17

Yuki mendongak. Seketika senyum di wajahnya mengembang. “Kau datang” Sambut Yuki ceria.

Bangsawan Dalto tersenyum. Dia memberikan buket bunga mawar kepada Yuki. “Aku sudah berjanji padamu, Akan datang kalau Kau berdandan cantik”

“Dengan kata lain, Kau sedang memuji penampilanku yang sekarang” sambar Yuki terkikik. Yuki menerima buket bunga mawar yang disodorkan Bangsawan Dalto. “Terimakasih” ucap Yuki senang. Dia mencium wangi bunga mawar tersebut. Durinya sudah di potong semua sehingga tidak akan melukai Yuki lagi.

“Bagaimana Bangsawan Dalto bisa menemukanku disini ?” Tanya Yuki dengan wajah penasaran. Yuki yakin posisi duduknya sudah cukup tersembunyi dari pandangan.

“Sebenarnya Aku sudah mengikutimu semenjak Kau datang” Aku Bangsawan Dalto dengan wajah santai.

“Apa ?!” kata Yuki terkejut.

“Aku melihatmu menolak para Bangsawan muda dengan kejam, ada apa dengan dirimu Yuki, memang tidak adakah satu orang saja didalam sana yang sesuai dengan kriteriamu ?” Tanya Bangsawan Dalto penasaran.

“Aku tidak mau menerima sindiranmu” Yuki mengembik dengan marah. “Seharusnya Kau menemuiku di awal dan bukan hanya menguntitku diam-diam”

“Perdana Menteri Olwrendho sedang membanggakan dirimu didepan teman-temannya. Bagaimana Aku bisa tega merusak kebahagiaannya dengan muncul dan mengajakmu pergi”

Yuki terdiam. Alasan Bangsawan Dalto cukup masuk akal. Perdana Menteri Olwrendho sangat antusias hari ini. Siapapun bisa merasakannya.

Musik lembut tanda lagu baru dimulai terdengar. “Apa Kau mau berdansa denganku” tawar Bangsawan Dalto berhati-hati setelah keduanya terdiam cukup lama dengan pikiran masing-masing.

Yuki menundukkan kepala. Memandang kedua kakinya yang dibiarkan tanpa alas kaki. Kemudian Dia mencondongkan sedikit tubuhnya untuk mengintip kedalam ruangan. “Aku tidak ingin kembali ke dalam dan sayangnya saat ini Mereka tidak bersahabat” kata Yukk menyesal.

“Itu bisa diatur. Aku akan membantumu” ujar Bangsawan Dalto meyakinkan Yuki. Bangsawan Dalto mengulurkan tangannya yang segera disambut Yuki. Yuki ditarik untuk turun ke lantai dengan kaki menginjak sepatu Bangsawan Dalto.

“Aku tidak mau kembali ke dalam” ujar Yuki lagi mengingatkan.

“Aku juga”

Keduanya berdiri cukup dekat. Satu tangan Mereka saling bertautan. Sementara satu tangan lagi berada di pundak dan pinggang pasangannya. Bangsawan Dalto sedikit menarik pinggang Yuki sehingga keduanya semakin dekat. Kemudian Dia mulai melangkahkan kakinya, mengikuti alunan musik yang sedang di mainkan. Keduanya berputar ringan. Bangsawan Dalto terus menatap Yuki dalam,membuat pipi gadis itu menjadi merah merona.

Jantung Yuki berdebar cukup kencang.

Mereka diam. Tidak saling berbicara. Hanya terdengar suara musik dan gesekan perhiasan yang saling beradu. Jakun Bangsawan Dalto bergerak naik turun. Dia terus menatap Yuki.

“Maaf…” bisik Bangsawan Dalto pada akhirnya.

Perlahan, wajah Bangsawan Dalto mendekat ke arah Yuki. Yuki hanya diam. Tidak tahu harus berbuat apa, waktu seolah berhenti berputar.

Ketika bibir Mereka nyaris bertemu. Terdengar suara Gulf yang berasal dari kantung Pakaian Yuki. Keduanya terkejut dan segera memisahkan diri dengan canggung. Wajah Yuki sangat merah. Dia tidak berani menatap Bangsawan Dalto. Yuki berusaha menyembunyikan kegugupannya. Dia mengambil Gulf dan mendapati Perdana Menyeri Olwrendho melakukan panggilan.

