Tenda milik Leandra dan Pangeran Drake berada sekitar 20 meter jaraknya dari tenda besar milik Raja dan Ratu Alexa.
Sedangkan tenda Pangeran dan Putri yang belum menikah hanya sekitar 10 meter jauhnya dari tenda Raja, mungkin tenda Leandra sedikit jauh untuk memberikan privasi bagi sepasang suami istri hingga memberi jarak lebih jauh pada tenda mereka.
Tenda dibuat lingkaran besar dengan lapang luas di tengah-tengah menjadi penghubung diantara tenda-tenda.
Di sebelah kiri tenda milik Leandra adalah tenda Pangeran pertama, putra kandung dari Ratu Alexa bernama Pangeran Lucas dan di sebelah kiri tenda adalah milik Pangeran keempat adik dari Pangeran Garrick bernama Pangeran Calvin.
Status para istri mereka adalah putri dari seorang Duke, bangsawan di Kerajaan Mercia. Hanya Putri Clarence lah putri dari seorang Raja dari Kerajaan lain meski keturunan dari seorang selir.
"Kau sedang apa?" tanya Pangeran yang baru saja masuk ke tenda setelah minum beberapa gelas bir bersama para Pangeran lain untuk menghilangkan rasa dingin sebab dinginnya udara hutan Agroforestri.
"Aku sedang meditasi, kamu mau ikut?" jawab Leandra asal, dia hanya iseng bertanya.
"Apa itu meditasi?" tanya Pangeran yang baru mendengar istilah kata itu.
"Astaga, sekuno apa dunia mu ini?! Ck!" Leandra masih dalam posisi bersila dengan kedua tangan dan menyatukan jari di atas paha masing-masing persis seperti melakukan yoga tempo hari.
"Dunia ini juga dunia mu, kau berkata seperti begini seolah kau datang dari dunia lain!" jawab ngasal Pangeran.
Perkataan lelaki itu benar adanya, Leandra hanya tersenyum tipis. "Duduklah, dan posisikan tubuhmu seperti posisiku saat ini."
Pangeran menurut, dia naik ke atas ranjang yang terbuat dari kayu rakitan dilapisi kasur empuk lalu duduk persis di samping Leandra dan mulai memposisikan tubuhnya seperti posisi Leandra.
"Bagaimana, sudah?" Leandra membuka mata menoleh ke arah samping memeriksa posisi Pangeran. "Bagus, kau sepertinya pintar menyerap gerakan baru. Aku bisa melatih mu beberapa gerakan bertarung agar kau bisa lebih hebat, saat ini kekuatan bertarung mu sudah bagus namun teknik-teknik dalam menyerang masih harus diasah. Jika kau mau, aku akan mengajarimu."
"Ck! Jangan merendahkan harga diriku lagi, Clarence. Aku adalah suamimu, simpan saja kemampuan mu untuk dirimu sendiri." Jawab Pangeran tak suka, dia mendengus kesal.
"Aku tak bisa selamanya bersamamu, Pangeran. Jadi kau harus bisa menjaga dirimu sendiri, kekuatan fisik memang penting tapi terlebih dari itu... gunakan akal pikiran mu dengan sebaik-baiknya. Lebih waspada dan lebih berhati-hati di setiap situasi. Jangan percaya pada siapapun, sebelum kau bisa merasakan ketulusan mereka."
Pangeran Drake terdiam, ia merasakan banyak sekali makna dari perkataan Leandra padanya seolah itu adalah sebuah peringatan.
Tentu saja dia selalu waspada, apalagi pada Ratu Alexa. Posisi Putra Mahkota untuk penerus Raja masih diperhitungkan. Meski ada dua Pangeran keturunan dari Ratu Alexa, namun itu tidak menjadi penentu sebagai penerus tahta.
Anggota dewan di Istana berisi keluarga-keluarga para selir, kebanyakan mereka adalah para Duke yang mempunyai posisi kuat di Istana. Perebutan tahta untuk penerus sang Raja tentu saja adalah hal yang teramat penting dan sebentar lagi waktu pemilihan putra mahkota akan segera terjadi.
Pangeran Drake sudah mempersiapkan diri dan selalu bersikap waspada.
"Kau melamun kan apa? Aku menyuruhmu memegang tangan ku. Agar bisa meditasi bersama..." Leandra menepuk bahu Pangeran Drake, lalu menyodorkan telapak tangan agar digenggam oleh Pangeran.
"Kenapa harus menyatukan tangan kita?" Pangeran heran namun anehnya dia menurut begitu saja dan menyatukan telapak tangannya dengan telapak tangan Leandra.
