cemburu. “Eh, aku ke kantin ya. Ibuku pasti butuh bantuan,” ucap Bimo tanpa menunggu jawaban dari Lita dan Alya.
Setelah kepergian Bimo, Lita mengeluarkan isi kepalanya tentang dua pria yang barusan ada bersama mereka. Yaitu tentang Andre yang suka pada Alya dan Bimo yang cemburu.
“Ah, udah ah. Jangan bahas itu. Kita semua teman biasa. Fokus belajar aja.” Alya menjawab cari aman. Dia tidak mau menambah beban hatinya akan percintaan.
**#
Saat malam pesta sekolah semakin dekat, Alya merasa jantungnya berdebar kencang. Ia tahu bahwa malam itu akan menjadi titik balik dalam perjuangan mereka melawan ketidakadilan di SMA Gemilang. Namun, saat ini semangatnya sedikit turun karena Bimo.
‘Aku egois gak sih, tetap baik ke Bimo hanya karena butuh dia aja untuk rencana buka fakta geng syantik?’ batin Alya, gelisah. Dalam hatinya ada sisi rasa bersalah
Malam pesta sekolah tiba, dan suasana di aula SMA Gemilang terasa meriah dengan lampu-lampu gemerlap dan musik yang mengalun lembut. Aula yang biasanya tampak biasa saja, malam ini berubah menjadi tempat yang magis. Balon-balon berwarna-warni menghiasi langit-langit, dan meja-meja dihias dengan kain sutra putih dan bunga-bunga segar. Para siswa dan siswi berpakaian terbaik mereka, menciptakan pemandangan yang penuh warna dan kegembiraan.
Alya, mengenakan gaun sederhana namun anggun berwarna biru tua, berdiri di sudut aula. Gaunnya mungkin tidak semewah milik yang lain, tapi ia memakainya dengan percaya diri. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, menambah pesona alami yang selalu ia miliki. Matanya yang tajam mengawasi setiap gerakan geng cantik, terutama Rina, yang sudah beberapa kali terlihat berbisik-bisik dengan anggotanya.
Andre, yang datang bersama Alya, sedang ke toilet, meninggalkan Alya sendiri. Alya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Ia tahu malam ini adalah momen yang menentukan. Ia harus tetap waspada. Andre tidak tahu tentang Alya begitu waspada dibalik sikap teduhnya. Ya, Alya menerima ajakan Andre untuk jadi pasangan pesta malam itu.
Alya merasa ada yang kurang menghadap geng syantik. Dia merasa sendiri , sebab biasanya ada Bimo, tapi Alya tidak melihat Bimo dari tadi. Alya pikir Bimo tidak datang ke pesta itu.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments