Bab Sebelas

Para tamu undangan yang terdiri dari tetangga masih menyicipi hidangan sehingga waktu untuk Ana bicara masih panjang. Mungkin mereka pikir, Ana hanya sekedar mengobrol dengan keluarganya saja. Tapi, tak sedikit yang memandang dengan tatapan heran.

Mereka tahu jika Erik adalah tunangan Ana, tapi yang dinikahi adiknya. Yang menjadi pertanyaan, kenapa gadis itu tak tampak sedih. Banyak yang ingin tahu kebenarannya.

Ana menyalami ayah dan ibunya. Berhadapan dengan sang ayah, air matanya tak bisa lagi dibendung. Bukan karena sedih, tapi kecewa. Pria yang seharusnya jadi cinta pertamanya tapi justru orang yang paling banyak menorehkan luka.

Jika cinta pertamamu tidak bisa lagi memberikan kenyamanan, untuk apa masih bertahan. Anak hanya ingin menjaga kewarasannya. Jangan sampai dia nekat bunuh diri.

"Ayah, aku pamit. Terima kasih atas semua yang pernah kau lakukan untukku. Baik itu kebahagiaan atau pun luka yang kau beri. Bagimu mungkin aku bukan putri yang baik, yang bisa kau banggakan. Tapi perlu Ayah tahu, kenapa aku bertahan hingga hari ini walaupun aku sudah sering terluka, karena aku masih berharap Ayah bisa sadar jika masih memiliki putri kandung. Aku ingin Ayah kembali seperti saat ibu masih ada. Aku masih berharap tanganmu itu memelukku," ucap Ana.

Ucapannya terjeda. Air mata jatuh membasahi pipinya. Ana menarik napas untuk mengatur emosinya. Dadanya terasa nyeri. Dengan tangan, dihapusnya air mata yang jatuh di pipi.

"Namun, ternyata harapanku terlalu tinggi. Aku terlalu berharap jika Ayahku kembali seperti ayah yang dulu. Aku terlalu berangan, sehingga sekarang aku merasakan sakit, sakit yang teramat sangat saat aku sadar jika Ayah tak pernah peduli padaku lagi, Ayah tak pernah menganggap aku ada," ucap Ana sambil memukul dadanya yang terasa sakit dan sesak.

Refdi hanya diam. Dia tak tahu harus berkata apa. Semua yang di ucapkan putrinya itu memang kenyataan. Dia tak pernah lagi peduli dengan anaknya itu sejak kepergian sang istri.

"Selamat tinggal Ayah, maafkan aku. Aku pergi, dan tak tau kapan akan kembali. Semoga dengan kepergianku kali ini, Ayah akan lebih bahagia," ucap Ana lagi.

Ana lalu memeluk ayahnya. Pria itu membalas memeluk putri kecilnya yang telah dewasa. Hampir lima belas tahun sejak kepergian sang istri dia tak pernah memeluknya lagi.

"Maafkan Ayah ...," ucap Refdi. Hanya itu kata yang keluar dari bibirnya.

Ana lalu melepaskan pelukannya. Sebenarnya dia masih ingin lebih lama berada dalam pelukan pria itu. Dia rindu kehangatan tubuh ayahnya. Namun, dia sadar. Ini bukan waktu yang tepat. Mereka saja sudah menjadi pusat perhatian.

Ana mendekati ini tirinya. Mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sang ibu menyambut dengan terpaksa.

"Maaf, jika aku ada salah, Bu. Tolong jaga ayahku. Sayangi dia seperti dia menyayangi Ibu dan Ayu. Ibu pasti tau, jika Ayah lebih memilih Ibu dan Ayu, dia lebih menyayangi anak Ibu dari aku anak kandungnya. Jadi aku harap Ibu membalas hal yang sama. Sayangi Ayahku, jaga dia hingga tutup usia," ucap Ana.

Setelah mengucapkan itu, Ana segera turun dari pelaminan. Tak ingin air matanya makin tumpah membasahi pipi.

