Ruang teh yang semula ramai dengan obrolan seketika hening dengan kedatangan Leandra.
"Wah, Putri Brigitta... adikmu yang bodoh itu ternyata sudah sadar!" celetuk seorang Putri tersenyum mengejek.
"Aku malu dengan sikap ceroboh nya, sudah tahu tidak bisa berkuda tapi ngeyel ingin ikut berkuda dengan kita. Aku sudah bilang 'kan... dia itu hanya beban di keluarga. Aku kasihan pada Pangeran Drake, harus mempunyai istri sepertinya. Harusnya aku yang menikah dengan nya... hffff!" Putri Brigitta, kakak dari Putri Clarence menghela nafas sedih. Selalu memperlihatkan kelembutan hatinya di depan semua orang.
Leandra berbisik pada telinga Daisy. "Siapa kedua perempuan itu?"
"Putri Brigitta adalah Kakak Anda, dia ikut datang kesini bersama Anda. Kabarnya, seharusnya Putri Brigitta lah yang menikah dengan suami Anda, Putri. Tapi, Ratu malah memilih Anda untuk menjadi istri Pangeran Drake."
"Ah, jadi kakakku tak suka padaku karena dia merasa aku telah merebut Drake. Lalu, satu lagi?"
"Itu Putri Anne, adik ipar Anda satu Ibu dengan Pangeran Drake. Dia putri Yang Mulia Raja dari selir Ivory."
Leandra mengerti, tapi di dunianya dia tidak mengenal wajah kedua wanita itu. Ternyata ada wajah yang berbeda, sebab di dunia sana dia adalah putri satu-satunya dari sang Jendral dan tidak mempunyai saudara perempuan.
"Bolehkah aku bergabung sebentar, atau putri bodoh sepertiku dilarang bersama para putri yang cantik dan cerdas seperti kalian?" sindir Leandra jika ada yang menyadari dia sedang menyindir.
"Clarence! Dimana sopan santun mu?! Beri hormat pada semuanya!" teriak Putri Brigitta.
Namun Leandra malah mengibaskan tangan benar-benar tidak memperdulikan ucapan serupa perintah dari Putri Brigitta.
"Begini... Sepertinya saat aku terjatuh dari kuda kepalaku jadi sedikit bermasalah. Bahkan cara memberi hormat saja, aku tidak tahu. Jadi Kakak... bisakah kamu memberiku contoh, bagaimana caranya memberi hormat?"
"Dasar bodoh!" gumam Putri Brigitta, namun dia menurut. Ia bangun dari sofa, lalu berdiri di hadapan Leandra.
Putri Brigitta mengangkat pinggiran gaun lebar ala kerajaan dengan anggun, menundukkan kepala sedikit.
"Kau ikuti caraku barusan...! Sekarang jangan membuatku terus malu dengan otak bodoh-mu! Jangan berikan alasan lagi jika kepalamu bermasalah...!" bentak Putri Brigitta.
"Hormat!" bukannya menurut, Leandra malah menaruh satu tangan di pelipis menghormat ala kemiliteran dengan tubuh timpang sebelah namun masih terlihat tegap.
"Apa yang kau lakukan?! Kau sedang mengejek kami? Gerakan apa itu! Memalukan...!"
Putri Brigitta berjalan mendekati Leandra, mengangkat tangan bersiap menampar seperti biasa.
Grep!
Pergelangan tangan Putri Brigitta dicekal dengan kuat oleh Leandra, wanita dari abad modern itu menatap dengan tatapan dingin sedangkan Brigitta melotot sempurna tidak menyangka adik yang selalu dia tindas akan melawan.
"Beraninya kau menahan tangan ku! Wajah mu pantas aku tampar..!" geram Brigitta.
"Ck! Sebenarnya kekuatan ku mungkin setara dengan 100 lelaki tanpa skill bertarung... aku merasa malu harus melawan wanita lemah sepertimu! Apalagi harus adu mulut dengan wanita cerewet seperti kau, mirip sekali dengan nenekku jika sedang mengomel...!" ledek Leandra namun omongan nya bukan hanya ucapan kosong.
Leandra memang tidak berminat bertarung melawan wanita yang standar kekuatannya dibawah dirinya yang seorang wanita militer yang kekuatan fisiknya sudah ditempa bertahun-tahun. Dalam hal bertarung dengan tangan kosong, jika lawannya 100 lelaki tanpa kemampuan bertarung yang mumpuni dia bisa melawan mereka semua.
Dengan sentakan kuat Leandra melepaskan cekalan pada pergelangan tangan Putri Brigitta, tubuh Brigitta sedikit terhuyung ke belakang.
"Aku muak berada disini...! Aku akan cari cara lain untuk memeriksa tentang jatuhnya Clarence dari kuda!" Leandra berbicara seolah itu masalah Putri Clarence, dia lupa jika dirinya sedang berada dalam tubuh sang Putri.
"Kau sudah gila rupanya! Berbicara tentang dirimu seolah membicarakan orang lain! Pantas saja kau berani melawanku..!" Brigitta geleng-geleng kepala. "Sebaiknya kau kembali ke kamar mu dan minum obat mu, Clarence! Aku akan memaafkan perilaku kurang ajarmu barusan."
Leandra malah tersenyum tipis, terkesan menghina sikap sok baik Brigitta. "Jangan memerintah ku! Harusnya kau yang minum obat... Kau sepertinya selalu berkata pedas dengan lidahmu untuk menyakiti orang lain dan merasa bangga selalu menindas saudari mu sendiri, Brigitta! Lalu... sekarang kau berpura-pura menjadi wanita lembut yang memaafkan, cih! Kau terkadang jahat lalu berubah sok baik... kau tau apa nama penyakitmu dalam medis? Penyakit-mu dinamakan rabies atau disebut juga penyakit anjinggg gila...! Hahaha! Anjinggggg gilaaa...!" Leandra tertawa sangat keras.
Matanya lalu menatap satu persatu para wanita disana, "Kalian sebaiknya jangan dekat-dekat dengan Kakakku, penyakit ini sangat menular."
Setelah sengaja menakut-nakuti Leandra kembali tertawa, dia gegas membalikkan tubuh menuju keluar ruang teh yang ditempati para gadis manja dan lemah yang bisanya hanya menindas dan bergosip saja.
"Clarence...! Kembali kemari! Tarik kembali ucapan mu! Arghhh..!!" Putri Brigitta menghentak kaki dia meradang telah dipermalukan, wajahnya memerah sempurna seperti tomat busuk.
Namun langkah Leandra tak berhenti terus menyeret kakinya keluar, hanya derai tawanya yang mulai menyurut.
"Putri ingin kemana lagi?" tanya Daisy ikut menahan senyum dengan kelakuan Leandra, awalnya gadis pelayan itu sedikit kesal harus menjadi pelayan pribadi Leandra namun melihat sang 'majikan' tidak mudah ditindas rasa kagum mulai memenuhi hatinya.
"Ke tempat aku terjatuh dari kuda dan panggil pengurus istal kudanya."
"Baik, Putri."
Daisy membawa Leandra melewati beberapa lorong besar, terpampang lukisan wajah-wajah anggota kerajaan dari generasi ke generasi. Leandra menghentikan langkahnya, menyorot satu persatu anggota kerajaan di lukisan yang sepertinya masih baru melihat dari wajah Pangeran Drake dan Pangeran Garrick juga wajah Putri Anne yang dikenalinya.
"Ini lukisan terbaru, kan?" tanyanya pada Daisy.
"Iya, Putri. Sekitar 5 bulan lalu, lukisan ini dibuat."
Leandra menelisik tahun di lukisan itu, ternyata tahun 1961. Pantas saja meski memakai gaun kerajaan sudah ada detail modern di rempelan gaun.
"Berarti sudah ada pembentukan tentara dan senjata api!" gumam Leandra.
"Tentara itu apa, Putri?" tanya Daisy penasaran.
"Orang-orang yang masuk militer untuk menjaga negara, jangan katakan kau tidak tahu apa itu milter?"
"Saya baru mendengarnya, Putri. Bahkan tidak ada yang namanya tentara, jika orang-orang yang menjaga Istana kami memangilnya Palace Guard."
"Hah?! Itu tidak mungkin! Meskipun aku tak suka pelajaran sejarah, tapi aku tahu sejarah tentang kemiliteran. Tahun 1961 masih dibentuk wajib militer, baru sekitar tahun 1963 wajib militer dihapuskan. Semua orang dibebaskan untuk memilih masuk militer atau tidak! Apa ini?"
"Putri, aku pusing mendengar Anda bicara..." jujur Daisy dengan wajah frustasi.
Leandra menghela nafas kasar, percuma berbicara apalagi menjelaskan jika semua tidak terjadi di era dunia yang dia tempati sekarang.
Fiks! Ia masuk ke dunia pararel, bukan dunia sama yang dia tinggali.
Secara konsep dunia Pararel adalah sesuatu yang berjalan atau berlangsung bersamaan, dalam jalur yang sejajar atau sejajar satu sama lain namun dalam poros yang berbeda.
...____...
Visual Halu 😆
Ada yang ingat visual ini mirip visual di novel othor yang mana? Hehe 😁
Kenneth/Drake.
Leandra/Clarence.
Guys... jangan melihat seragam tentaranya ya karena othor jg kurang tahu itu seragam negara mana 🫶🤣 Nikmati khayalan dalam tulisan othor yang terkadang nggak masuk logika seperti genre time travel or transmigrasi novel othor yang lainnya 😆🙆♀️ 🙌
Oke deh.... HAPPY MENGHALU semuanya 🫶😅
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Puput Regina Putri
ke dua kli baca Thor...dan tetep keren 👍
2024-12-01
2
Dearest
nah cowoknya gagah cuma kurang garang thor 🤣
2025-03-14
0
nii
visual nya cakep ah jadi senang baca haha
2025-02-10
0