Hari Pertama Penuh Ancaman

Bab 2

Alya mungkin tidak menyadari sepenuhnya, tetapi hari pertama di sekolah baru telah mengukir namanya sebagai siswa yang luar biasa. Tantangan baru sudah menunggu di hadapannya, dan ia siap menghadapinya dengan kecerdasan, ketegasan, dan keanggunannya yang khas. Di sudut kelas, duduk seorang pria dengan penampilan sederhana. Namanya Bimo, putra dari ibu kantin di sekolah tersebut. Bimo adalah murid yang pintar, sama seperti Alya, dan pada ulangan hari itu, ia juga mendapatkan nilai sempurna. Namun, tidak seperti Alya yang menjadi pusat perhatian, Bimo lebih memilih untuk tetap diam dan tidak mencolok.

Bimo memiliki wajah yang tampan dengan kulit bersih, tetapi penampilannya sering kali tidak mencerminkan itu. Pakaiannya terlihat usang karena sudah lama tidak diganti, tidak seperti teman-temannya yang sering membeli seragam baru setiap kali yang lama sudah kekecilan. Kendati demikian, mata Bimo yang tenang dan dalam menyiratkan kecerdasan dan ketulusan yang jarang terlihat.

Dari tempat duduknya, Bimo memperhatikan Alya dengan diam-diam. Ada sesuatu tentang Alya yang membuatnya tertarik. Bukan hanya karena kecantikan atau kepintarannya, tetapi juga karena keanggunannya yang alami dan ketegasan yang terlihat saat ia menghadapi tantangan. Alya tidak pernah terlihat sombong atau angkuh, meskipun dia baru saja mendapatkan nilai sempurna pada ulangan pertama di sekolah barunya.

Di dalam hati, Bimo mengagumi Alya. Namun, rasa minder karena latar belakang keluarganya membuatnya enggan untuk mendekati atau berbicara dengan Alya. Ia merasa bahwa dirinya tidak sepadan dengan Alya yang terlihat begitu sempurna dan datang dari desa dengan segala kesederhanaannya yang mempesona.

Ketika Bu Aini memuji Alya di depan kelas, Bimo hanya tersenyum kecil sambil menunduk, merasakan kebanggaan yang sama karena ia juga berhasil mendapatkan nilai sempurna. Namun, kebanggaan itu tidak terlihat di wajahnya yang lebih sering menyimpan emosi. Baginya, cukup mengetahui bahwa dirinya mampu bersaing dalam akademik tanpa harus mencari pengakuan dari orang lain.

Bimo sering membantu ibunya di kantin sepulang sekolah. Meski hidupnya sederhana, Bimo memiliki hati yang besar dan keinginan yang kuat untuk meraih masa depan yang lebih baik. Di sela-sela waktu luangnya, ia sering membaca buku dan belajar, berusaha mengejar impian yang mungkin terlihat jauh di mata banyak orang.

Suatu hari, di kantin, ketika Bimo sedang membantu ibunya, ia melihat Alya datang untuk membeli makanan. Alya tersenyum padanya, dan Bimo merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Ia memberanikan diri untuk melayani Alya, meskipun tangannya sedikit gemetar.

“Selamat, nilai ulanganmu sempurna,” kata Bimo dengan suara pelan, mencoba menahan rasa malunya.

Alya tersenyum hangat, “Terima kasih. Aku dengar kamu juga dapat nilai sempurna. Hebat sekali.”

Bimo hanya mengangguk dan tersenyum tipis, merasa sedikit lebih percaya diri karena Alya mau berbicara dengannya. Di dalam hatinya, Bimo bertekad untuk lebih berani dan tidak membiarkan rasa mindernya menghalangi kesempatan untuk mengenal Alya lebih baik.

Hari-hari berlalu, dan meski Bimo masih banyak diam, ia mulai menyadari bahwa mungkin ada tempat untuknya di hati Alya. Ia tahu, perjalanan untuk mengatasi rasa mindernya masih panjang, tetapi dengan keberanian dan ketulusan, Bimo yakin bahwa dirinya bisa menjadi teman yang baik bagi Alya, meskipun dalam kesederhanaan hidupnya.

Di saat Bimo mulai menumbuhkan rasa percaya dirinya untuk mendekati Alya, seorang cowok populer dari tim basket bernama Andre juga mulai tertarik pada Alya. Andre adalah sosok yang selalu menjadi pusat perhatian, terutama di kalangan geng syantik. Meskipun Andre berada di kelas yang berbeda dengan Alya, kabar tentang murid baru yang cantik dan pintar ini sudah sampai ke telinganya.

