Bab Lima

Ana menghapus air matanya. Dia kembali tertawa. Menertawai kebodohannya selama ini. Ayah maju dan mendekati putrinya. Memegang kedua bahu sang putri.

"Ana, mungkin ini berat bagimu, Nak. Tapi lebih baik gagal sekarang dari pada nanti saat kamu telah berkeluarga. Cinta itu tak bisa dipaksakan. Kamu harus ikhlas melepaskan Erik untuk Ayu. Mungkin dia bukan jodohmu," ucap Ayah mencoba menghibur.

Kembali Ana tertawa mendengar ucapan ayahnya. Apakah hanya ini yang bisa ayahnya lakukan.

"Jangan takut, Yah. Aku telah ikhlas melepaskan Erik untuk Ayu. Aku juga bersyukur karena Tuhan membukakan mataku sebelum kami menikah. Bagiku Erik tak pantas mendapatkan cintaku yang tulus. Sampah cocoknya dengan sampah!" ucap Ana dengan penuh penekanan.

Mendengar ucapan Ana, tentu saja Ayu tak terima. Dia dikatakan sampah, baginya ini satu penghinaan. Dia menatap kakaknya itu dengan tajam.

"Orang yang kau katakan sampah ini sedang mengandung anak dari tunanganmu. Kau yang pantas dikatakan sampah, karena telah di buang tunanganmu," balas Ayu dengan suara lantang.

Ana bertepuk tangan mendengar ucapan adiknya. Semakin terbuka siapa Erik, semakin kuat hatinya untuk melupakan pria itu. Sudah cukup kebodohannya selama ini.

Ana pikir selama ini dia satu-satunya wanita di hati sang kekasih. Namun, ternyata dia hanyalah salah satunya. Dia pikir selama ini dia ratunya, tapi ternyata Erik banyak selirnya.

"Hebat, sudah sejauh ini ternyata hubungan kalian. Pantas kamu kebelet kawin, karena telah berbadan dua. Semoga kau tak menyesal karena telah melakukan ini padaku. Kalian berdua, semoga tidak akan mendapatkan karma atas perbuatanmu!"

Setelah mengucapkan itu, Ana langsung berjalan masuk ke kamar. Jika dia paksakan tetap berdiri di sana, takut pertahanannya goyah. Dia pasti akan menangis. Dia tak mau terlihat rapuh. Dia harus kuat. Erik tak pantas ditangisi.

Saat ini, Ana justru berterima kasih karena telah dibukakan matanya. Dia dia buta karena cinta. Ternyata pria itu tak pantas dipertahankan. Melakukan perbuatan-perbuatan hina yang hanya pantas dilakukan suami istri.

Ana terduduk di lantai kamar. Akhirnya tangisan gadis itu pecah. Merasa sendiri, tak ada tempat untuk dia mengadu.

"Duhai hati, kamu baik-baik saja'kan? Tidak seharusnya aku pertanyakan itu. Menangis saja. Tak apa menangislah. Kadang tak baik menahan emosi yang seharusnya dikeluarkan. Namun, jika bisa jangan sampai ada yang tahu kamu menangis. Mungkin Tuhan sengaja memisahkan kamu dengannya agar kamu tidak terluka terlalu dalam. Cobalah berprasangka baik atas apa yang terjadi. InsyaAllah akan manis meskipun tak bersama dia yang kamu idamkan selama ini. Barangkali di bagian bumi sana ada seseorang yang mendoakan kamu meskipun tak tahu namamu," gumam Ana dalam hatinya.

Ana masih terus menangis. Dia berharap ini adalah tangisan terakhir untuk pria itu. Ana menangi, hingga dia merasa lelah dan akhirnya tertidur di lantai kamar.

**

Pagi harinya, Ana mandi. Setelah itu tanpa sarapan dan pamitan dia pergi dari rumah. Sebelum ke kantor, dia ingin nyekar ke makam ibunya.

Ana berencana akan meminta pindah dari perusahaan saat ini ke kota yang lebih besar. Beruntung dia telah wisuda. Selama ini gadis itu kuliah sambil kerja. Dia kuliah dengan biaya sendiri.

Ana menyempatkan membeli bunga sebelum ke makam ibunya. Sampai di tempat, dia langsung menuju kuburan sang ibunda. Ana jongkok di samping kuburan itu. Mengusap batu nisan yang bertulis nama ibunya.

