Yuki mendongak. Seketika senyum di wajahnya mengembang. “Kau datang” Sambut Yuki ceria.
Bangsawan Dalto tersenyum. Dia memberikan buket bunga mawar kepada Yuki. “Aku sudah berjanji padamu, Akan datang kalau Kau berdandan cantik”
“Dengan kata lain, Kau sedang memuji penampilanku yang sekarang” sambar Yuki terkikik. Yuki menerima buket bunga mawar yang disodorkan Bangsawan Dalto. “Terimakasih” ucap Yuki senang. Dia mencium wangi bunga mawar tersebut. Durinya sudah di potong semua sehingga tidak akan melukai Yuki lagi.
“Bagaimana Bangsawan Dalto bisa menemukanku disini ?” Tanya Yuki dengan wajah penasaran. Yuki yakin posisi duduknya sudah cukup tersembunyi dari pandangan.
“Sebenarnya Aku sudah mengikutimu semenjak Kau datang” Aku Bangsawan Dalto dengan wajah santai.
“Apa ?!” kata Yuki terkejut.
“Aku melihatmu menolak para Bangsawan muda dengan kejam, ada apa dengan dirimu Yuki, memang tidak adakah satu orang saja didalam sana yang sesuai dengan kriteriamu ?” Tanya Bangsawan Dalto penasaran.
“Aku tidak mau menerima sindiranmu” Yuki mengembik dengan marah. “Seharusnya Kau menemuiku di awal dan bukan hanya menguntitku diam-diam”
“Perdana Menteri Olwrendho sedang membanggakan dirimu didepan teman-temannya. Bagaimana Aku bisa tega merusak kebahagiaannya dengan muncul dan mengajakmu pergi”
Yuki terdiam. Alasan Bangsawan Dalto cukup masuk akal. Perdana Menteri Olwrendho sangat antusias hari ini. Siapapun bisa merasakannya.
Musik lembut tanda lagu baru dimulai terdengar. “Apa Kau mau berdansa denganku” tawar Bangsawan Dalto berhati-hati setelah keduanya terdiam cukup lama dengan pikiran masing-masing.
Yuki menundukkan kepala. Memandang kedua kakinya yang dibiarkan tanpa alas kaki. Kemudian Dia mencondongkan sedikit tubuhnya untuk mengintip kedalam ruangan. “Aku tidak ingin kembali ke dalam dan sayangnya saat ini Mereka tidak bersahabat” kata Yukk menyesal.
“Itu bisa diatur. Aku akan membantumu” ujar Bangsawan Dalto meyakinkan Yuki. Bangsawan Dalto mengulurkan tangannya yang segera disambut Yuki. Yuki ditarik untuk turun ke lantai dengan kaki menginjak sepatu Bangsawan Dalto.
“Aku tidak mau kembali ke dalam” ujar Yuki lagi mengingatkan.
“Aku juga”
Keduanya berdiri cukup dekat. Satu tangan Mereka saling bertautan. Sementara satu tangan lagi berada di pundak dan pinggang pasangannya. Bangsawan Dalto sedikit menarik pinggang Yuki sehingga keduanya semakin dekat. Kemudian Dia mulai melangkahkan kakinya, mengikuti alunan musik yang sedang di mainkan. Keduanya berputar ringan. Bangsawan Dalto terus menatap Yuki dalam,membuat pipi gadis itu menjadi merah merona.
Jantung Yuki berdebar cukup kencang.
Mereka diam. Tidak saling berbicara. Hanya terdengar suara musik dan gesekan perhiasan yang saling beradu. Jakun Bangsawan Dalto bergerak naik turun. Dia terus menatap Yuki.
“Maaf…” bisik Bangsawan Dalto pada akhirnya.
Perlahan, wajah Bangsawan Dalto mendekat ke arah Yuki. Yuki hanya diam. Tidak tahu harus berbuat apa, waktu seolah berhenti berputar.
Ketika bibir Mereka nyaris bertemu. Terdengar suara Gulf yang berasal dari kantung Pakaian Yuki. Keduanya terkejut dan segera memisahkan diri dengan canggung. Wajah Yuki sangat merah. Dia tidak berani menatap Bangsawan Dalto. Yuki berusaha menyembunyikan kegugupannya. Dia mengambil Gulf dan mendapati Perdana Menyeri Olwrendho melakukan panggilan.
