Sesuai dengan saran Pak Kyai, agar Maya bertirakat dengan berpuasa di hari kelahiran dan wetonnya, untuk membentengi diri dari usaha penumbalan. Maya lahir di hari Sabtu Kliwon, yang kebetulan jatuh pada esok lusa. Ia lalu menguatkan dirinya untuk mencoba berpuasa saat tengah hamil.
Selain itu, Dika juga terus membisingkan rumahnya dengan bacaan ayat suci Al Quran, untuk meminimalisir segala macam gangguan.
Malam ini, Dika mulai beraksi menyebarkan puluhan lembar berita kematian Roni ke rumah-rumah warga. Sengaja ia memilih malam hari agar tak ada yang melihatnya, tak peduli seberapa takutnya ia keluyuran malam-malam. Ia percaya diri, bahwa beberapa bacaan yang disarankan Pak Kyai untuk dibaca sepanjang jalan, dapat melindunginya.
Hingga selebaran itu selesai diselipkan melalui lubang bawah pintu rumah warga, Dika memutuskan untuk segera pulang. Tapi, karena malam ini adalah malam Jumat, tiba-tiba ia terpikirkan untuk melihat rumah Pak Kades, memastikan bahwa Kepala Desa itu tetap melakukan aktivitas pemujaannya. Kali ini, ia telah menemukan tempat yang aman, agar tak ketahuan seperti kala itu.
Berjongkok di belakang ilalang, Dika mulai memperhatikan apa yang Pak Kades itu lakukan, masih dengan penampilan yang sama dengan beskap lengkapnya. Kali ini, terlihat jelas bentuk pemujaannya. Banyak makanan yang tersedia di atas meja di hadapannya. Sayangnya, sosok hitam besar itu tak lagi terlihat oleh Dika.
“Mungkin ini juga alasan kenapa dia melarang warga beraktivitas saat malam hari, agar pemujaannya tak ada yang mengetahui. Tapi, kata Pak Kyai, eyang dan kakung Maya meninggal karena menjadi tumbal, bukan kah mereka sudah lebih dari 10 tahun meninggal? Sedangkan aturan Pak Kades ini baru 10 tahun, apa dulu dia belum melakukannya di sini?” pikirnya kebingungan.
Hingga samar-samar, Dika mendengar suara sosok perempuan tua yang menegurnya.
Arep nyapo kowe neng kene? Ngaleh!
(Mau apa kamu di sini? Pergi!)
Menoleh ke samping kanan kiri, depan dan belakang, Dika tak melihat siapa pun.
Ia lalu bergegas pergi dari tempat itu, karena tak tahan dengan bulu kuduknya yang berdiri semua.
***
Keesokan paginya, warga sudah heboh dengan selebaran yang mereka temukan di rumah masing-masing. Mereka pun semakin dibuat marah selain karena masalah panen yang gagal. Warga dibuat kecewa dan merasa tak adil karena keluarga Pak Slamet ternyata tak mendapatkan keadilan. Hingga beberapa warga berbondong-bondong akan mendatangi rumah Pak Kades.
“Jadi, selama ini Roni tidak ditangkap ya,” ujar salah seorang warga.
“Aku pikir dia dipenjara seumur hidup!” tukas warga yang lainnya.
“Ya sudah, kita minta penjelasan saja pada Pak Kades!” ajak warga yang lain.
Hingga anak buah Pak Kades yang mengetahui hal ini, langsung berlari menuju rumah tuannya untuk melaporkan hal ini.
Maya yang baru saja ingin keluar rumah untuk menghirup udara segar, tampak penasaran dengan kehebohan pagi ini.
“Ada apa, Mas?” tanyanya saat Dika menyusulnya di halaman rumah.
Dika lalu membisikkan sesuatu pada istrinya.
“Memang sudah ada beritanya?” tanya Maya keheranan.
Dika menggeleng. Ia menjelaskan bahwa tidak ada media yang memberitakan hal ini. Ia hanya meminta Dio untuk mencuri salah satu kertas yang menunjukkan foto-foto kematian Roni, yang dipakai kepolisian untuk mengusut kasus kematiannya.
“Dio memfotonya, lalu mengirimkannya padaku, aku buat saja seolah kematiannya itu ada di berita,” jawab Dika sambil tersenyum-senyum sendiri.
Seolah tak setuju dengan aksi suaminya itu, Maya takut jika hal ini akan membahayakan mereka. “Kalau keluarga mereka tak terima, bagaimana? Mereka pasti tahu itu ulahmu. Kita bisa terancam, Mas. Gangguan yang kemarin saja belum selesai.”
Menenangkan istrinya, Dika memastikan bahwa mereka akan aman, karena ia juga telah meminta bantuan Pak Kyai, dan yang paling utama adalah meminta perlindungan dari Gusti Allah.
Sementara itu di rumahnya, Pak Kades marah bukan main ketika mendengar laporan dari anak buahnya. Ia tak menyangka, bahwa kematian Roni diberitakan. Padahal, keluarga besarnya sudah meminta kepolisian menutup rapat-rapat berita ini.
Belum selesai kemarahannya, warga sudah menyerbu rumahnya. Mereka menyatakan rasa tidak terima mereka pada Pak Kades sebagai keluarga dari Roni. Bagaimana pun, keluarga Pak Slamet berhak mendapat keadilan.
“Jangan-jangan, ini yang menyebabkan selama ini arwah keluarga Pak Slamet tidak tenang dan menghantui kita semua? Kalau memang benar begitu, aturan malam itu seharusnya tidak ada! Banyak warga di sini yang seharusnya berjualan di malam hari, jadi harus kehilangan pekerjanya, gara-gara ulah Roni dan keluarganya!” protes salah seorang warga.
“Katanya Roni dihukum seumur hidup, lalu ini apa?" sahut warga yang lainnya.
Warga lainnya pun saling bersahutan mendukung protes itu.
“Tenang, tenang, semuanya tenang!” bentak anak buah Pak Kades.
Setelah warga diam, Pak Kades mulai berbohong menjelaskan bahwa selama ini Roni memang masih ditahan dan saat kejadian itu pun juga terjadi di dalam kantor tahanan. Pak Kades meminta warga tak salah paham dengan pemberitaan ini. Lagi pula, penangkapan Roni saat itu juga disaksikan sendiri juga oleh para warga kampung.
Dengan tegas, anak buah Pak Kades meminta warga untuk bubar, meski mereka masih tidak puas dengan jawaban kepala desanya.
Pak Kades kemudian menghubungi adiknya, ayah Roni untuk menanyakan terkait hal ini.
“Berita apa, Mas? Tidak ada berita apa-apa kok, semuanya aman di sini.”
Sontak anak buah Pak Kades menuduh ada yang usil melakukan ini semua.
Mereka pun kemudian menerka-nerka siapa yang telah lancang berbuat demikian.
“Mungkin anak dan mantunya Bu Tri itu, Pak. Mereka 'kan yang sedari awal sudah lancang di desa ini,” tebak anak buahnya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝑫𝒊𝒌𝒂 𝒅𝒂𝒏 𝑴𝒂𝒚𝒂 𝒅𝒍𝒎 𝒃𝒂𝒉𝒂𝒚𝒂 😖😖😖
2024-07-12
2
Zuhril Witanto
wah pak kades udah curiga
2024-07-12
0
Bintang Yafi
deg deg an tapi seru,penasaran
2024-07-02
1