Bab 15

Pagi hari saat bangun tidur, Dika merasa badannya pegal-pegal seperti habis berlari maraton dan mengangkat beban berat. Punggungnya linu, kepalanya sedikit berat untuk diangkat.

Diambilnya ponselnya, untuk mengecek sesuatu barangkali ada info penting dari hotel. Ia lalu duduk bersantai di teras rumah. Saat membaca pesan singkat yang masuk, didapatinya kabar kematian Agung dalam kecelakaan semalam. Seketika ia merasa bersalah.

“Andai saja Agung tak mengantarku pulang, mungkin ia akan baik-baik saja saat ini, maafkan aku, Gung,” sesalnya.

Ia lalu menginformasikan berita ini pada Maya yang sedang mengantarkan segelas kopi panas di atas meja.

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Mas. Namanya kematian itu pasti terjadi pada setiap yang bernyawa, tak peduli di mana pun dan kapan pun. Mungkin memang ini sudah takdirnya temanmu itu,” hibur Maya mengusap punggung suaminya.

Sontak Dika juga mengingat ucapan Kyai semalam pada Agung, seolah sudah bisa menebak kematian temannya itu.

Maya lalu mengajak suaminya untuk melayat di kediaman Bu Siti.

Di rumah duka, suami Bu Siti hanya bisa menangis meratapi mayat istrinya yang terbujur kaku.

Maya mendekati tubuhnya, lalu mencoba memegangnya. Dirasakannya tubuh sahabat ibunya itu benar-benar kaku. Tidak seperti mayat pada umumnya.

“Semalam, saat badannya demam tinggi, dia bilang kalau bertemu ibumu dalam mimpi, dia diminta mengatakan padamu untuk berhati-hati dan jangan tinggalkan ibadah. Bisingkan rumahmu dengan lantunan ayat-ayat Al Quran katanya. Tapi sayang, tak lama setelah itu, belum sempat dia menyampaikan pesan ibumu...” Suami Bu Siti tak dapat melanjutkan kata-katanya, hanya isak tangisnya yang terdengar.

Seketika air mata Maya pun terjatuh, mengingat perhatian dan kebaikan Bu Siti padanya sejak ia pindah ke kampung ini. Bahkan, Bu Siti sudah menganggap Maya seperti anaknya sendiri. Begitu pun dengan dirinya, yang merasakan kehilangan, seperti kehilangan sosok ibu keduanya.

“Sekarang tidak ada lagi yang bisa menjagaku,” gumamnya terenyuh.

Sementara Dika terus mengusap-usap punggung sang istri untuk menguatkannya.

Saat akan berpamitan pulang, Maya tak sengaja melihat salah seorang anak buah Pak Kades yang ia tahu, berdiri di samping rumah Bu Siti, seolah sedang mengawasi sesuatu.

Saat telah di rumahnya, Maya masih memikirkan kematian Bu Siti yang dianggapnya tak wajar. Berdasar informasi yang ia dapat, Bu Siti tiba-tiba demam tinggi. Anehnya, tubuhnya juga kaku, sama seperti pengakuan anak tetangga yang meninggal kemarin. “Apa nyawa Bu Siti sengaja dilenyapkan karena sudah membeberkan informasi pada kita? Tapi, kalau benar begitu, lalu apa hubungannya dengan tetangga depan rumah kemarin yang juga meninggal, apa dia juga melakukan hal yang sama, karena tubuh mereka sama-sama ditemukan terbujur kaku?"

"Untuk kematian tetangga depan rumah aku tak tahu sebabnya. Tapi untuk Bu Siti, aku rasa ini ada hubungannya dengan beliau yang memberi kita informasi. Kalau memang benar, sungguh kejam Pak Kades dan keluarganya. Sudah tak bertanggung jawab, sekarang malah menghilangkan nyawa orang. Benar-benar manusia berhati iblis,” kesal Dika.

Tak lama, ponsel Dika berdering. Ada seorang teman kerjanya yang mengabarinya sesuatu. Temannya itu tampak mengirimkan sebuah foto padanya melalui pesan singkat.

“Astaga!” ujar Dika menutup sebelah matanya, saat melihat foto keadaan tubuh Agung saat kecelakaan semalam.

Menurut penuturan temannya juga, tubuh Agung tak hancur meski sempat terpental jauh dan motornya hancur berkeping-keping, tapi justru tubuh Agung membeku tak bisa ditekuk.

Maya yang juga melihatnya, sontak memikirkan hal yang sama dengan Dika.

“Ini tidak mungkin hanya kebetulan. Tapi kenapa temanmu juga kena imbasnya? Apa karena dia membantumu bertemu Pak Kyai?" tebak Maya.

Tak menjawab, Dika menatap lurus ke depan menggelengkan kepalanya.

***

Siang ini Dika kembali ke hotel untuk berjuang menemukan informasi tentang Roni, setelah memastikan istrinya aman berada di rumah.

Ia kembali menemui satpam hotel bernama Sugeng, untuk menanyakan hal ini. “Siapa tahu, teman Bapak yang waktu itu diceritakan tahu tentang informasi pelaku."

Merasa aneh dengan pernyataan Dika, satpam tersebut hanya menyarankan Dika untuk mencari sumber informasi dari media cetak di tahun bersangkutan.

“Masalahnya, Pak. Saya sudah coba mencari beritanya di internet, tapi saya hanya bisa melihat perawakan tubuhnya saja karena mukanya disensor. Tak ada berita terkait yang menerangkan dia bersekolah di mana saat itu,” ujar Dika putus asa.

“Kalau tidak salah dulu dia kuliah di Universitas Menara. Memangnya kenapa mau mencari tahu? Kurang kerjaan sekali. Lagi pula paling juga dia masih di penjara. Jenguk saja dia di sana,” saran satpam membuat Dika kemudian berpamitan padanya, karena tak ada informasi berarti yang didapat.

Ia lalu bertanya pada teman kerjanya satu per satu, terutama yang seusia dengannya, karena usia Roni saat ini hampir sama dengannya.

Dari 5 orang yang ia tanya, tak ada satu pun yang tahu. Ia pun semakin putus asa bahkan hampir stres. Entah mengapa ini adalah tugas yang berat baginya.

Tak tahu lagi harus bertanya pada siapa, Dika memutuskan untuk mendatangi rumah Pak Kyai lagi, sendirian.

“Yang kamu hadapi ini tidak main-main lho, Le. Mereka sangat kuat,” ujar Pak Kyai saat Dika mendatanginya.

“Saya tidak peduli, Pak. Saya hanya ingin bisa hidup tenang tanpa gangguan apa pun. Selain itu, saya juga mau keadilan ini ditegakkan. Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan keluarga korban andai mereka masih mempunyai keluarga yang ditinggalkan,” ucap Dika optimis.

“Dia ada di Jakarta sekarang. Sedang berjaya dengan bisnis jual beli propertinya," lanjut Pak Kyai.

Mendengar jawaban Pak Kyai, Dika pun dibuat geram dengan keadaan Roni saat ini, yang seolah tak mendapatkan balasan apa pun dari perbuatan kejinya.

...****************...

Terpopuler

Comments

Rasmel Nasrun

Rasmel Nasrun

jelas dio dan roni itu orangnya sama, kan udah dikasih kode oleh author sebelumnya, iya kan Thor????!

2025-01-01

1

Risma Ariesta

Risma Ariesta

apa mungkin Dio itu si roni kepokannya pak kades dg jati diri yg dipalsukan?!

2024-08-29

2

Syahrudin Denilo

Syahrudin Denilo

waduh bang Roni enak enakan
tunggu pembalasanku

2024-08-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!