6. Wabah Misterius

Praktik Harry dan Larasati kembali ramai. Pasien berdatangan silih berganti, tak hanya untuk berobat, tapi juga untuk melihat langsung sosok “pahlawan” yang telah menyelamatkan Kota Seroja dari teror para preman. Ketenangan dan kedamaian kembali menyelimuti klinik kecil itu.

Kebaikan hati Harry dan Larasati tak berhenti di situ. Mereka menggunakan sebagian besar penghasilan mereka untuk membantu warga miskin yang membutuhkan pengobatan.  Tindakan mulia mereka membuat keduanya semakin dicintai dan dihormati oleh seluruh warga Kota Seroja.

Sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa mereka, Walikota Seroja menghadiahi Harry dan Larasati sebuah rumah beserta isinya, lengkap dengan sebuah mobil untuk memudahkan mobilitas mereka.

Suatu sore yang tenang, saat keduanya sedang beristirahat di teras rumah baru mereka, Larasati menatap Harry dengan tatapan penuh cinta. “Harry,” ucapnya lembut, “aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikanmu. Kau telah menyelamatkanku, kau melindungi warga kota ini, kau…”

Larasati tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia bangkit dari duduknya dan mencium bibir Harry dengan penuh perasaan. Harry menyambut ciuman Larasati, hatinya dipenuhi kehangatan.

“Kita saling menjaga, Laras,” bisik Harry di sela-sela ciuman mereka. “Aku adalah priamu, dan bersama-sama, kita akan menghadapi apapun yang datang.” Harry melepaskan ciuman mereka dan menatap mata Larasati dengan serius. “Laras,” ucapnya, “ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Apa itu, Harry?” tanya Larasati penasaran.

“Saat melawan para preman itu,” Harry memulai dengan ragu, “aku merasakan energi yang sangat kuat di dalam diriku. Kekuatan yang… luar biasa.”

Larasati mengerutkan keningnya, mencoba memahami maksud perkataan Harry. “Energi? Kekuatan? Apa maksudmu, Harry?”

Harry mengangguk. “Aku yakin, Laras. Kita berdua memiliki kekuatan ini. Ingat batu ajaib yang kita temukan di hutan itu? Aku yakin batu itu memberkati kita dengan sesuatu yang lebih dari sekadar ilmu pengobatan.”

Larasati terdiam sejenak, mengingat-ingat kembali kejadian di masa lalu. “Aku ingat batu itu, Harry,” jawabnya pelan. “Tapi aku tidak pernah merasakan sesuatu yang aneh.”

“Mungkin kau lupa, Laras,” kata Harry. “Atau mungkin kita belum sepenuhnya menyadari potensi kekuatan ini. Saat itu, ketika aku tidak melihatmu di klinik, aku tiba-tiba tahu di mana kau berada.

Dan ketika aku melihatmu diseret oleh para preman itu, ada sesuatu yang meledak di dalam diriku. Kekuatan yang sangat besar. Dan aku menggunakannya untuk menyelamatkanmu.”

Larasati terpaku mendengar penuturan Harry. Ia mencoba merasakan kembali kejadian saat itu, mencari tahu apakah ia merasakan hal yang sama. “Aku… aku rasa aku merasakan sesuatu saat itu, Harry,” ucapnya ragu. “Tapi aku tidak yakin.”

“Kita harus berlatih, Laras,” ajak Harry dengan penuh semangat. “Kita harus belajar mengendalikan kekuatan ini. Kita bisa menggunakannya untuk melindungi diri kita sendiri, dan yang lebih penting, untuk menolong orang lain.”

Larasati menatap mata Harry, melihat tekad dan semangat yang membara di sana. Ia pun mengangguk, mantap dengan keputusannya. “Baiklah, Harry,” jawabnya. “Kita akan belajar bersama. Kita akan mengungkap rahasia kekuatan ini.”