Yuki menghela nafas lega.
“Yuki, Kau berada di mana ?” Tanya Perdana Menteri Olwrendho begitu Yuki mengangkat panggilannya. Dia sangat cemas ketika menyadari Putrinya sudah tidak berada disampingnya. Dia terlalu asyik mengobrol dengan teman-temannya sampai melupakan keberadaan Yuki.
“Aku berada di balkon aula timur bersama dengan Bangsawan Dalto. Maaf Ayah. Tadi Aku merasa bosan didalam dan berjalan keluar untuk mencari angin. Aku akan kembali sekarang”
“Baiklah, Ayah tunggu di dekat pilar keempat” kata Perdana Menteri Olwrendho lebih tenang.
Yuki menutup Gulfnya dan memasukkannya kembali ke saku bajunya. Setelah itu Dia memakai kembali sepatunya. “Kau tidak ikut masuk kedalam ?” Tanya Yuki ketika melihat Bangsawan Dalto justru beringsut duduk di atas pagar batu.
“Tidak, Aku disini saja. Kau temanilah Ayahmu. Jangan membuatnya khawatir”
Yuki menganggukan kepala setuju. Dia kemudian mengambil buket bunga mawar yang diberikan Bangsawan Dalto. “Aku pergi dulu, sampai ketemu besok”
Yuki berlari masuk kedalam Aula. Berusaha bersikap seolah tidak terjadi sesuatu.
Apakah tadi Bangsawan Dalto ingin menciumku ?.
Jika iya kenapa ?.
Apakah Aku akan menerima ciumannya ?
Yuki terus mengulang pertanyaan yang sama dalam pikirannya sampai Dia menemukan Perdana Menteri Olwrendho sudah berdiri menunggu Yuki di tempat yang disepakati.
“Sudah malam, Ayo Kita menghadap Yang Mulia Raja Bardhana untuk berterimakasih dan berpamitan pulang”
Yuki mengikuti Ayah yang menuntunya untuk menemui Raja Bardhana. Raja Bardhana sedang berbicara dengan Pangeran Riana ketika Mereka menghadap untuk berpamitan. Yuki mengucapkan terimakasih kepada Raja Bardhana atas kebaikan Raja Bardhana.
Raja Bardhana mengantarkan Mereka didampingi oleh Pangeran Riana menuju kereta kuda dihalaman utama. Pangeran Riana tidak mengatakan apapun disepanjang jalan. Terlihat dingin dan acuh. Yuki berjalan beriringan dengannya tepat dibelakang Raja Bardhana dan Perdana Menteri Olwrendho.
“Apakah Anak gadismu sudah memiliki kekasih ?” Tanya Raja Bardhana tiba-tiba yang membuat jantung Yuki seakan berhenti.
Perdana Menteri Olwrendho melirik kearah Yuki sesaat. Yuki refleks menggerakan telapak tangannya yang bebas. Untuk menjawab lirikan dari Perdana Menteri Olwrendho.
“Aku dengar Putri Yuki selalu menolak para Bangsawan yang mendekatinya” kata Raja Bardhana lagi.
Yuki berharap Raja Bardhana tidak sedang membahas mengenai Bangsawan Voldermon.
“Yang Mulia Hamba sedang tidak memiliki kekasih. Alasan Hamba menolak para Bangsawan karena Hamba masih terlalu kecil untuk berpacaran dan masih ingin menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Selain itu Hamba masih ingin bebas berteman, tidak terikat dengan hubungan apapun diluar pertemanan” jawab Yuki canggung.
Raja Bardhana menunjuk buket bunga mawar yang ada di pelukan Yuki.
“Teman Hamba memberikannya pada Hamba sebagai hadiah penyambutan” jawab Yuki tertahan.
Raja Bardhana menganggukan kepala. Mereka kembali menuju halaman. Yuki berdiri disamping Perdana Menteri Olwrendho dengan canggung. Pertanyaan yang ditujukan Raja Bardhana mengenai kedekatannya dengan lawan jenis membuat Yuki gugup. Dia takut Raja Bardhana akan memaksa Yuki untuk menerima Bangsawan Voldermon.