Banyak mata memandanginya dengan iba. Ana tak peduli. Dia terus melangkah meninggalkan rumah itu.

Ana memesan taksi dan meminta supir untuk membawanya ke makam ibunya. Dia ingin berpamitan.

Sampai di pemakaman, Ana langsung masuk ke areanya dan menuju kuburan sang ibu. Dia tadi juga menyempatkan diri mampir ke toko bunga.

Ana meletakan bunga di atas makam ibunya. Dia mengusap batu nisannya.

"Ibu aku datang untuk pamit. Doakan aku berhasil di kota nanti. Maaf jika aku nanti tak datang lagi. Ibu, tanpamu, di sini rasanya sangat berbeda. Aku merindukanmu, nasihatmu, senyummu, serta canda tawamu. Ibu, seandainya kau masih di sini, aku ingin bermain denganmu seperti dulu dan menceritakan banyak hal tentang hidupku. Tetapi, sekarang aku hanya dapat dekat denganmu, dalam doaku. Ibu, kepergianmu membuatku kehilangan bagian terpenting dari hidupku. Ibu, tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan sosok sepertimu di hatiku."

Ana tak bisa lagi menahan air matanya. Bohong jika dia mengatakan saat ini baik-baik saja. Kenangan manis bersama Erik dulu terhampar di hadapannya. Empat tahun bukan waktu yang singkat.

Bukannya Ana tak ikhlas, tapi dia juga butuh waktu untuk melupakan semuanya. Masih teringat saat dia bercerita tentang masa depannya nanti bersama Erik, tapi semua kini hanya tinggal kenangan.

"Ibu, saat ini anakmu sedang terluka. Aku butuh tempat mengadu. Tapi tak ada bahu tempatku bersandar. Ayah yang seharusnya tempat aku berbagi, ternyata memilih menjauh sejak ibu pergi. Apa salahku, Bu? Aku juga tak pernah menginginkan kepergianmu, tapi seolah akulah penyebab semuanya. Jika aku boleh memilih, mungkin lebih baik aku yang pergi bukan Ibu. Tapi, Ibu jangan sedih. Aku kuat, aku pasti bisa menghadapi semua walau seorang diri. Doakan saja anakmu ini tetap waras dan bisa menjalani semua cobaan hidup ini. Aku pamit, Ibu."

Setelah puas berbagi cerita, Ana membacakan doa untuk ibunya. Dengan berat hati Ana meninggalkan makam ibunya. Dia memandangi sekali lagi tempat itu. Lama juga Ana berdiri.

"Kenapa aku masih berdiri di sini. Berharap ayah menyusul ku. Ana, ayahmu tak akan melakukan itu. Dia telah benar-benar melupakanmu. Jangan berharap hal yang tak mungkin itu," ucap Ana bermonolog sendiri.

Ana masuk ke taksi yang telah dia pesan. Sore ini dia langsung akan pergi meninggalkan kota ini. Kota kecil tempatnya dilahirkan. Di dalam taksi, tangisnya kembali pecah. Sekuat apa pun dia berusaha tegar tetap ada sisi rapuhnya sebagai seorang anak yang kehilangan ibu, diabaikan ayah, dikhianati adik tiri dan ditinggalkan kekasih.

"Sebenarnya aku telah capek banget. Banyak beban pikiran yang aku pendam sendirian. Banyak keluh kesah yang sulit ku ceritakan. Jujur ... saat ini aku sangat terjatuh dan ingin sekali menyerah. Aku nggak bisa terus pura-pura kuat, padahal hatiku sangatlah hancur. Aku sudah nggak sanggup terus pura-pura tersenyum, padahal batinku selalu menjerit. Aku sudah capek banget harus pura-pura tertawa hanya untuk menyembunyikan air mataku. Aku juga ingin bahagia."

