Bab 2

Merasa aneh dengan Winda, Ayu menemuinya di kamar, setelah Sania yang berganti masuk ke dalam kamar mandi.

“Benar tidak apa-apa, Win?” tanya Ayu memastikan.

Setengah berbisik, Winda mengaku melihat sosok yang begitu besar dan hitam di kamar mandi. “Tapi jangan bilang Sania ya, aku tidak enak. Mungkin aku masih mengantuk, jadi berhalusinasi.”

Terdiam, Ayu seakan mulai merasakan keanehan di rumah temannya itu.

Winda lalu melanjutkan kata-katanya, bahwa selama 20 tahun ia hidup, tak pernah sekali pun melihat hal semacam ini, dan tiba-tiba hari ini ia ditampakkan makhluk yang menyeramkan.

Berusaha melupakan kejadian semalam dan subuh tadi, mereka bertiga berlari mengelilingi komplek, menikmati suasana perumahan Sania yang berada di pedesaan.

Hingga saat sore hari menuju petang, Winda dan Ayu seakan mulai deg-degan bila menemui hal menyeramkan lagi.

Sengaja sebelum petang menjelang, Winda dan Ayu berdebat ingin mandi lebih dulu.

“Tadi saja aku suruh kamu mandi, tidak segera mandi!” kesal Ayu pada Winda.

Mereka berdua memang sengaja tak mau mandi lebih awal karena pasti akan gerah lagi, sehingga memilih mandi saat waktu menunjukkan pukul 5 sore.

“Sebentar saja, Ay.” Winda bergegas menuju kamar mandi yang memang hanya 1.

Di kamar mandi, Winda buru-buru menyelesaikan mandinya. Namun tiba-tiba, ia mencium bau wangi seperti harum bunga kuburan dan wangi pandan. Ia yang merinding, bergegas membilas sabun dengan air dan menangkupkan handuk di tubuhnya.

Baru saja akan keluar kamar mandi, ia kejatuhan bunga mawar dan kamboja dari atas.

Mencoba memberanikan diri melihat ke atas, seketika ia menjerit begitu kencang.

***

Mendengar cerita Winda yang melihat sosok nenek-nenek berada di atap kamar mandi, membuat Ayu terpaksa tak mandi sore ini. Winda yang awalnya tak ingin Sania tahu tentang hal ini, juga tak dapat menyembunyikan ketakutannya, karena sudah dua kali ditampakkan makhluk tak kasat mata itu. Ayu pun ikut jujur pada Sania dan Winda, bahwa ia juga sempat mendengar suara lelaki tua berbisik padanya saat di dapur, dan sosok itu seperti memperhatikannya dari arah ruangan kosong.

“Saat di kamar mandi kemarin, aku juga mendengar suara lelaki tua berdehem sebanyak 2 kali. Makanya aku sempat tanya pada kamu, San, apa ada orang lain di sini," lanjut Ayu.

“Sebenarnya di rumahmu ini bekas apa sih, San?” tanya Winda ketakutan.

Menggeleng, Sania tak tahu akan hal itu. Ia sendiri yang baru 10 hari tinggal di rumahnya, tak pernah mengalami hal aneh seperti yang teman-temannya alami. Begitu pun dengan orang tuanya yang juga tak mendapat gangguan apa pun.

“Apa di antara kalian ada yang sedang haid?” tanya Sania yang menebak bisa saja teman-temannya diganggu karena sedang tak suci.

Winda dan Ayu pun menggeleng.

Sania lalu menenangkan teman-temannya, untuk tak lagi takut dan segera tidur malam itu juga.

Mereka membunuh waktu dengan saling bercerita di dalam kamar, karena hingga jam 9 malam, tak ada satu pun dari mereka yang mengantuk.

Hingga tiba-tiba, terdengar suara dari ruangan kosong yang akan Sania pakai untuk gudang, bersamaan dengan terciumnya semerbak wewangian bunga-bunga kuburan.

“Kalian dengar tidak?” tanya Ayu memastikan pendengaran teman-temannya.

Sania dan Winda mengangguk pelan.

Winda juga mengatakan bahwa bau wangi ini lah yang tercium indranya saat di kamar mandi tadi.

Dengan saksama mereka mendengarkan, seperti suara orang yang sedang melakukan ritual pemujaan atau persembahan, terlebih malam ini adalah malam Jumat.

“Aku rasa ada yang tidak beres dengan rumahmu, San,” ujar Ayu.

Sania yang setuju, akan mencoba menanyakan perihal sejarah rumahnya, pada warga asli di sekitar perumahan, siapa tahu mereka mengetahuinya.

***

Keesokan paginya, mereka bersiap mencari tahu ada apa sebenarnya dengan rumah Sania.

Mereka berjalan ke luar komplek, yang tampak ramai lalu lalang warga sekitar. Hal ini dijadikan kesempatan bagi mereka untuk bertanya. Lalu, dipilihlah secara acak salah satu dari warga yang tampak beraktivitas di pagi hari.

“Ibu, permisi, apa saya boleh bertanya?" tanya Sania.

"Ada apa, Mbak?” tanya seorang wanita yang ditemui Sania, Winda, dan Ayu.

Setelah menanyakan nama dan memastikan wanita tersebut adalah warga asli desa, mereka pun mulai bertanya-tanya tentang sejarah perumahan tempat Sania tinggal.

“Oh, dulu hanya kampung biasa, dari lahir saya tinggal di sana, sebelum akhirnya diminta pindah ke sini karena mau dijadikan perumahan,” jawab wanita tersebut.

Sania dan teman-temannya lalu jujur, menceritakan hal menyeramkan yang mereka alami.

Wanita tua tersebut tampak menanyakan di mana rumah Sania.

“Di situ, cat putih-hijau,” tunjuk Sania.

Seketika wanita itu terdiam dan menelan salivanya.

...****************...

Terpopuler

Comments

Kazuto

Kazuto

winda ayu. nama bini ku. /Applaud/

2025-01-18

1

Rasmel Nasrun

Rasmel Nasrun

iyakan, pasti mantan rumah Slamet...

2025-01-01

1

🥰Siti Hindun

🥰Siti Hindun

mampir kak, izin baca🤗

2024-12-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!