"Bu, aku datang lagi. Mungkin setelah ini aku akan jarang mengunjungi ibu. Aku akan pindah ke kota. Apa kabar Ibu di sana. Aku doakan ibu selalu bahagia. Bu, aku sangat merindukanmu. Tanpamu hidup ini begitu sulit. Tak ada tempatku mengadu. Tapi ibu jangan kuatir, aku anak yang kuat. Aku bisa melewati semua ini. Ibu tenang di sana. Aku merindukanmu, ibu."

Tanpa bisa di cegah air mata Ana jatuh membasahi pipinya. Sejak kepergian sang ibu, ayahnya tidak peduli lagi padanya. Apa lagi sejak dia menikah dengan ibunya Ayu.

"Ibu, saat ini putrimu sangat lelah. Bolehkah pinjam hati mu sebentar saja, Bu. Ajarkan aku bagaimana menjadi kuat seperti dirimu, Bu. Hati ini rasanya sakit sekali, Bu. Ingin sekali aku menangis di pangkuan mu dan berkata, Maaf, Bu, aku tak sekuat dirimu."

Tangis Ana makin terdengar. Dadanya terasa sesak. Dia harus menghadapi semua seorang diri. Berharap ayah akan membelanya, tapi itu hanya angannya saja.

Cukup lama Ana menangis. Dia lalu berdiri setelah mengirimkan doa. Rasanya berat meninggalkan makam sang ibu.

Setelah dari makam, Ana langsung ke kantor. Sebenarnya sudah lama dia ditawari untuk kerja di kantor pusat dengan gaji dua kali lipat, tapi dia menolak karena tak mau jauh dari kekasihnya.

Di rumah orang tuanya, tampak Erik dan keluarganya duduk bersama. Ayah ingin pernikahan di percepat. Jika rencananya Ana akan menikah satu bulan lagi, Ayu dipercepat minggu depan.

"Mas, kamu datangi tempat Kak Ana menyewa tenda dan pelaminan, katakan pernikahan dimajukan minggu depan," ucap Ayu.

"Ayu benar, Erik. Sebaiknya pernikahan kalian dipercepat agar tak ada yang curiga jika Ayu sudah hamil sebelum menikah," ujar Ayah.

"Ayah, aku tak enak jika menggunakan semua yang telah di sewa dan dibayar Ana. Bagaimana jika pernikahan ini secara sederhana saja sesuai uang tabungan milikku," ucap Erik.

"Mas, bukankah kamu juga ikut membayar!" seru Ayu.

"Tapi lebih banyak uang Ana. Aku malu jika menggunakan itu semua," balas Erik.

"Kenapa malu? Bukankah Ana itu kakaknya Ayu. Dia tak akan marah. Perhitungan sekali jika dia melarang. Padahal dibatalkan juga, uang tak akan dikembalikan!" seru Ibu.

Mereka berempat berdebat mengenai pemakaian tenda dan pelaminan serta katering yang telah Ana bayar untuk pernikahannya. Walau Erik agak keberatan tapi dia tak bisa membantah keinginan kedua orang tua Ayu.

Saat mereka sedang berunding, Ana pulang. Dia melhat motor Erik terparkir di halaman. Gadis itu menarik napas dalam. Dia tak boleh menghindar, nanti pasti dikira masih mengharapkan pria itu.

Ana melangkahkan kakinya memasuki rumah, bertepatan dengan Ayu yang mengatakan jika pernikahan akan di langsungkan minggu depan.

"Aku mau pernikahan dilangsungkan Minggu depan. Ayah harus mengurus surat pernikahanku secepatnya. Bukankah ayah banyak kenalan di Kantor Urusan Agama itu?" tanya Ayu.

Dada Ana terasa sesak mendengar ucapan Ayu. Bukan karena mendengar pernikahan mereka yang akan dilangsungkan minggu depan, tapi karena mendengar jika ayahnya banyak kenalan di Kantor Urusan Agama. Saat dia minta tolong untuk mengurus pernikahannya kemarin, ayahnya menolak dan dia terpaksa mengurus berdua Erik saja.

Terpopuler

Comments

LENY

LENY

DASAR IBLIS IBU AYU INI GAK PUNYA MALU. BPK ANA GOBLOK MAU AJA NURUTIN WANITA IBLIS INI. CEPATLAH PINDAH ANA GAK USAH DATANG DI PERNIKAHAN MEREKA

2025-03-05

0

Hera Resmana

Hera Resmana

pergilah yg jauh ana jangan pedulikan orang2 yg gak punya hati

2025-02-10

1

Raufaya Raisa Putri

Raufaya Raisa Putri

jd inget kisah sendiri....jd pengen nangis lg deh.yok..ba.kita nangis berjamaah

2024-12-08

0

lihat semua
Episodes
1 Bab Satu
2 Bab Dua
3 Bab Tiga
4 Bab Empat
5 Bab Lima
6 Bab Enam
7 Bab Tujuh
8 Bab Delapan
9 Bab Sembilan
10 Bab Sepuluh
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab Tujuh Belas
18 Bab Delapan Belas
19 Bab Sembilan Belas
20 Bab Dua Puluh
21 Bab Dua Puluh Satu
22 Bab Dua Puluh Dua
23 Bab Dua Puluh Tiga
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Bab Tiga Puluh Lima
36 Bab Tiga Puluh Enam
37 Bab Tiga Puluh Tujuh
38 Bab Tiga Puluh Delapan
39 Bab Tiga Puluh Sembilan
40 Bab Empat Puluh
41 Bab Empat Puluh Satu
42 Bab Empat Puluh Dua
43 Bab Empat Puluh Tiga
44 Bab Empat Puluh Empat
45 Bab Empat Puluh Lima
46 Bab Empat Puluh Enam
47 Bab Empat Puluh Tujuh
48 Bab Empat Puluh Delapan
49 Bab Empat Puluh Sembilan
50 Bab Lima Puluh
51 Bab Lima Puluh Satu
52 Bab Lima Puluh Dua
53 Bab Lima Puluh Tiga
54 Bab Lima Puluh Empat
55 Bab Lima Puluh Lima
56 Promo Novel.
57 Bab Lima Puluh Enam
58 Bab Lima Puluh Tujuh
59 Bab Lima Puluh Delapan
60 Bab Lima Puluh Sembilan
61 Bab Enam Puluh
62 Bab Enam Puluh Satu
63 Bab Enam Puluh Dua
64 Promo Novel Terbaru
65 TERJERAT PESONA BUJANG LAPUK
Episodes

Updated 65 Episodes

1
Bab Satu
2
Bab Dua
3
Bab Tiga
4
Bab Empat
5
Bab Lima
6
Bab Enam
7
Bab Tujuh
8
Bab Delapan
9
Bab Sembilan
10
Bab Sepuluh
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab Tujuh Belas
18
Bab Delapan Belas
19
Bab Sembilan Belas
20
Bab Dua Puluh
21
Bab Dua Puluh Satu
22
Bab Dua Puluh Dua
23
Bab Dua Puluh Tiga
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Bab Tiga Puluh Lima
36
Bab Tiga Puluh Enam
37
Bab Tiga Puluh Tujuh
38
Bab Tiga Puluh Delapan
39
Bab Tiga Puluh Sembilan
40
Bab Empat Puluh
41
Bab Empat Puluh Satu
42
Bab Empat Puluh Dua
43
Bab Empat Puluh Tiga
44
Bab Empat Puluh Empat
45
Bab Empat Puluh Lima
46
Bab Empat Puluh Enam
47
Bab Empat Puluh Tujuh
48
Bab Empat Puluh Delapan
49
Bab Empat Puluh Sembilan
50
Bab Lima Puluh
51
Bab Lima Puluh Satu
52
Bab Lima Puluh Dua
53
Bab Lima Puluh Tiga
54
Bab Lima Puluh Empat
55
Bab Lima Puluh Lima
56
Promo Novel.
57
Bab Lima Puluh Enam
58
Bab Lima Puluh Tujuh
59
Bab Lima Puluh Delapan
60
Bab Lima Puluh Sembilan
61
Bab Enam Puluh
62
Bab Enam Puluh Satu
63
Bab Enam Puluh Dua
64
Promo Novel Terbaru
65
TERJERAT PESONA BUJANG LAPUK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!