Bab 5

Dika yang melepas gantungan bawang putih di depan pintu, terus memperhatikannya sembari menahan bau yang tak sedap.

“Makan dulu yuk, Mas,” ajak Maya pada suaminya yang masih asyik memegang kalung bawang.

“Ini apa sih, May? Aku lihat dari tadi di depan pintu semua rumah warga ada benda ini. Memang begini ya dari dulu?” tanya Dika yang berjalan perlahan menuju meja makan.

Maya menggeleng. Ia mengaku tak tahu jika semua pintu rumah warga ada benda itu. Hanya saja, saat beberapa kali pulang kampung bersama ayah ibunya dulu untuk berziarah, ia memang sudah melihat benda tersebut digantung di pintu rumahnya. “Aku pikir juga paling hanya hiasan. Lagi pula, setiap ke sini dulu, sehabis ziarah siang itu juga selalu langsung pulang ke Jakarta. Paling hanya mengecek rumah sebentar dan berkunjung ke rumah Bu Siti, tidak pernah menginap. Apalagi, semenjak ayah meninggal 5 tahun lalu, aku dan ibu sudah tak pernah ke sini lagi.”

Saat mereka tengah menyantap makan malam, terdengar suara pintu terbuka.

Brak

Seketika Maya dan Dika beradu pandang.

“Kamu belum tutup pintu ya,” tuduh Maya kesal.

Diam mematung sekian detik, Dika mencoba mengingatnya. Ia lalu berjalan ke arah pintu untuk menutupnya, sembari terus mengingat apakah benar ia lupa menutupnya saat mengambil kalung bawang tadi. Hingga tiba-tiba terdengar samar-samar suara serak perempuan dari luar.

Tolong...bawa dia...mereka jahat...

Sontak Dika kembali membalikkan badannya dari arah pintu yang baru saja ditutupnya.

Sekilas ia melihat seorang orang anak perempuan sedang berlarian bermain di halaman rumah, lalu pergi begitu saja.

“Kenapa, Mas?” Suara Maya mengejutkan Dika yang tengah melamun.

Menggeleng, Dika berjalan kembali ke meja makan.

***

Keesokan paginya, Bu Siti mendatangi Maya di rumah, untuk mengantarkan masakan dan beberapa bahan makanan.

"Bu Siti baik sekali. Maya baru saja mau ke pasar, Bu, untuk beli bahan makanan,” ujar Maya tak enak hati telah merepotkan.

“Kemarin memang sedang masak banyak saja, ‘kan di rumah Ibu hanya berdua, siapa yang mau habiskan. Kalau sayur-sayur ini, keburu busuk kalau disimpan lama-lama, jadi biar segera bisa kamu masak untuk nanti. Sekarang, makan ini dulu saja. Kalau butuh apa-apa kabari Ibu, jangan sampai kelelahan, kasihan bayimu,” ucap Bu Siti mengusap perut Maya setelah meletakkan masakannya di meja ruang tamu.

Merasa ada yang aneh saat memasuki rumah Maya, Bu Siti menoleh ke kanan, kiri, depan, dan belakang. “Loh, ini mana, kok tidak ada?”

Kebingungan, Maya meminta Bu Siti mengatakan benda apa yang sedang ia cari.

“Kalung bawang!” jawab Bu Siti setengah panik.

Maya lalu menenangkannya bahwa sang suami lah yang semalam melepasnya, kemudian menanyakan mengapa ada benda tersebut di setiap pintu rumah warga.

“Pasang lagi, May. Jangan pernah dilepas! Nanti kalau Pak Kades tahu, kalian bisa dimarahi. Itu untuk menolak bala dan gangguan makhluk tak kasat mata!” tegas Bu Siti.

Maya bergegas mengambil kalung bawang itu dari dapur dan memasangnya kembali di pintu.

Merasa penasaran, Maya kembali bertanya ada apa sebenarnya hingga benda tersebut pantang untuk dilepas.

Enggan menjawabnya, Bu Siti hanya mengingatkan Maya dan suaminya agar mematuhi aturan di kampung ini.

