"Kamu bekerja di apartemenku..." Ucapnya setelah Neil benar-benar membuatnya tertawa lepas.
"Daku tidak punya identitas. Apakah dikau begitu mencintai daku, hingga percaya?" Tanyanya, membuat Cheisia menepuk bahu Neil.
"Sudah! Berhenti membuatku tertawa." Cheisia menghela napas kasar. Matanya kembali menatap ke arah jendela mobil.
"Apa ini juga karena pelecehan?" Tanya Neil ragu.
Cheisia tersenyum, namun raut wajahnya menyiratkan kesedihan."Bukan, sudah dari dulu seperti ini. Aku hanya dianggap putri kandung yang cacat dan tidak tahu terimakasih."
"Bukannya begitu, kamu hanya terlalu baik." Neil tersenyum padanya.
*
14 tahun lalu.
"Ayah, ini obatnya. Dan permen agar tidak pahit." Cheisia tersenyum, masih memakai seragam sekolah menengah pertama.
"Terimakasih! Putri ayah memang yang paling cantik dan baik." Ucap sang ayah yang hanya berbaring di tempat tidur. Kala penyakit jantungnya kembali kambuh.
"Cheisia! Ini ibu membawakanmu oleh-oleh dari Prancis! Terimakasih sudah menjaga ayahmu." Sang ibu membawakan kotak biola untuknya. Mendekap putrinya erat.
"Sudah aku bilang tidak usah!" Cheisia tersenyum menghela napas kasar.
"Tidak bisa begitu! Karena anak ibu yang mandiri. Ibu jadi bisa menggantikan ayahmu sementara menghandle perusahaan. Putri kecilku yang manis." Sela mencubit pipi putrinya.
"Sela! Hentikan, Cheisia kesakitan! Kemari putri ayah! Berbaring di samping ayah!" Sang ayah merentangkan tangannya sembari tersenyum.
Sedangkan Cheisia mendekap erat tubuh ayahnya.
"Ibu ikut!" Sela ikut berbaring membuat sang remaja dikelilingi kedua orang tuanya.
Senyuman kebahagiaan menyungging. Berharap ini akan bertahan lama.
"Ya Tuhan...aku ingin ayah sembuh. Dan ibu tetap sehat, tidak peduli jika harus menukarnya dengan apapun." Itulah yang tersirat di setiap doa nya.
*
Sebuah doa yang dikabulkan. Kala beberapa minggu kemudian terdapat pasien yang menyumbangkan jantungnya. Dengan syarat dari keluarga mendiang untuk mengadopsi anak dari sang pendonor yang kini yatim piatu.
Wajah Cheisia tersenyum kala sang ibu menghubunginya mengatakan operasi ayahnya berhasil. Bersyukur kepada Tuhan, bahkan remaja itu menghabiskan waktu seharian di tempat beribadah.
Namun, bukankah sang remaja berkata rela menukar apa saja. Kala dirinya kembali, sang ibu membawa remaja lain yang berselisih usia beberapa bulan dengannya.
"Cheisia, perkenalkan ini Bianca. Dia adikmu mulai sekarang. Ayah Bianca yang menyelamatkan nyawa ayahmu. Jantung ayah Bianca kini ada dalam diri ayahmu. Kamu harus memperlakukannya dengan baik dan benar-benar berterimakasih padanya." Itulah yang dikatakan ibunya saat itu.
Cheisia tersenyum, inikah penyelamat hidup ayahnya?
"Bianca! Mulai sekarang aku kakakmu. Jika kamu menginginkan apa saja katakan padaku. Aku akan memberikannya. Terimakasih sudah menyelamatkan ayahku." Ucap Cheisia memeluk Bianca penuh rasa haru.
Namun, Bianca tidak tersenyum sama sekali. Ayahnya meninggal dengan hanya mewariskan jantung? Itu artinya seluruh keluarga ini miliknya. Apanya yang kakak? Kakak hanya akan menjadi rivalnya. Setidaknya itulah yang ada dalam hati Bianca.
"Kita bermain ke kamarku ya?" Ajak Cheisia menarik tangannya.
Bianca hanya mengangguk, mengikuti langkah kaki Cheisia. Sebuah kamar yang begitu luas dan indah baginya. Tertata rapi dengan foto keluarga yang berada disana.
