Bab Delapan

Setelah berdiskusi, akhirnya Ayu terpaksa menerima kalau pelaminan yang akan dia sewa dan pakai buat pernikahan nanti berbeda dengan pilihan Ana. Erik hanya mampu membayar yang sederhana. Itu juga separuhnya uang dari ayah Ana.

Sepanjang perjalanan pulang, Ayu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Sepertinya masih kesal dengan pilihan pelaminan untuk pesta pernikahan mereka.

Ketika Erik mengajaknya makan bakso, dia juga tak mau. Ayu ingin segera pulang dan bertemu Ana. Sampai di halaman rumah mereka, wanita itu langsung turun dari motor. Saat akan berjalan, tangannya di tahan sang pria.

"Ayu, jangan kamu marahi Ana. Itu hak dia. Uangnya. Jangan buat aku malu. Jika nanti uangku sudah terkumpul, kita bisa mengadakan pesta kedua kali, atau saat anak kita lahir," ucap Erik.

Ayu menyentak tangannya agar cekalan di tangannya terlepas. Dia memandangi wajah Erik dengan tatapan tajam.

"Kenapa kamu masih terus memikirkan Kak Ana? Apa kamu masih sangat mencintainya?" tanya Ayu dengan suara lantang.

"Ayu, kita sudah menyakiti hatinya. Kenapa harus mencuri uangnya lagi. Itu hak dia. Kita tak bisa marah dengan keputusannya itu," jawab Erik.

"Aku ini adiknya? Apa salah seorang kakak membantu pernikahan adiknya?"

"Seorang adik tak akan menyakiti kakaknya," balas Erik.

Sebenarnya sejak mengetahui Ayu hamil, Erik sudah mulai menyesali perbuatannya. Namun, semua terlambat. Dia terlalu terlena dengan kenikmatan dunia sehingga melupakan kekasihnya yang baik.

Mau mundur sudah tak bisa, dan sifat asli Ayu makin hari makin terlihat. Pantas ibunya tak setuju ketika dia mengatakan akan menikah dengan wanita itu.

"Jadi sekarang kau menyalahi aku? Siapa yang mulai menggoda. Kau yang meminta saat pertama kita berhubungan badan. Jangan bisanya menyalahkan aku saja!" seru Ayu dengan suara lantang.

Erik memandangi ke sekeliling. Takut ada tetangga yang mendengar. Bisa malu. Dia saja sedang menyiapkan muka atas omongan orang-orang saat tahu dia menikah dengan Ayu.

Apa lagi jika tahu mereka sering berhubungan badan hingga Ayu berbadan dua. Mau taruh di mana wajahnya nanti.

"Ayu, kecilkan suaramu. Nanti ada yang dengar. Malu," ucap Erik.

Ayu tak bicara apa pun lagi. Dia lalu melangkah pergi tanpa mau mendengarkan omongan Erik. Hatinya sudah sangat kesal.

Ayu membuka pintu dengan kasar. Dia melihat ayah dan ibunya sedang menonton.

"Mana Kak Ana, Bu? Apa dia sudah pulang?" tanya Ayu dengan nada tinggi.

"Sudah, ada di kamar," jawab Ibu Rida. Dia memandangi putrinya dengan wajah keheranan.

Ayu langsung melangkah dengan cepat menuju kamar Ana. Dia mencoba membukanya, tapi terkunci. Dengan keras wanita itu mengetuk pintu kamar.

Melihat itu ayah dan ibu saling pandang. Menebak jika ada yang terjadi, yang membuat Ayu marah.

Beberapa kali mengetuk, barulah terdengar suara langkah kaki mendekati pintu. Saat terbuka, Ayu langsung mendorong agar terbuka dengan lebar. Ana menatap adiknya itu dengan mata melotot. Terkejut dengan sikap kasar sang adik.

"Ada apa ini?" tanya Ana.

"Jangan sok polos kamu! Apa maksud kamu meminta kembali uang sewa tenda dan pelaminan?" tanya Ayu dengan suara keras.

Mendengar ucapan putrinya, Ibu langsung berdiri diikuti ayah. Mereka ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi. Kedua orang tua itu berdiri di belakang putri bungsunya.

Ana tersenyum mendengar pertanyaan adiknya itu. Dia sudah menebak jika sang adik akan marah atas apa yang dia lakukan. Namun, dia tak akan takut karena itu adalah hak dirinya.

"Itu uangku, apa salah aku meminta kembali?" Ana balik bertanya.

"Bukankah kau mengatakan jika aku bisa menggunakan tenda dan pelaminan yang telah terlanjur di sewa, tapi ternyata kau meminta uang itu kembali. Apa kau sengaja ingin mempermalukan aku dan Erik? Kau pasti belum bisa menerima pernikahanku ini!" seru Ayu dengan suara tinggi.

"Siapa yang belum terima? Aku ...? Justru aku bersyukur lepas dari pria seperti Erik, jika perlu aku akan mengadakan syukuran atas perpisahan ini!" ucap Ana.

Ibu Rida yang dari tadi hanya mendengar saja, maju ke depan mendekati kedua anaknya. Dia lalu menatap penuh kebencian pada Ana.

"Ayu benar, pasti kamu sengaja melakukan ini untuk mempermalukan Erik dan Ayu. Kenapa kamu meminta uang yang telah terlanjur dibayar jika bukan itu tujuan utamamu!" ucap Ibu Rida dengan suara lantang.

"Itu uangku, apa salah aku meminta kembali?" tanya Ana.

Ayah maju dan mendekati putrinya. Dia berusaha tersenyum. Pria itu menarik napas dalam. Di rumah ini selalu ada saja pertengkaran. Itulah alasan dia lebih betah di luar kota.

"Ana, apa benar kamu meminta uang itu lagi?" tanya Ayah dengan suara lembut. Ana menjawab dengan anggukan kepala. Rasanya malas untuk mengeluarkan suara.

"Kenapa kamu minta, bukankah kamu tau adikmu akan menikah. Biarkan saja dia gunakan karena kamu sudah terlanjur memesan," balas ayah.

"Itu uang hasil kerjaku. Hak ku meminta kembali. Jika ayah dan Ayu menginginkan pelaminan itu, tinggal sewa dan bayar. Kenapa harus menggunakan uangku?"

"Sebagai kakak, apa salahnya kamu mengeluarkan sedikit uangmu untuk Ayu."

"Lebih baik aku berikan pada fakir miskin dari pada sama Ayu. Dia masih memiliki ibu, ayah tiri yang lebih menyayangi dirinya dari anak kandung sendiri. Lebih menyedihkan aku, tak ada lagi tempatku mengadu sejak kepergian ibu."

"Jaga ucapanmu, Ana!'

"Apa salah ucapanku, aku memiliki ayah tapi seperti anak yatim piatu. Tak ada kasih sayang darimu. Ayah hanya menyayangi Ayu dan ibunya!" teriak Ana.

Mendengar suara Ana yang berteriak, tanpa sadar Ayah mengangkat tangannya dan menampar dengan keras pipi putrinya. Ana merasakan darah segar mengalir dari sudut bibirnya yang pecah.

"Kenapa ayah tak membunuhku saja. Sejak ibu meninggal, tidak pernah sekalipun Ayah memeluk aku lagi walau aku sakit. Mengapa aku dibiarkan hidup? Seandainya aku mati, sekarang ini aku sudah tenang, tertidur dan beristirahat. Tidak merasakan penderitaan hidup ini!" teriak Ana.

Ana menjeda ucapannya. Mengusap pipinya yang terasa sakit dan panas.

"Andai aku dapat memilih! Mau menjadi siapa dan melakukan apa. Aku akan memilih tidak untuk dilahirkan. Aku tidak ingin menjalani hidup tanpa kejelasan dan tidak ingin menjadi beban bagi siapapun yang ku kenal. Terutama beban bagi kamu, Ayah. Pernahkah Ayah bertanya, kenapa aku tidak makan, kenapa aku tidak pulang, kenapa aku begini, kenapa aku menjadi seperti saat ini. Aku benci, Ayah."

Air mata Ana jatuh membasahi pipinya. Tangisan yang dari tadi dia tahan, tak bisa di bendung lagi. Mendengar ucapan putrinya Ayah merasa sedikit bersalah. Dia maju ingin memeluk putrinya tapi tangannya di tepis.

"Ayah, di banyak cerita yang kudengar, di banyak film yang aku tonton, anak perempuan akan menyandarkan kepalanya pada bahu tegas milik ayahnya, membiarkan air matanya membasahi bahu milik ayahnya. Tapi Ayah, kenapa bahumu itu terlalu jauh untukku bersandar?" tanya Ana dengan suara pelan karena menangis.