Andre memiliki rencana tersendiri untuk mendekati Alya. Dia tidak terburu-buru, tetapi memilih pendekatan yang ramah dan sopan. Andre tahu bahwa untuk memikat hati Alya, dia harus menunjukkan sisi dewasanya dan kesopanan yang tidak dibuat-buat.

Pada suatu hari, ketika jam istirahat kedua, Andre melihat Alya sedang duduk sendirian di taman sekolah, membaca buku. Ini adalah kesempatan yang sudah ditunggunya. Dengan langkah yang mantap, dia mendekati Alya, sambil melemparkan senyum hangat.

“Hai, kamu Alya, kan?” Andre memulai percakapan dengan nada ramah.

Alya menoleh dan tersenyum. “Iya, betul. Kamu siapa?”

“Aku Andre, dari tim basket. Aku dengar kamu baru saja pindah ke sini. Gimana, sudah mulai betah?” tanya Andre dengan nada yang hangat dan perhatian.

Alya mengangguk. “Iya, sudah mulai betah. Teman-teman di sini ramah-ramah.”

Andre duduk di bangku sebelah Alya, menjaga jarak yang sopan. “Senang mendengarnya. Oh iya, selamat ya, aku dengar nilai ulanganmu sempurna. Hebat banget!”

“Terima kasih, Andre,” jawab Alya dengan senyum. “Aku Cuma berusaha yang terbaik saja.”

Andre tersenyum lagi. “Sama-sama. Aku juga sering latihan keras di tim basket. Mungkin kita bisa saling membantu kalau ada tugas atau latihan.”

Alya merasa nyaman dengan percakapan ini. Andre tampak tulus dan tidak memaksa. “Tentu saja, Andre. Aku senang bisa berbagi ilmu.”

Seiring waktu, Andre terus mendekati Alya dengan cara yang elegan dan sopan. Dia tidak hanya berbicara tentang dirinya sendiri, tetapi juga mendengarkan Alya dengan penuh perhatian. Andre ingin Alya melihatnya sebagai teman yang bisa diandalkan, bukan hanya sebagai cowok populer.

Di sisi lain, Bimo memperhatikan interaksi ini dari kejauhan. Dia merasa sedikit cemas melihat Andre yang begitu mudah mendekati Alya, tetapi Bimo tidak menyerah. Dia tahu bahwa kejujuran dan ketulusannya adalah kekuatan yang tidak bisa diabaikan. Bimo terus berusaha untuk mendekati Alya dengan caranya sendiri, meskipun perlahan-lahan.

Suatu hari, Bimo memberanikan diri untuk mendekati Alya setelah jam pelajaran berakhir. Dia melihat Alya sedang mengemasi buku-bukunya di kelas.

“Hai, Alya,” sapa Bimo dengan suara pelan.

Alya menoleh dan tersenyum. “Hai, Bimo. Ada apa?”

Bimo mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengatasi rasa gugupnya. “Aku hanya ingin bilang, kalau kamu butuh bantuan belajar atau ada tugas yang sulit, kamu bisa tanya aku. Aku senang bisa membantu.”

Alya tersenyum hangat. “Terima kasih, Bimo. Aku benar-benar menghargainya. Kamu juga hebat, nilaimu selalu bagus.”

Bimo merasa sedikit lega dan tersenyum. “Sama-sama. Kita bisa belajar bersama kalau kamu mau.”

Di tengah perhatian dari Andre yang populer dan Bimo yang sederhana, Alya merasa dihargai dan diperhatikan. Dia menghargai kebaikan dan ketulusan dari keduanya. Meskipun tantangan dan dinamika sosial di sekolah baru ini cukup rumit, Alya yakin bahwa dengan sikap yang baik dan hati yang tulus, dia bisa menemukan teman-teman sejati dan menjalani hari-harinya di sekolah dengan penuh semangat.

Dari kejauhan, geng cewek syantik memperhatikan dengan saksama saat Andre mendekati Alya di taman sekolah. Tatapan mereka penuh rasa tidak suka, terutama Rina, ketua geng yang merasa posisinya terancam. Hari pertama Alya di sekolah sudah membuat Rina khawatir, dan sekarang ketakutannya terbukti: Alya telah menarik perhatian Andre, pria yang menjadi pusat perhatian banyak gadis di sekolah.

Bersambung....