“Jangan takut Putri Yuki. Aku tidak akan memaksamu bersama dengan Voldermon jika memang Kau tidak mau” kata Raja Bardhana seolah mengetahui pikiran Yuki.
Mendengar perkataan Raja Bardhana, Yuki langsung menatap Raja Bardhana penuh terimakasih. Senyumnya melebar senang. “Terimakasih Yang Mulia” jawab Yuki tulus.
“Tapi, Kau harus sering mengajaknya ke istana untuk mengunjungiku” kata Raja Bardhana lagi kepada Perdana Menteri Olwrendho.
“Baik Yang Mulia” jawab Perdana Menteri Olwrendho dengan sopan. Yuki dan Perdana Menteri Olwrendho memberi hormat kepada Raja Bardhana dan Pangeran Riana. Setelahnya keduanya naik kedalam kereta.
Kereta kuda perlahan berjalan meninggalkan istana.
...****************...
Yuki telah selesai mandi dan membersihkan diri. Dia menjatuhkan dirinya ke atas ranjang begitu Rena selesai membantunya menyisir rambut dan memakaikan Yuki ramuan untuk merawat kulit wajah. Yuki sangat lelah dan ingin beristirahat. Dia merasa bersyukur masalahnya dengan Bangsawan Voldermon dapat diselesaikan dengan baik oleh Raja Bardhana.
Yuki merentangkan tangan, merasa lega karena terbebas dari perhiasan dikepala yang membuatnya kepalanya sakit. Yuki tidak tahu bagaimana para gadis disekolahnya bisa bertahan dengan penderitaan seperti itu setiap harinya.
Rena keluar kamar mandi tepat ketika Yuki akan bergelung didalam selimutnya. Rena menghampiri Yuki. Tangannya mengulurkan sebuah bungkusan kain kecil berwarna merah. Mata Yuki yang nyaris terpejam terbuka lagi ketika Rena memanggilnya.
“Putri, ada bungkusan yang tertinggal didalam kantung bajumu” ujar Rena tenang.
Yuki melirik tangan Rena yang terulur kearahnya. Rena membawa kantung kain milik Pendeta Serfa yang terjatuh saat bertabrakan dengan Yuki di Aula istana. Yuki tidak bertemu dengan Pendeta serfa lagi tadi. Dia juga tidak mungkin menitipkan pada Raja Bardhana atau Pangeran Riana. Pikirannya sangat kacau tadi sehingga Dia juga tidak berpikiran untuk menitipkannya pada penjaga istana.
“Berikan padaku. Itu milik temanku yang terjatuh di Aula, besok Aku akan mengembalikannya” Yuki menerima kantung kain kecil dari tangan Rena dan meletakkannya begitu saja di atas nakas yang ada disamping tempat tidurnya.
“Jika sudah tidak ada yang diperluhkan. Saya permisi”
“Iya, istirahatlah. Selamat Malam Rena”
“Hamba permisi Putri. Selamat malam. Selamat tidur”
Rena mematikan lampu kamar dan hanya menyisakan lampu meja di samping tempat tidur Yuki. Kemudian Dia berjalan menuju pintu keluar dan menutupnya perlahan.
Saat sendirian. Alih-alih tidur, Yuki malah teringat kembali dengan kejadian di balkon istana tadi.
Yuki berusaha menekan keinginannya untuk menghubungi Bangsawan Dalto dan menanyakan maksud tindakannya tadi.
Yuki tidak ingin disangka terlalu percaya diri. Toh belum tentu juga Bangsawan Dalto akan menciumnya.
Yuki melirik ke nakas. Berusaha mengalihkan pikirannya. Bungkusan di atas nakas itu. Mungkin Yuki perlu mengeceknya terlebih dahulu. Bagaimana jika bungkusan itu ternyata bukan milik Pendeta Serfa. Dia harus memastikannya.
Yuki mencoba untuk mencari alasan supaya bisa membenarkan tindakan yang akan dilakukan. Dia membungkuk untuk mengambil kembali bungkusan kain diatas nakas. Menimangnya sebentar di tangan untuk memantapkan pikiran.
Perlahan, Dia membuka tali pembungkus dan menarik kantung itu agar terbuka.
Isinya hanya sebuah batu kerikil sebesar ibu jari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 212 Episodes
Comments