"Aku selalu mendengar orang berkata, jika Ayah adalah cinta pertama bagi setiap anak perempuan, tapi apa yang aku dapat, Ayahku adalah pria pertama yang membuat hatiku terluka dan hancur berkeping-keping," ucap Ana lagi dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.

Setelah mengucapkan itu, tanpa mau mendengar ucapan mereka, Ana masuk kamar dan menguncinya.

Terpopuler

Comments

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️

mending pergi aja dari pada di rumah tinggal sama emak tiri yg jahat..

2025-02-16

0

Bojone pak Lee

Bojone pak Lee

aku punya 2 bapak dan 2 ibu,mereka dekat tapi rasanya jauh....hu hu hu

2024-12-29

0

Milady Adara

Milady Adara

kebanyakan omong ana..ngabisin tenaga aja..tindakan dong

2024-12-21

0

lihat semua
Episodes
1 Bab Satu
2 Bab Dua
3 Bab Tiga
4 Bab Empat
5 Bab Lima
6 Bab Enam
7 Bab Tujuh
8 Bab Delapan
9 Bab Sembilan
10 Bab Sepuluh
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab Tujuh Belas
18 Bab Delapan Belas
19 Bab Sembilan Belas
20 Bab Dua Puluh
21 Bab Dua Puluh Satu
22 Bab Dua Puluh Dua
23 Bab Dua Puluh Tiga
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Bab Tiga Puluh Lima
36 Bab Tiga Puluh Enam
37 Bab Tiga Puluh Tujuh
38 Bab Tiga Puluh Delapan
39 Bab Tiga Puluh Sembilan
40 Bab Empat Puluh
41 Bab Empat Puluh Satu
42 Bab Empat Puluh Dua
43 Bab Empat Puluh Tiga
44 Bab Empat Puluh Empat
45 Bab Empat Puluh Lima
46 Bab Empat Puluh Enam
47 Bab Empat Puluh Tujuh
48 Bab Empat Puluh Delapan
49 Bab Empat Puluh Sembilan
50 Bab Lima Puluh
51 Bab Lima Puluh Satu
52 Bab Lima Puluh Dua
53 Bab Lima Puluh Tiga
54 Bab Lima Puluh Empat
55 Bab Lima Puluh Lima
56 Promo Novel.
57 Bab Lima Puluh Enam
58 Bab Lima Puluh Tujuh
59 Bab Lima Puluh Delapan
60 Bab Lima Puluh Sembilan
61 Bab Enam Puluh
62 Bab Enam Puluh Satu
63 Bab Enam Puluh Dua
64 Promo Novel Terbaru
65 TERJERAT PESONA BUJANG LAPUK
Episodes

Updated 65 Episodes

1
Bab Satu
2
Bab Dua
3
Bab Tiga
4
Bab Empat
5
Bab Lima
6
Bab Enam
7
Bab Tujuh
8
Bab Delapan
9
Bab Sembilan
10
Bab Sepuluh
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab Tujuh Belas
18
Bab Delapan Belas
19
Bab Sembilan Belas
20
Bab Dua Puluh
21
Bab Dua Puluh Satu
22
Bab Dua Puluh Dua
23
Bab Dua Puluh Tiga
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Bab Tiga Puluh Lima
36
Bab Tiga Puluh Enam
37
Bab Tiga Puluh Tujuh
38
Bab Tiga Puluh Delapan
39
Bab Tiga Puluh Sembilan
40
Bab Empat Puluh
41
Bab Empat Puluh Satu
42
Bab Empat Puluh Dua
43
Bab Empat Puluh Tiga
44
Bab Empat Puluh Empat
45
Bab Empat Puluh Lima
46
Bab Empat Puluh Enam
47
Bab Empat Puluh Tujuh
48
Bab Empat Puluh Delapan
49
Bab Empat Puluh Sembilan
50
Bab Lima Puluh
51
Bab Lima Puluh Satu
52
Bab Lima Puluh Dua
53
Bab Lima Puluh Tiga
54
Bab Lima Puluh Empat
55
Bab Lima Puluh Lima
56
Promo Novel.
57
Bab Lima Puluh Enam
58
Bab Lima Puluh Tujuh
59
Bab Lima Puluh Delapan
60
Bab Lima Puluh Sembilan
61
Bab Enam Puluh
62
Bab Enam Puluh Satu
63
Bab Enam Puluh Dua
64
Promo Novel Terbaru
65
TERJERAT PESONA BUJANG LAPUK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!