Beberapa jam sebelumnya_
"Hernia?" Tanya sang pemuda memastikan pendengarannya.
"Benar, atau biasa disebut dengan usus terjepit. Untuk kasus pasien, kemungkinan besar ini terjadi karena bekas luka pasca operasi di bagian perutnya. Mungkin, pasien pernah menjalani operasi beberapa tahun lalu." Jelas sang dokter pelan.
"Apa mungkin operasi sesar? Mungkin saja kami sudah punya anak!" Batin Neil salah paham.
"Sebaiknya operasi segera dilakukan. Apa ada wali yang dapat dihubungi?" Sang dokter menghela napas kasar.
"Tidak! Tidak ada keluarga yang dapat dihubungi, hanya ada aku dalam hidupnya. Operasi saja, aku mengenal direktur rumah sakit. Kamu tidak akan mungkin dalam bahaya." Sang gelandangan meyakinkan.
Mata sang dokter menelisik, pemuda ini bahkan berjalan dengan kaki pincang, memiliki beberapa luka gores mulai mengering di tubuhnya. Tidak mungkin memiliki hubungan baik dengan direktur rumah sakit.
"Jangan mengada-ada! Meskipun ini bukan operasi besar tapi, tanpa ijin wali---" Kalimat sang dokter terhenti kala Neil menadahkan tangannya.
"Hah?" Sang dokter mengernyitkan keningnya tidak mengerti.
"Handphonemu mana? Biar aku hubungi direktur rumah sakit. Aku akan bicara dengannya." Perintah Neil menatap tajam. Aura ceria pemuda baik hati nan lugu bagaikan menghilang.
Entah dedemit darimana yang merasuki sang dokter. Pada akhirnya sang dokter menyerahkan handphonenya.
"Kalau kamu menipu, akan aku penjarakan." Tegas sang dokter.
"Mau aku memutasi ke Papua?" Tanya Neil, dijawab dengan gelengan kepala oleh sang dokter.
"Jangan melarikan handphoneku!" Tegas sang dokter, sudah memasang ancang-ancang akan mengejar Neil jika gelandangan ini berani mencopet handphonenya.
"Dasar..." Gerutu Neil, masih mencoba menghubungi kepala rumah sakit.
Hingga pada akhirnya sambungan telepon terhubung. Suara khas seseorang yang baru saja bangun tidur terdengar.
"Halo! Ada apa? Ini jam setengah empat!" Geram sang direktur rumah sakit dengan nada lemas.
"Zhang..." Panggil Neil, pada seseorang di seberang sana.
"Tu...tuan muda! Anda masih hidup!? Sudah aku duga nyawa anda seperti kucing ada 9. Sungguh keberkahan orang setampan, sepintar dan sebaik anda tidak akan mungkin mati. Tuan muda ada dimana sekarang? Saya akan menghubungi tuan besar. Beliau pasti akan senang. Putra kebanggaannya masih hidup. Beliau sampai-sampai masuk rumah sakit karena kelebihan kerja, setelah tuan muda dinyatakan kemungkinan besar tidak selamat. Karena itu saya selaku---" Kalimat sang kepala rumah sakit disela.
"Cukup! Tutup mulutmu! Jangan pernah katakan pada pria tidak berguna itu (ayah Neil) bahwa aku masih hidup. Tugasmu sekarang hanya menyelamatkan nyawa wanitaku." Jawaban dari Neil.
"Wanita milik tuan muda? Itu artinya calon nyonya muda." Suara grasak-grusuk mulai terdengar dari seberang sana. Diikuti dengan suara mesin mobil menyala.
"Benar! Datang kemari, rumah sakit Sinar dalam waktu 10 menit... Zhang..." Neil tersenyum mematikan panggilannya. Kemudian mengembalikan handphone milik sang dokter.
"Ta...tapi nama direktur rumah sakit Shankar, beliau orang keturunan India. Kenapa jadi Zhang, seperti orang China? Kamu menipuku ya!?" Tanya sang dokter, membulatkan matanya.
"Aku kesulitan mengingat dan menyebut. Karena itu, untuk lebih mudah hanya aku satu-satunya orang di dunia ini yang memanggilnya Zhang..." Jawaban dari Neil tersenyum tanpa dosa.
"Sebaiknya hubungi keluarga pasien..." Sang dokter mengangkat salah satu alisnya. Tidak percaya, Neil memiliki hubungan yang baik dengan kepala rumah sakit.
*
Namun.
Benar saja dalam waktu kurang dari 10 menit. Direktur rumah sakit datang, memakai piyama lengkap dengan sandal kelinci. Menunduk memberi hormat pada Neil.
"Hah? Kok bisa? Apa ini acara TV?" Sang dokter mengernyitkan keningnya.
"Tuan muda, maaf saya terlambat." Ucap Shankar.
"Jangan banyak bertanya, lakukan operasi! Dia ada di dalam. Satu lagi, periksa riwayat medisnya. Operasi macam apa yang pernah dilakukannya sebelumnya. Apa mungkin operasi sesar..." Kalimat yang diucapkan Neil, tersenyum-senyum sendiri membayangkan ada kejutan. Jika mungkin setahun lalu wanita ini sempat melahirkan seorang anak untuknya.
