Bab Empat Belas

"Siapa kamu? Kenapa ada di kamar mandi wanita?" tanya Ana dengan suara penuh penekanan.

Ana menurunkan bajunya. Bukannya takut, pria itu justru tersenyum simpul mendemgar pertanyaan gadis itu.

Melihat pria itu tersenyum, Ana menjadi geram. Tangannya terkepal menahan amarah.

"Kenapa tersenyum? Dasar Oom-oom mesum! Pasti sengaja masuk kamar mandi perempuan untuk melihat gadis-gadis yang ke kamar mandi!" ujar Ana dengan ketus.

Pria itu masih diam, tak ada suara. Dia hanya menaik turunkan alisnya dan mengangkat bahunya, seperti mengatakan ketidak peduliannya. Pria itu lalu berjalan menuju pintu keluar.

Ana yang merasa belum puas menegur pria itu tak terima saat melihat dia ingin pergi. Cepat-cepat menahan dengan memegang pergelangan tangannya.

"Mau lari kemana, Om? Kamu harus dipertemukan dengan pihak keamanan. Jelaskan di pos jaga tujuan dan maksud kamu masuk ke kamar mandi wanita!" ucap Ana dengan penuh keyakinan.

"Kamu yang harus ke pos jaga! Masuk ke kamar mandi pria, pasti ingin mengintip'kan?" tanya pria itu sambil tersenyum mengejek.

Ana lalu melepaskan cekalan tangannya. Dia melihat ke pintu. Ternyata pria itu benar. Dia yang salah masuk kamar mandi. Ana yang merasa malu langsung berjalan keluar.

"Maaf, Om ...," ucap Ana sambil menunduk karena malu.

"Om, kamu panggil saya Om?" tanya pria itu.

"Kamu memang pantas di panggil Om. Jangan merasa muda. Ingat umur, Om!" seru Ana.

Setelah mengucapkan itu, dia langsung berjalan cepat keluar dari kamar mandi. Rasanya malu sekali. Sudah marah-marah ternyata dia yang salah. Ana masuk ke kamar wanita. Dia melihat ke cermin. Wajahnya memerah karena menahan malu.

Setengah jam berlalu, Ana keluar dari kamar mandi dan kembali ke meja kerjanya. Meyda menatap dengan heran melihat sahabatnya sedikit cemberut.

"Kenapa cemberut?" tanya Meyda.

Setahun berteman akrab dengan gadis itu, Meyda sudah hafal dengan sikapnya. Ana pasti sedang kesal jika memasang wajah begitu.

"Aku salah masuk kamar mandi. Ada pria yang aku maki-maki. Padahal aku yang salah masuk kamar. Malu banget," bisik Ana.

Meyda yang mendengar cerita sahabatnya tak bisa menahan tawa. Sehingga mereka menjadi pusat perhatian. Ana lalu mencubit paha gadis itu agar dia bisa diam. Setelah tawanya reda, dia kembali bertanya.

"Terus gimana dengan pria itu?" tanya Meyda lagi.

"Aku segera keluar kamar mandi setelah minta maaf. Dih, malu banget," bisik Ana.

Meyda kembali tertawa membuat mereka kembali jadi perhatian. Ana langsung menutup mulut sahabatnya. Gadis itu memang tak bisa menahan tawa jika mendengar atau melihat hal yang lucu. Pasti tertawa dengan keras secara spontan.

Ana meminta Meyda kembali fokus ke pekerjaan. Sedang asyik mengetik di laptopnya. Salah seorang karyawan menghampiri mereka.

"Maaf Mbak Ana, kamu di panggil atasan. Di minta temui di ruang kerjanya!" ucap karyawan itu.

"Baiklah, terima kasih," balas Ana.

Setelah karyawan itu pergi, Ana menatap Meyda. Gadis itu mendekati sahabatnya.

"Hati-hati, Ana. Banyak yang bilang dia sangat galak. Berbeda dengan bapaknya," bisik Meyda.

"Kamu jangan takut-takuti aku dong. Nanti aku pingsan kamu juga yang repot," bisik Ana lagi.

"Paling aku tinggalin aja," balas Meyda.

"Kamu tak akan tega membiarkan sahabatmu yang cantik dan baik hati ini pingsan," ujar Ana.

"Jangan banyak omong, sana cepat. Nanti kamu tambah dimarahin karena telat," kata Meyda sambil mendorong Ana secara pelan.

Dengan langkah berat, Ana berjalan menuju ruang kerja atasannya. Dia mengetuk pintu perlahan. Terdengar suara sahutan yang mempersilakan masuk. Suara berat dari seorang pria.

Ana membuka pintu perlahan dan berjalan masuk dengan jantung berdetak lebih cepat. Selama setahun bekerja di kantor pusat ini, bertemu Bapak Sandi hanya lima kali saat pengantaran laporan. Selebihnya hanya di serahkan melalui sekretaris saja.

Bapak Sandi terkenal baik dan ramah dengan karyawannya. Sehingga Ana tak begitu takut menghadapinya.

"Selamat sore, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ana.

Pria itu masih menunduk tanpa melihat ke arah Ana. Sehingga wanita itu berpikir jika sang atasan memang sangat sombong. Padahal saat ini gadis itu telah berhadapan dengannya, tapi pria itu tak mengindahkan kehadirannya.

"Mana laporan!" ucapnya dengan tangan yang masih sibuk di laptop.

"Jadi Bapak memanggil saya untuk menyerahkan laporan penjualan?" tanya Ana dengan lugunya.

Ana memang tidak tahu maksudnya di panggil. Karyawan tadi hanya mengatakan jika dia di minta menghadap atasan saja. Salahnya dia juga tak bertanya.

"Jadi kamu pikir aku memanggil kamu untuk apa? Ngajak makan, atau mengajak kencan?" tanya atasannya itu.

Pria itu mengangkat wajahnya. Ana tampak sangat terkejut ketika menyadari siapa atasannya.

"Kamu ternyata ...," ucap atasan Ana yang bernama Rakha.

"Oom ...." Ana berucap spontan menyebut atasannya dengan panggilan oom.

"Oom ... Oom, kapan aku menikah dengan tantemu!" seru Rakha dengan ketus.

Mendengar ucapan Rakha yang ketus membuat Ana sedikit kicep. Dia tak menyangka jika pria yang tadi ada di kamar mandi adalah atasannya. Ana terdiam sambil terus memandangi atasannya tanpa kedip.

"Jangan hanya memandangiku saja! Mana laporannya?" tanya Rakha lagi.

"Laporan ... laporan apa, Pak?" tanya Ana lagi.

"Iya, laporan penjualan. Kamu kira laporan apa?" tanya Rakha dengan suara makin tinggi.

Ana memegang dadanya. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat. Dalam hatinya berkata, kenapa juga Rakha yang menjadi atasan. Dia juga mengutuk dirinya yang lemot. Tentu saja laporan penjualan yang diminta karena dia berada di divisi pemasaran.

"Baik, Pak. Akan saya ambil. Nanti saya bawakan lagi," ucap Ana dengan suara pelan.

"Segera ...! Saya tak suka karyawan yang lelet!" seru Rakha.

"Segera, Pak. Saya pamit dulu," jawab Ana.

Ana segera pergi dari ruangan itu. Berjalan cepat menuju meja kerjanya. Sampai di sana dia melihat Meyda yang sedang mengetik.

"Matilah aku, Meyda," ucap Ana begitu dia duduk di kursinya.

Mendengar ucapan Ana, sahabatnya itu menjadi terkejut. Dia langsung menghentikan kegiatannya. memandangi wajah Ana yang terlihat gugup.

"Apa kamu di pecat?" tanya Meyda dengan suara kuatir.

"Bukan di pecat tapi ...."

"Tapi apa ...?" tanya Meyda memotong ucapan sahabatnya. Dia tak sabar menunggu jawaban Ana. Apa yang terjadi dengan gadis itu. Kenapa dia tampak gugup.

"Ternyata atasan kita adalah pria yang aku maki-maki di kamar mandi tadi," ucap Ana pelan, tapi masih dapat di dengar dengan jelas.

"Apa ...?" tanya Meyda dengan suara keras. Dan lagi-lagi mereka menjadi pusat perhatian karyawan lainnya.

Terpopuler

Comments

Raufaya Raisa Putri

Raufaya Raisa Putri

cerita sm bhs udah bgs...tp kok kyk kurang greget y ...

2024-12-08

1

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

ahahahah... katakan raka jodohnya ana.. kan awal pertemuan yang bagus 😎

2025-02-17

0

Erina Munir

Erina Munir

laahh...mang kmr mandi atassn sama bawahan sama...bukannya beda thoor

2024-12-17

0

lihat semua
Episodes
1 Bab Satu
2 Bab Dua
3 Bab Tiga
4 Bab Empat
5 Bab Lima
6 Bab Enam
7 Bab Tujuh
8 Bab Delapan
9 Bab Sembilan
10 Bab Sepuluh
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab Tujuh Belas
18 Bab Delapan Belas
19 Bab Sembilan Belas
20 Bab Dua Puluh
21 Bab Dua Puluh Satu
22 Bab Dua Puluh Dua
23 Bab Dua Puluh Tiga
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Bab Tiga Puluh Lima
36 Bab Tiga Puluh Enam
37 Bab Tiga Puluh Tujuh
38 Bab Tiga Puluh Delapan
39 Bab Tiga Puluh Sembilan
40 Bab Empat Puluh
41 Bab Empat Puluh Satu
42 Bab Empat Puluh Dua
43 Bab Empat Puluh Tiga
44 Bab Empat Puluh Empat
45 Bab Empat Puluh Lima
46 Bab Empat Puluh Enam
47 Bab Empat Puluh Tujuh
48 Bab Empat Puluh Delapan
49 Bab Empat Puluh Sembilan
50 Bab Lima Puluh
51 Bab Lima Puluh Satu
52 Bab Lima Puluh Dua
53 Bab Lima Puluh Tiga
54 Bab Lima Puluh Empat
55 Bab Lima Puluh Lima
56 Promo Novel.
57 Bab Lima Puluh Enam
58 Bab Lima Puluh Tujuh
59 Bab Lima Puluh Delapan
60 Bab Lima Puluh Sembilan
61 Bab Enam Puluh
62 Bab Enam Puluh Satu
63 Bab Enam Puluh Dua
64 Promo Novel Terbaru
65 TERJERAT PESONA BUJANG LAPUK
Episodes

Updated 65 Episodes

1
Bab Satu
2
Bab Dua
3
Bab Tiga
4
Bab Empat
5
Bab Lima
6
Bab Enam
7
Bab Tujuh
8
Bab Delapan
9
Bab Sembilan
10
Bab Sepuluh
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab Tujuh Belas
18
Bab Delapan Belas
19
Bab Sembilan Belas
20
Bab Dua Puluh
21
Bab Dua Puluh Satu
22
Bab Dua Puluh Dua
23
Bab Dua Puluh Tiga
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Bab Tiga Puluh Lima
36
Bab Tiga Puluh Enam
37
Bab Tiga Puluh Tujuh
38
Bab Tiga Puluh Delapan
39
Bab Tiga Puluh Sembilan
40
Bab Empat Puluh
41
Bab Empat Puluh Satu
42
Bab Empat Puluh Dua
43
Bab Empat Puluh Tiga
44
Bab Empat Puluh Empat
45
Bab Empat Puluh Lima
46
Bab Empat Puluh Enam
47
Bab Empat Puluh Tujuh
48
Bab Empat Puluh Delapan
49
Bab Empat Puluh Sembilan
50
Bab Lima Puluh
51
Bab Lima Puluh Satu
52
Bab Lima Puluh Dua
53
Bab Lima Puluh Tiga
54
Bab Lima Puluh Empat
55
Bab Lima Puluh Lima
56
Promo Novel.
57
Bab Lima Puluh Enam
58
Bab Lima Puluh Tujuh
59
Bab Lima Puluh Delapan
60
Bab Lima Puluh Sembilan
61
Bab Enam Puluh
62
Bab Enam Puluh Satu
63
Bab Enam Puluh Dua
64
Promo Novel Terbaru
65
TERJERAT PESONA BUJANG LAPUK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!