Pangeran Drake berlari ke arah suara teriakan terdengar, dia mengenali suara wanita yang menjerit meminta pertolongan.
"Tunggu!" Leandra menyusul Pangeran Drake, larinya sangat cepat. "Hati-hati! Mungkin saja ini sebuah jebakan...!"
"Aku harus cepat menolong nya!" Pangeran Drake tampak gusar.
"Kau mengenalnya?"
Pangeran Drake mengangguk pelan, "Dia adik perempuan Pangeran Garrick, dia Putri Alika."
"Kau dekat dengannya?"
"Hm, lumayan." Pangeran Drake berusaha menutupi sesuatu dan Leandra menyadari itu.
"Apa kalian berdua pernah terlibat perasaan?" tanya Leandra tepat sasaran.
Pangeran Drake memalingkan wajah, ia merasa bersalah bertatapan dengan Leandra.
"Jadi benar, sejauh mana hubungan kalian berdua?"
"Bukan itu yang penting saat ini! Dia sedang meminta tolong... mungkin dia sedang dalam bahaya! Ayo cepat...!" Pangeran Drake kembali berlari, namun lagi-lagi dia dilewati dengan mudah oleh Leandra yang berlari melewati nya begitu kencang dan kini sudah berada di depannya.
Pangeran Drake sampai melongo, dia pun mempercepat larinya.
Wushhhhh
Wushhhhhhhh
Wushhhhhhhh
Serbuan panah melesat menuju tubuh Pangeran Drake dari arah samping kanan.
"Pangeran...!!! Awas!"
Leandra berteriak seraya melompat berbalik ke arah belakang nya untuk melindungi tubuh Pangeran, tubuh Pangeran Drake terdorong lantas terjatuh berguling-guling di tanah.
Set!
Set!
Tubuh Leandra berputar beberapa kali, wanita militer itu menendang beberapa anak panah yang melesat ke arah tubuh Pangeran Drake, Leandra juga menggunakan kedua tangan kosong nya untuk menangkap panah.
Tubuh Pangeran Drake terbaring di atas tanah berumput, mata Pangeran tertuju pada sesosok yang kini sudah berdiri tegap di sampingnya. Tatapan Pangeran mengarah ke tubuh sosok itu, menatap dari arah kaki kemudian ke arah wajah.
Tentu saja dari pakaian yang dipakai orang itu, Pangeran mengenalinya. Namun yang membuatnya tercengang, wanita itu masih bisa berdiri tegak padahal menangkap panah dengan tangan kosong bahkan tidak terluka sedikitpun. "Clarence..."
Leandra menoleh ke arah bawah kakinya, memeriksa kondisi Pangeran Drake, nafas wanita itu sedikit terengah-engah. "Kamu baik-baik saja?"
Pangeran Drake mengangguk.
"Baguslah!" Leandra lalu menoleh ke arah para pengawal. "Kalian terluka?"
"Beberapa pengawal terkena panah, Putri Clarence!" lapor salah satu pengawal, ada sekitar 15 pengawal yang ikut dengan mereka berdua. Membawa persediaan makanan dan minuman juga perlengkapan berburu, sisanya membawa hasil hewan buruan.
"Dudukkan yang terluka di bawah pohon, kalian membawa obat-obatan untuk pertolongan pertama kan?"
"Kami membawa nya, Putri."
"Oke, baringkan yang terluka di bawah pohon sana!" tunjuk Leandra ke arah salah satu pohon rindang.
Para pengawal menurut.
"Tolongggggg aku....!!! Arghhh! Hiksss...." suara minta tolong itu terdengar kembali.
"Aku yang akan menolong nya, kamu pergi lah beristirahat bersama para pengawal dan kalau bisa berikan pertolongan pertama pada mereka!" tanpa menunggu respon jawaban dari Pangeran Drake, Leandra melanjutkan larinya.
Srek
Srek
Leandra menembus semak-semak setinggi dada mengabaikan goresan duri pada kulit lengan sebab kemeja putih berlengan panjangnya sudah sobek. Darah mengalir dari luka goresan, namun Leandra tidak mengerenyit sedikit pun. Luka seperti itu tidak ada artinya baginya, latihan berdarah-darah sebagai abdi militer sudah membuatnya kuat.
"Tolong...!"
"Sshhhhhh..."
Ternyata wanita yang berteriak itu telah dipatuk ular berbisa.
"Tenanglah!" Leandra mendekati Wanita yang dipanggil Alika oleh Pangeran Drake. "Kamu Putri Alika, 'kan? Adik Pangeran Garrick."
"Ya, dan kamu Putri Clarence... tolong kakiku..." jawab Putri Alika.
Leandra langsung tahu jika tubuh Alika sudah terkena bisa ular.
"Hei, ular! Pergilah bersama kawanan mu! Jika dia mengusik mu tadi, maafkan dia karena dia tak sengaja...!" ucap Leandra pada ular berukuran besar itu.
Si Ular menjulurkan lidahnya, kemudian merayap pergi dari sana.
"Jangan cemas, aku akan menolong mu. Ayo, tumpukan tubuhmu pada punggungku, Putri Alika. Aku akan menggendong mu, rombongan Pangeran Drake tak jauh dari sini." Leandra memposisikan tubuhnya dengan berjongkok memunggungi Putri Alika.
"Ta-tapi..."
"Jangan menolak, cepat! Bisa ular-nya akan cepat menyebar...! Aku tak membawa obat penawarnya!"
Putri Alika pun menumpukan tubuh bagian depannya di punggung Leandra, dengan mudahnya Leandra berdiri dari jongkok lantas berjalan pergi.
"Pegangan pada leherku, Putri!"
Putri Alika menurut, dia membelitkan kedua tangan melingkari leher Leandra tanpa mengeratkan belitan agar Leandra tidak tercekik.
Tak berapa lama Leandra sampai di tempat rombongan Pangeran Drake. Sekitar beberapa langkah lagi menuju rombongan Pangeran Drake, Leandra melihat Pangeran Drake berjalan menghampiri.
"Kamu baik-baik saja?" cemas Pangeran, entah pada siapa pertanyaan itu.
Sebelum Leandra menjawab, suara manja Putri Alika terlebih dulu terdengar. "Hiks, Kak Drake... kakiku sakit... Ular itu menggigit kakiku... huhu..."
"Dia akan baik-baik saja, Pangeran. Aku akan mengobatinya, siapkan saja obat penawarnya. Ada, bukan?" tanya Leandra seraya menurunkan tubuh Putri Alika dengan hati-hati. " Putri... jangan banyak bergerak agar memperlambat penyebaran!"
Leandra memposisikan area gigitan di bagian kaki Putri Alika lebih rendah dari anggota tubuh lainnya, lantas merobek sedikit gaun dalaman putri Alika agar leluasa mengobati. "Berikan kotak obatnya!"
Salah satu pengawal menenteng kotak obat untuk pertolongan pertama, dengan gerakan gesit Leandra membersihkan luka gigitan lalu menyedot dengan mulutnya kemudian meludahkan bisa ke tanah. Ia melakukan gerakan itu beberapa kali, tanpa ada rasa jijik atau ketakutan jika ia tak sengaja menelan bisa ular.
Setelah dirasa cukup, Leandra lantas membubuhkan penawarnya menutup bagian tubuh Putri Alika yang digigit ular dengan perban bersih dan kering, melilitkan perban dengan erat di area yang terkena gigitan supaya bisa ular tidak menyebar ke anggota tubuh lainnya.
"Ini akan sangat sakit, jangan cemas... pembengkakan dan memar sudah biasa terjadi jika terkena bisa ular. Sebentar lagi, kamu juga akan merasa mual dan pusing."
Leandra terus berbicara menjelaskan hal-hal yang terkait, namun ditanggapi dengan kesunyian dari semua orang.
"Ada apa, kenapa kalian diam? Kamu mengerti penjelasanku kan, Putri Alika? Jangan banyak bergerak, aku sudah mengeluarkan bisa sebanyak mungkin jadi kau akan selamat."
"Putri Clarence, Anda terlihat sangat ahli menangani Putri Alika. Luar biasa..." ucap seorang pengawal.
"Sekarang urusan bisa ular Putri Alika selesai, aku akan mengobati pengawal yang terluka terkena panah tadi. Pangeran, kamu bisa mengurus dan menjaganya karena sejak tadi kamu terlihat gelisah mengkhawatirkan Putri Alika." Leandra tak menanggapi sanjungan dari pengawal, dia juga tidak ingin mendengar ucapan balasan dari Pangeran Drake yang sepertinya ingin membantah.
Leandra malah melangkah berjalan pergi menuju pengawal-pengawal yang terkena panah.
"ALIKAAAAA...! Kamu dimana?!" beberapa orang berteriak, terdengar mendekat.
"Kakak! Kak Garrick... Kak Calvin! aku disini!" teriak Alika memanggil saudara-saudaranya.
"Alika...!" kedua pangeran berlari mendekat, di belakang nya salah satu wanita kemungkinan istri dari Pangeran Calvin ikut berlari beserta para pengawal.
"Kakak! Huhu... aku takut... ular itu tadi mengigit ku!" Alika memeluk kakaknya, Pangeran Garrick.
"Apa?! Mana kakak lihat!" Pangeran Garrick memeriksa kaki adik perempuannya. "Sudah dibalut, ini sempurna.... siapa yang mengobati mu?"