Harry  tersenyum lega, merasa lega Larasati setidaknya terbuka untuk ide ini. "Kita lakukan bersama, Laras. Aku yakin kita bisa mengatasi semua rintangan yang ada di depan kita." Larasati mengembalikan senyuman Harry dengan mesra . "Ya, Sayang. Kita akan melakukannya bersama."

Dalam kesempatan  ini, Harry terus mengingatkan Larasati tentang potensi kekuatan mereka yang terkait dengan batu ajaib, sementara Larasati awalnya meragukan keberadaan kekuatan itu dalam dirinya sendiri.

Namun, dengan dorongan Harry, mereka berdua akhirnya setuju untuk menjelajahi dan memahami lebih dalam tentang kekuatan yang mereka miliki.

Larasati beralih berdiri di depan jendela, menatap taman bunganya yang sedang mekar. Harry mendekat dari belakang, menyelipkan lengan di pinggang ramping Larasati dan menyandarkan dagunya di bahunya. Aroma melati samar dari rambut Larasati memenuhi indranya. “Kamu adalah yang paling utama, bagiku,” bisik Harry, suaranya rendah dan penuh perasaan.

Laras tersenyum, merasakan detak jantungnya semakin cepat. “Kamu hanya bilang begitu karena kamu suka memanjakanku,” jawab Laras, menggigit bibirnya, merasa geli dengan sentuhan Harry yang mulai terasa

panas di kulitnya.

Harry meraih tangan Laras, menghentikan gerakannya sejenak. “Tidak, aku serius,” katanya sambil memutar tubuh Laras agar menghadapnya. Tatapan mata mereka bertemu, intens dan sarat akan emosi yang tak terucapkan. “Kamu membuat segalanya terasa lebih baik.”

Laras tenggelam dalam sorot mata Harry, merasakan gelombang emosi yang tak terucapkan. Mereka berdiri begitu dekat, napas mereka menyatu. “Harry…” bisiknya pelan, tak mampu menyembunyikan

perasaannya lagi.

Harry menundukkan kepalanya, bibirnya menyentuh bibir Laras dengan lembut, namun dalam sekejap, ciuman itu semakin dalam, penuh dengan gejolak hasrat dan cinta yang membara. Laras mengalungkan tangannya di leher Harry, membiarkan dirinya terhanyut dalam pusaran emosi yang memabukkan.

Malam itu, mereka hanyalah dua insan yang saling mencintai, terlarut dalam bahasa cinta yang hanya mereka yang mengerti.

Kabut tebal menyelimuti Kota Seroja, meredupkan sinar mentari pagi dan menebarkan suasana mencekam. Bukan hanya kabut biasa, tapi juga kabut ketakutan yang kian hari kian pekat mencengkeram hati warganya. Sebuah wabah misterius menyerang kota itu, menumbangkan satu per satu penduduknya dengan gejala yang mengerikan:

demam tinggi, mual hebat, dan kelemahan yang melumpuhkan.

Di tengah kepanikan yang melanda, Harry dan Larasati tak tinggal diam. Klinik mereka dibanjiri pasien, namun mereka tak sanggup berbuat banyak karena belum mengetahui penyebab pasti penyakit tersebut.

Bersama para tabib dan dokter terkemuka di Kota Seroja, mereka berkumpul di ruang kerja Harry, berusaha mencari jawaban atas misteri yang mengancam nyawa banyak orang.

Sebuah peta besar Kota Seroja terbentang di atas meja, dipenuhi titik-titik berwarna yang menandai lokasi pasien-pasien pertama yang terjangkit wabah. Wajah-wajah tegang dan serius terlihat di ruangan itu, mencerminkan besarnya tanggung jawab yang mereka emban.

“Kita harus bertindak cepat sebelum wabah ini semakin meluas,” ucap Harry, suaranya berat. Matanya menyapu wajah rekan-rekannya, memancarkan tekad bulat untuk menemukan solusi.

“Kita perlu bekerja sama untuk mengidentifikasi pola dan penyebab di balik penyakit ini,” tambah Larasati. “Apakah ada informasi lebih lanjut tentang kontak-kontak awal yang bisa kita telusuri?”

