Mine

"Action!" Sutradara mengamati dari layar monitor. Benar-benar menelan ludahnya.

Tubuh Ririn bergetar kala Fermone mendekatinya."Jangan sentuh aku..."

Sang sutradara membulatkan matanya, kembali membaca skrip. Seharusnya Ririn berteriak dengan nada tinggi. Tapi ini tidak?

"Ririn?" Fermone menunduk. Melangkah keluar, meninggalkan kekasihnya.

"A...aku tidak bermaksud." Ririn membulatkan matanya, air matanya mengalir, membayangkan Fermone meninggalkannya.

"Agghhh...aku mencintaimu. Aku mencintaimu." Sebuah tangisan kecil, bagaikan bisikkan dalam luka."Fermone..."

"Gila!" Seperti biasanya pula sutradara terkesan, membaca ulang naskah. Ririn yang diperankan Cheisia memang berbeda dengan Ririn dalam naskah.

Sedangkan Neil menghela napas kasar mengamati segalanya. Inilah wanita-nya yang serba bisa. Beberapa hari ini tidak ada hal yang dilakukan olehnya.

Hanya menemani Cheisia, mengikutinya kemanapun wanita ini pergi. Hingga...

"Cut!" Suara sang sutradara menghentikan adegan."Kita break makan siang! Syuting dilanjutkan besok saja. Lagipula tinggal satu adegan lagi, jadwal syuting kita selesai lebih cepat. Jadi malam ini sampai pagi kalian bebas kemana saja."

"Wah! Akhirnya aku pegal!"

"Sutradara! Didekat sini ada danau, bagaimana jika kita memancing."

"Kalau aku lebih tertarik pada hiburan malam dekat sini."

Kaki Neil sudah sembuh walaupun lukanya meninggalkan bekas. Setidaknya dirinya tidak pincang lagi.

"Neil!" Cheisia berlari menghampirinya. Tetap makan siang bersama, tidak peduli ada banyak orang yang ingin makan siang dengan Cheisia saat ini.

"Kita makan dimana?" Tanya Neil membawa dua kotak nasi dan air mineral.

"Disana saja!" Cheisia menunjuk ke arah pohon rindang di sebelah rumah kaca.

Mungkin sudah sebulan mereka tinggal bersama. Memasak, makan, menonton film, bahkan Neil seringkali membantunya berlatih dengan memerankan tokoh Fermone.

"Apa aku jatuh cinta?" Batin Cheisia, yang memang tidak pernah menemukan kehangatan lagi setelah kehadiran Bianca.

Perlahan tangannya bergerak, dengan sengaja menyenggol jemari tangan Neil. Berharap Neil peka kemudian menggandeng tangannya.

Tapi...

Tubuhnya tiba-tiba diangkat ala bridal style."Tadi itu kode dari dikau, kalau daku harus menggendong bukan?"

"Tidak!" Cheisia bersungut-sungut. Tapi tangannya masih mengalung juga.

Diam-diam wanita itu tersenyum."Berlebihan!" Teriaknya bahagia dalam hati, merasa akan mati.

Sedangkan Neil menatap ke arah awan mendung. Makan siang di bawah pohon adalah tujuan mereka.

Namun, terkadang segalanya tidak sesuai rencana bukan? Hujan deras tiba-tiba mengguyur. Memutuskan untuk berteduh di rumah kaca mungkin merupakan jalan terbaik. Dibandingkan kembali ke villa tempat lokasi syuting diadakan.

Dua orang yang memasuki rumah kaca, kemudian Neil menutup pintunya.

"Wah..." Cheisia tertegun kala masuk kedalamnya. Bagaikan dimensi lain, terdapat kolam yang dipenuhi dengan tanaman teratai raksasa. Juga beberapa varietas mawar.

Kacamata Neil berembun, pemuda yang melepaskan kacamatanya. Mengamati keadaan sekitar, hujan petir benar-benar turun.

Lokasi syuting yang berada di dataran tinggi membuat suhu bertambah dingin dengan cepat. Matanya melirik, apa kupu-kupu bersayap rapuh itu akan mati jika kedinginan? Itulah fikiran polos dalam otaknya.

Pakaian mereka sama-sama basah kuyup. Dirinya mulai melangkah berkeliling meninggalkan Cheisia, guna mencari sesuatu yang dapat digunakan menghangatkan diri.

Sehelai selimut didapatkan olehnya. Dirinya tertegun kala wanita itu memanggilnya."Neil!"

Melangkah mendekatinya."Syukurlah ketemu..." Dua kata penuh senyuman terdengar. Membuat dirinya bungkam sesaat. Ada yang menunggu dan mencintainya? Terlebih lagi malaikat ini?

"Disini udaranya dingin. Jadi buka bajumu, gunakan selimut ini sebagai penghangat." Neil memberikan selimut tenunan yang didapatkannya.

"Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Cheisia ragu. Hujan petir dengan angin kencang bertiup bagaikan badai. Mungkin ini akan berlangsung hingga malam.

"Aku gampang! Tubuhku kuat dari kecil! Tidak akan masalah." Ucap Neil penuh semangat.

"Tapi, kalau kamu sakit, aku ju...juga yang repot." Cheisia menghela napas kasar, memang udaranya terasa semakin dingin, bagaikan jutaan jarum menusuk ke dalam kulit.

