"Kosong!"
"Kosong?"
Aku mendekat, memastikan bahwa yang Elena katakan itu benar. ku edarkan pandangan ke dalam Almari dan benar saja, Kosong, tidak ada apa pun.
"bagaimana bisa kosong?"
Elena berjalan ke sekeliling lemari, memastikan bahwa buku itu benar-benar tidak ada didalam lemari. "bibi tidak memberi tahu apa isi buku itu? memangnya sepenting apa buku itu sampai-sampai kamu di suruh jauh-jauh kesini hanya untuk buku?" tanya Elena sembari berdiri menyender pada Almari.
Aku mengangkat bahu acuh, "aku juga sudah bertanya seperti itu ke ibu, tapi ibu hanya mengatakan bahwa buku itu sangat penting sampai-sampai aku tidak diizinkan untuk membukanya". Sahutku sembari bersandar pada pinggir lemari.
"jadi, bagaimana? Buku itu tidak ada". Tanya Elena
"ya, mau bagaiman lagi? Bilang saja tidak ketemu". Sahutku. "ya sudah, ayo kembali!" ajak ku kepada Elena.
Elena mengangguk setuju karena keadaan diluar juga sudah gelap, setelahnya kami kembali kerumah Elena.
sesampainya dirumah kami memutuskan untuk membersihkan diri dan makan malam bersama.
"kalian menemukan bukunya?" tanya Paman Glean sembari menyantap hidangan makan malam.
Aku menggeleng, "tidak, paman".
"apa ayah pernah diberi tahu bibi mengenai keberadaan buku itu?" tanya Elena yang sibuk mengunyah.
"Tidak". Jawab paman Glen singkat.
Entah mengapa aku sedikit curiga dengan jawaban paman. Sepertinya dia tahu sesuatu.
Aku tidak ingin mempermasalahkan itu, aku terus fokus menghabiskan makanan di piring ku.
"setelah ini, tidur lah Fiona. Pasti kamu lelah dn butuh istirahat" ucap paman Glean.
Benar saja, tubuh ku rasanya ingin sekali dibaringkan, sepertinya saran paman Glean ada benarnya juga. "iya, paman".
Entah kenapa mataku rasanya sulit sekali terpejam, padahal aku sudah merasa ngantuk sekali. Paman dan Elena sudah tertidur pulas, sedangkan aku masih sulit sekali untuk terpejam. Apa karena tidak terbiasa dengan suasananya? Mungkin saja.
Aku memutuskan untuk keluar dari dalam rumah, menghirup udara malam sebanyak-banyaknya. Siapa tahu setelah ini aku bisa tertidur.
Meong
samar-samar ku dengar suara kucing, tapi entah dari mana asalnya.
Meong
Aku melihat kesana kemari, namun tidak dapat menemukannya "puss, puss" panggilku agar kucing itu keluar dari persembunyiannya.
Meong
ah, itu dia. Kucing putih dengan ekor panjang terlihat berjalan kearah ku. Ku hampiri kucing tersebut kemudian ku angkat ke gendongan ku.
"sedang apa malam-malam begini berkeliaran? Apa pemilik mu tidak kehilangan mu?" tanya ku. Tentu saja kucing itu tidak menjawab. Hanya senang saja saat berbicara dengan seekor kucing.
Kucing itu melompat dari tanganku, turun kebawah kemudian mengelus-elus kan bulunya ke kaki ku. Lucu sekali.
"kamu lapar? Sayangnya aku tidak punya apa pun yang bisa kamu makan". Ucapku sembari berjongkok mengelus kepalanya.
Kucing itu berjalan menjauhi ku, namun saat melihatku masih diposisi semula ia mengeong lagi seakan-akan mengajakku ke suatu tempat.
"kamu ingin aku ikut dengan mu? kemana? aku takut".
Kucing itu terus saja mengeong sehingga mau tidak mau Fiona mengikutinya. Namun, kucing ini masih belum berhenti sampai tiba disebuah rumah kosong yang sore tadi Fiona dan Elena hampiri.
Meong
"apa? Kamu ingin aku masuk? Tidak-tidak". Ucap Fiona, mengikuti seekor kucing malam-malam sendirian sampai kesini saja sudah suatu bentuk kegilaan menurutnya, apalagi masuk kedalam rumah itu? Tidak!!
"maaf, sepertinya aku harus kembali". ucap Fiona sembari melangkahkan kaki ingin meninggalkan kucing itu. Setelah beberapa langkah menjauh dari kucing putih itu, terdengar suara seseorang yang berhasil membuat Fiona menoleh akibat terkejut.
"Kamu yakin tidak ingin mendapatkan buku itu?"
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments