Seseorang bersembunyi dari tempat Pangeran pertama berdiri, sejak awal dia mendengarkan setiap kalimat demi kalimat yang dilontarkan antara Pangeran Lucas dan Leandra, tentunya orang itu juga melihat kejadian yang baru saja terjadi saat Leandra membalas perlakuan Pangeran Lucas.
"Sepertinya wanita itu sangat berbahaya bagi posisi keluargaku, apa yang harus aku lakukan padanya?"
Melihat Pangeran Lucas masuk ke tendanya sendiri, orang itu pun melengos pergi.
Malam semakin larut, namun Leandra masih terjaga memikirkan cerita tentang perjalanan jiwa Pangeran Drake ke dunia-nya.
"Tadi Pangeran mengatakan mengenal seseorang yang menodongkan sesuatu dari arah belakang yang membuatku berdarah, mungkin maksud Pangeran menodongkan senjata api. Aku harus bertanya tentang orang itu besok, sayang sekali setelah meminum obat dia malah tidur. Huff! Aku penasaran sekali siapa orang yang menembak ku, apa benar orang yang berwajah sama dengan yang disini? Apa istilah nya ya aku lupa, orang berwajah sama padahal orang berbeda...?"
"Ah! Istilahnya adalah Doppelganger...!" akhirnya Leandra bisa mengingat nya. "Di dunia yang berbeda pula...ck!"
Masih banyak misteri yang bergelayut dalam pikiran Leandra, memikirkan besok pagi akan berburu akhirnya Leandra memaksakan matanya untuk terpejam.
Pagi hari....
Semua orang sarapan di tenda masing-masing, setelahnya akan bersiap untuk pergi berburu sesuai jadwal dan rute masing-masing yang sudah disiapkan.
Sejak terbangun tadi, Leandra merasa risih sebab gerak-geriknya diperhatikan terus menerus oleh Pangeran Drake.
"Apa ada sesuatu dengan wajahku?" tanya Leandra pada Pangeran Drake setelah menyelesaikan sarapan.
"Aku hanya teringat kejadian yang terjadi padaku semalam, apa itu benaran mimpi?"
"Bisa jadi," Leandra mengangguk. "Sewaktu kau bermeditasi dengan ku sepertinya kau terbawa ke titik ketenangan hingga akhirnya kau tertidur." Jelas Leandra masih belum bisa terbuka jika semua itu adalah nyata.
"Mungkin itu memang mimpi, tapi kenapa saat kau berdarah itu sangat nyata bagiku." Pangeran Drake menghela nafas panjang seraya menggeleng tidak ingin mengingat lagi, kejadian saat dirinya melihat Leandra berdarah baginya itu adalah tragedi yang memilukan. Ia tak pernah ingin mengulang kembali kejadian serupa, dia berjanji akan menjaga istrinya.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Suatu hari kamu pasti akan mengerti, setiap hal yang terjadi pada kita selalu terselip makna di dalamnya. Sekarang, katakan siapa orang yang kamu sebutkan semalam... yang memegang sesuatu di belakang ku dan membuatku berdarah?"
Kening Pangeran Drake mengernyit, "Apa itu penting? Katamu itu hanya mimpi..."
"Mimpi atau bukan, aku tetap harus tahu. Aku sudah katakan, suatu hari kau akan mengerti. Meski hal-hal yang terjadi padamu tak masuk akal, percayalah... Kita hidup di dunia ini didampingi dengan hal-hal yang mampu melampaui batas logika kita."
Pangeran Drake mengangguk setuju dengan perkataan Leandra, sejak kecil dirinya sudah merasakan hal yang diluar logika misalnya dia sering didatangi roh wanita yang mengaku dirinya seorang Ratu dari sebuah Kerajaan.
"Jadi, siapa orang itu? Namanya?" tanya kembali Leandra.
"Saudara Selir pertama, Paman dari Pangeran Garrick dan Pangeran Calvin. Dia adalah Paman Eddy."
"Apa Selir Pertama tidak menyukaimu?"
"Tidak juga, di depan ku dia selalu tersenyum. Dia putri dari Duke Winston, salah satu Dewan yang berkuasa di Istana. Paman Eddy adalah putra bungsu dari Duke Winston, adik dari Selir Pertama. Dia sering tinggal di salah satu paviliun Istana... karena Paman Eddy belum menikah."
Leandra mengetuk-ngetuk jari ke atas meja, memikirkan sesuatu. "Kamu pernah bilang kandidat Putra Mahkota sedang dalam tahap seleksi, siapa kandidat putra mahkota dari pihak selir pertama?"
"Pangeran Garrick."
"Kesimpulannya... kandidat dari pihak Ratu adalah pangeran pertama yaitu Pangeran Lucas. Dari selir pertama ada Pangeran Garrick, dan dari selir kedua tidak ada karena anaknya hanya perempuan. Lalu, dari selir ketiga kandidat nya adalah kamu. Dari selir keempat tidak ada karena Pangeran masih bayi, benar?"
"Ya, seperti yang kau katakan."
"Oke, jadi saingan mu adalah Pangeran Lucas dari pihak Ratu dan Pangeran Garrick dari selir pertama. Betul?" analisa Leandra.
"Benar."
"Lantas bagaimana dengan adik lelaki dari Pangeran Lucas dan adik lelaki Pangeran Garrick? Mereka tak masuk kandidat menjadi Putra Mahkota?"
"Hanya boleh salah satu anak yang bisa mengajukan diri sebagai Putra Mahkota, jika aku meninggal maka gantiku tidak ada. Tapi, jika Pangeran Lucas atau Pangeran Garrick meninggal, maka gantinya adalah adik-adiknya."
Leandra akhirnya mengerti, persaingan hanya dari 3 keluarga. Yaitu keluarga Ratu Alexa, Selir pertama dan Selir ketiga. Sedangkan keluarga dari selir kedua dan selir keempat hanya bisa mendukung salah satu dari ke-3 kandidat calon putra mahkota.
"Siapa saja yang mendukungmu dan Ibumu, Selir Ivory?"
"Pihak selir kedua mendukung Ratu, sedangkan pihak selir keempat mendukung selir pertama. Jadi, jawabannya tak ada yang memihak kami di Istana."
Leandra tercengang, sungguh timpang. Dua rival Pangeran Drake masing-masing mempunyai pendukung di dalam Istana, sedangkan pihak Pangeran Drake tidak ada.
"What the hell...!!" pekik Leandra.
Tangan Leandra mengepal erat, sungguh tidak adil sekali. "Suamiku, tunggu saja. Kau hanya butuh aku menjadi pendukung mu... lihat saja ada saatnya semua orang yang berada di pihak lawan dan tidak mendukung mu akan berbalik arah dan menjadi pendukung dan pengikut setia-mu...!"
Leandra menepuk-nepuk pundak Pangeran Drake memberi dukungan, senyuman terbit di bibir Pangeran Drake.
Putri Clarence, istriku... Aku hanya butuh dukungan darimu, kini semua kerisauan ku telah sirna. Kau penyemangat ku... terima kasih!
"Sekarang, kita bersiap untuk perburuan. Aku hanya minta satu hal padamu, Pangeran." Leandra menatap intens mata Pangeran Drake, ia sedang mode serius.
"Apa itu?"
"Kamu masih ingat ucapan ku kemarin, kan?"
"Perkataan mu yang mana? Kau selalu banyak bicara," canda Pangeran Drake.
"Jangan jauh-jauh dariku atau kau bisa mati tanpa aku!"
"Kau sedang bercanda, kan?" tanya Pangeran Drake.
"Tidak! Firasat ku selalu benar, ada sesuatu di dalam perburuan yang bisa menyakitimu bahkan bisa membahayakan nyawamu. Kita akan pergi bersama, jangan pernah berjauhan. Mengerti...!!!" ucapan Leandra penuh penekanan, mata wanita itu memancarkan aura dingin bahkan tidak ada sedikitpun raut lemah lembut dalam wajah Leandra.
Glek!
Pangeran Drake tak bisa berkata-kata.
"Aku tidak pernah memberi ampun pada siapapun yang berani menyakiti ku dan keluarga ku serta para pengikut-ku. Kau adalah keluarga ku, jadi menjaga keselamatan dan nyawamu sudah menjadi kewajiban ku. Nyawamu bukan hanya milikmu, tetapi nyawamu juga adalah milikku. Jangan pernah berani mati tanpa se-izinku, paham...!" suara tegas Leandra menyadarkan Pangeran Drake dari rasa kagum lelaki itu pada Leandra.
Pangeran Drake benar-benar terpesona dengan wibawa seorang Leandra, kali pertama baginya merasakan aura kepemimpinan dari seorang wanita. Bahkan aura Leandra bisa mengalahkan aura dari Ratu Alexa, wanita yang kini masih menduduki posisi wanita tertinggi dan terpenting di Istana.
Apa aura Leandra bisa menggeser aura Ratu Alexa di Istana ?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Yan
kalau bisa geserkan saja ratu dan anak2 nya juga antek2 ratu dan selir pertama.
2024-11-27
0
Pandagabut🐼
keren ya Leandra...
2024-11-17
0
GuGuGaGa_90
bisa lah...
2024-11-12
0