***

Bonus Visual

Terpopuler

Comments

LENY

LENY

ANA CANTIK SEKALI SEDIH NASIBMU SMG NNT KAMU AKAN BAHAGIA YAKINLAH😥😥

2025-03-05

0

Ratnasihite

Ratnasihite

tabur tuai msh ada ya karma jg

2024-11-19

0

Linda Wati

Linda Wati

Ana lebih cantik 🥰🥰

2025-02-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bab Satu
2 Bab Dua
3 Bab Tiga
4 Bab Empat
5 Bab Lima
6 Bab Enam
7 Bab Tujuh
8 Bab Delapan
9 Bab Sembilan
10 Bab Sepuluh
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab Tujuh Belas
18 Bab Delapan Belas
19 Bab Sembilan Belas
20 Bab Dua Puluh
21 Bab Dua Puluh Satu
22 Bab Dua Puluh Dua
23 Bab Dua Puluh Tiga
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Bab Tiga Puluh Lima
36 Bab Tiga Puluh Enam
37 Bab Tiga Puluh Tujuh
38 Bab Tiga Puluh Delapan
39 Bab Tiga Puluh Sembilan
40 Bab Empat Puluh
41 Bab Empat Puluh Satu
42 Bab Empat Puluh Dua
43 Bab Empat Puluh Tiga
44 Bab Empat Puluh Empat
45 Bab Empat Puluh Lima
46 Bab Empat Puluh Enam
47 Bab Empat Puluh Tujuh
48 Bab Empat Puluh Delapan
49 Bab Empat Puluh Sembilan
50 Bab Lima Puluh
51 Bab Lima Puluh Satu
52 Bab Lima Puluh Dua
53 Bab Lima Puluh Tiga
54 Bab Lima Puluh Empat
55 Bab Lima Puluh Lima
56 Promo Novel.
57 Bab Lima Puluh Enam
58 Bab Lima Puluh Tujuh
59 Bab Lima Puluh Delapan
60 Bab Lima Puluh Sembilan
61 Bab Enam Puluh
62 Bab Enam Puluh Satu
63 Bab Enam Puluh Dua
64 Promo Novel Terbaru
65 TERJERAT PESONA BUJANG LAPUK
Episodes

Updated 65 Episodes

1
Bab Satu
2
Bab Dua
3
Bab Tiga
4
Bab Empat
5
Bab Lima
6
Bab Enam
7
Bab Tujuh
8
Bab Delapan
9
Bab Sembilan
10
Bab Sepuluh
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab Tujuh Belas
18
Bab Delapan Belas
19
Bab Sembilan Belas
20
Bab Dua Puluh
21
Bab Dua Puluh Satu
22
Bab Dua Puluh Dua
23
Bab Dua Puluh Tiga
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Bab Tiga Puluh Lima
36
Bab Tiga Puluh Enam
37
Bab Tiga Puluh Tujuh
38
Bab Tiga Puluh Delapan
39
Bab Tiga Puluh Sembilan
40
Bab Empat Puluh
41
Bab Empat Puluh Satu
42
Bab Empat Puluh Dua
43
Bab Empat Puluh Tiga
44
Bab Empat Puluh Empat
45
Bab Empat Puluh Lima
46
Bab Empat Puluh Enam
47
Bab Empat Puluh Tujuh
48
Bab Empat Puluh Delapan
49
Bab Empat Puluh Sembilan
50
Bab Lima Puluh
51
Bab Lima Puluh Satu
52
Bab Lima Puluh Dua
53
Bab Lima Puluh Tiga
54
Bab Lima Puluh Empat
55
Bab Lima Puluh Lima
56
Promo Novel.
57
Bab Lima Puluh Enam
58
Bab Lima Puluh Tujuh
59
Bab Lima Puluh Delapan
60
Bab Lima Puluh Sembilan
61
Bab Enam Puluh
62
Bab Enam Puluh Satu
63
Bab Enam Puluh Dua
64
Promo Novel Terbaru
65
TERJERAT PESONA BUJANG LAPUK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!