"Putri Clarence yang mengobati ku, dia yang telah menolongku tadi. Dia juga menggendong ku di punggungnya membawaku kesini... Putri Clarence juga lah yang sudah mengusir ular itu," jawab Putri Alika.
Pangeran Garrick dan Pangeran Calvin berbalik menoleh pada Leandra, yang ditatap tidak terganggu dengan kehadiran mereka. Leandra begitu fokus mengobati luka para pengawal, menarik panah lalu membersihkan dan mengobati luka lalu membalutnya dengan terampil. Dari satu pengawal pindah ke pengawal selanjutnya, Leandra melakukan nya seorang diri tanpa meminta bantuan.
Pemandangan Leandra yang mengobati para pengawal dengan terampil dan gesit mampu menyihir orang-orang yang melihatnya.
Pangeran Garrick mendekati Pangeran Drake. "Pangeran Drake, kamu mendapatkan istri bak dewi Fortuna! Sungguh anugerah bagimu! Jika kau tidak menginginkan nya... bisakah kau berikan dia padaku?" bisik Pangeran Garrick pada Pangeran Drake.
"Kurang ajar...!" balas Pangeran Drake, lelaki yang merasa cemburu itu menoleh ke samping menatap tajam Pangeran Garrick.
Pangeran Garrick hanya tersenyum simpul, dia tahu sejak awal pernikahan Pangeran Drake tidak menginginkan Putri Clarence sebagai istri. Bukan karena gagal dijodohkan dengan Putri Brigitta, kakak dari Putri Clarence. Namun Pangeran Drake saat itu mencintai adik perempuan nya, Putri Alika. Cinta keduanya mendapat pertentangan dari kedua belah pihak, membuat Pangeran Drake terpaksa menikah dengan Putri Clarence.
"Bukankah cintamu masih untuk adikku?Jadi, sebelum pernikahan kalian terlalu jauh, biarkan Putri Clarence menjadi tanggung jawabku. Aku akan menikahinya, dia terlalu berharga jika untuk kau abaikan. Biarkan Putri Clarence dicintai oleh lelaki lain... laki-laki itu adalah aku." Ujar Pangeran Garrick kembali berbisik dan hanya dapat di dengar oleh mereka berdua.
"Jangan macam-macam, Garrick...! Istriku adalah milikku! Selamanya...!" geram Pangeran Drake.
Pangeran Garrick terkekeh mengejek dengan tatapan sinis, "Aku tak akan menyerah untuk mendapatkan Putri Clarence. Lagipula... kalian berdua belum pernah 'menyatu' menjadi suami istri. Aku bisa melaporkan pada Ayahanda dan meminta pernikahan kalian dibatalkan. Kau tahu bukan, hal terpenting untuk Ayahanda itu apa? Baginya lebih penting penyatuan dua kerajaan. Dengan putranya yang manapun, Putri Clarence menikah... itu tidak penting bagi Ayah... yang terpenting Putri Clarence harus tetap menjadi menantunya, entah dengan siapapun Putri Clarence bersanding."
"Bajingaaaan!"
Bugh
Bugh
Pangeran Drake memukul wajah Pangeran Garrick dengan beringas, tak ingin kalah Pangeran Garrick pun membalas pukulan dari Pangeran Drake. Mereka berdua malah sibuk berkelahi, sedangkan bahaya sudah kembali mengintai.
"CUKUP! Kalian...! Cepat berlindung! Sesuatu yang membahayakan datang menghampiri kita...! Lindungi diri kalian...!" Leandra mencoba memapah prajurit yang terluka untuk berlindung di belakang pohon besar, begitu pun yang lain. Putri Alika dipangku Pangeran Garrick, para prajurit yang sehat memapah teman-temannya yang terluka.
Hening!
Bummm... Duarrrrrr!
"Arghhhh!"
Terdengar suara pekikan dari semua orang, kemudian sunyi kembali.
Leandra menaruh jari telunjuk di bibir, menatap ke setiap orang yang ikut bersembunyi di belakang pohon besar. Ia lalu mengintip benda apa yang menghasilkan suara dentuman begitu keras saat berbenturan dengan tanah. Sebagai seorang abdi militer yang pernah berperang, ia sangat mengenal suara dentuman itu. Namun, apa benar di dunia pararel yang ia tempati saat ini sudah ada benda penghancur itu?
"Astaga! Itu..."
Apa yang sebenarnya terjadi?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
🌸 Airyein 🌸
Haha saya suka nih yg memancing keributan begini
2025-01-18
0
Ds Phone
ada yang nak bunuh meraka
2024-11-06
0
🌸 Airyein 🌸
Nah saya suka nih kalau udh gelud rebutin MC cewek hehe
2025-01-18
1