Setelah kejadian kemarin, sudah beberapa hari ini Ayu jadi lebih berhati - hati berbicara saat ada Sela. Dia tidak mau kalau anaknya itu akan mengalami trauma yang berkepanjangan akibat dari seringnya pertengkaran kedua orang tuanya yang dia lihat.
Sebenarnya Ayu sudah tidak punya harapan untuk rumah tangganya dengan Reno, tapi dia juga tidak mau egois dengan mengabaikan putrinya Sela. Dia tidak mau Sela jadi kehilangan sosok orang tua yang utuh. Yang mungkin akan berakibat buruk pada mentalnya.
Tapi dengan terus diam saat menghadapi tingkah suami dan keluarganya juga akan membuatnya terus diinjak dan diperlakukan tidak adil. Oleh karena itu dia memutuskan melawan untuk menjaga dirinya agar tetap waras.
"Ma, Kenapa sih Ayah sama nenek sering marahin mama. Budhe Sindi dan Tante Mega juga suka berbicara jahat kalau ketemu mama?"
"Gak usah dipikirkan ya sayang, mama gak papa kok."
"Tapi Sela kasihan sama mama kalau dimarahi Ayah sama nenek."
"Kamu tenang saja ya, mama kan kuat. Sela gak usah khawatir."
Sela memang sudah berusia 7 tahun, jadi dia sudah mengerti apa saja yang terjadi di sekitarnya. Termasuk dia sering melihat dan mendengar ayah dan neneknya yang selalu marah pada mamanya.
Sudah dua hari ini badan Sela demam. Ayu sudah memberinya obat penurun panas dari warung dan juga mengompresnya, tapi tetap saja panasnya belum turun - turun juga. karena khawatir dia segera menghampiri suaminya untuk minta diantar ke dokter.
"Mas, gimana ini panasnya Sela masih belum turun juga. Kita bawa Sela ke dokter ya mas."
"Ngapain ke dokter sih Yu, buang - buang uang saja. Lagian ini juga sudah malam. Besok saja bawa ke puskesmas, biayanya lebih terjangkau, obatnya juga sama saja."
Mendengar hal itu, rasanya hati Ayu serasa diremas. Bahkan suaminya tidak perduli saat anaknya sedang sakit seperti sekarang ini. Kalau saja Ayu punya uang dia pasti tidak akan menunggu suaminya dan langsung membawa anaknya ke dokter. Dia memang sudah beberapa hari tidak ke tempat Ira untuk bantu - bantu karena harus menjaga Sela yang sedang sakit. Untungnya Ira sangat mengerti kondisi Ayu sehingga dia mengizinkan Ayu untuk tidak kerja sampai anaknya sembuh. Sedangkan upah yang baru beberapa hari kerja kemarin sudah diambil untuk membeli kebutuhannya serta Sela.
Dengan terpaksa Ayu menuruti suaminya dan segera masuk ke dalam kamar Sela untuk menjaganya kembali. Dengan telaten dia mengganti kompresnya setiap beberapa waktu berharap panasnya akan segera turun. Ayu menjaga Sela sampai dia tidak bisa tidur semalaman karena harus mengganti kompres dan mengecek suhu tubuh anaknya itu, hingga pagi ini dia sangat mengantuk dan kelelahan.
"Yu, Mana sarapanku, kenapa kamu belum siapkan, sudah jam berapa ini, aku harus berangkat kerja sekarang."
"Aku tidak sempat masak mas, semalaman menjaga Sela dan sering mengigau."
"Gimana sih kamu ini, kalau begini aku harus susah - susah cari sarapan di luar, menyusahkan saja."
"Mas, jangan pergi dulu. Antar kami ke puskesmas dulu. Bukankah semalam kamu sudah janji."
"Kamu antar sendiri saja, hari ini aku ada rapat penting."
Ucapnya sambil meraih kunci mobil yang menggantung.
Tapi mas, nanti repot kalau aku harus sendirian naik motor sambil membawa Sela yang sedang sakit. Antarkan kita dulu mas pake mobil, lagian aku juga tidak punya uang untuk biaya berobatnya nanti.
"Tidak bisa aku akan terlambat kalau harus mengantarmu dulu. Apalagi aku harus cari sarapan dulu sebelum pergi ke kantor. Ini uang buat berobat Sela, jadi kamu pergi saja sendiri."
