Hai, perkenalkan nama ku Fiona Cassandra Alexa. Aku merupakan anak tunggal. Ibuku bernama Namira dan ayahku bernama Lemos, namun sayangnya ayahku sudah meninggal tiga tahun silam karena serangan jantung. Kini ibu menjadi orang tua tunggal untuk ku. beberapa kali aku menyuruhnya untuk mencari pengganti ayah, namun ia menolak keras akan hal itu, alasannya karena ia ingin fokus membesarkan ku katanya.
Usia ku baru 22 tahun. Usia yang sangat ideal untuk para gadis. Aku sedang menjalani study di perguruan tinggi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatku tinggal, mengambil jurusan manajemen dan sedang menjalani semester 6.
Saat ini kampus ku sedang libur semester genap, sehingga membuatku memilih untuk berlibur ke desa tempat ibu ku berasal. Bukan tanpa alasan, karena kata paman ku rumah itu akan segera di bongkar karena tanahnya sudah dibeli oleh orang lain. Tadinya ibu ku tidak mengizinkan rumah itu dihancurkan, namun dari pada tidak ditempati lagian keadaan rumah nenek ku itu sudah terbilang parah, penyangga nya sudah tidak kokoh sehingga membuat rumah terlihat miring sebelah.
awalnya ibu ku yang akan pergi ke desa, namun karena beliau sedang tidak enak badan jadi aku lah yang menggantikannya. ibu bilang ada sebuah buku rahasia di rumah itu yang harus di ambil. Entah buku apa, tapi ibu melarang ku untuk membukanya.
tidak terasa akhirnya aku sampai di tempat tujuan. Ah, aku melihat paman ku melambai didepan rumahnya.
"kau sudah sampai?" tanya paman sembari membantuku mengangkat koper.
Aku mengangguk kegirangan, "bukankah aku terlihat sudah dewasa karena berani berpergian tanpa ibu, paman?" kekeh ku.
Paman mengelus rambutku, "tentu saja!" sahut paman yang ikut terkekeh juga.
"Dimana Elena?" tanyaku. Elena adalah anak perempuan paman. Usianya sama dengan ku.
"didalam kamarnya, panggil saja. Dia pasti terkejut melihat mu datang". Jelas paman yang kemudian berlalu ke dapur, "apa kau sudah makan, Fiona?" tanya paman.
"sudah, ibu membawakan ku bekal." sahutku berlalu masuk kekamar Elena.
Aku membuka pintu kamarnya, ku lihat Elena sedang membaca buku, sepertinya buku novel. Dia terlihat tidak menyadari keberadaan ku. ah, dasar anak ini.
"tidak mau menyapaku, huh?" tanyaku berpura-pura kesal.
Elena terkejut dan refleks duduk. "FIONA!!!" jeritnya kegirangan. Ia memelukku erat sekali, seperti akan membunuhku.
"k-kau ing-in mem-bunuh ku?" tanyaku terbata karena kehabisan oksigen.
Elena melepaskan rangkulannya, "kenapa tidak memberitahu ku jika kau akan kemari? Dimana bibi?" tanya nya.
"pertama, ayahmu yang tidak memberitahu mu. Tentu saja aku telah memberitahu paman saat ingin kesini" jelas ku.
"lalu, dimana bibi?" tanya nya lagi.
Aku menggeleng, "aku sendirian".
Elena membulatkan matanya, "kau berani?"
"tentu saja! Aku sudah dewasa, Elena".
Kami terus bercerita tentang banyak hal, hingga waktu menunjukkan pukul tiga sore. Aku menjelaskan padanya alasan mengapa aku kesini, ia hanya mengangguk dan bersedia menemani ku.
Setelah selesai makan siang, kami memutuskan untuk kerumah tua nenek ku yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Elena, namun tempatnya yang jauh dari pemukiman warga.
"kau berani?" tanyaku sebelum Elena berhasil membuka pintu rumah ini. Karena sudah lama kosong, jadi aku sedikit takut.
"tenang lah, tidak akan ada apapun". Sahutnya santai.
Aku mengangguk percaya, Elena berhasil membuka pintu itu kemudian kami masuk kedalam dan disambut oleh debu yang sangat sesak menutupi lantai.
tidak ada barang apapun dirumah ini, elena bilang sebagian barangnya ada yang dijual ada juga yang mereka bawa pulang. Hany tersisa satu almari besar disudut ruang tengah.
"apa ibu mau memberi tahu dimana letak buku itu?" tanya Elena sembari berjalan kearah lemari.
Aku mengikuti langkah Elena dari belakang, Elena ini memang sangat pemberani. "ibu ku bilang buku itu ada di dalam lemari, mungkin ini almari yang dimaksud ibu ku" tunjuk ku pada lemari berukuran besar yang sudah hampir sepenuhnya tertutup sawang laba-laba.
Elena mengangguk kemudian mulai mencoba membuka almari itu, "dikunci". ucap Elena.
"bagaimana?" tanyaku.
Elena meraih sebuah besi panjang yang tergeletak dilantai kemudian bersiap menghantam lemari itu dengan besi yang ia genggam. "minggir, Fiona". Intruksinya, refleks aku mundur beberapa langkah.
BUUGHH!
BUUGHH!
PRANGG!
Terbuka!!
Aku mendekat, "uhuk uhuk" aku terbatuk-batuk karena debu-debu yang berterbangan.
"Kosong"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments