Adinda

...Fire and ice......

...Mungkin bagaikan dua sisi yang berbeda. Kasih merah dimana dipenuhi obsesi, keinginan kuat untuk cinta ini menjadi abadi....

...Mendekap tubuhmu hingga maut menjemput....

...Kasih putih, rasa kasih polos... seperti keinginan hanya untuk menatap senyuman mu....

...Bahagia jika kamu tertawa menggenggam jemariku. Bahkan rela mati dalam dekapanmu....

...Kelopak bunga rapuh, terjatuh di atas debu. Apa ini hanya harapan semu? Tenggelam dalam mimpi menggenggam setangkai bunga, tersenyum walau dalam peti mati....

Neil.

🥀🥀🥀

Hujan deras masih mengguyur di luar sana. Cheisia bungkam sesaat, bibirnya terkatup. Merasakan Neil yang memeluknya dari belakang.

Kulit yang bersentuhan hanya dengan pembatas beberapa kain kecil, mengingat Neil yang memangku nya di balik selimut.

Ciuman tadi? Selain pria tidak dikenal 2 tahun lalu tidak pernah ada yang mencium bibirnya. Dirinya kembali bersandar pada dada bidang Neil. Menatap wajah itu lekat terlihat samar dalam kegelapan.

Namun, kala kilat menyambar, sepintas wajah rupawan itu tersenyum mengeratkan pelukannya.

"Dimana saja si br*ngsek itu menyentuhmu?" Bisik Neil di telinganya. Berharap Cheisia mengatakan seluruh tubuhnya.

"A...aku tidak ingat. Yang aku ingat hanya ada seseorang datang, aku memanggilnya peri. Memeluknya, kemudian---" Cheisia tertunduk menitikkan air matanya. Hujatan selama dua tahun ini diterima olehnya. Meninggalkan luka yang sulit untuk disembuhkan.

"Ayolah! Katakan dimana aku menyentuhmu saat itu!" Geram Neil dalam hatinya. Namun, wajahnya tetap tersenyum lembut.

"Apa menyakitkan?" Tanya Neil, melingkarkan tangannya pasa perut Cheisia.

Dengan polosnya gadis itu menggeleng."Aku tidak benar-benar ingat. Ta...tapi saat itu aku menerimanya begitu saja. Bahkan setelah melakukan pertama kali, aku sempat melakukan di atasnya. Karena itu juga, polisi bingung saat aku menjelaskan, ini kasus pelecehan atau bagaimana. Laporanku tidak ditanggapi dengan serius."

Neil mengangkat satu alisnya."Ternyata walaupun pemula kemampuanku hebat juga." Batinnya.

"Cheisia, kamu menerimaku apa adanya. Tentu aku juga akan menerimamu apa adanya. Korban pelecehan sama sekali tidak masalah bagiku." Kalimat begitu indah membuat istrinya tertegun.

"Terlebih lagi, aku pelakunya." Kalimat yang tidak diucapkan Neil.

"Jadi dimana saja b*jingan itu menyentuh tubuhmu?" Tanya Neil pelan, berharap Cheisia akan menjawab. Agar dapat meneruskan proyek yang dua tahun sudah tertunda.

"Em ... sebenarnya aku ingin seperti pacaran. Apa boleh?" Pertanyaan dari Cheisia membuat Neil berusaha keras tersenyum.

"Pancaran!? Kita sudah menikah! Bahkan aku sudah mengancam pejabat pemerintah untuk mengurus surat-suratnya. Tanpa kelengkapan persyaratan! Tapi sekarang kamu ingin kita pacaran? Tidak! Aku harus mengurung dan mengikatmu! Agar kamu hanya menjadi milikku." Teriak Neil dalam hati.

Wanita itu tertunduk, menitikkan air matanya. Air mata yang membuat amarah iblis itu mereda. Hatinya bagaikan ditikam pedang, menatap setetes saja air mata yang mengalir membasahi pipi sang malaikat.

"A...aku hanya ingin memiliki hubungan yang indah. Impianku ketika SMU, menjadi kekasih Hazel, pergi ke taman bermain bersamanya, menonton di bioskop, dan malu jika berciuman atau berpegangan tangan. Tapi aku tidak pernah menjalaninya, selama ini aku bertepuk sebelah tangan. Ta...tapi jika kamu, ingin kita melakukannya. A...aku takut kamu akan seperti Hazel yang dengan banyak wanita...."Kalimat demi kalimat penuh air mata.

Membuat pertahanan sang iblis runtuh. Bagaimana dirinya bisa begitu tega, berfikir untuk menarik Cheisia ke ranjang dan mengikatnya? Tidak! Kupu-kupu rapuh ini tidak boleh terluka.

"Aku tidak masalah, mulai sekarang kita pacaran. Pacaran sehat seperti anak SMU, tidak akan menciummu jika belum meminta ijin. Kita akan pergi ke tempat yang menyenangkan, lalu menonton film di malam hari. Memberi kecupan selamat malam, agar dapat bertemu lagi besok." Kalimat demi kalimat penuh dengan hati yang hangat. Runtuh karena setetes air mata.

"Neil... terimakasih..." Cheisia berbalik mengecup pipinya, kemudian memeluk tubuh Neil.

Sedangkan sang pemuda terdiam sejenak."Kenapa aku berkata mau pacaran ala anak SMU? Kami suami-istri, seharusnya aku tegas, menyeretnya ke ranjang dan---" Fikiran busuk pemuda itu terhenti.

Kala satu kecupan terasa di dahinya."Kecupan selamat tidur..." Hanya dengan itu, sang iblis kembali bahagia.

Menyandarkan punggungnya, pada sisi rumah kaca. Sedangkan Cheisia bersandar pada dada bidang Neil. Tertidur dalam pelukan sang kekasih.

"Ibu...aku menemukan tujuan hidup...aku sudah bahagia..." Batinnya pada akhirnya ikhlas dengan gaya pacaran yang benar-benar sehat. Tanpa MSG dan zat pengawet cinta. Tanpa bumbu-bumbu kecebong dan membajak sawah, dirinya akan menuruti apapun keinginan malaikatnya.

Fire and ice rose, bunga itu masih berada di dekat mereka. Mungkin bunga yang benar-benar cocok seperti Neil. Cinta yang polos dan tulus seperti anak kecil, namun sekaligus penuh obsesi.

*

Hujan telah reda, namun udara masih benar-benar dingin. Cheisia menonggakkan kepalanya, menatap wajah Neil yang tidak mengenakan kacamata. Ditambah dengan rupa seorang gelandangan yang menghilang seiring waktu.

Mungkin hanya satu pembedanya. Tahi lalat, model rambut dan sifat, Willy itulah nama yang sering disebutkan oleh orang-orang. Dirinya pernah melihat nya dari jauh, pangeran impian setiap wanita singel di negara ini.

Seseorang yang memiliki julukan naga dari timur, pemimpin kelompok sosial yang begitu bergensi. Kapan Cheisia pernah melihatnya?

Tepatnya saat dirinya berumur 21 tahun, baru saja memulai untuk menjadi artis figuran. Dirinya sempat dibawa ke club'malam guna menemui investor dengan iming-iming mendapatkan peran pembantu dengan lebih banyak adegan, oleh management.

Menyipitkan matanya. Cheisia kembali mengamati wajah Neil yang tertidur. Hal itu kembali diingat oleh Cheisia.

*

7 tahun lalu_

Brak!

Kala ingin memasuki pintu tiba-tiba pintu terbuka. Seorang pria berkulit gelap diseret paksa, kemudian dipukul beberapa kali menggunakan stik golf.