Lalu Reno melenggang keluar dan langsung pergi dengan mobilnya setelah memberikan uang seratus ribu pada istrinya. Dengan menahan emosi dia hanya bisa mengambil uang itu dan segera menyiapkan Sela untuk dibawa ke puskesmas. Kemudian Ayu membonceng Sela dan mengendarai motornya dengan pelan karena dia khawatir dengan tubuh anaknya yang masih lemas itu.
Akhirnya dengan susah payah dia sampai ke puskesmas dan setelah menunggu beberapa saat kini nama Sela di panggil untuk segera diperiksa.
Hati Ayu sedikit lega saat dokter puskesmas mengatakan kalau sakitnya Sela hanya demam biasa. Lalu dokter memberikan beberapa obat yang harus dikonsumsi Sela agar cepat sembuh. Setelah sampai ke rumah segera Ayu memberikan obat dari puskesmas tadi dan menyuruh Sela untuk istirahat agar setelah bangun nanti badannya sudah enakan.
Setelah memastikan Sela sudah tidur dengan nyaman, kini Ayu mulai membereskan rumah yang belum sempat dia lakukan dari pagi karena harus mengurus Sela yang sedang sakit.
Saat terdengar suara mobil yang berhenti di halaman rumah, Ayu segera keluar dari kamar Sela dan menyambut kedatangan suaminya. Kebetulan Sela sudah tidur setelah minum obat. Kini badanya sudah tidak panas lagi. Tapi tubuhnya masih lemas.
"Aku siapkan makan malam ya mas."
"Tidak usah Yu, buatkan kopi saja, aku sudah makan di rumah ibu. Tadi Mega telpon kalau anaknya ingin makan martabak coklat. Jadi aku beliin dan langsung aku antar ke sana. sekalian aku makan disana bersama yang lain."
"Kamu beliin martabak coklat buat keponakanmu mas, lalu jatah untuk Sela mana, kamu gak beliin. Bukankah kamu tahu kalau Sela juga suka martabak coklat?"
"Aku hanya beli satu tadi, aku lupa kalau Sela juga suka martabak coklat, lagian dia kan sedang sakit sekarang pasti juga gak bakal kemakan karena mulutnya kerasa pahit."
Dada Ayu seketika bergemuruh menahan emosi, dia sudah tidak bisa lagi terus diam menerima ketidak Adilan dari suaminya.
"Tega kamu ya mas, kamu lebih mementingkan keinginan anak orang lain dari pada anak kandungmu sendiri. Bahkan kamu lupa kalau Sela juga suka dengan martabak coklat. Tapi kamu hanya membelikan satu untuk keponakanmu saja."
Ucap Ayu dengan suara tinggi, dia sudah tidak perduli lagi kalau suaminya akan marah.
"Cukup Yu, kenapa kamu selalu marah saat aku memberikan untuk keluargaku? Mereka keluargaku tidak mungkin aku akan menolak keinginan mereka, aku bertanggung jawab atas kehidupan mereka."
"Lalu aku dan Sela tanggung jawab siapa mas? jelas aku marah karena kamu memperlakukanku dan Sela dengan sangat tidak adil. bahkan anakmu sakit saja kamu tidak perduli. Padahal dia hanya ingin sedikit perhatian darimu mas. Tapi bagimu anak orang lain lebih penting dari anak kandungmu sendiri."
"Bukannya selama ini aku masih bertanggung jawab juga padamu dan Sela, aku masih memberimu uang belanja setiap bulannya."
"Kamu memang masih memberiku uang belanja mas tapi dengan jumlah yang tidak layak. Kamu pikir uang segitu yang kamu berikan padaku sudah sangat banyak sehingga bisa untuk menyenangkan diriku? Bahkan untuk makan saja aku masih sering berhutang karena tidak cukup. Tapi apa kamu perduli? tentu tidak karena perdulimu hanya tentang membahagiakan keluargamu saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Nur Aulia
jadi perempuan jgn bodoh sela,,pergi ajj bawa anak km,,minta cere jgn mau di bodohin trs
2025-01-08
0
Jeni Safitri
Kamu juga bodoh yu, sdh jelas dikasih uang sedikit ya masak aja sepat duit yg ada hari berikutnya jgn masak, duit gaji mu simpan aja kalian makan di luar atau beli yg sdh jadi makan diam" sama anak berdua
2024-07-31
1
Pasrah
sudah yu pergi dari rumah mereka gak ada gunanya hidup di antara mereka yg gak punya hati
2024-07-23
0