Tidak pernah ada tamparan untuknya, pipinya terasa kebas. Tidak! Sela tidak boleh membencinya dan kembali pada Cheisia.
"I...ibu?" Air matanya mengalir, bagaikan ini sudah terbiasa. Akting yang sempurna, apa mungkin karena pernah menelan piala Oscar?
"Ibu kecewa padamu!" Bentak Sela emosional menitikkan air matanya.
"Aku tidak, ta...tapi ini benar-benar demi kebaikan. Ji... jika kakak terlanjur menikah, kemudian kenyataan baru saja diketahui ka.. kakak mungkin akan diceraikan. A...aku memikirkan ibu, ayah dan kakak makanya aku---" Kalimat Bianca disela.
"Anggap saja begitu..." Sela mengepalkan tangannya, menghela napas kasar. Melirik ke arah suaminya yang masih hidup sampai sekarang, karena jantung yang didonorkan mendiang ayah Bianca.
Sedangkan Dirgantara hanya terdiam, menatap anak angkatnya. Kemudian meninggalkannya melangkah bersama sang istri.
Kekecewaan dan kecurigaan sudah pasti mulai ada dalam benak mereka. Bianca menghapus air matanya, mulai bangkit kemudian berlari mendekat.
"Ayah! Ibu! Kita pulang bersama, nanti akan aku buatkan teh hijau. A...aku benar-benar tidak bermaksud, nanti akan aku jelaskan. Aku minta maaf!" Sebuah kalimat yang tidak mendapatkan respon sama sekali.
Sela memegang erat jemari tangan suaminya. Mungkin sebagai pertanda mereka seharusnya merespon Bianca. Membuktikan segalanya adalah hal yang terpenting saat ini.
"Iya maaf ibu sudah emosional, ibu minta yang ada perasaan lemonnya." Ucap sang ibu tersenyum cerah.
"A... ayah juga." Tangan Dirgantara gemetar. Bagaimana jika selama ini semuanya hanya dusta? Satu kejadian adalah kebohongan. Bisa saja kejadian lainnya juga kebohongan.
"Hanya karena jantung bodoh ini..." Batinnya ketakutan, bagaimana jika putrinya sama sekali tidak bersalah? Bagaimana jika selama ini secara tidak sadar dengan alasan mendidik, dirinya memalingkan wajah dari putri kandungnya.
"Ayah... ibu..." Ucap Bianca merangkul kedua orang tuanya. Seakan dirinya lah yang anak kandung.
Belakangan ini mata Sela dan Dirgantara perlahan terbuka. Apa ini karena Cheisia yang memalingkan wajah dari mereka?
Terutama Sela, putrinya pergi dari rumah, kalimat sindiran dari Neil. Mengetahui jejak kepalsuan Bianca, serta kali ini...
Dirinya bersabar, harus bersabar, sebelum mengetahui segalanya yang terjadi. Hati yang bimbang, bagaimana caranya mengusir anak dari seseorang yang telah menyelamatkan nyawa suaminya?
Sedangkan Bianca menghela napas lega."Kedua orang tuaku..." batinnya tersenyum cerah.
*
Luka pasca operasi yang belum benar-benar sembuh. Namun, Cheisia bersikeras untuk pulang usai acara pernikahan.
Wajahnya terlihat pucat, hanya duduk di atas tempat tidur. Kupu-kupu putih yang rapuh, makhluk baik hati, tidak mengetahui kejamnya dunia, kini ada dalam genggaman iblis.
"Makan buburnya..." Neil tersenyum, menyuapi istrinya. Istri? Kalimat yang bahkan membuat hati pemuda ini berbunga-bunga.
Perlahan Cheisia memakan bubur putih hambar. Pencernaannya tidak begitu baik.
"Neil, ambilkan kertas, pena dan materai di laci." Perintah Cheisia pelan.
"Apapun untuk nonaku..." Neil mulai bangkit meletakkan bubur di atas meja. Kalimat aneh bukan? Menjaga kupu-kupu rapuh ini untuk tetap hidup.
Memberikan kertas, pena serta materai. Cheisia mulai menulis perlahan, sedangkan Neil mengamati dengan seksama. Benar-benar berusaha keras untuk tersenyum.
"Kontrak pernikahan? Dia membuat kontrak pernikahan. Sial!" Batin Neil yang baru saja merencanakan hidup jangka panjang. Membawa Cheisia ke tempat terpencil dengan alasan transmigrasi setelah menghancurkan karier istrinya sebagai artis.
Membangun rumah kecil pinggir hutan. Tinggal tanpa tetangga sama sekali. Karena Cheisia hanya boleh melihat padanya. Tidak pada yang lain.
"Kontrak? Kenapa ada kontrak?" Tanya Neil tersenyum hangat.
"Kita tidak saling mencintai. Karena itu jika kamu menemukan wanita yang kamu cintai, kamu dapat pergi dengannya. Membawa uang yang cukup untuk modal usaha kalian..." Ucap Cheisia masih terus menulis.
"Di...dia bukan manusia! Manusia pasti memiliki rasa serakah sedikit saja. Tapi memberikan 500 juta secara cuma-cuma... memang hanya wanitaku yang dapat melakukannya. Bagaimana jika aku menyimpannya hanya untuk diriku sendiri? Tidak ada orang yang pantas menerima kebaikannya. Mengikatnya dengan rantai di dalam rumah yang indah. Bahkan pelayan tidak boleh mengangkat kepala dan mengagumi kecantikannya. Anak? Tidak boleh ada anak diantara kami, agar tidak ada yang lebih diperhatikan dibanding---" Khayalan serakah tingkat tinggi dari Neil terhenti kala Cheisia mengalihkan perhatian padanya.
"Tanda tangan disini, dan ini imbalan untukmu." Ucap Cheisia dengan suara pelan, memberikan kartu ATM untuknya.
"Daku tidak dapat hidup tanpa dikau. Walaupun setahun daku tidak memerlukan bayaran untuk menjadi suami dikau. Malah seharusnya daku yang membayar dengan bayaran nyawa daku. Karena dikau malaikat yang dijatuhkan Tuhan untuk membimbing jalan hidup daku yang hampir mati---" Kalimat Neil terhenti. Kala Cheisia meletakkan kartu ATM tepat di bagian bibirnya.
"Hentikan omong kosongmu! Aku malu!" Cheisia menutup wajahnya. Mengapa Neil yang berucap tapi malah dirinya yang malu setengah mati?
"Intinya aku ikhlas..." Neil tersenyum.
"Kamu seperti guardian angel (malaikat pelindung)..." Cheisia tertegun dengan kebaikan orang ini.
"Guardian angel? Aku ingin mengikatmu di tempat tidur lalu. Sudahlah..." isi fikiran Neil, menghela napas kasar. Seorang red flag sejati harus berpura-pura menjadi green flag yang manis.
"Tapi kamu harus mau menerima imbalan. Aku tidak ingin berhutang seumur hidup padamu. Setahun pernikahan resmi, setelah itu kita bercerai." Kalimat demi kalimat yang dijawab dengan senyuman oleh Neil.
"Dikau yang tercantik. Dikau adalah hidup daku..." Ucap Neil tandatangan. Menyimpan kartu ATM sebagai simbolis. Hanya simbolis...
"Hentikan omong kosongmu!" Cheisia terkekeh.
"Percayalah tawa dikau seperti peri. Tapi jika dikau tertawa, maka jahitan di perut akan lepas. Dikau mati, daku sekarat." Kembali kalimat Neil membuat Cheisia terhibur. Antara geli dan malu mendengarnya.
Namun 14 tahun terkahir tidak ada orang yang berpihak padanya kecuali Neil.
"Surat pernikahan biar aku yang urus. Nona tinggal tanda tangan saja." Kalimat aneh dari Neil.
Perceraian tidak akan mudah, dirinya akan membuat perjanjian pra nikah yang menjerat kupu-kupu putih miliknya. Dikurung, tidak akan dibiarkan lepas, pemuda yang kebosanan setelah mencapai puncak kini menemukan tujuan hidupnya.
*
Malam menjelang kala itu, mata Neil terbuka. Dirinya mulai masuk ke dalam kamar Cheisia. Membaringkan tubuhnya di samping sang gadis. Hingga suara getar handphone terdengar, pertanda ada pesan yang masuk.
Beberapa pesan permohonan pada produser untuk memasukkan Cheisia menjadi pemeran figuran. Istrinya berusaha keras untuk dapat bekerja. Apa yang dapat dilakukannya?
Sejenak ada balasan, dari salah satu produser.
'Kamu selalu jual mahal! Daripada menjadi figuran yang numpang lewat. Bagaimana jika menjadi pemeran sampingan? Kebetulan peran untuk ART belum ada, menjadi pembantu seksi yang menggoda majikannya. Jika kamu mau, kita tidur sekali di hotel maka peran itu akan aku berikan untukmu.'
Senyuman menyungging di wajah Neil, namun jemari tangannya gemetar. Dirinya terlalu bahagia hingga sampai gemetar? Mungkin begitu, atau saking murkanya, ingin mencabik-cabik dan memakan produser satu ini.
Satu pesan lagi masuk dari produser yang sama. Berisikan gambar organ reproduksi pria.
🥀🥀🥀
...Kerasnya berlian, seperti kesabaranmu....
...Sayap kupu-kupu rapuh, hatimu yang takut untukku sentuh....
...Derai air hujan, itulah maknamu. ...
...Memelukku dalam kesunyian. Tangan yang menadah menginginkan kasihmu....
...Bagaimana aku hidup tanpamu......
Neil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Tasnim thufaila Qotrunnada
keselek
2024-07-30
1
Bzaa
tuh produser cari mati🤣
2024-06-22
1
Ufi Yani
bsokny tu produser kclkaan krn ulh niel....
2024-05-22
3