"Jangan banyak bertanya, lakukan saja. Tutup matamu, fokuskan pikiran mu pada satu titik." Ujar Leandra yang sudah mulai menutup mata.
Pangeran Drake sekali lagi menurut dengan patuh, tak lama genggaman tangannya di telapak tangan Leandra semakin erat seiring suatu pusaran hitam menariknya.
"Akhhhh!" pekik Pangeran sebelum jiwanya terbawa ke dunia lain.
Wushhhhhhh
^^^____(DUNIA REAL LEANDRA)____^^^
^^^Pangeran Drake membuka mata, nafas lelaki itu terengah-engah.^^^
^^^"Dimana aku?" tanya Pangeran pada diri sendiri, tatapan matanya berkeliling nampaknya dia sedang berada di sebuah kamar. Matanya menoleh ke arah ranjang, seketika mata Pangeran Drake membelalak.^^^
^^^"Dia siapa?! Kenapa wajahnya mirip sekali dengan ku! Tapi... dia bukan aku!"^^^
Seseorang itu adalah Mayor Kenneth yang terbaring di atas ranjang dengan tubuh polosnya bersama seorang wanita.
Brakkk!
"Bajinggann...!" teriakan Leandra membangunkan Kenneth dari ketidaksadaran nya, lelaki militer itu mengusap mata untuk memperjelas penglihatan.
^^^"Putri Clarence! Kenapa dia juga ada disini? Tunggu! Kenapa dia berpakaian seperti itu?"^^^
Pakaian yang menempel di tubuh Leandra adalah seragam tentaranya, posisi Leandra di kemiliteran adalah seorang Jendral muda dibawah bimbingan Jendral Reiner, Ayah kandung dari Leandra.
Jabatan Leandra sebagai Jendral bukanlah hasil dari nepotisme, namun murni dari kerja keras dan kegigihan Leandra sebagai Dokter tentara selama beberapa tahun ke belakang. Tiga tahun lalu saat Leandra diangkat menjadi Jendral muda, sang Ibu yakni Ratu Selena menghembuskan nafas terakhir seolah tugasnya untuk membimbing Leandra menjadi wanita kuat telah selesai.
"Sayang..." Mayor Kenneth bangun dari baringan, namun dia tersadar tubuhnya polos tanpa kain. Matanya menoleh ke samping, mata lelaki itu membelalakkan mata. "Shittttt...! Siapa kau?!"
"Umm," mata wanita di samping Kenneth membuka mata lalu mengedipkan mata dengan nakal. "Honey, aku kekasihmu. Jangan pura-pura lagi... bukankah kau memanggil tunanganmu untuk memutuskan hubungan kalian..."
"Brengseekk__" ucapan Mayor Kenneth terpotong sedang suara teriakan marah Leandra.
"Arrghttt! Tunangan siaalaann! Aku akan membunuhmu...!"
Leandra menarik senjata, membidik kepala Mayor Kenneth. "Dasar pengkhianat, mati saja!"
DORRRR
Brukkk
Tubuh Leandra perlahan jatuh ke bawah, mata wanita itu masih terbuka setetes airmata mengalir dari sudut matanya. Dalam rintih kesakitan, Leandra mengutuk Kenneth... Laki-laki yang sangat dicintainya.
"LEA....!!!"
^^^Pangeran Drake masih terbengong di sudut ruangan tanpa bisa berbuat apapun, suaranya tercekat melihat tubuh Leandra tumbang yang ia pikir adalah Putri Clarence jatuh ke lantai dengan darah mengalir dari punggung wanita itu.^^^
^^^"Clarence! Tidak...!!!!^^^
^^^Gegas Pangeran Drake berlari ke arah tubuh Leandra yang sudah terbaring di lantai, genangan darah merah membuat hati Pangeran kesakitan, ia mendengar gumaman tak jelas dari mulut Leandra.^^^
"Jika aku mati... aku akan mengejarmu di dunia manapun kau berada Ken... saat itu tunggu lah pembalasan dariku bajinggann..." lirih Leandra sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
^^^Pangeran Drake mencoba mengangkat tubuh Leandra namun tidak bisa, mencoba sekali lagi tetap tak mampu. Ia memerhatikan kedua tangan nya, seolah tangannya transparan dan menembus tubuh Leandra.^^^
^^^"Clarence, jangan mati! Aku mohon...!" Jangan tinggalkan aku... kita baru saja menikah.... Aku__" mata Pangeran Drake berkaca-kaca, lalu ia terisak menangis.^^^
BRAK!
"Apa yang terjadi disini!"