Terdapat di lantai satu, memiliki akses langsung ke kolam renang. Bianca menyukai kamar ini, tapi bagaimana cara memilikinya?
"Mungkin ada caranya..." itulah yang difikirkan Bianca.
"Kamarnya bagus, boleh aku pindah ke kamar ini?" Tanya Bianca.
"Kamar lain di lantai dua saja ya? Ada balkon yang indah di sana. Atau di sebelah kamarku jika ingin berhadapan langsung dengan kolam renang." Jawab Cheisia tengah sibuk mengeluarkan beberapa baju dan aksesorisnya yang masih baru. Belum sempat dipakai sama sekali. Akan diberikannya pada sang adik angkat yang telah menyelamatkan nyawa ayahnya.
Tanpa menyadari, Bianca berjalan mendekati kolam renang.
Byur!
"Tolong! Hup! Tolong!" Teriakan Bianca yang sejatinya dapat berenang dengan baik.
"Bianca!" Cheisia segera melompat ke kolam renang hendak menyelamatkannya.
Namun, bagaikan dengan sengaja membuat gerakan panik. Sehingga Cheisia kesulitan berenang mendekat. Mengepak-ngepakan tangannya mendorong Cheisia agar tidak menolongnya.
Hingga keributan yang terdengar membuat Sela keluar. Anehnya dengan mudah sang ibu dapat menolong Bianca.
Gadis yang berpura-pura tidak sadarkan diri. Hingga pada akhirnya membuka matanya."Kamu kenapa sayang?" tanya Sela.
Tangan Bianca menunjuk ke arah Cheisia yang sama basahnya."Kak Cheisia mengatakan aku cuma anak angkat. Lalu mendorongku ke kolam."
"A...aku tidak..." Kalimat Cheisia disela.
"Tapi---" Pada awalnya Sela terlihat ragu.
"Aku takut! Aku hanya mengatakan menyukai kamar kak Cheisia. Aku tidak mengatakan apa-apa lagi, tapi kak Cheisia tiba-tiba mendorongku. Mengatakan aku hanya merebut perhatian ibu dan ayah." Bianca masih tertunduk menangis terisak.
"Ibu, aku tidak---" Lagi-lagi bagaikan Cheisia tidak diberikan kesempatan bicara.
"Jangan marahi kakak, A...aku memang cuma anak angkat." Itulah yang dikatakan Bianca memeluk Sela.
"Cheisia! Perbuatanmu ini kriminal! Dapat membahayakan nyawa orang lain." Sela menghela napas kasar."Ibu kecewa padamu, sebagai hukumannya. Kamarmu pindah ke lantai dua!"
"Ibu!" Panggil Cheisia, namun Sela mengangkat tubuh Bianca remaja. Bagaikan seorang ibu yang mengkhawatirkan putrinya. Membawa anak yang baru diadopsinya itu ke rumah sakit.
Meninggalkan putri kandungnya duduk seorang diri dalam tangisan. Itu baru awal dari segalanya.
"Tuhan, terimakasih sudah menyelamatkan nyawa ayahku. Sudah memberikan kesehatan dan umur panjang pada ibuku. Jika aku harus menukar dengan hilangnya kasih sayang mereka, aku tidak apa-apa..." Hanya rasa syukur dalam tangisan. Dirinya akan bungkam dan diam.
Bianca tetap penyelamat bagi ayahnya. Sedangkan dirinya hanya seorang anak yang berhutang budi pada kedua orang tuanya dan Bianca.
Tubuhnya yang basah kuyup, udara dingin menderu saat itu.
*
Kala malam menjelang, suhu tubuhnya meningkat. Menghubungi kedua orang tuanya berkali-kali.
Ketika diangkat.
"Kami sedang di rumah sakit! Kamu tau karena perbuatanmu Bianca mengalami trauma secara psikis. Dia bahkan tidak mau makan." Bentakan sang ibu.
"Ibu aku sakit..." Hanya itulah yang diucapkan oleh Cheisia, menatap termometer dengan angka suhu 40,3 derajat Celcius.
Suara Bianca terdengar samar dari seberang sana."Ibu, mungkin kakak memerlukan perhatian. Lebih baik ibu pulang, aku takut kakak marah lagi padaku."