Episodes
1 Prolog
2 Panas Geng Syantik
3 Hari Pertama Penuh Ancaman
4 Semakin Dekat Semakin Dibenci
5 Geng Syantik Kalap
6 Usaha Selalu Gagal
7 Lolos Dari Penculikan
8 Memilih Kamu
9 Bisa-Bisanya Dijodohkan
10 Cemburu Diam-Diam
11 Rahasia Berdua
12 Rencana Pertama
13 Benar Perjodohan itu
14 Malam Pesta Sekolah Tiba
15 Cemburu dan Hukuman
16 Butuh Bukti Lagi
17 Bimo Mulai Menyebalkan
18 Berbincang dengan Calon Besan
19 Salah Sangka
20 Pesona Tersembunyi dari Bimo
21 Waktu Begitu Cepat
22 Rindu Rahasia
23 Malam Pertama Syahdu
24 Bulan Madu London
25 Melihat Bimo
26 Terluka Tapi Bahagia
27 Dilema Anak + Suami
28 Bimo Mencari Alya
29 Alya Bertemu Bimo
30 Awas Selingkuh
31 Masih Rindu
32 Teman Dekat Wanita
33 Reuni Sekolah Gemilang
34 Bukan Sekedar Teman
35 Cinta atau Bukan?
36 Tidak Jujur Pada Perasaan
37 Prahara Rina dan Andre
38 Jadi Kambing Conge
39 Dendam Teman Lama
40 Kesepakatan
41 Strategi Jebakan
42 Siasat Rina
43 Interogasi Alya dan Bimo
44 Saling Terbuka
45 Gangguan Hati
46 Menurut Rina
47 Momen Kejutan
48 Kabar Baik dan Buruk
49 Kedatangan Lagi Ibu Mertua
50 Kembali Tekanan Mertua
51 Berusaha Adil
52 Semakin Hilang
53 Salah Paham
54 Ketegangan dan Ketergantungan
55 Pulang ke Rumah Orang Tua
56 Kejutan tak Terduga
57 Kembali ke Rumah
58 Menghadapi Kebenaran
59 Konfrontasi dan Ketegangan
60 Ketegangan Baru
61 Pertarungan di Rumah
62 Keberanian di Tengah Kesulitan
63 Bukti Kecurigaan
64 Langkah Keberanian
65 64 Momen Penentu
66 Keputusan dan Perpisahan
Episodes

Updated 66 Episodes

1
Prolog
2
Panas Geng Syantik
3
Hari Pertama Penuh Ancaman
4
Semakin Dekat Semakin Dibenci
5
Geng Syantik Kalap
6
Usaha Selalu Gagal
7
Lolos Dari Penculikan
8
Memilih Kamu
9
Bisa-Bisanya Dijodohkan
10
Cemburu Diam-Diam
11
Rahasia Berdua
12
Rencana Pertama
13
Benar Perjodohan itu
14
Malam Pesta Sekolah Tiba
15
Cemburu dan Hukuman
16
Butuh Bukti Lagi
17
Bimo Mulai Menyebalkan
18
Berbincang dengan Calon Besan
19
Salah Sangka
20
Pesona Tersembunyi dari Bimo
21
Waktu Begitu Cepat
22
Rindu Rahasia
23
Malam Pertama Syahdu
24
Bulan Madu London
25
Melihat Bimo
26
Terluka Tapi Bahagia
27
Dilema Anak + Suami
28
Bimo Mencari Alya
29
Alya Bertemu Bimo
30
Awas Selingkuh
31
Masih Rindu
32
Teman Dekat Wanita
33
Reuni Sekolah Gemilang
34
Bukan Sekedar Teman
35
Cinta atau Bukan?
36
Tidak Jujur Pada Perasaan
37
Prahara Rina dan Andre
38
Jadi Kambing Conge
39
Dendam Teman Lama
40
Kesepakatan
41
Strategi Jebakan
42
Siasat Rina
43
Interogasi Alya dan Bimo
44
Saling Terbuka
45
Gangguan Hati
46
Menurut Rina
47
Momen Kejutan
48
Kabar Baik dan Buruk
49
Kedatangan Lagi Ibu Mertua
50
Kembali Tekanan Mertua
51
Berusaha Adil
52
Semakin Hilang
53
Salah Paham
54
Ketegangan dan Ketergantungan
55
Pulang ke Rumah Orang Tua
56
Kejutan tak Terduga
57
Kembali ke Rumah
58
Menghadapi Kebenaran
59
Konfrontasi dan Ketegangan
60
Ketegangan Baru
61
Pertarungan di Rumah
62
Keberanian di Tengah Kesulitan
63
Bukti Kecurigaan
64
Langkah Keberanian
65
64 Momen Penentu
66
Keputusan dan Perpisahan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!