Red Rain

...Cermin... cermin...siapa yang tercantik di dunia? Ketika aku bertanya maka dia akan menjawab."Anda ratuku..."...

...Bagaikan cermin ajaib yang selalu menemani dan memuji ratu jahat, itulah dirimu....

...Tidak peduli orang mengatakan apapun tentangku. Mulutmu akan selalu berkata penuh senyuman."Anda ratuku..."...

...Namun, mengapa sang ratu menjadi jahat? Karena dirinya mulai mencintai sang cermin ajaib....

...Kala sang cermin menjawab."Putri salju yang tercantik di dunia."...

...Maka sang ratu akan menggila, membunuh semua yang tercantik, agar sang cermin ajaib hanya mencintainya....

...Bukankah cinta itu gila? Itulah aku, sang ratu jahat yang mencintai cermin ajaib......

Cheisia Muller.

🥀🥀🥀

Dengan satu kali tendangan maka pria di hadapannya roboh. Tidak berbelas kasih sama sekali."Apa kamu berimajinasi meniduri wanita ku setiap hari?" tanya Neil, melangkah dengan kaki pincangnya. Mengunci pintu kamar hotel dari dalam.

"Tu... tunggu! Aku tidak---"

Brak!

Dadanya kembali ditendang tanpa perlawanan. Bergerak terlalu cepat, tokoh Fermone dalam kehidupan nyata? Seperti itulah sosok Neil yang tersenyum terlihat saat ini.

Shat!

Prang!

Rito mencoba membela diri dengan melemparkan asbak keramik yang diraihnya. Namun sialnya meleset hanya membentur dinding.

"Kamu ingin membunuhku?" Neil menertawakannya.

"Argh!" Suara teriakan terdengar kala Neil menginjak lengan Rito hingga mungkin tulangnya retak.

Pemuda yang mengeluarkan katana sepanjang 30 centimeter, atau sering disebut Wakizashi."Ini hadiah ulang tahun dari temanku. Aku tidak pernah menggunakannya. Bagaimana caranya ya?" Kalimat pertanyaan yang membuat Rito benar-benar ketakutan.

Hingga Nora yang mendengar keributan keluar dari kamar dengan memakai piyama."Rito ada apa? Kenapa---"

"Ada wanita cantik rupanya disini..." Neil tersenyum, namun Nora yang hendak kembali masuk ke kamar dihentikan olehnya. Rambut wanita itu dijambak dengan kencang. Didorong hingga terjatuh di atas tubuh Rito.

"Ke... kenapa kamu!? Aku bisa melaporkan ini pada kepolisian!" Teriak Nora, ketakutan.

Neil mulai duduk, menghela napas kasar."Hotel ini 56% sahamnya adalah milikku. CCTV, semuanya sudah dirusak oleh pegawai hotel sendiri. Bahkan jejak kehadiran kalian di hotel ini dapat ku hapus dengan mudah. Tinggal menghapus jejak di handphone dan membuang mobil kalian, kemudian melarutkan sisa tubuh dan tulang menggunakan zat kimia..."

Penjelasan penuh senyuman, seakan tidak sabar untuk melarutkan tubuh mereka.

"A...aku bisa memberikan berapapun uang yang kamu inginkan..." Rito berucap lirih lengannya benar-benar lemas tidak dapat digerakkan.

"Jangan bunuh aku. A...aku bisa melakukannya jika..." Nora terisak membuka pakaiannya, hendak mencari opsi lain. Mengingat tubuh tambun Rito tidak mungkin dapat mengalahkan Neil.

"Uang? Tubuhmu?" Tanya Neil tertawa, namun tawa yang terhenti sejenak."Bukan itu yang aku inginkan!" Neil meraih handycam, yang dibelinya menggunakan uang Cheisia.

"Aku ingin kalian menunjukkan, bagaimana buasnya sesama kotoran bercinta..." Kalimat yang membuat wajah mereka pucat pasi.

"Lakukan 69! Atau nyawa kalian habis disini. Aku akan menjadi produsernya kali ini. Nora... lakukan dengan kasar, gigit benda yang berani Rito tunjukkan pada istriku." Neil terlihat hendak menyalakan handycam nya memberikan pengarahan.

"Tapi---" Rito menyela.

"Lakukan atau mati!" Neil melemparkan kursi membuat kedua orang itu bungkam.

Satu adegan? Tidak! Berbagai adegan di luar nalar dengan perintah Neil. Termasuk menggunakan alat bantu, benar-benar siksaan yang indah.

Rasa sakit? Bagaikan kaum pelangi, bahkan bagian belakang Rito dimasukkan alat khusus oleh Nora, sesuai perintah Neil.

Gila! Neil tersenyum bagaikan menikmati penderitaan mereka. Psikopat? Apa Neil memiliki kepribadian seperti itu? Menikmati penderitaan orang lain?

Namun sejenak air mata sempat menetes di sela tawanya. Dengan begini dua orang sial ini tidak akan mencelakai Cheisia.

Berani-beraninya mereka ingin menyentuh kupu-kupu putihnya? Minyak di tangga, mobil murah milik Cheisia tiba-tiba minyak remnya bocor.

Waspada, itulah sifat dasar Willem Alexander Niel Andreas, sebab dirinya memiliki banyak musuh. Karena itu dirinya dapat menyelamatkan Cheisia hari ini.

Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika tujuan hidupnya berakhir mati!?

"Nora, masukkan lebih dalam dan Rito... katakan kamu menginginkan lebih dalam lagi..."

"Agghhh..."

Teriakan Rito, diiringi dengan suara tawa Neil. Tawa keji yang tidak biasa.

*

"Sekarang ada banyak hal tidak terduga ya?" Gumam Cheisia dengan mulut penuh, menikmati sarapannya saat menonton televisi. Siaran berita mengenai gosip selebriti.

"Iya! Siapa sangka mereka melakukan hal-hal yang tidak normal. Aku jadi ngeri...apa Rito trans? Atau seorang masokis?" Neil bergidik kemudian menghela napas berkali-kali, meletakkan potongan buah pada piring Cheisia.

"Videonya banyak tersebar di media sosial. Meskipun video tanpa suara, tapi kamu tidak boleh menontonnya! Mengerti!? Aku tidak ingin otak mu tercemar." Ucap Cheisia, dijawab dengan anggukan polos oleh Neil.

Dimata Cheisia Neil hanya pria lugu yang mudah terpengaruh. Bahkan cenderung terlalu baik. Menghela napas kasar mulai berfikir."Jika tidak ada aku mungkin kamu akan ditipu lalu hidup menggelandang lagi."

"Omong-ngomong bagaimana karier Rito dan Nora setelah ini. Kasihan mereka kan? Jika tidak mendapatkan pekerjaan. Aku harap mereka menemukan jalan terbaik..." Pemuda baik hati yang terlihat iba.

"Itulah... Rito, aku dengar-dengar karena skandal kali ini perusahaan film memutuskan kontrak. Sedangkan Nora, kariernya hancur, keduanya juga akan dipenjara, karena terjerat UU ITE. Walaupun bukan mereka yang menyebar luaskan, tapi mereka adalah pemeran utama dalam video. Tidak ada cara untuk membantu mereka..." Cheisia menghela napas kasar, merasa iba.

"Nona ingin membantu mereka?" Tanya Neil penuh senyuman, kembali meletakkan potongan buah apel yang baru dibentuknya menyerupai kelinci.

"Ingin, setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik bukan?" Itulah kalimat dari sang malaikat yang baru beberapa hari lalu dihina habis-habisan.

Membuat Neil tertegun, bagaimana bisa ada orang seperti ini? Begini mudah memaafkan, tidak menyimpan dendam.