Tabib Andi, seorang ahli epidemiologi yang juga disegani, angkat bicara. “Saya telah melakukan survei awal di antara pasien-pasien. Sepertinya ada pola tertentu dalam lokasi dan latar belakang mereka. Kebanyakan dari mereka memiliki kontak dengan air dari sungai tertentu atau tinggal di daerah dengan tingkat polusi udara yang

tinggi.”

Perhatian semua orang tertuju pada peta. Jari-jari mereka menelusuri aliran sungai yang membelah Kota Seroja, mencari titik temu antara lokasi pasien dan sumber air tersebut.

“Sungai-sungai ini adalah jalur utama polutan di kota kita,” ujar Dokter Rina, seorang ahli lingkungan yang sudah lama mempelajari ekosistem Kota Seroja,dari  Rumah Sakit Daerah“ Kemungkinan ada hubungan

yang kuat antara kualitas air dan munculnya penyakit ini.”

“Kita perlu mengambil sampel air dan tanah dari daerah-daerah ini untuk analisis lebih lanjut,” usul Tabib Budi, seorang ahli toksikologi. “Kita juga harus memeriksa pabrik-pabrik dan instalasi industri di sekitar sungai-sungai ini. Bisa jadi ada zat berbahaya yang mencemari lingkungan.”

Tanpa membuang waktu, Harry, Larasati, dan timnya segera bergerak. Mereka membagi tugas, mengumpulkan sampel air dan tanah dari berbagai titik di sepanjang sungai, serta menyelidiki pabrik-pabrik yang dicurigai sebagai sumber pencemaran.

Perjuangan mereka melawan waktu telah dimulai. Wabah misterius itu harus segera dihentikan sebelum semakin banyak korban berjatuhan.

Hari-hari berganti, Harry, Larasati, dan timnya bekerja tanpa lelah di laboratorium. Berbagai sampel air dan tanah dari berbagai penjuru kota mereka teliti, berharap menemukan petunjuk tentang penyebab wabah misterius ini.

Namun, seakan takdir menguji tekad mereka, rintangan demi rintangan menghadang jalan mereka.

Tekanan datang dari berbagai arah. Pihak-pihak tak dikenal mulai melancarkan teror, mencoba menghentikan penyelidikan mereka.

Ancaman dan intimidasi ditujukan kepada para tabib dan dokter yang terlibat. Pesan-pesan ancaman diterima melalui telepon atau diselipkan di tempat-tempat tak terduga. Ketakutan mulai merayap di hati sebagian orang, namun tidak bagi Harry dan Larasati.

“Kita tidak boleh menyerah, Laras,” ucap Harry suatu malam, matanya memancarkan tekad baja. “Nyawa banyak orang bergantung pada kita.”

“Aku tahu, Harry,” jawab Larasati, genggaman tangannya di meja laboratorium mengerat. “Tapi aku khawatir. Ancaman ini semakin menjadi-jadi.”

DaN Kekhawatiran Larasati terbukti. Suatu malam, ketika Harry sedang asyik menganalisa sampel air di laboratorium, telepon di meja kerjanya berdering nyaring. Larasati di ujung sana, suaranya dipenuhi kepanikan.

“Harry! Cepat pulang! Ada yang mencoba masuk ke rumah!”

Tanpa pikir panjang, Harry melempar jas labnya dan berlari keluar dari laboratorium. Jantungnya berdebar kencang, pikirannya dipenuhi bayangan Larasati dalam bahaya. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, menerobos pekatnya malam di Kota Seroja.

Sesampainya di rumah, Harry mendapati tiga orang tak dikenal sedang berusaha mendobrak pintu rumahnya. Tanpa ragu, ia menerjang mereka dengan kekuatan yang tak terduga. Pukulan dan tendangannya menghantam para penyusup itu dengan akurat dan mematikan. Teriakan kesakitan memecah keheningan malam.

Dalam hitungan menit, ketiga penyusup itu terkapar tak berdaya. Harry segera menghubungi polisi, sementara Larasati keluar dari tempat persembunyiannya, wajahnya pucat pasi.