"Stt...jangan begitu sayang..." Samar ucapan ibunya pada Bianca.
"Cheisia, jangan mencari perhatian. Tadi siang kamu sehat-sehat saja. Tidak mungkin dalam sekejap bisa sakit. Setidaknya seharusnya kamu merasa bersalah pada adikmu!" Bentakan sang ibu mematikan panggilan dari putrinya.
Sedangkan Cheisia hanya batuk beberapa kali. Tertunduk dalam tangisannya, remaja yang melangkah mengambil roti tawar. Meminum obat penurun panas.
Pada akhirnya tertidur seorang diri di kamar barunya tanpa kehangatan kedua orang tuanya. Mungkin dirinya perlahan akan terlupakan, tapi itu sepadan hanya dengan melihat senyuman kedua orang tuanya.
Walaupun bukan dirinya yang menjadi penyebab senyuman itu menyungging. Hanya remaja yang labil, terfikir sejenak dalam dirinya. Apa jika dirinya mati, kedua orang tuanya baru akan mengingat keberadaannya?
*
Kembali pada saat ini_
"Badanmu panas..." Ucap Neil, entah kenapa dirinya sudah berada di atas ranjang dalam apartemennya. Pemuda yang mengompres keningnya menggunakan handuk basah.
"Mau makan bubur?" Tanya Neil, dijawab dengan anggukan kepala oleh Cheisia. Bubur instan disuapi oleh sang gelandangan yang gantengnya keterlaluan. Tapi sayangnya dekil.
"Bagaimana kita bisa masuk?" Tanya Cheisia menerima suapan.
"Taksi berhenti di depan apartemen. Aku membayar menggunakan uang di dompetmu. Lalu kebetulan bertemu dengan satpam yang mengenal wajahmu." Celoteh Neil bercerita dengan lancar.
"Lalu bagaimana Asha (pelayan di apartemen yang dipekerjakan Bianca)?" Cheisia kembali bertanya terlihat cemas. Pelayan yang hanya membentaknya, tidak mau mengerjakan pekerjaan apapun. Namun, selalu mengadu hal yang buruk pada kedua orang tuanya.
"Dia sedang tidur..." Neil memutar bola matanya. Kemudian tersenyum tanpa dosa.
Dimana sejatinya sang pelayan saat ini? Pelayan yang bahkan mencegahnya masuk. Tidak peduli pada Cheisia.
Asha? Itulah namanya, kini masih diikat dalam kamar mandi. Atau lebih tepatnya bathtub yang dipenuhi dengan air es.
Mulutnya diikat kain, tidak dapat bicara sama sekali. Fisiknya tidak terluka, namun psikisnya?
Ancaman dari Neil yang tersenyum. Akan membunuhnya jika masih tidak mengingat status."A...ada setan..." batin Asha yang sempat hampir mati, akibat hendak dilempar dari balkon oleh Neil.
Bisa dibilang, ada iblis di samping Cheisia. Namun, hingga kini Cheisia tidak menyadarinya.
Iblis yang begitu baik, menyuapinya dengan bubur. Sembari memperhatikan dirinya dari atas sampai bawah. Kupu-kupu rapuh ini hanya milikku. Mungkin itulah yang tersimpan dalam benak Neil.
🥀🥀🥀
...Bagaimana bisa matahari terbit setiap saat......
...Bagaimana bisa hujan mengguyur walaupun cerah......
...Karena cinta itu mudah, senyumanmu merupakan fajar. ...
...Tangisanmu, mengabarkan dinginnya dunia....
...Jika bisa, aku ingin mengurungmu dalam sangkar terindah. Melihatmu tersenyum ketika aku menghabisi semua yang membuatmu menangis....
...Apakah kamu akan bahagia ketika melihat noda merah di atas bunga Krisan putih? Aku harap begitu. Karena...aku mencintaimu......
Neil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Tatiek Faruq
untungnya Chelsia sdh bertemu dengan malaikat oelindungnya
2024-11-24
0
Naraa 🌻
Bianca dari hari pertama udh licik dan jahat
2025-02-16
0
Miss Typo
miris banget hidup Cheisia selama ini, semoga dgn adanya Neil kamu akan bahagia ya Cheisia
2024-09-23
0