Saat masih berada di meja kerjanya petang ini, Dio tampak kesal karena hampir setiap hari ia harus lembur.
“Sial, gara-gara Dika kabur, semua pekerjaannya aku yang harus handle, mana banyak lagi!” gumamnya berdiri lalu berjalan menuju mesin printer yang tak jauh dari mejanya.
Saat tengah mencetak, bukan dokumen yang ingin ia cetak yang keluar, melainkan secarik kertas dengan tulisan berwarna merah darah yang membuatnya bergidik.
Mengaku atau mati!
Tubuhnya gemetaran, keringatnya mengucur deras. Dipandanginya sekeliling ruangan, hanya ada dirinya dan salah satu karyawan lain yang sedang lembur. Dirobeknya kertas itu lalu dibuangnya ke tempat sampah.
Dio pun kembali mencetak berkas yang ingin dicetaknya. Lagi-lagi, secarik kertas keluar dengan tulisan yang sama. Kali ini, mesin printer secara tiba-tiba terus menerus mengeluarkan kertas kosong, padahal ia hanya mengatur untuk 1 kali cetak 1 halaman saja.
Mencoba mematikannya berkali-kali, tapi tetap tak bisa. Printer terus menyala dan mengeluarkan kertas sampai habis. Kertas terakhir yang keluar, kembali membuat tubuhnya bergetar kedinginan.
Penjahat akan mati!
***
Malam ini, Dika mencoba mencari-cari berita terkait kasus pembu**han di kampung ibu mertuanya 10 tahun lalu. Sedikit banyak, ia sependapat dengan celetukan Fajar tadi siang. Mungkin bisa saja pelakunya tak benar-benar dihukum atau tak mendapatkan hukuman yang setimpal, sehingga membuat arwah para korban tak terima.
“Kamu tetap berpikiran begitu, Mas?” tanya Maya meletakkan secangkir teh di meja.
“Menurutku ada benarnya juga, May. Kita tidak tahu apa yang mereka lakukan dulu. Bisa jadi, si Roni itu tidak ditangkap, atau dibebaskan begitu saja oleh keluarganya alias ditebus setelah baru beberapa tahun penjara. Kamu sendiri ‘kan yang bilang kalau keluarga mereka berpower.” Dika mengutarakan opininya.
Tak sependapat dengan suaminya, Maya merasa bahwa tak mungkin jika Roni tidak dihukum, sedangkan dalam cerita Bu Siti kala itu, polisi telah turun tangan. Apalagi dengan adanya bukti nyata kejahatan Roni, membuatnya tak mungkin lepas dari jeratan hukum begitu saja. Kalau pun memang ia sekarang sudah bebas, setidaknya ia sudah mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan telah menjalani hukuman penjara. Masalah berapa lamanya hukuman itu, tak ada hubungannya dengan arwah para korban.
“Aku rasa memang mereka hanya bergentayangan saja, karena meninggal tak wajar,” tutur Maya.
Hingga ketika mereka tengah asyik berdebat, terdengar suara seperti benda besar jatuh dari atas.
Dak!
Maya yang ketakutan, seketika mendekat pada sang suami. “Suara apa itu, Mas?”
Hanya menggeleng, Dika menenangkan sang istri. “Mungkin hanya batu jatuh karena angin, atau buah mangga yang jatuh dari pohon belakang.”
Tak lama, terdengar suara toa yang mengabarkan bahwa ada salah seorang warga yang meninggal dunia. Yang membuat Dika kesal adalah, ketika sumber suara itu menyatakan bahwa warga tetap diminta untuk berada di dalam rumah hingga esok hari. Bagaimana bisa ada tetangga mereka yang meninggal, bukannya segera diurus malah ditunda esok hari.
“Bagaimana perasaan keluarganya?” kesalnya.
Meminta suaminya tak emosi, Maya menjelaskan bahwa bisa jadi hal seperti ini sudah terjadi selama 10 tahun terakhir, sehingga para warga sudah terbiasa.
Mendengar suara tangis yang sepertinya dari keluarga si mayat, Dika dan Maya lalu mengintipnya dari jendela rumah.
Rumah duka yang berada di depan rumah, membuat mereka bisa secara jelas memperhatikan bagaimana kesedihan keluarga saat berada di hadapan jenazah yang tengah dibaringkan.
“Lihat ‘kan, betapa jahatnya aturan kampung ini. Biasanya kalau di desa-desa, jam segini masih bisa mengejar waktu untuk segera dilakukan pemakaman. Tapi karena aturan konyol, mereka tak bisa melakukannya. Padahal, si mayat juga harus segera diurus dan disholatkan. Aku ingin benar-benar menguak aturan ini,” ujar Dika kesal.
Tiba-tiba, Maya mengerang kesakitan pada perutnya. “Aduh duh, arrghh, perutku sakit, Mas, seperti ditekan.”
Dika yang panik, langsung menggendong Maya ke kamar sembari mulutnya berkomat-kamit membaca ayat-ayat suci yang ia hafal.
Hingga tak lama, Maya pun mulai membaik meski masih merasa kesakitan, sementara Dika bergegas mengambil wudhu dan mengaji di dekat sang istri.
***
Keesokan paginya, Bu Siti menjenguk Maya di rumahnya, setelah mendapat kabar dari Dika bahwa Maya sakit dari semalam.
"Sekarang sudah sehat, Nduk?” tanya Bu Siti mengelus perut Maya.
Dengan lemas, Maya mengangguk.
“Ibu benar-benar tidak mau ada apa-apa sama kamu juga janinmu. Sudah lah, tidak usah ikut campur soal aturan di kampung ini. Ibu tahu kalian pasti masih mencari tahu,” tegur Bu Siti.
Bu Siti juga mengatakan bahwa meskipun ia jarang melihat Maya yang sedari lahir sudah di Jakarta, tapi ia telah menganggapnya seperti anaknya sendiri, hal itu lantaran Maya adalah anak dari sahabatnya semasa kecil, dan juga karena ia tak bisa memiliki anak hingga masa tuanya.
“Semenjak ibumu pergi dan kamu pindah ke sini, apalagi setelah tahu kamu sedang hamil, Ibu bertekad ingin menjagamu dan calon anakmu. Jadi tolong, nurut ya sama Ibu, Nduk, Le,” lanjut Bu Siti memohon.
"Tapi memangnya ada apa sih, Bu? Kami tidak mungkin menerimanya begitu saja. Apalagi kami sudah diganggu, Dika tak terima. Pasti ada yang aneh dan sengaja ditutupi kalau sudah seperti ini,” tolak Dika.
Bu Siti pun berdiri dan menghela nafas panjangnya. “Justru itu, kalau kalian tetap seperti ini, Ibu takut mereka akan semakin marah dan membahayakan kalian.”
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
kagome
bu siti anak buah pak kades ya thor
2024-10-26
0
kagome
jangan-jangan dion itu roni
wah sok tau aq thor
kepooooooo🤣
2024-10-26
0
Syahrudin Denilo
wah belum terungkap nih misteri
2024-08-22
0