“Kalau terlambat sedikit saja…” bisik Larasati, suaranya bergetar.

Harry memeluk Larasati erat, menyalurkan rasa tenang dan perlindungannya. “Aku di sini sekarang,” bisiknya lembut. “Tidak akan kubiarkan siapa pun menyakitimu.”

Episodes
1 1. Larasati dan Harry
2 2. Hujan Badai dan Cinta
3 3. Keajaiban itu datang
4 4. Ketika Ketenaran Menjadi Ancaman
5 5. Konflik
6 6. Wabah Misterius
7 7. Akar Masalah
8 8. Mafia Kota Seroja
9 9. Purnama Yang Indah
10 10. Menolong Walikota Permai
11 11. Berlatih
12 12. Dokter Rina.
13 13. Wajib Militer.
14 14. Berangkat
15 15. Tabib Atau Kultivator.?
16 16. Berlatih.
17 17. Pulang Melepas Rindu
18 18. Penculikan Rina
19 19. Mafia Kota Seroja
20 20. Hukuman
21 21.Sebuah Komitmen
22 22. Mengikuti Turnamen
23 23. Turnamen yang Mudah
24 24. Anggota Baru
25 25. Li Hua
26 26. Keluarga Bangsawan
27 27. Memenuhi tantangan
28 28. Provokasi
29 29. Satu Tamparan
30 30. Master Yang Sebenarnya.
31 31. Klan Bangsawan
32 32. Mansion Bangsawan
33 33. Sampah
34 34. Tusuk Gigi
35 35. Berlutut
36 36. Ambil Alih
37 37. Tamu tak diundang
38 38. Larasati dan Rina Pulang
39 39. Undangan Klan Xiao
40 40. Kota Tersembunyi
41 41. Chimera
42 42.Teman.
43 43. Jantung Kota
44 44. Sang Penjaga
45 45. Pembebasan
46 46. Dimensi Lain
47 47. Olah Kekuatan Dewa
48 48. Tujuh Penjaga
49 49. Cinta Adalah Segalanya
50 50. Kemenangan dan Dilema
51 51. Pertemuan Di Gubug Kenangan
52 51. Reaksi Emosional
53 53. Xiao Lin
54 54. Cinta dan Tradisi
55 55. Harapan Baru
56 56. Kun Lun
57 57. Amukan Sang Immortal Ascension
58 58. Sekte Teratai Putih
59 59. Permintaan Harry
60 60. Tablet Hati Teratai
61 61. Elemen Cahaya
62 62. Pengorbanan
63 63. Lin Wei
64 64. Sebuah Keluarga
65 65. Elemen
66 66. Perjalanan
67 67. Demon Beast
68 68. Hukum Ruang Dan Waktu
69 69. Esensi Aether
70 70. Lembah Teratai
71 71. Kebangkitan Sang Penjaga
72 72. Hutan Bambu Berbisik
73 73. Makhluk Kecil Bersayap Kupu-kupu.
74 74. Fire Drake - Naga Api
75 75. Api dan Tanah Yang Terpilih
76 76. Bisikan Kegelapan
77 77. Lembah Bayangan
