''lalu?" tanya Fiona dengan hati-hati.
"pamanmu membunuh ayah mu"
Kenyataan itu berhasil membuat jantung Fiona seakan mati, bagaimana bisa paman yang ia anggap seperti ayah sendiri itu ternyata adalah dalang dari kematian ayahnya. Air matanya menggenang di pelupuk mata, siap akan turun membasahi pipi ranumnya.
"jadi, siapa sebenarnya kau?" tanya Fiona sembari menyeka air matanya nya yang berhasil lolos.
"Seperti yang Deril ucap tadi". sahutnya santai.
"Ayo, kita harus segera pergi ke telaga suci". Ucap Noir yang mulai berjalan mendahului Fiona.
Gadis dengan rambut hitam sebatas pinggang itu mengikuti Noir dari belakang. Kenyataan mengejutkan yang baru saja ia dengar membuat kaki nya seakan tidak sanggup untuk berjalan.
"Andai kau manusia, aku pasti sudah naik ke punggung mu" kesel Fiona namun tetap mengikuti langkah Noir.
Noir terkekeh, "tunggu saja sampai keinginan mu itu terwujud, Queen".
Hutan yang sangat terawat dan bebas dari polusi udara ini membuatnya menjadi lebih tenang. rumput dan pepohonan hijau memanjakan matanya. bunga-bunga liat yang tumbuh subur itupun seakan bernyanyi bersama.
"apa itu?" tanya Fiona yang tengah sibuk melihat-lihat sekitarnya dan tak sengaja menemukan sesuatu di dekat pohon besar itu.
"ada apa, Queen?" tanya Noir mendekat ada Fiona.
"aku seperti melihat bung ungu itu melambai pada ku". Ucap Fiona kemudian mulai mendekati bunga yang ia maksud.
Noir hanya mengikuti Fiona, tidak berniat berkomentar.
"lihat Noir". Tunjuk Fiona ada bunga ungu di balik pohon itu, "bunga itu melambai pada ku". Ucap Fiona yang semakin mendekat dengan berlari kecil.
"putri Lyana" bunga itu berbicara.
Fiona refleks menutup mulutnya terkejut, "Noir! Bunga itu berbicara!" ucapnya setengah terkejut setengah takjub.
"aku tidak mendengarnya" sahut Noir enteng.
Fiona refleks melihat kearah Noir, "benarkah? Tapi, dia sungguh berbicara! Sungguh!!" ucapnya seakan ingin Noir percaya.
"aku mengerti Fiona, di tubuhmu memang mengalir darah peri hijau. Karena itu lah kau bisa mendengarnya". Ucap Noir membuat Fiona takjub.
"benarkah??" tanya Fiona dengan senyuman yang terbit dibibirnya.
Noir hanya mengangguk setuju.
"putri Lyana"
Fiona menoleh, "kau memanggilku?" tanyanya kepada bunga ungu dengan kelopak yang terbentuk indah seperti bunga sepatu.
"Benar kah kamu putri Lyana?" tanya bunga itu.
Fiona menggeleng, "putri Lyana? Bukan, aku Fiona". Jelasnya.
"aku tahu, kau adalah putri Lyana". Ucapnya lagi
"bukan-"
"kami sudah lama menunggu mu putri, segeralah ke istana, keadaan sedang sangat kacau". Jelasnya membuat Fiona mengernyit tidak mengerti.
"tapi-" kalimat Fiona kembali terjeda karena kini bunga itu sudah kembali seperti bunga biasa, ia tidak berbicara lagi.
Noir hanya memperhatikan interaksi Fiona dengan bunga itu, meski ia tidak dapat mendengar, namun melihat Queen nya mulai memahami siapa dirinya dann dunia Dracania membuatnya sedikit lega.
"ayo Queen, kita harus segera melanjutkan perjalanan". ucap Noir kembali melangkahkan kaki-kaki mungil nya.
Fiona kembali membuntuti Noir, "jadi, aku adalah peri hijau" tanya Fiona di tengah-tengah perjalanan mereka.
"benar". Sahut Noir tanpa menoleh.
"sulit sekali diterima, tapi aku senang" ucapnya dengan mengayun-ayunkan kedua tangannya,
Noir yang berjalan mendahuluinya hanya tersenyum melihat Fiona kegirangan. Queen nya itu memang sangat menggemaskan. tunggu saja saat aku sudah kembali ketubuhku yang sebenarnya.
krrrruuukkkk
Noir menoleh ke arah sumber suara, "kau lapar, Queen?" Tanya Noir.
Fiona memegangi perutnya, kemudian tersenyum malu.
"ayo, disekitar sini biasanya ada pohon apel yang buahnya tidak pernah habis". Ucap Noir.
Noir melangkahkan kakinya menuju selatan, mencari-cari dimana pohon itu berasal.
Beberapa langkah mereka berjalan, lahirnya mereka menemukan pohon yang mereka cari. "petik sesuka mu, Queen" ucap Noir
Fiona berlari kearah pohon kemudian mulai memetik beberapa buahnya dan mulai melahapnya untuk mengisi perutnya yang sudah meminta diberi asupan.
"kau tidak mau, Noir?" tanya Fiona, namun belum sempat Noir menjawab Fiona Sudan kembali menambahkan, "ah benar juga, kucing tidak makan buah".
Saat tengah asik menikmati buah apel itu, tiba-tiba saja dari arah berlawanan muncul sesuatu yang berterbangan dilangit.
"Noir, Lihat itu!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments