Bab Tiga Belas

Satu tahun telah berlalu

Tak terasa telah satu tahun Ana bekerja di kantor pusat perusahaan tempatnya bekerja saat ini. Tak ada kesulitan berarti yang dia temukan. Dengan keramahan dirinya, banyak karyawan yang langsung menyukai.

Ana juga tak segan bertanya jika ada yang salah. Dia langsung dapat teman akrab bernama Meyda. Mereka tinggal di satu kamar kost yang sama. Tepatnya rumah untuk karyawan single yang disediakan perusahaan.

"Ana, nanti makan siang di kafe depan kantor yuk! Bosan kalau di kantin terus, ajak Meyda pagi ini.

"Mey, mikirin makan melulu. Baru aja nyampe. Belum mulai kerja, dah mikirin makan siang," jawab Ana.

"Harus dong, kan moto hidupku, "hidup untuk makan"," ucap Meyda sambil tertawa.

Kedua gadis itu lalu tertawa. Walau sambil becanda, mereka tetap melakukan pekerjaan. Sehingga tak ada pekerjaan yang terbengkalai.

Ana dan Meyda telah menjadi teman baik sejak dia bekerja di kantor ini. Setiap hari, mereka selalu menyempatkan diri untuk pergi makan siang bersama. Kali ini, mereka memutuskan untuk pergi ke kafe yang terletak di depan kantor mereka.

Ana dan Meyda tiba di kafe tersebut. Mereka menemukan meja yang nyaman dan duduk bersama.

"Wah, akhirnya makan siang juga di kafe ini. Sudah lama aku pengin makan siang di sini," ucap Ana.

"Iya, Ana. Saking sibuknya dengan pekerjaan, aku lupa betapa enaknya makan siang di kafe ini. Kemarin-kemarin aku sering makan di sini," balas Meyda.

Tak berapa lama keduanya duduk, datangnya pelayan restoran tersebut. Dia memberikan daftar menu, untuk dipilih dan di pesan.

"Selamat siang! Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu dengan ramah.

"Bisa kami lihat menu terlebih dahulu?" Ana balik bertanya.

"Tentu saja, Mbak. Silakan! Ini menu-menu yang tersedia hari ini," jawab pelayan itu.

"Ana, kamu mau pesan apa?" tanya Meyda.

"Hmm, sepertinya aku ingin memesan salad sayur dan sandwich telur, jawab Ana, setelah membaca daftar menu yang tersedia.

"Bagus, aku akan memesan sup dan spaghetti," balas Meyda.

Ana lalu menyebutkan pesanan mereka pada palayan dan di catatnya.

"Baiklah, pesan diterima. Ada lagi yang bisa saya bantu?"

"Tidak, terima kasih," jawab Ana.

Pelayan pergi mengantarkan pesanan mereka ke dapur. Ana dan Meyda melanjutkan percakapan mereka.

"Meyda, apakah kamu sudah menyelesaikan laporan yang diberikan oleh atasan kemarin?" tanya Ana

"Aku baru saja menyelesaikannya pagi tadi. Kamu?" Meyda balik bertanya.

"Aku sudah menyelesaikan semalam, supaya bisa tidur lebih awal."

"Kamu selalu begitu rajin, Ana. Aku kadang terlalu santai sehingga pekerjaanku menumpuk," balas Meyda lagi.

Ana tersenyum menanggapi ucapan Meyda. Dia menyibukkan diri dengan pekerjaan sebenarnya untuk melupakan semua masalah yang dia hadapi. Sudah satu tahun berlalu, dia masih belum sepenuhnya bisa melupakan kisah cintanya yang kandas. Bukannya belum ikhlas, tapi melupakan begitu saja bukanlah hal yang mudah. Dia juga tak ada keinginan untuk kembali ke daerah asalnya. Di sini sudah begitu menyenangkan baginya.

"Apa rencanamu untuk akhir pekan ini, Ana?" tanya Meyda.

"Aku belum punya rencana spesifik. Mungkin hanya ingin bersantai di rumah dan menonton film," jawab Ana.

"Bagaimana jika sesekali kita keluar ke mall dan menonton di bioskop. Dari pada kamu mengurung diri di kamar terus," ujar Meyda.

"Jika aku pergi denganmu, pacarmu mau dikemanakan?" tanya Ana sambil tersenyum.

"Sesekali biar aku pergi denganmu saja. Aku yakin Rendi tak masalah," jawab Meyda.

"Bolehlah, nanti aku pikirkan lagi."

"Kita tak boleh lama-lama makan, Ana. Nanti jam dua atau jam tiga ada CEO baru yang akan datang. Dia anaknya Pak Sandi, yang akan menggantikan posisinya. Aku dengar kabar, dia agak galak. berbeda dengan Pak Sandi," ucap Meyda lagi.

"Semoga saja tidak seperti yang mereka omongkan. Yang penting kita melakukan semua tugas, tak akan ada atasan yang akan memarahi," jawab Ana.

Obrolan mereka terhenti karena pelayan datang membawa pesanan mereka.

"Mbak, ini makanan yang Anda pesan. Silakan menikmati!" ucap Pelayan setelah meletakkan semua pesanan ke atas meja.

"Terima kasih!" balas Ana.

"Terima kasih banyak," ucapan selanjutnya dari Meyda.

Ana dan Meyda menikmati hidangan mereka sambil bercerita tentang pengalaman kerja dan kehidupan pribadi lainnya.

"Meyda, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Ana.

"Apa itu?" tanya Meyda.

"Selama ini, sejak aku pindah ke sini, kita selalu pergi makan siang bersama. Apa kamu merasa bosan dengan rutinitas ini?" tanya Ana.

"Tentu aja nggak, Ana! Aku selalu senang bisa menghabiskan waktu denganmu. Kita selalu punya topik yang menarik untuk dibicarakan."

"Oh, baguslah. Aku juga merasa senang bisa bersama kamu setiap hari. Sejak pertama mengenalmu aku sudah merasa klop," ujar Ana.

Ana bersyukur karena dipertemukan dengan sahabat sebaik Meyda. Sejak awal kepindahannya, setahun lalu, mereka sudah sangat akrab. Hal itu membuat Ana merasa memiliki keluarga. Selama ini tak ada tempatnya berbagi, berbeda dengan Meyda, sahabatnya itu selalu saja mengerti dengannya.

"Kita memang teman yang baik, bukan hanya di kantor, tetapi juga di luar kantor. Semoga selalu begini," ujar Meyda dengan semangat.

"Betul sekali. Aku beruntung memiliki teman seperti kamu, Meyda."

"Sama-sama, Ana. Kita akan terus menjadi teman yang baik dan selalu mendukung satu sama lain."

Mereka menyelesaikan makan siang mereka dengan senyum di wajah mereka. Mereka tahu bahwa kebersamaan mereka takkan pernah pudar meskipun rutinitas makan siang ini terus berlanjut.

Setelah makan siang, Ana dan Meyda kembali ke kantor. Mereka kembali ke meja masing-masing. Tiba-tiba Ana memegang perutnya yang terasa sakit. Entah karena apa. Mungkin juga karena mau datang bulan.

Meyda yang melihat temannya memegang perut sambil meringis lalu bertanya.

"Perutmu sakit?" tanya Meyda dengan suara pelan, takut mengganggu yang lain.

"Melilit sekali. Aku pamit ke toilet dulu. Jika ada yang mencari, tolong katakan," ucap Ana.

"Pergilah. Bawa nih minyak kayu putih. Oleskan ke perut," balas Meyda. Dia menyodorkan botol minyak kayu putih miliknya.

"Terima kasih," jawab Ana.

Ana langsung berjalan dengan cepat menuju kamar mandi. Gadis itu masuk tanpa memperhatikan ke sekeliling. Tak menyadari jika ada orang di dalamnya. Saat dia mengangkat bajunya ke atas, dan ingin memberikan minyak kayu putih, Ana terkejut ketika melihat dari kaca ada pria di dalam kamar mandi. Gadis itu langsung berbalik dan menghadap ke pria itu.

"Siapa kamu? Kenapa ada di kamar mandi wanita?" tanya Ana dengan suara penuh penekanan.

Terpopuler

Comments

Taryumi 2003

Taryumi 2003

wah .. author udh menyediakan jodoh buat ana nih seorg CEO ..

2024-12-29

0

Wati_esha

Wati_esha

Ana salah masuk toilet ya ...

2024-11-04

1

Evy

Evy

pasti itu CEO baru yang bakalan jadi jodoh mu..

2024-12-16

0

lihat semua
Episodes
1 Bab Satu
2 Bab Dua
3 Bab Tiga
4 Bab Empat
5 Bab Lima
6 Bab Enam
7 Bab Tujuh
8 Bab Delapan
9 Bab Sembilan
10 Bab Sepuluh
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab Tujuh Belas
18 Bab Delapan Belas
19 Bab Sembilan Belas
20 Bab Dua Puluh
21 Bab Dua Puluh Satu
22 Bab Dua Puluh Dua
23 Bab Dua Puluh Tiga
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Bab Tiga Puluh Lima
36 Bab Tiga Puluh Enam
37 Bab Tiga Puluh Tujuh
38 Bab Tiga Puluh Delapan
39 Bab Tiga Puluh Sembilan
40 Bab Empat Puluh
41 Bab Empat Puluh Satu
42 Bab Empat Puluh Dua
43 Bab Empat Puluh Tiga
44 Bab Empat Puluh Empat
45 Bab Empat Puluh Lima
46 Bab Empat Puluh Enam
47 Bab Empat Puluh Tujuh
48 Bab Empat Puluh Delapan
49 Bab Empat Puluh Sembilan
50 Bab Lima Puluh
51 Bab Lima Puluh Satu
52 Bab Lima Puluh Dua
53 Bab Lima Puluh Tiga
54 Bab Lima Puluh Empat
55 Bab Lima Puluh Lima
56 Promo Novel.
57 Bab Lima Puluh Enam
58 Bab Lima Puluh Tujuh
59 Bab Lima Puluh Delapan
60 Bab Lima Puluh Sembilan
61 Bab Enam Puluh
62 Bab Enam Puluh Satu
63 Bab Enam Puluh Dua
64 Promo Novel Terbaru
65 TERJERAT PESONA BUJANG LAPUK
Episodes

Updated 65 Episodes

1
Bab Satu
2
Bab Dua
3
Bab Tiga
4
Bab Empat
5
Bab Lima
6
Bab Enam
7
Bab Tujuh
8
Bab Delapan
9
Bab Sembilan
10
Bab Sepuluh
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab Tujuh Belas
18
Bab Delapan Belas
19
Bab Sembilan Belas
20
Bab Dua Puluh
21
Bab Dua Puluh Satu
22
Bab Dua Puluh Dua
23
Bab Dua Puluh Tiga
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Bab Tiga Puluh Lima
36
Bab Tiga Puluh Enam
37
Bab Tiga Puluh Tujuh
38
Bab Tiga Puluh Delapan
39
Bab Tiga Puluh Sembilan
40
Bab Empat Puluh
41
Bab Empat Puluh Satu
42
Bab Empat Puluh Dua
43
Bab Empat Puluh Tiga
44
Bab Empat Puluh Empat
45
Bab Empat Puluh Lima
46
Bab Empat Puluh Enam
47
Bab Empat Puluh Tujuh
48
Bab Empat Puluh Delapan
49
Bab Empat Puluh Sembilan
50
Bab Lima Puluh
51
Bab Lima Puluh Satu
52
Bab Lima Puluh Dua
53
Bab Lima Puluh Tiga
54
Bab Lima Puluh Empat
55
Bab Lima Puluh Lima
56
Promo Novel.
57
Bab Lima Puluh Enam
58
Bab Lima Puluh Tujuh
59
Bab Lima Puluh Delapan
60
Bab Lima Puluh Sembilan
61
Bab Enam Puluh
62
Bab Enam Puluh Satu
63
Bab Enam Puluh Dua
64
Promo Novel Terbaru
65
TERJERAT PESONA BUJANG LAPUK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!