Seorang lelaki dengan tubuh tegap, wajah berwibawa masuk ke dalam kamar.
"LEA.... putriku!" jerit orang itu yang ternyata adalah Jendral Reiner. Lelaki paruh baya berlari mendekati tubuh putrinya lalu memangku tubuh tumbang Leandra, mengusap punggung putrinya menyentuh luka tembak sumber dari darah yang terus mengalir.
Mata tajam penuh amarah Jenderal Reiner menoleh pada Mayor Kenneth. "Kau apakan putriku, Ken...! Siapa wanita yang bersama mu itu! Siapa yang menembak putriku...!!!"
Kenneth bahkan masih terpaku nampak tak percaya dengan kejadian yang berlangsung dengan sangat cepat. Lelaki berpangkat Mayor yang artinya jabatan Kenneth berada dibawah Leandra itu turun dari atas ranjang. Gegas memakai celana dan kaos polos yang teronggok di lantai, lalu mencekal lengan wanita di atas ranjang.
PLAK!!!
Kenneth menampar wajah si wanita dengan keras.
"Tunggu giliran mu! Kau akan ku habisi wanita kurang ajar....!"
Para anggota militer yang berada di arena camp ikut merengsek masuk, mereka memang tidak mendengar suara tembakan namun suara teriakan-teriakan terdengar keluar.
Kenneth mendorong tubuh telanjang si wanita yang hanya terbungkus selimut itu ke arah para abdi militer. "Amankan dia...! Jangan sampai lepas! Atau kepala kalian taruhannya....!" titah Kenneth pada bawahannya.
"Siap, Mayor!" beberapa prajurit membawa pergi wanita itu.
Kenneth mendekat ke arah Leandra, berjongkok lalu memeriksa nafas di hidung lalu memeriksa denyut nadi di leher serta denyut nadi di dekat pergelangan tangan sang tunangan. "Denyut nadi Lea sangat lemah..."
Dada Jendral Reiner kembang kempis menahan amarah yang siap menggelegak.
"Ayah, si penembak dari arah belakang Lea... Aku tidak bisa memastikan wajahnya! Sekarang kita harus segera bawa Leandra ke rumah sakit, jangan buang waktu lagi. Saya akan menjelaskan kejadian nya nanti!"
Meski amarah masih menguasai Jendral Reiner, perkataan Kenneth benar adanya. Kini bukan saatnya memikirkan hal lain selain nyawa Leandra.
Jendral Reiner sudah bersiap memangku tubuh putrinya, "Ayah, biarkan aku yang menggendong tubuh Lea... saya mohon."
Melihat wajah mengiba calon menantunya, Jendral Reiner melepaskan tubuh Leandra ke arah sang Mayor dan Kenneth menggendong tubuh Leandra dengan tangan gemetar, bersiap membawa ke rumah sakit.
^^^Pangeran Drake seperti orang bodoh, dia tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.^^^
^^^"Kenapa mereka memanggil mu Lea, Clarence? Lalu kamu mau dibawa kemana?!"^^^
^^^"Tidak akan kubiarkan mereka membawamu pergi!"^^^
^^^Pangeran Drake berusaha merebut tubuh Leandra dari dekapan Mayor Kenneth, namun ia kembali kecewa karena tangannya tak bisa menyentuh tubuh Leandra dan hanya menembusnya.^^^
^^^"Arrghhtt! Ada apa ini?!"^^^
^^^Dengan frustasi Pangeran Drake hanya bisa melihat tubuh Leandra dibawa pergi dari hadapannya.^^^
^^^"Aku harus mengikuti mereka!"^^^
^^^Pangeran Drake bersiap pergi, namun tiba-tiba sebuah cahaya putih memburamkan penglihatannya.^^^
^^^"Arghhttt! Clarence...! Tidak!"^^^
^^^Wusshhhhh.^^^
___(DUNIA PARAREL)___
"Pangeran! Kenapa kamu menjerit dan terisak...! Hei!" Leandra terkejut mendengar suara Isak tangis Pangeran Drake yang duduk di sampingnya.
"Pangeran...!" Leandra panik, dia menyampingkan tubuh ke arah Pangeran menepuk-nepuk wajah Pangeran Drake namun ia tetap gagal menyadarkan lelaki itu.
Tanpa pikir panjang Leandra menyangga wajah Pangeran Drake dengan kedua tangan, menarik nafas lalu mulai menyatukan bibir mereka.
Cup!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Ds Phone
apa dia akan sedar
2024-11-06
0
Îen
laaahhh
2024-09-27
0
Ayay Nya Yuda
ehhh
2024-07-26
0