Namun, jika pernah dilakukan, ada kalanya suatu kebetulan akan terjadi. Kecerobohan kecil menghancurkan segalanya.
Seseorang yang memakai jas hujan berwarna kuning itu telah pergi. Bersamaan dengan segalanya, ikatan tubuh Asha pada pemberat terlepas. Mayat yang menunggu waktu untuk terlihat mengapung dalam sumur terbengkalai di tengah hutan.
Satu hari berlalu setelah hujan, longsor yang terjadi di hulu sungai menyebabkan air sungai terlalu keruh. Hingga mungkin mesin PDAM setempat mengalami masalah. Mungkin diperlukan dua hari perbaikan.
"Cari air di sumur! Jaman nenekku juga nimba di sana!" Celoteh seorang wanita dari kamar mandi, yang kesulitan untuk berganti pembalut.
"Iya! Iya! Sudah tidak dapat jatah, harus nimba air lagi! Malah jauh!" Keluh sang suami mengendarai motor bebek tua. Membawa jerigen besar yang akan digunakan untuk menampung air.
Tidak terlintas apapun, yang ada di benaknya hanya menimba air di sumur tengah hutan yang memang sudah jarang digunakan warga. Akibat PDAM yang menjangkau wilayah mereka.
Menghentikan kendaraannya, mulai menyalakan puntung rokok, dirinya mendekati sumur. Menggeser tutup sumur yang terbuat dari seng dan asbes.
Samar memang ada warna biru cerah. Dirinya mengamati dengan seksama, mengarahkan senter yang biasa dipakainya memancing.
Kala itulah tangannya gemetar. Bahkan refleks menjatuhkan senter ke dalam sumur. Mayat seorang wanita mengapung, dengan bentuk tubuh acak-acakan. Entah ada berapa luka tikaman. Hanya wajah pucat yang begitu jelas di benaknya.
"Mayat!" Teriaknya, hampir keselek rokok.
*
Garis polisi dipasang, tim SAR, jaksa dan petugas kepolisian masih di lokasi. Bahkan ada wartawan dari beberapa media cetak.
"Identitas korban sudah dikenali melalui kartu identitas!" Seorang petugas kepolisian melapor pada atasannya.
"Tidak ada CCTV atau apapun. Ini merepotkan." Keluh sang Jaksa, menghela napas berkali-kali, setelah membaca laporan tentang bukti-bukti yang ditemukan.
Tanda pelecehan, tidak ada sama sekali. Jika ada mungkin akan ada DNA yang tertinggal. Tapi dilihat sekilas pun, ini pembunuhan karena dendam.
"Ada satu mayat lagi!" Teriak tim SAR, menaikan kerangka manusia. Kerangka yang entah milik siapa, namun dapat dipastikan, sudah mati jauh lebih lama.
Sang Jaksa mengamati dengan seksama. Pada kaki kerangka juga terikat tali tambang dan pemberat.
Kerangka yang bagian kakinya masih utuh, walaupun banyak bagian yang tercerai-berai.
"Kapan terakhir kali sumur ini digunakan secara efektif?" Tanya sang Jaksa pada kepala desa.
"17 tahun lalu, mungkin...sejak air PDAM mulai memasuki desa." Sang kepala desa mencoba mengingat.
"Jadi sumur ini benar-benar tidak digunakan selama itu?" Sang Jaksa menghela napas kasar.
"Sebenarnya digunakan beberapa warga. Tapi lumayan jarang."
Sang Jaksa mengusap wajahnya kasar. Tidak ada pemukiman ditempat ini. Yang ada hanya halte berkarat, itupun berjarak beberapa ratus meter. 17 tahun lalu, bahkan mungkin halte itu belum ada.
Namun, yang jelas pelaku pembunuhan pertama sama dengan kedua adalah orang yang sama.
*
"Ibu bilang akan membantumu..." Seorang wanita meminum secangkir teh di hadapannya.
"Jangan sebut ibu! Aku bukan anakmu!" Geram Bianca mengamati area sekitarnya.
"Hei! Jangan jadi durhaka. Jika bukan karena ibu membunuh wanita sial itu, mana mungkin kamu menggantikan putrinya memasuki keluarga kaya." Fitri tersenyum pada putri kebanggaannya.
"Ta...tapi memang aku berhak bukan? Aku ini anak ayah walaupun anak dari hasil dosa kalian. Jantung ayahku yang sekarang ada dalam tubuh Dirgantara. Itu---" Kalimat Bianca disela.
"Vony..." Satu nama yang disebutkan Fitri membuat wajah Bianca pucat pasi.
"Vony, nama yang aku berikan padamu. Setelah mengetahui Ditha (pemilik jantung Dirgantara) menyumbangkan jantungnya pada orang kaya. Aku sendiri yang membunuh Tesa untukmu, membuang Bianca, agar kamu dapat menggantikan posisinya. Tapi tidak disangka putriku begitu durhaka..." Fitri tersenyum, meletakkan potongan daging steak pada piring putrinya.
Bianca menelan ludahnya."I... ibu..." Ucapnya pada akhirnya tersenyum.