Yuki menghela nafas lega.

“Yuki, Kau berada di mana ?” Tanya Perdana Menteri Olwrendho begitu Yuki mengangkat panggilannya. Dia sangat cemas ketika menyadari Putrinya sudah tidak berada disampingnya. Dia terlalu asyik mengobrol dengan teman-temannya sampai melupakan keberadaan Yuki.

“Aku berada di balkon aula timur bersama dengan Bangsawan Dalto. Maaf Ayah. Tadi Aku merasa bosan didalam dan berjalan keluar untuk mencari angin. Aku akan kembali sekarang”

“Baiklah, Ayah tunggu di dekat pilar keempat” kata Perdana Menteri Olwrendho lebih tenang.

Yuki menutup Gulfnya dan memasukkannya kembali ke saku bajunya. Setelah itu Dia memakai kembali sepatunya. “Kau tidak ikut masuk kedalam ?” Tanya Yuki ketika melihat Bangsawan Dalto justru beringsut duduk di atas pagar batu.

“Tidak, Aku disini saja. Kau temanilah Ayahmu. Jangan membuatnya khawatir”

Yuki menganggukan kepala setuju. Dia kemudian mengambil buket bunga mawar yang diberikan Bangsawan Dalto. “Aku pergi dulu, sampai ketemu besok”

Yuki berlari masuk kedalam Aula. Berusaha bersikap seolah tidak terjadi sesuatu.

Apakah tadi Bangsawan Dalto ingin menciumku ?.

Jika iya kenapa ?.

Apakah Aku akan menerima ciumannya ?

Yuki terus mengulang pertanyaan yang sama dalam pikirannya sampai Dia menemukan Perdana Menteri Olwrendho sudah berdiri menunggu Yuki di tempat yang disepakati.

“Sudah malam, Ayo Kita menghadap Yang Mulia Raja Bardhana untuk berterimakasih dan berpamitan pulang”

Yuki mengikuti Ayah yang menuntunya untuk menemui Raja Bardhana. Raja Bardhana sedang berbicara dengan Pangeran Riana ketika Mereka menghadap untuk berpamitan. Yuki mengucapkan terimakasih kepada Raja Bardhana atas kebaikan Raja Bardhana.

Raja Bardhana mengantarkan Mereka didampingi oleh Pangeran Riana menuju kereta kuda dihalaman utama. Pangeran Riana tidak mengatakan apapun disepanjang jalan. Terlihat dingin dan acuh. Yuki berjalan beriringan dengannya tepat dibelakang Raja Bardhana dan Perdana Menteri Olwrendho.

“Apakah Anak gadismu sudah memiliki kekasih ?” Tanya Raja Bardhana tiba-tiba yang membuat jantung Yuki seakan berhenti.

Perdana Menteri Olwrendho melirik kearah Yuki sesaat. Yuki refleks menggerakan telapak tangannya yang bebas. Untuk menjawab lirikan dari Perdana Menteri Olwrendho.

“Aku dengar Putri Yuki selalu menolak para Bangsawan yang mendekatinya” kata Raja Bardhana lagi.

Yuki berharap Raja Bardhana tidak sedang membahas mengenai Bangsawan Voldermon.

“Yang Mulia Hamba sedang tidak memiliki kekasih. Alasan Hamba menolak para Bangsawan karena Hamba masih terlalu kecil untuk berpacaran dan masih ingin menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Selain itu Hamba masih ingin bebas berteman, tidak terikat dengan hubungan apapun diluar pertemanan” jawab Yuki canggung.

Raja Bardhana menunjuk buket bunga mawar yang ada di pelukan Yuki.

“Teman Hamba memberikannya pada Hamba sebagai hadiah penyambutan” jawab Yuki tertahan.

Raja Bardhana menganggukan kepala. Mereka kembali menuju halaman. Yuki berdiri disamping Perdana Menteri Olwrendho dengan canggung. Pertanyaan yang ditujukan Raja Bardhana mengenai kedekatannya dengan lawan jenis membuat Yuki gugup. Dia takut Raja Bardhana akan memaksa Yuki untuk menerima Bangsawan Voldermon.

“Jangan takut Putri Yuki. Aku tidak akan memaksamu bersama dengan Voldermon jika memang Kau tidak mau” kata Raja Bardhana seolah mengetahui pikiran Yuki.

Mendengar perkataan Raja Bardhana, Yuki langsung menatap Raja Bardhana penuh terimakasih. Senyumnya melebar senang. “Terimakasih Yang Mulia” jawab Yuki tulus.

“Tapi, Kau harus sering mengajaknya ke istana untuk mengunjungiku” kata Raja Bardhana lagi kepada Perdana Menteri Olwrendho.

“Baik Yang Mulia” jawab Perdana Menteri Olwrendho dengan sopan. Yuki dan Perdana Menteri Olwrendho memberi hormat kepada Raja Bardhana dan Pangeran Riana. Setelahnya keduanya naik kedalam kereta.

Kereta kuda perlahan berjalan meninggalkan istana.

...****************...

Yuki telah selesai mandi dan membersihkan diri. Dia menjatuhkan dirinya ke atas ranjang begitu Rena selesai membantunya menyisir rambut dan memakaikan Yuki ramuan untuk merawat kulit wajah. Yuki sangat lelah dan ingin beristirahat. Dia merasa bersyukur masalahnya dengan Bangsawan Voldermon dapat diselesaikan dengan baik oleh Raja Bardhana.

Yuki merentangkan tangan, merasa lega karena terbebas dari perhiasan dikepala yang membuatnya kepalanya sakit. Yuki tidak tahu bagaimana para gadis disekolahnya bisa bertahan dengan penderitaan seperti itu setiap harinya.

Rena keluar kamar mandi tepat ketika Yuki akan bergelung didalam selimutnya. Rena menghampiri Yuki. Tangannya mengulurkan sebuah bungkusan kain kecil berwarna merah. Mata Yuki yang nyaris terpejam terbuka lagi ketika Rena memanggilnya.

“Putri, ada bungkusan yang tertinggal didalam kantung bajumu” ujar Rena tenang.

Yuki melirik tangan Rena yang terulur kearahnya. Rena membawa kantung kain milik Pendeta Serfa yang terjatuh saat bertabrakan dengan Yuki di Aula istana. Yuki tidak bertemu dengan Pendeta serfa lagi tadi. Dia juga tidak mungkin menitipkan pada Raja Bardhana atau Pangeran Riana. Pikirannya sangat kacau tadi sehingga Dia juga tidak berpikiran untuk menitipkannya pada penjaga istana.

“Berikan padaku. Itu milik temanku yang terjatuh di Aula, besok Aku akan mengembalikannya” Yuki menerima kantung kain kecil dari tangan Rena dan meletakkannya begitu saja di atas nakas yang ada disamping tempat tidurnya.

“Jika sudah tidak ada yang diperluhkan. Saya permisi”

“Iya, istirahatlah. Selamat Malam Rena”

“Hamba permisi Putri. Selamat malam. Selamat tidur”

Rena mematikan lampu kamar dan hanya menyisakan lampu meja di samping tempat tidur Yuki. Kemudian Dia berjalan menuju pintu keluar dan menutupnya perlahan.

Saat sendirian. Alih-alih tidur, Yuki malah teringat kembali dengan kejadian di balkon istana tadi.

Yuki berusaha menekan keinginannya untuk menghubungi Bangsawan Dalto dan menanyakan maksud tindakannya tadi.

Yuki tidak ingin disangka terlalu percaya diri. Toh belum tentu juga Bangsawan Dalto akan menciumnya.

Yuki melirik ke nakas. Berusaha mengalihkan pikirannya. Bungkusan di atas nakas itu. Mungkin Yuki perlu mengeceknya terlebih dahulu. Bagaimana jika bungkusan itu ternyata bukan milik Pendeta Serfa. Dia harus memastikannya.

Yuki mencoba untuk mencari alasan supaya bisa membenarkan tindakan yang akan dilakukan. Dia membungkuk untuk mengambil kembali bungkusan kain diatas nakas. Menimangnya sebentar di tangan untuk memantapkan pikiran.

Perlahan, Dia membuka tali pembungkus dan menarik kantung itu agar terbuka.

Isinya hanya sebuah batu kerikil sebesar ibu jari.

Episodes
1 1
2 2
3 3
4 4
5 5
6 6
7 7
8 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20
21 21
22 22
23 23
24 24
25 25
26 26
27 27
28 28
29 29
30 30
31 31
32 32
33 33
34 34
35 35
36 36
37 37
38 38
39 39
40 40
41 41
42 42
43 43
44 44
45 45
46 46
47 47
48 48
49 49
50 50
51 51
52 52
53 53
54 54
55 55
56 56
57 57
58 58
59 59
60 60
61 61
62 62
63 63
64 64
65 65
66 66
67 67
68 68
69 69
70 70
71 71
72 72
73 73
74 74
75 75
76 76
77 77
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 89
90 90
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109
110 110
111 111
112 112
113 113 Morning Dew Season 1-End
114 1 Wind Direction (Morning Dew Series-Season 2)
115 2
116 3
117 4
118 5
119 6
120 7
121 8
122 9
123 10
124 11
125 12
126 13
127 14
128 15
129 16
130 17
131 18
132 19
133 20
134 21
135 22
136 23
137 24
138 25
139 26
140 27
141 28
142 29
143 30
144 31
145 32
146 33
147 34
148 35
149 36
150 39
151 40
152 41
153 42
154 43
155 44
156 45
157 46
158 47
159 48
160 49
161 50
162 51
163 52
164 53
165 54
166 55
167 56
168 57
169 58
170 59
171 60
172 61
173 62
174 63
175 64
176 65
177 66
178 67
179 68
180 69
181 70
182 71
183 72
184 73
185 74
186 75
187 76
188 77
189 78
190 79
191 80
192 81
193 82
194 83
195 84
196 85
197 86
198 87
199 88
200 89
201 90
202 91
203 92
204 93
205 94
206 95
207 96
208 97
209 98
210 99
211 100
212 101
Episodes

Updated 212 Episodes

1
1
2
2
3
3
4
4
5
5
6
6
7
7
8
8
9
9
10
10
11
11
12
12
13
13
14
14
15
15
16
16
17
17
18
18
19
19
20
20
21
21
22
22
23
23
24
24
25
25
26
26
27
27
28
28
29
29
30
30
31
31
32
32
33
33
34
34
35
35
36
36
37
37
38
38
39
39
40
40
41
41
42
42
43
43
44
44
45
45
46
46
47
47
48
48
49
49
50
50
51
51
52
52
53
53
54
54
55
55
56
56
57
57
58
58
59
59
60
60
61
61
62
62
63
63
64
64
65
65
66
66
67
67
68
68
69
69
70
70
71
71
72
72
73
73
74
74
75
75
76
76
77
77
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
89
90
90
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109
110
110
111
111
112
112
113
113 Morning Dew Season 1-End
114
1 Wind Direction (Morning Dew Series-Season 2)
115
2
116
3
117
4
118
5
119
6
120
7
121
8
122
9
123
10
124
11
125
12
126
13
127
14
128
15
129
16
130
17
131
18
132
19
133
20
134
21
135
22
136
23
137
24
138
25
139
26
140
27
141
28
142
29
143
30
144
31
145
32
146
33
147
34
148
35
149
36
150
39
151
40
152
41
153
42
154
43
155
44
156
45
157
46
158
47
159
48
160
49
161
50
162
51
163
52
164
53
165
54
166
55
167
56
168
57
169
58
170
59
171
60
172
61
173
62
174
63
175
64
176
65
177
66
178
67
179
68
180
69
181
70
182
71
183
72
184
73
185
74
186
75
187
76
188
77
189
78
190
79
191
80
192
81
193
82
194
83
195
84
196
85
197
86
198
87
199
88
200
89
201
90
202
91
203
92
204
93
205
94
206
95
207
96
208
97
209
98
210
99
211
100
212
101

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!