Dio mulai menjalankan apa yang Dika minta, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Meski ia mencoba mangkir, tapi arwah-arwah itu seakan terus mengawasinya. Mereka tak segan kembali meneror jika Dio tak melakukan apa yang Dika mau.
Saat Dika mengatakan tentang Roni kala itu, Dio langsung mengatur rencana untuk menemuinya, karena tak asing dengan kantor bisnis yang dijalankan mantan pembun*h itu.
“Halo, selamat pagi, perkenalkan nama saya Dio, saya sedang mencari hunian, dan saya tertarik dengan perumahan Luxkavling. Apakah bisa saya bertemu dengan Pak Roni langsung untuk bertanya soal rumah tersebut?” sapanya dalam panggilan telepon.
“Baik, Pak. Saya akan membuat appoinment dengan Pak Roni. Atas nama Bapak Dio ya,” jawab customer service yang Dio hubungi.
Setelah berdiskusi tentang jadwal temu mereka yang bersepakat pada esok hari, Dio menutup teleponnya dan melaporkan hal ini pada Dika.
Sementara itu, Dika yang masih berada di rumah karena sedang mendapat jatah libur, sengaja melepas gantungan kalung bawang dan menggantinya dengan yang palsu.
"Aku butuh petunjuk dari mereka. Aku ingin mendapat petunjuk lebih jelas,” ujarnya pada Maya.
Untuk saat ini, mungkin ia sudah tak lagi takut jika harus menghadapi kehadiran para arwah keluarga Pak Slamet. Bukan tanpa alasan, karena ia ingin hidup tenang tanpa teror. Lagi pula, ia percaya arwah keluarga Pak Slamet tidak akan menyakitinya. Sehingga, ia bertekad untuk menyelesaikan semua ini secara tuntas.
“Tapi aku takut, Mas. Aku takut setan-setan utusan Pak Kades itu akan menyerang kita,” ucap Maya tampak lemas.
“Ada aku, May. Kita lakukan apa yang suami Bu Siti sarankan. Rumah ini harus sering banyak dibuat mengaji,” tutur Dika menenangkan.
Melihat istrinya yang tampak pucat, Dika mengecek suhu tubuhnya.
39 derajat celcius.
Mengeluarkan segala macam obat penurun demam yang mereka punya, Dika merawat sang istri yang dimintanya berbaring. Dikompresnya berkali-kali kening Maya, agar panasnya segera turun. Beberapa kali juga ia mendengar Maya mengigau, menyebut-nyebut ibunya.
Hingga malam hari ketika Dika akan ikut tidur, terdengar kembali suara benda besar jatuh dari atas.
Bug!
Maya yang tengah tidur pun terbangun. Seakan sudah hafal, bila ada suara benda jatuh, maka tak lama akan terdengar suara toa yang mengabarkan kematian salah satu warga di kampung mereka.
Tapi bukan suara toa yang mereka dengar, melainkan suara menggelegar bak orang sedang tertawa. Maya dan Dika terus melafalkan doa-doa yang mereka hafal. Hingga tiba-tiba, Maya merasakan kontraksi yang luar biasa. Ia mengerang kesakitan membuat Dika semakin panik.
“Bukan kah belum waktunya, May? Apa dia menekan perutmu lagi?” tanya Dika cemas.
Tidak menjawabnya, Maya tak berhenti mengerang. Wajahnya kian memucat. Tubuhnya hampir dingin membeku. Dika pun semakin panik dan tak tahu harus berbuat apa.
Hingga angin datang begitu kencang, disertai hujan petir membuat sebagian benda-benda di dalam rumah berhamburan dan pintu yang terkunci pun terbuka.
Dak!
Seolah angin itu membawa pergi kesakitan yang Maya rasakan, hingga perlahan kondisinya kembali membaik, meski wajahnya masih terlihat pucat pasi.
Sementara itu di rumahnya, Kyai tampak bersila sembari mulutnya berkomat-kamit.
***
Selesai kejadian yang dialami sang istri, Dika memintanya untuk beristirahat. Sedang ia terus mengaji dan berdoa, memohon keselamatan untuk keluarga kecilnya. Sembari diusap-usapnya perut Maya yang buncit.
Ia lalu pergi ke dapur, ingin membuat teh hangat. Dika tampak kebingungan mencari keberadaan panci untuk merebus air. Hingga tak lama, terdengar suara panci jatuh.
Itu lah panci yang Dika maksud.
Meski merinding, ia mencoba tenang sambil terus berdzikir.
Ambil cincinnya.
Terdengar suara bisikan seorang wanita paruh baya, di telinga kirinya.
Ia pun bergegas kembali ke kamar, karena semua bulu kuduknya berdiri.
Saat keesokan paginya, Dio menghubungi Dika untuk mengabarkan pertemuannya kemarin dengan Roni.
“Aku tidak tahu apakah Roni dia yang kamu maksud,” ujarnya setelah mengirimkan foto yang ia ambil diam-diam saat bertemu Roni.
Saat panggilan masih berlangsung, Dika mengamati foto Roni yang Dio kirim.
“Feelingku sih iya pasti dia orangnya, meski aku tak tahu bagaimana dia 10 tahun yang lalu,” batinnya.
Kemudian ia terfokus pada cincin di jari tengah Roni, yang membuatnya seketika mengingat bisikan semalam.
Tak mau tahu, Dika meminta Dio untuk mengambil cincin yang dipakai Roni.
“Ha? Jangan gila kamu, Dik. Mana bisa aku melakukannya?” bantah Dio.
“Terserah! Kalau tak berhasil, kamu tanggung sendiri akibatnya,” jawab Dika lalu mematikan teleponnya.
Seketika Dio pun menggaruk kepalanya yang tak gatal, memorinya pun kembali dibayangi para peneror tak kasat mata itu.
Tak lama, Kyai menghubungi Dika, untuk menanyakan kabar Dika dan sang istri.
Dika kemudian mendiskusikan bisikan semalam, untuk melepas cincin Roni yang dianggap sebagai pelindungnya. “Apa benar begitu, Pak Kyai?”
“Kita coba saja, nanti saya bantu dari sini,” ujarnya singkat.
Setelahnya, Kyai memberikan nasihat pada Dika untuk menyiram tiap sudut rumahnya dengan air garam yang sudah dibacakan doa-doa yang diperintahkannya, juga meminumkan air tersebut pada Maya.
***
Hari ini, Dio kembali menjalankan aksinya. Ia yang sudah berjanjian dengan Roni untuk melihat rumah, segera menemuinya. Karena Roni belum datang, Dio dipersilakan oleh penjaga rumah untuk masuk lebih dulu, melihat-lihat penampakan dalamnya rumah tersebut.
Dipegangnya tembok yang menurutnya unik itu, diraba-rabanya tembok timbul itu dengan penuh kekaguman. Hingga tiba-tiba, tangannya merasa ada yang menarik. Seketika ia kaget dan reflek memundurkan langkahnya hingga menabrak meja kecil di belakangnya.
Di atas meja itu, terdapat beberapa hiasan, salah satunya adalah hiasan bola. Namun, saat Dio tak sengaja melihatnya, bola itu justru tampak terlihat seperti kepala manusia, berwajah lengkap dengan mata, mulut, dan hidung. Wajah itu menyeringai ke arahnya, membuat Dio kembali dibuat shock.
Mendengar kehadiran Roni, Dio segera bangkit dari lantai, lalu menyapanya.
Aktingnya tampak bagus, seolah ia sedang ingin membeli rumah yang Roni jual belikan.
“Ini adalah tampilan rumahnya nanti, Mas,” ujar Roni memperkenalkan setiap sudut ruangan di salah satu unit contoh.
Berpura-pura, Dio menanyakan apa pun agar Roni tak curiga.
“Mas, maaf nih. Saya salah fokus pada cincin Mas Roni. Kebetulan, saya suka mengoleksi cincin seperti itu. Apa boleh tahu di mana Mas Roni membelinya?” tanya Dio, saat mereka berada di pinggir kolam renang belakang rumah.
Hanya tersenyum ganjil, Roni mengaku tak membelinya, melainkan mendapatkannya dari sang ayah.
“Boleh saya mencobanya sebentar saja, Mas? Karena model itu seperti yang saya impikan dari dulu, tapi tidak pernah saya temui di mana pun,” lanjut Dio.
Merasa aneh dengan permintaan Dio, Roni seakan enggan untuk menurutinya. Tapi di sisi lain, ia takut calon pembelinya akan berubah pikiran ketika tak dipinjami. Akhirnya, Roni pun melepaskan cincin itu dan memberikannya pada Dio. “Tapi sebentar saja ya, Mas.”
Dengan wajah sumringah, Dio mulai memakainya. Setelah di rasa cukup, ia pun melepaskan dan berniat untuk mengembalikannya pada Roni. Namun, ia berpura-pura menjatuhkan cincin itu, hingga membuat mereka berdua menunduk ke bawah.
Tak berlangsung lama, seperti ada yang mendorong Roni dari belakang hingga tercebur ke kolam.
Dilihatnya lelaki itu mengangkat tangannya ke atas untuk meminta tolong.
Dio yang tak bisa berenang, hanya melongo. Apalagi dilihatnya Roni berkali-kali terjungkal ke belakang seperti ada yang menarik dan menenggelamkannya. Dio yang ketakutan pun langsung berlari pergi memanggil penjaga rumah untuk meminta bantuan.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Hasra Nita
alhamdulillah ada yg nolong 😭😭😭😭
2024-10-29
2
Risma Ariesta
upzzz...ternyata oma salah mengira, oma kira Dio itu roni, palsukan identitas nya
2024-08-29
1
Syahrudin Denilo
waduh adegannya kyknya di sinetron
ohh ternyata Dio bukan roni
2024-08-22
0