“Satu lagi, jangan pernah keluar saat hari sudah gelap. Kalau memang sedang ada urusan di luar, usahakan saat kembali ke desa hari masih sore. Jika sudah terlanjur petang, lebih baik tunggu saja hingga esok hari baru kembali masuk ke desa. Pokoknya jangan ada kegiatan saat malam hari, diam saja di rumah dan tutup pintu,” jelas Bu Siti.

“Memangnya kenapa, Bu?” sahut Dika dari dalam kamar yang sudah rapi memakai kemeja dan celana bahan.

Tetap tak mau menjelaskan apa pun, Bu Siti hanya mengingatkan Maya dan Dika untuk patuh pada peraturan. Ia juga meminta Dika segera melamar kerja pagi ini juga, jika memang ingin melakukannya hari ini. Agar ia bisa kembali pulang ke rumah sebelum petang.

“Jaraknya sekitar 45 menit dari sini. Kamu bisa naik angkutan umum kalau mau murah. Biasanya mereka lewat di depan gerbang desa, jadi tunggu saja di sana. Ada ojek warga juga kalau mau cepat sampai, tapi sedikit lebih mahal. Minta saja diantar ke area penginapan dekat tempat wisata. Kamu bisa coba lamar satu per satu,” tukas Bu Siti, kemudian pamit pulang.

Dika lalu berpamitan pada Maya untuk mulai mencari kerja sesuai saran Bu Siti, setelah mendiskusikan hal ini semalam.

Saat berjalan menuju gerbang desa, Dika melihat sebuah bangunan yang seperti telah dihancurkan, krn hanya tersisa puing-puing bangunan. Ia juga melihat sebuah warung sembako yang cukup besar dan tampak ramai, sepertinya warga desa lain turut membeli di sana, karena ia tak melihat warung sembako lain selain warung itu. “Pasti yang punya juragan tani.”

Hingga saat sore harinya, Dika mengabarkan sebuah kabar gembira pada Maya. Kala ia telah diterima di salah satu hotel bintang 3 sebagai housekeeper, setelah ditolak di 4 penginapan yang berbeda. Itu pun karena hotel tersebut sedang membutuhkan cepat tenaga housekeeper. Meskipun awalnya ia ragu karena pekerjaan ini tak sesuai dengan jenjang pendidikan dan pengalaman karir sebelumnya, tapi tak ada pilihan lain karena ia harus menafkahi istri dan calon anaknya. Sembari suatu saat nanti ia bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengannya.

“Sudah jam setengah 5 sore, Mas. Segera pulang ya,” ujar Maya mengingatkan dalam panggilan teleponnya.

“Iya, sebentar lagi aku pulang. Ini masih ada briefing karena besok aku sudah mulai bekerja. Ada beberapa yang harus aku pelajari, May, karena ‘kan ini bukan bidangku,” jawab Dika, kemudian izin mematikan teleponnya.

Sampai waktu menunjukkan pukul 6 sore, Dika belum juga sampai rumah. Maya yang mulai cemas, mencoba terus menghubunginya. Namun tak satu pun panggilannya diangkat.

Sementara itu, Dika yang masih di depan hotel menunggu angkutan umum untuk pulang, kembali mendengar suara aneh seperti yang ia dengar sebelumnya.

Bawa dia...tolong...mereka jahat...

Dika yang tiba-tiba merinding, bergegas masuk ke dalam angkutan yang baru tiba di depannya.

"Takut ya, Mas?”

Dika sontak menoleh ke arah sumber suara yang seakan tak asing di telinganya.

...****************...

Terpopuler

Comments

Syahrudin Denilo

Syahrudin Denilo

baru sehari udah melanggar peraturan

2024-08-22

1

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝒌𝒍 𝑫𝒊𝒌𝒂 𝒌𝒆𝒓𝒋𝒂 𝒅𝒊 𝒉𝒐𝒕𝒆𝒍 𝒌𝒂 𝒑𝒂𝒔𝒕𝒊 𝒂𝒅𝒂 𝒔𝒉𝒊𝒇𝒕 𝒎𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒚𝒂 𝒋𝒅 𝒈𝒊𝒎𝒂𝒏𝒂 𝒂𝒕𝒖𝒉 😅😅

2024-07-12

1

Zuhril Witanto

Zuhril Witanto

siapa yang ngomong ma Dika

2024-07-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!