"Sesar? Tuan muda kecil?....ah...! Tuan muda punya anak?" Tanyanya tidak percaya, seseorang tanpa darah dan air mata ini tersenyum-senyum bagaikan orang bodoh.
"Mungkin..." Sebuah pernyataan ambigu. Neil kemudian berbaring di kursi ruang tunggu."Aku tidur dulu, jangan bangunkan aku. Kecuali operasi sudah selesai. Aku ingin tetap terlihat tampan saat dia (Cheisia) sadar nanti."Menutup matanya, tertidur ingin tetap tampil tampan esok hari kala Cheisia tersadar pasca operasi.
"Berikan rekam medis keadaan pasien! Hubungi semua dokter bedah senior!" Perintah Shankar pada sang dokter.
Mata sang dokter menelisik."I...ini tidak bercanda kan? Di...dia (Neil) siapa?"
"Willem Alexander Niel Andreas..." Empat kata dari kepala rumah sakit, membuat sang dokter menyadari segalanya.
Willem Alexander Niel Andreas, beberapa tahun lalu membeli 70% saham rumah sakit ini. Iblis yang sering menghajar diam-diam karyawan perusahaannya yang terbukti melakukan penggelapan.
Masih teringat dalam benak sang dokter. Salah satu karyawan yang bahkan memiliki banyak bekas luka cambukan. Itu perbuatan ilegal! Iblis yang selalu berbuat salah, tapi tidak pernah terkena jeratan hukum.
"Ba...baik! Tidak akan aku biarkan ada sedikit saja kesalahan dalam operasi!" Sang dokter segera berlari setelah memberikan rekam medis pasien.
Sementara kepala rumah sakit sedikit melirik ke arah Neil yang tertidur di kursi ruang tunggu. Rumah sakit terbaik di negara ini, itulah gelar yang didapatkan. Cukup besar investasi yang diberikan Neil. Mulai dari gedung baru peralatan medis, serta tenaga ahli.
Pemimpin perusahaan paling kejam menjatuhkan ayah kandungnya sendiri, meninggal dalam kecelakaan. Siapa sangka kini tertidur di ruang tunggu rumah sakit, hanya demi tampil tampan di depan seorang wanita.
"Apa dia sudah punya hati?" Gumam sang dokter mengingat, senyuman yang memang hampir tidak pernah menyungging di wajah Neil. Semenjak kematian kakek pemuda itu.
Namun, bahkan kala tertidur pun kali ini Neil tersenyum?
"Nyonya muda..." Sang kepala rumah sakit tersenyum-senyum sendiri, benar-benar menahan tawanya. Wanita seperti apa yang dapat menaklukkan naga tanpa belas kasih ini.
*
Baru saja membersihkan dirinya. Neil kini memakai kemeja dan celana panjang hitam bersih yang dibelikan kepala rumah sakit, menatap rekam medis Cheisia, didapatkannya dari rumah sakit lain.
"Jadi bukan operasi sesar?" Neil menghela napas kecewa.
"Benar! Ini operasi donor hati. Beberapa tahun lalu, pasien sempat mendonorkan hatinya untuk seorang pasien kanker hati." Penjelasan singkat sang kepala rumah sakit.
"Apa itu berdampak untuk kesehatannya? Hatinya terpotong? Ada hubungannya dengan hernia?" Tanya Neil, yang memang awam dengan hal-hal berbau medis. Ingat dirinya pebisnis bukan dokter.
"Organ hati dapat beregenerasi dengan cepat, lagipula jumlah yang diambil masih berada di bawah batas. Tentang hernia, mungkin hanya ada hubungannya dengan luka pada bagian dinding perut. Bukan organ hati. Jadi secara keseluruhan kondisi nyonya muda saat ini baik-baik saja." Penjelasan singkat dari sang dokter.
"Baguslah, karena jika nyawanya terancam. Kalian akan ikut menerima akibatnya." Senyuman cerah, namun dengan nada mengancam membuat sang kepala rumah sakit tertunduk.
"Dasar setan! Kamu yang bucin, kami yang sengsara!" Batin Shankar, berusaha menunjukkan senyum karier.
🥀🥀🥀
...Seperti memetik bunga kering, mungkin itulah sifatmu....
...Seperti menjadikannya pembatas buku, hal yang remeh untukmu....
...Melupakannya diantara tumpukan buku. Meninggalkanku hanya untuk memujanya yang lebih indah....
...Ada kalanya hati ini lelah. Memilih jalan lain untuk bersandar....
Cheisia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Miss Typo
Neil bikin ngakak 😂
2024-09-23
0
Tasnim thufaila Qotrunnada
yaakkkk.../Sleep/
2024-07-30
1
Nur Wahyuni
Zhang dan petugas rumah sakit itu jangan ada yg bawel ke media ya klo masih mau hidup 😁😁😁
2024-05-19
2