"Bagus! Itu baru putriku." Fitri menghela napas kasar, telah melaksanakan tugas dari putri kandungnya untuk menyingkirkan Asha.
"Aku tidak sudi memiliki ibu pembunuh sepertimu. Setelah memiliki kekuasaan yang cukup nanti, akan aku kirimkan pembunuh untuk menyingkirkanmu." Batin Bianca.
Gadis yang memberikan kartu ATM pada ibu kandungnya."Ini untuk sekedar keperluan ibu."
"Putriku memang yang paling mengerti." Ucap Fitri melanjutkan aktivitas makannya.
Hanya Fitri yang mengetahui rahasia, jika yang diadopsi Dirgantara bukanlah Bianca yang asli. Itulah yang membuat Bianca berfikir untuk menyingkirkan ibu kandungnya.
Sebuah dunia yang penuh tipu daya bukan? Karena itu daripada akrab dengan Cheisia, Bianca ingin memonopoli kasih sayang Sela dan Dirgantara. Agar, walaupun ketahuan nanti, Cheisia sudah terlanjur tersingkir dan dirinya adalah anak satu-satunya.
"Bisa ibu singkirkan Cheisia untukku?" Tanya Bianca.
"Tidak sekarang, nanti saja...jika aku ingin..." Jawab Fitri tertawa kecil.
Hujan gerimis kembali turun di luar sana, membawa perasaan cemas. Menghela napas kasar 14 tahun ini belum ada yang mencurigainya. Seharusnya dirinya akan aman, setidaknya sampai menikah dengan Hazel. Kemudian menyingkirkan Cheisia.
*
"Sejak pengumuman kematian tuan muda Willy, nilai saham tidak dapat dikontrol. Banyak investor yang menarik investasinya." Seorang staf menunduk di hadapan majikannya.
"Aku mengerti, keluar!" Perintah Albert (ayah Neil), melonggarkan dasinya. Lingkaran hitam terlihat di sekitar matanya.
Dirinya sejenak tertawa, kemudian kembali menangis. Putranya itu memang sedikit tidak waras dari usia dini. Membunuh hewan tanpa rasa bersalah, bahkan tersenyum kala membawa tubuh kelinci berlumuran darah karena sang kelinci menggigit jemari tangan ibunya.
Karena itu sang kakek, memutuskan untuk membawa Willy dan mendidiknya sendiri. Tidak ingin sang cucu bertambah parah ketika dewasa nanti.
Tapi malah sejak kematian ibunya karena sakit, sang kakek karena kecelakaan dan neneknya yang meninggal akibat serangan jantung. Willy tidak memiliki orang yang dapat mengendalikan watak dinginnya lagi.
Tapi di luar dari itu, putra sulungnya benar-benar jenius sejati. Mengendalikan beberapa perusahaan seorang diri. Bagaikan kaisar tirani yang tidak memiliki belas kasih.
"Willy!" Sang ayah yang berhati lembut menangis sesenggukan. Dirinya kembali mengingat mendiang putranya yang sudah seperti baj*ngan.
Putranya yang mendepak dirinya dari perusahaan. Kemudian berambisi menguasai dunia bisnis. Membuat kerajaan bisnis tidak tergoyahkan. Tidak kenal lelah, tanpa darah dan air mata.
"Iblis tidak bisa mati, lalu kenapa putraku yang seperti iblis harus mati!" Gumam Albert melepaskan kacamatanya. Kemudian mengeluarkan ingusnya.
Kalimat dingin putranya, kala membuat semua pemegang saham berpihak padanya masih diingat oleh Albert."Maaf! CEO seperti ayah yang tidak kompeten seharusnya dipecat."
Sekarang dirinya mengerti kenapa Willy kala itu mengatakan dirinya tidak kompeten. Dirinya kompeten, sangat kompeten. Tapi Willy, dia seperti iblis yang kompeten.
"Putraku yang malang. Putra setanku! Aku mohon, kamu hidup...! Aku tidak sanggup lagi, menghadapi investor dan proyek-proyek gilamu!" Teriakan sang ayah terisak. Menatap tumpukan dokumen, serta mengingat karyawan-karyawan sang putra yang tidak menghormatinya.
"Ayah..." Yudis (Saudara tiri Neil), memasuki ruangan, menyodorkan dokumen berbahasa Spanyol, setebal tiga kamus."Ada yang tidak aku mengerti tentang---"
"Tanya pada kakak setanmu di neraka! Ayah juga tidak tau!" Teriak sang ayah, merindukan putranya yang... memang dari kecil sedikit gila.
Terlihat baik, tapi menyembunyikan banyak kejahatan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Miss Typo
ternyata itu Bianca palsu, dan yg membunuh Asha ibunya
2024-09-23
0
Bzaa
Oalah ada byk kejahatan untuk menyembunyikan kejahatan lainnya...
2024-06-22
0
Putri Nunggal
owh mayat yang ada dalam sumur adalah tesa dan Asha yang dibunuh oleh emaknya Bianca yang palsu
2024-05-29
0