Tidak ada yang boleh memiliki Cheisia selain dirinya, kasih yang tulus ini hanya milik seorang Neil. Sekujur tubuhnya bagaikan gemetar mendengar kalimat tersebut. Bagaikan endorfin, memberikan ketenangan kala Cheisia tersenyum.

"Benar! Setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik..." Sebuah senyuman hangat dari Neil.

"Tapi tidak dengan mereka yang berencana untuk membunuhmu." Gumamnya dengan suara kecil, tidak terdengar oleh Cheisia.

"Omong-ngomong kamu sudah dengar Asha meninggal?" Tanya Cheisia, dijawab dengan gelengan kepala oleh Neil. Gerakannya yang tengah memotong buah terhenti.

"Meninggal karena apa?" Neil balik bertanya.

"Tidak tau..." Cheisia menghela napas kasar.

"Dia mungkin meninggal karena merindukan kecantikan dikau. Daku saja akan mati jika satu hari tidak melihat wajah dikau. Apalah arti hidup daku tanpa napas dan senyuman dikau. Oh... malaikat." Kalimat demi kalimat Neil tidak membuat Cheisia tersenyum kali ini.

"Neil, aku mulai merasa tidak nyaman dengan candaanmu." Keluh Cheisia dengan wajah sedikit memerah.

"Candaan? Taukah dikau...daku serius..." Neil, menyentuh ujung rambut Cheisia dengan jemari tangannya, perlahan mengecup untaian rambut di jemarinya.

"Ne... Neil!" Teriak Cheisia.

"Jika dikau adalah bintang, maka daku adalah teropong bintang."

"Teropong?"

"Hidup daku tidak ada gunanya tanpa dikau. Tanpa dikau, daku hanyalah benda usang berkarat. Tanpa fungsi... lebih baik teropong ini mati jika tidak dapat melihat bintangku..."

Plak!

Cheisia memukul bahu Neil dengan kencang."Neil diam! Aku malu..."

Neil tersenyum mendekati Cheisia. Satu kecupan mendarat di pipinya."Ini baru yang disebut malu..."

"Neil!" Teriak Cheisia, mengejar Neil yang berlari setelah menciumnya.

Seorang pemuda pincang dengan seorang gadis rupawan terbuang. Siapa yang tercantik di dunia? Jika itu Neil, akan selalu menjawab Cheisia-ku.

*

Beberapa hari yang lalu.

Bagaimana sebenarnya Asha meninggal. Kala itu sang wanita berteduh di halte setelah menghubungi seseorang.

Menunggu beberapa saat, sembari menggerutu."Kenapa hujannya tidak berhenti-berhenti!?"

Seseorang yang mengenakan jas hujan kuning melangkah mendekatinya. Perlahan berdiri di sampingnya.

Senyuman menyungging di wajah orang itu."Tau apa yang paling indah dari hujan?" tanyanya.

"Kamu?" Asha mengernyitkan keningnya, mengenali orang yang berdiri di sampingnya.

"Cantik... apalagi jika berlumuran darah..."

Srak!

"Argh!"

Suara pekikan dan teriakan di tengah hujan. Halte bis terpencil, Asha melihat segalanya dimana seseorang yang dikenalnya, menusuk tubuhnya puluhan kali. Darah yang bercampur dengan air hujan.

Seseorang yang bersiul, menyeret mayat ke dalam hutan. Hanya kesunyian, kala pemberat diikatkan pada kaki sang mayat. Ditenggelamkan dalam sumur sedalam 15 meter.

Terpopuler

Comments

Miss Typo

Miss Typo

siapa yg membunuh Asha??? apa mungkin Neil, semoga bukan, Neil serem bgt kalau sampe benar

2024-09-23

0

Bzaa

Bzaa

semoga saja bukan Neil yg membunuh asha

2024-06-22

0

Putri Nunggal

Putri Nunggal

kau salah kupu-kupu putih, justru yang merekam adegan video adalah suami pincang mu

2024-05-29

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!