"Lalu maumu bagaimana? Jika kita hanya pakai pakaian dalam satu selimut. Maka---" Neil menggantung kalimatnya sejenak, perlahan wajahnya tersenyum."Skin to skin untuk bertahan hidup cukup bagus juga..."

"Skin to skin?" Tanya Cheisia terdengar polos.

Pemuda yang mengangguk memilin jemarinya penuh harap, Cheisia akan menurut. Namun, tidak ingin watak aslinya sebagai serigala lapar keluar."Maaf, ini memang tidak menyenangkan, jadi selimutnya untukmu saja."

"A...aku mau! Lagipula kita sudah menikah, walaupun hanya setahun, setelah bercerai kita bisa jadi teman."

"Teman?" Gumam Neil bagaikan tertusuk dengan kata teman.

*

Dhuar!

Petir kembali menyambar, mati listrik membuat lampu bagian dalam rumah kaca ikut tewas.

Semakin malam semakin dingin. Berpelukan dengan posisi Neil memangku tubuh Cheisia. Di balik selimut, mereka hanya mengenakan pakaian dalam. Mengingat pakaian mereka yang basah kuyup.

"Pernikahan Bianca dan Hazel akan dilaksanakan lusa. Kamu pasti sedih..." Ucap Neil lembut.

Cheisia menggeleng."Jika menikah hanya untuk diacuhkan, aku tidak mau."

"Lalu perasaan macam apa yang kamu sukai?" Tanya Neil pada Cheisia.

"Ini untukmu..." Cheisia tersenyum padanya.

"Mawar?" Neil mengernyitkan keningnya menatap ke arah mawar dengan dua warna, putih dan merah.

"Aku tidak menemukan mawar putih. Jadi, mawar putih mirip denganmu, cinta yang polos bagaikan anak kecil." Ucap Cheisia memberikan setangkai mawarnya.

"Fire and ice rose, bukan hanya berarti cinta yang polos bagaikan anak kecil. Tapi dapat juga berarti cinta yang bergairah dan abadi. Kamu menyatakan cinta padaku sampai-sampai memberikan mawar seperti ini padaku?" Tanya Neil mengernyitkan keningnya.

Dengan polosnya Cheisia mengangguk. Tidak menjawab pertanyaan Neil.

"Dikau menyatakan cinta pada daku, yang miskin ini?" Tanya Neil, kembali dijawab dengan anggukan kepala oleh Cheisia.

"Apa kamu menolak? Bagaimana pun juga aku pernah menjadi korban pelecehan. Seperti kata Hazel, tidak ada pria yang akan menerimaku." Cheisia masih menunduk tidak tahu harus bagaimana.

"Aku sampah yang tidak bisa menghasilkan uang, ada banyak yang lebih menawan dan aku juga tidak memiliki apapun." Neil tersenyum, bagaimana bisa Cheisia begini padanya?

"Kamu sering membatu kru, walaupun tidak seberapa kamu selalu menggunakannya untuk membeli keperluan di apartemen. Apa kamu malas bekerja? Tidak, tapi karena kamu tidak memiliki ijazah atau identitas. A ...aku menyukaimu..."

Cheisia mengulang kalimatnya. Membuat sang iblis bagaikan melayang, seperti tenggelam dalam lautan yang dipenuhi dengan kelopak bunga kamboja.

"Aku juga..." Neil tersenyum padanya."Apa karena ini kamu setuju untuk skin to skin? Dasar mesum!"

Cheisia menggeleng."Aku hanya berfikir akan ditolak karena aku hanya seonggok barang bekas. Jujur, pernikahan impianku adalah seperti hari-hari yang kita jalani. Sebulan ini aku tidak pernah merasa kesepian. Hingga aku takut tidak ada kamu lagi, suatu hari nanti."

"Lalu?" Neil belum menemukan alasan mengapa Cheisia begini.

"Tidak tau..." Hanya itulah jawaban Cheisia yang begitu takut kembali sendiri."Mungkin, seumur hidup kamu akan seperti Hazel yang menyesalkanku sebagai barang bekas pakai."

"Kita suami istri bukan?" Tanya Neil dijawab dengan anggukan kepala oleh Cheisia.

"Jika begitu, untuk menghapus tanda keberadaan si br*ngsek dua tahun lalu, yang sangat tampan itu. Aku akan memilikimu..." bisik Neil, mencium bibir Cheisia.

Wanita yang selama 14 tahun mengejar cinta kedua orang tuanya dan Hazel. Perlahan menemukan tempatnya di dunia ini. Mungkin tidak ingin kehilangan Neil yang memberikan kebahagiaan sekejap padanya. Membuat dirinya bersedia melakukan hal gila.

"Neil...jangan tinggalkan aku..." pintanya, mungkin sudah takluk.

"Dimana saja si br*ngsek itu menyentuhmu. Aku akan menyentuhmu di tempat yang sama. Hingga kamu hanya menjadi milikku..."

Terpopuler

Comments

Miss Typo

Miss Typo

ngatain br*ngsek sm diri sendiri 😁

2024-09-23

1

Bzaa

Bzaa

ngatain sendiri dirinya brengsek☺️🤣

2024-06-23

0

Eka Awa

Eka Awa

bisa bea neil, modus mu itu

2024-06-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!