78 78. Makhluk Kegelapan
79 79. Kekuatan Aether
80 80. Kebangkitan Bayangan
81 81. Bayangan dan Kenangan.
82 82. Warisan Tersembunyi
83 83. Badai Pemusnah Kegelapan.
84 84. Kerinduan Sarang Cinta
85 85. Bayang-Bayang di Balik Cahaya
86 86. Goa Kristal dan Bisikan Kegelapan
87 87. Murka Sang Putri Bayangan
88 88. Kebangkitan Cahaya
89 89. Berbagi Kisah
90 90. Konspirasi
91 91. Pertempuran Di Mulut Gua
92 92. Amarah Rina
93 93. Jejak Gerbang Semesta
94 94. Pembersihan
95 95. Legenda Avalon
96 96. Ikatan Tak Terpisahkan
97 97. Magma Collossus - Raksasa Lava
98 98. Shadow Fang - Srigala Iblis
99 99. Drakorin Naga Api Avalon
100 100. Tantangan Drakorin
101 101. Bayangan Diri
102 102. Jeritan Hati
103 103. Sangkar Mistis
104 104. Goblin
105 105. Orc Raksasa
106 106. Pion
107 107. Pedang Avalon
108 108. Membuat Aliansi
109 109. Menantang Asosiasi
110 110. Musuh Kuat
111 111. Antek Malthazar
112 112. Jejak Gelap di Jalur Suci
113 113. Gerbang Bintang
114 114. Leluhur Sekte Teratai Putih.
115 115. Nebula Pelangi
116 116. Makhluk Kosmik
117 117. Kristal Langit
118 118. Artefak Elemental
119 119. Larasati
120 120. Kristal Es
121 121. Rina
122 122. Gurita Emas
123 123. Xiao Lin
124 124. Li Hua
125 125. Reuni Keluarga Poliamori.
126 126. Suasana Ceria
127 127. Menemui Dewa Kehidupan
128 128. Peleburan Kristal Langit
129 129. Bulan Madu
130 130. Mengundang Tokoh
131 131. Jenderal Lin Dan Tokoh Penting
132 132. Lin Wei Vs Tanaka
133 133. Rina
134 134. Rina 2
135 135. Li Hua
136 136. Xiao Lin
137 137. Larasati
138 138. Harry
139 139. Pembersihan
140 140. Aliansi Dengan Ratu Elf.
141 141. Dwarf
142 142. Makhluk Berinsekta
143 143. Kelicikan
144 144. Aliansi dan Sarang Cinta
145 145. Diambang Pertempuran
146 146. Kekuatan Cinta dan Aliansi Yang Kuat
147 147. Di Aethelhum
148 148. Pemberontakan Chimera.!
149 149. Lembah Abbysal
150 150. Ratu Peri Dan Hutan Kristal.
151 151. Demi Cinta
152 152. Kembali ke Cinta
153 153. Gubug Kenangan dan Cinta yang Abadi
154 154.Legenda Penjaga Gerbang Semesta - Tamat.
Episodes

Updated 154 Episodes

1
1. Larasati dan Harry
2
2. Hujan Badai dan Cinta
3
3. Keajaiban itu datang
4
4. Ketika Ketenaran Menjadi Ancaman
5
5. Konflik
6
6. Wabah Misterius
7
7. Akar Masalah
8
8. Mafia Kota Seroja
9
9. Purnama Yang Indah
10
10. Menolong Walikota Permai
11
11. Berlatih
12
12. Dokter Rina.
13
13. Wajib Militer.
14
14. Berangkat
15
15. Tabib Atau Kultivator.?
16
16. Berlatih.
17
17. Pulang Melepas Rindu
18
18. Penculikan Rina
19
19. Mafia Kota Seroja
20
20. Hukuman
21
21.Sebuah Komitmen
22
22. Mengikuti Turnamen
23
23. Turnamen yang Mudah
24
24. Anggota Baru
25
25. Li Hua
26
26. Keluarga Bangsawan
27
27. Memenuhi tantangan
28
28. Provokasi
29
29. Satu Tamparan
30
30. Master Yang Sebenarnya.
31
31. Klan Bangsawan
32
32. Mansion Bangsawan
33
33. Sampah
34
34. Tusuk Gigi
35
35. Berlutut
36
36. Ambil Alih
37
37. Tamu tak diundang
38
38. Larasati dan Rina Pulang
39
39. Undangan Klan Xiao
40
40. Kota Tersembunyi
41
41. Chimera
42
42.Teman.
43
43. Jantung Kota
44
44. Sang Penjaga
45
45. Pembebasan
46
46. Dimensi Lain
47
47. Olah Kekuatan Dewa
48
48. Tujuh Penjaga
49
49. Cinta Adalah Segalanya
50
50. Kemenangan dan Dilema
51
51. Pertemuan Di Gubug Kenangan
52
51. Reaksi Emosional
53
53. Xiao Lin
54
54. Cinta dan Tradisi
55
55. Harapan Baru
56
56. Kun Lun
57
57. Amukan Sang Immortal Ascension
58
58. Sekte Teratai Putih
59
59. Permintaan Harry
60
60. Tablet Hati Teratai
61
61. Elemen Cahaya
62
62. Pengorbanan
63
63. Lin Wei
64
64. Sebuah Keluarga
65
65. Elemen
66
66. Perjalanan
67
67. Demon Beast
68
68. Hukum Ruang Dan Waktu
69
69. Esensi Aether
70
70. Lembah Teratai
71
71. Kebangkitan Sang Penjaga
72
72. Hutan Bambu Berbisik
73
73. Makhluk Kecil Bersayap Kupu-kupu.
74
74. Fire Drake - Naga Api
75
75. Api dan Tanah Yang Terpilih
76
76. Bisikan Kegelapan
77
77. Lembah Bayangan
78
78. Makhluk Kegelapan
79
79. Kekuatan Aether
80
80. Kebangkitan Bayangan
81
81. Bayangan dan Kenangan.
82
82. Warisan Tersembunyi
83
83. Badai Pemusnah Kegelapan.
84
84. Kerinduan Sarang Cinta
85
85. Bayang-Bayang di Balik Cahaya
86
86. Goa Kristal dan Bisikan Kegelapan
87
87. Murka Sang Putri Bayangan
88
88. Kebangkitan Cahaya
89
89. Berbagi Kisah
90
90. Konspirasi
91
91. Pertempuran Di Mulut Gua
92
92. Amarah Rina
93
93. Jejak Gerbang Semesta
94
94. Pembersihan
95
95. Legenda Avalon
96
96. Ikatan Tak Terpisahkan
97
97. Magma Collossus - Raksasa Lava
98
98. Shadow Fang - Srigala Iblis
99
99. Drakorin Naga Api Avalon
100
100. Tantangan Drakorin
101
101. Bayangan Diri
102
102. Jeritan Hati
103
103. Sangkar Mistis
104
104. Goblin
105
105. Orc Raksasa
106
106. Pion
107
107. Pedang Avalon
108
108. Membuat Aliansi
109
109. Menantang Asosiasi
110
110. Musuh Kuat
111
111. Antek Malthazar
112
112. Jejak Gelap di Jalur Suci
113
113. Gerbang Bintang
114
114. Leluhur Sekte Teratai Putih.
115
115. Nebula Pelangi
116
116. Makhluk Kosmik
117
117. Kristal Langit
118
118. Artefak Elemental
119
119. Larasati
120
120. Kristal Es
121
121. Rina
122
122. Gurita Emas
123
123. Xiao Lin
124
124. Li Hua
125
125. Reuni Keluarga Poliamori.
126
126. Suasana Ceria
127
127. Menemui Dewa Kehidupan
128
128. Peleburan Kristal Langit
129
129. Bulan Madu
130
130. Mengundang Tokoh
131
131. Jenderal Lin Dan Tokoh Penting
132
132. Lin Wei Vs Tanaka
133
133. Rina
134
134. Rina 2
135
135. Li Hua
136
136. Xiao Lin
137
137. Larasati
138
138. Harry
139
139. Pembersihan
140
140. Aliansi Dengan Ratu Elf.
141
141. Dwarf
142
142. Makhluk Berinsekta
143
143. Kelicikan
144
144. Aliansi dan Sarang Cinta
145
145. Diambang Pertempuran
146
146. Kekuatan Cinta dan Aliansi Yang Kuat
147
147. Di Aethelhum
148
148. Pemberontakan Chimera.!
149
149. Lembah Abbysal
150
150. Ratu Peri Dan Hutan Kristal.
151
151. Demi Cinta
152
152. Kembali ke Cinta
153
153. Gubug Kenangan dan Cinta yang Abadi
154
154.Legenda Penjaga Gerbang Semesta - Tamat.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!