CUP!
Heh!
Kenapa aku malah menciumnya?!
Leandra menjauhkan wajah menepuk jidatnya sendiri lantas melirik gelas berisi air di atas meja kecil di samping ranjang, kenapa ia tak menyadarkan Pangeran Drake dengan menyipratkan atau menyiram wajah lelaki itu dengan air di gelas.
"Kamu baru saja mencium ku, Clarence. Kau nyata dan kau ada disini di depan ku! Kau tidak terluka? Kamu baik-baik saja!" rentetan kata demi kata yang keluar dari mulut Pangeran Drake mampu membuat bibir Leandra terkatup rapat, apalagi ternyata Pangeran Drake sadar ia telah mencium lelaki itu.
Leandra menangkap ada kepanikan dari suara Pangeran Drake, bahkan lelaki itu dengan gugup terus mengelus wajah serta menyentuh tubuhnya dimana-mana seolah belum mempercayai jika itu memang dirinya.
"Hei! Ini benar aku! Stop...! Pangeran, ada apa sebenarnya?!" Leandra tak tahan lagi terus disentuh dan melihat wajah kepanikan dari Pangeran.
"Ka-kamu... Clarence... aku melihat tubuhmu berdarah, arghhh... maafkan aku tak bisa melindungi mu, kamu..."
"Bicara yang jelas dan pelan-pelan! Tatap mataku, oke..." Leandra sekali lagi menyangga wajah Pangeran, akhirnya Pangeran menatap tepat ke mata Leandra. "Tarik nafas, lalu hembuskan perlahan... lakukan berulang... tenang... Ikuti aku..."
Leandra memberi contoh dengan menarik nafas lalu menghembuskan secara perlahan, terus berulang hingga Pangeran Drake mengikuti wanita itu.
"Oke, sudah merasa lebih tenang?" tanya Leandra, ia sangat penasaran sebenarnya apa yang telah terjadi pada Pangeran saat bermeditasi dengan dirinya tadi.
"Sudah lebih baik," jawab Pangeran dengan suara lirih.
Leandra berniat melepaskan kedua tangan dari wajah Pangeran, namun tanpa diduga tangan nya ditahan oleh Pangeran Drake.
"Aku bisa menyentuh mu, aku bisa menyentuh mu... Clarence. Syukurlah! A-aku kira__" Pangeran menghentikan ucapannya, lelaki itu kembali nampak panik.
Astaga! Sebenarnya ada apa dengannya?!
"Bisa jelaskan padaku dengan perlahan? Apa yang terjadi, mm?" Leandra kesusahan bergerak, kedua tangannya masih ditahan Pangeran Drake.
Pangeran Drake mengangguk pelan, "Tapi tetap genggam tangan ku, aku hanya ingin merasakan keberadaan mu. Aku masih shock, kamu bisa dengarkan jantungku kalau kau tak percaya ..."
Dengan amat perlahan Leandra mendekatkan kepalanya dengan kepala menyamping, telinganya mendengarkan detak jantung Pangeran Drake dan memang benar detak jantung Pangeran tak beraturan seperti baru saja selesai berlari terdengar begitu riuh.
Saat ingin menjauhkan kepala, tangan besar Pangeran malah menahan bagian belakang kepala Leandra agar tetap berada di dadanya.
"Pangeran, jangan seperti ini. Kamu harus ingat perjanjian, jangan sentuh aku... Kecuali aku yang menyentuh mu lebih dulu, lepas!"
"Sebentar saja, biarkan tetap seperti ini... aku mohon..." ucap Pangeran dengan suara lembut, tak ada lagi nada arogan atau rasa gengsi.
'Hah? Situasi apa ini?' Leandra membatin.
Bahkan kini Pangeran Drake mulai berani, ia mendekap erat tubuh Leandra sebab merasa tak mendapat penolakan dari wanita itu, terdengar helaan nafas lelaki itu beberapa kali.
Leandra menghitung dalam hati, sepertinya sudah lebih dari lima menit. "Jantung mu sudah berdetak dengan normal, sekarang bisa lepaskan aku?"
Pangeran akhirnya melepaskan tubuh Leandra dengan tak rela, mata lelaki itu menyiratkan keengganan karena masih ingin terus memeluk.
"Oke, sekarang mulai ceritanya."
Pangeran Drake pun mulai bercerita, dari awal hingga akhir. Kini jantung Leandra yang bertalu-talu, ia tak mempercayai pendengaran nya.
Ya Tuhan! Jadi jiwa Drake pergi ke dunia-ku! Aku tak bisa percaya, ini terlalu...
"Clarence, kau tak apa-apa?" Pangeran khawatir sebab mata Leandra tak berkedip dengan wajah tercengang seperti baru saja mendapatkan sebuah kejutan.
"Ya ya... Sejak datang ke sini, ini hal paling membahagiakan untukku. Kau juga ternyata terhubung dengan dunia-ku, meski keberadaan mu disana tembus pandang atau mungkin kau hanya serupa jiwa tanpa raga di dunia-ku itu."
Pangeran Drake memijit kepalanya yang mulai berdenyut nyeri, sepertinya kejadian yang baru saja terjadi padanya mempengaruhi tubuhnya.
"Kau sakit?" kini giliran Leandra menatap khawatir pada wajah pucat Pangeran Drake.
Lelaki itu mengangguk lemah, "Kepalaku sakit, terasa ditusuk-tusuk."
"Berbaringlah, aku akan membuatkan mu teh hangat. Aku juga akan mencarikan mu obat."
Pangeran Drake menurut, dia mulai membaringkan kepala nya di bantal.