Orang yang memukul merupakan Willy. Tersenyum kala terus menghujam stik golfnya."Aku bisa gila memiliki karyawan sepertimu..."

Wajah rupawan, memakai setelan jas bernilai tinggi. Model rambut benar-benar memberikan kesan dingin, tatapannya tajam bagaikan tidak takut akan siapapun. Seseorang tanpa darah dan air mata, mungkin julukan yang sesuai.

"Tuan! Ampuni aku..." Pinta sang pria berkulit gelap, berlutut di hadapan Willy.

Brak!

Tubuhnya ditendang hingga roboh."Kembalikan uangku, semua kerugian perusahaan. Kembalikan semuanya..." Kalimat penuh senyuman dan penekanan.

Cheisia bersembunyi di belakang orang dari managementnya. Ketakutan akan peristiwa yang baru dilihatnya. Jantungnya berdegup cepat, untuk pertama kalinya melihat iblis di dunia manusia.

Srak!

Tangan sang pria berkulit gelap, ditikam menggunakan pisau. Darah terciprat di baju dan pipi Willy.

"Agghhh!" Suara jeritan memilukan.

"Bereskan dia. Pastikan dia mengganti uang perusahaan." Perintah Willy, membersihkan tangannya yang berlumuran darah menggunakan tissue. Kemudian melempar tissue ke dalam tempat sampah.

"Baik tuan..." Ucap seorang pria yang berdiri di sampingnya.

Cheisia benar-benar ketakutan. Sementara, orang dari managementnya menghentikan Willy."Kami sudah datang dengan artis baru, untuk melayani Tuan Robert. Bagaimana nasib investasi jika---"

"Jadi dia menyewa wanita penghibur..." Willy sedikit melirik ke arah Cheisia. Membuat wanita itu seketika terduduk di lantai lemas.

Senyuman mengeringkan dari sang pemuda keji."Tenang saja, akan aku hancurkan management artis kalian. Karena kamu hanya menghalangi jalanku."

Kalimat Willy melangkah dengan arogan, meninggalkan Cheisia dan orang dari management artis yang merekrutnya.

"Kalian mencoba menjualku pada investor?" Tanya Cheisia pada management artisnya pelan.

"Kalau iya kenapa!? Untuk menjadi artis terkenal tidak hanya perlu tampang! Tapi juga koneksi. Dasar artis figuran!" Bentak orang dari managementnya, meninggalkan Cheisia seorang diri.

Dari sanalah dirinya tahu jika menjadi selebritis bukanlah hal yang mudah. Berjanji pada dirinya sendiri, akan menapaki jalan yang benar pelan-pelan, tidak akan menjual tubuhnya demi karier.

"Sumpah aku takut..." Cheisia menangis sesenggukan mengingat sosok Willy yang begitu menyeramkan bagaikan pangeran kegelapan. Melirik ke arah ceceran darah, pada lantai lorong ruangan belakang club malam.

*

Kembali pada saat ini_

Cheisia mengamati baik-baik, Willy dan Neil benar-benar mirip. Hanya saja tahi lalat... tatapan mata Neil, caranya berucap dan bercanda benar-benar hangat. Berbeda dengan setan itu...

Tidak mungkin bukan, kalau pun iya. Dirinya akan lebih memilih memesan tiket ke Antartika bersembunyi di sana selamanya.

Benar-benar trauma mengingat betapa brutalnya Willy.

Namun, mata Neil tiba-tiba terbuka, tersenyum padanya. Kemudian berucap."Selamat pagi, adinda..."

Terpopuler

Comments

Miss Typo

Miss Typo

Neil dan Willy itu orang yg sama Cheisia

2024-09-23

0

Bzaa

Bzaa

orang yg sama dengan karakter berbeda ☺️☺️

2024-06-23

0

Nur Wahyuni

Nur Wahyuni

eh apa willy juga inget pernah liat cheisia.. gawat klo begitu sih..

2024-05-28

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!