Leandra mencoba mencari obat di dalam tenda, namun nihil tak ada obat apapun di dalam sana. Mau tak mau Leandra keluar tenda untuk mencari obat di tenda pengobatan darurat.
"Putri, mau kemana malam-malam begini?"
Baru saja Leandra keluar dari tenda, seseorang menyapanya.
Leandra menghentikan langkah, menoleh ke arah lelaki yang menghampiri nya.
"Pangeran Lucas, Anda sendiri sedang apa diluar? Menghangatkan tubuh dengan istri Anda akan lebih baik di udara dingin seperti saat ini." Leandra bahkan tak mencoba tersenyum, dia tak pernah berpura-pura kepada siapapun termasuk saat ini pada putra dari Ratu Alexa, Pangeran Lucas.
"Istriku sudah tidur, dia merindukan anak-anak kami. Padahal aku menyuruhnya jangan ikut, tapi dia tetap ingin bersamaku. Sungguh wanita sulit dimengerti, dia bilang takut aku bersama wanita lain... padahal aku sudah berjanji akan setia hanya pada satu wanita. Pria sepertiku sangat jarang, bukan? Bahkan suamimu, Pangeran Drake... aku dengar masih sering bertemu dengan kakakmu, Putri Brigitta. Apa mereka berhubungan secara sembunyi-sembunyi?" Ujar Pangeran Lucas sembari mengetuk-ngetuk kan jari tangan ke dagu seolah sedang berpikir.
'Ck! Strategi menyesatkan yang sangat dangkal! Terakhir kali aku bertindak Impulsif saat mendapat surat kaleng dari salah satu prajurit. Aku melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang atau mempertimbangkan konsekuensinya terlebih dahulu. Lihat hasilnya, aku malah tertembak. Itu adalah kesalahan ku sendiri, aku telah dikuasi amarah! Sekarang... enggak akan lagi!'
"Oh... benarkah? Sepertinya suamiku sangat memperhatikan keluargaku. Aku lah yang telah meminta Pangeran Drake untuk mengunjungi Kakakku, Putri Brigitta. Aku menyuruh suamiku agar sesekali mengecek kebutuhan kakakku di Istana. Jadi, pertemuan mereka berdua tak masalah bagiku. Tapi, terima kasih atas perhatian mu... Pangeran Lucas. Kalau begitu silahkan lanjutkan kegiatan Anda, permisi."
Grep!
"Tunggu!" Pangeran Lucas menahan lengan Leandra.
Leandra mencoba melepaskan lengannya dari cekalan Pangeran Lucas tanpa mengeluarkan tenaga. "Lepaskan saya, Pangeran. Jangan sampai orang-orang melihat situasi kita yang terlihat kurang pantas."
"Jangan cemas... aku bisa menjelaskannya. Aku hanya ingin bertanya, kenapa tadi Pangeran Drake terdengar menjerit? Jangan salah paham, aku bukan sengaja menguping tapi jeritan nya terdengar ke dalam tendaku."
"Lepaskan dulu tangan saya," Leandra masih bersikap sopan tanpa terpengaruh.
"Jawab dulu pertanyaan ku!" Pangeran Lucas menolak dan masih tetap mencekal lengan Leandra.
"Jangan membuat saya menyakiti Anda, Pangeran." Leandra mencoba memperingati.
"Menyakiti ku, kamu? Haha... Kau dengan tubuh lemah mu, Lucu sekali! Bahkan hanya untuk melepaskan diri dari cekalan ku... kau tak berkutik!" Pangeran Lucas terkekeh dengan nada mengejek.
"Anda yang meminta untuk saya sakiti, jangan mengeluh nantinya!"
"Apa__! Arggttt!"
Belum juga ucapan Pangeran Lucas selesai, lelaki itu mengeraang kesakitan. Tangannya berbalik dipelintir oleh Leandra dalam sekejap mata, bahkan cekalan Leandra pada pergelangan tangan nya sangat kuat. Saking kuatnya tulang lengan Pangeran Lucas terasa sakit.
"Sakit?" Leandra tersenyum mengejek. "Saya tidak terlalu lemah, bukan?"
Leandra tak ingin memberi ampun, selain untuk memberi peringatan jika dirinya tak semudah itu dibodohi dan disakiti dia juga ingin Pangeran Lucas tidak berbuat macam-macam pada Pangeran Drake.
"Dengar, Pangeran Lucas. Jangan pernah lagi mencoba untuk membodohi atau memprovokasi ku! Mungkin rumor yang beredar mengatakan saya seorang wanita lemah dan penakut... Namun kenyataannya adalah sebaliknya. Ingat ini... aku nggak akan segan-segan membalas orang yang menyakitiku dan orang-orang penting bagiku. Jangan pernah memancing ku kembali! Satu lagi...! Jangan berani berbuat sesuatu yang bisa mencelakakan suamiku, jangan berani menyentuh nya!"
Setelah mengatakan peringatan serupa ancaman pada Pangeran Lucas, Leandra melepaskan cekalan pada pergelangan tangan dengan sentakan kuat membuat tubuh Pangeran Lucas limbung.
Wanita itu memilih pergi tak ingin meladeni Pangeran Lucas lagi, dengan wajah dingin Leandra meneruskan langkah untuk mencari obat.
Pangeran Lucas mengelus lengang nya yang kesakitan, menatap punggung Leandra dengan pandangan yang sulit diartikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Sandisalbiah
banyak anjing liar berkeliaran di sekitar Drake dan Clarence
2024-11-05
0
Sum Marni
aq suka banget ceritanya kak/Drool/
2025-03-06
0
Ds Phone
kau ingat semua wanita lemah
2024-11-06
0