Dika meminta tolong Agung untuk memecahkan masalah ini, meski awalnya Agung menolak karena tak ingin ikut campur.
“Ayolah, Gung, siapa tahu kamu punya kenalan dukun atau orang pintar? Kita haru cari si Roni itu dan minta bantuan orang pintar ini untuk melepaskan pelindungnya,” pinta Dika memohon.
“Gara-gara kamu nih, Dik, aku jadi terlibat persoalan gaib macam begini. Nanti deh aku coba cari, dulu ibuku pernah melepaskan tenun pakai jasa orang pintar juga,” ujar Agung yang akhirnya mau membantu Dika.
Sementara itu di Jakarta, beberapa hari ini Dio tak dapat masuk kerja. Fokusnya terpecah kala mencoba untuk tetap bekerja. Batinnya tertekan, jiwanya penuh dengan ketakutan. Bukan hanya dihantui oleh perasaan bersalah saja, tapi juga benar-benar dihantui oleh teror menakutkan dari para tak kasat mata.
Setiap hari rasanya tak pernah absen ia mendengar suara aneh, yang selalu meminta ia mengakui semuanya, bila tak mau mati. Bukan hanya itu, kaca di rumahnya juga tiba-tiba mengeluarkan tulisan merah darah dengan kata-kata yang sama. Seketika pikirannya mengarah pada Dika, teman kerjanya dulu.
Sampai suatu ketika, Dio terpaksa mendatangi orang pintar untuk menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi padanya dan bagaimana menangkalnya.
“Satu-satunya jalan adalah kamu harus meminta maaf pada temanmu yang sudah kamu rugikan itu. Kalau tidak, mereka akan terus mengganggumu,” ujar orang pintar yang Dio temui.
Tak paham, Dio menanyakan siapa yang dimaksud mereka itu.
“Kalau yang saya lihat, ada 3 arwah perempuan dan 1 laki-laki yang mengganggumu,” jawabnya
Ketakutan, Dio seakan dibuat bingung karena ia enggan untuk jujur, tapi di sisi lain ia sudah sangat depresi dengan teror ini.
***
Malam harinya saat Dika tak bisa pulang karena sedang mendapat jatah shift, Maya menghubunginya.
“Mas, Bu Siti,” ucap Maya menangis.
“Kenapa Bu Siti?” tanya Dika tak paham.
Masih terisak, perlahan Maya mengabarkan bahwa Bu Siti baru saja meninggal.
Seketika Dika terdiam dan menelan kasar salivanya. Entah mengapa, di saat seperti ini sulit sekali jika tak berprasangka buruk. Apalagi, Bu Siti baru saja membeberkan fakta mengejutkan terkait kasus Pak Slamet.
“May, kamu hati-hati ya di rumah sendiri, terus berdoa. Besok subuh aku akan segera pulang,” pinta Dika yang mulai mencemaskan istrinya.
Tiba-tiba, panggilan Maya terputus. Samar-samar, ia mendengar suara nenek-nenek itu berbicara. Tak berani menoleh ke belakang, Maya memejamkan matanya.
Ojo melu-melu.
(Jangan ikut campur).
Menengo ae.
(Diamlah saja).
Terus memejamkan matanya, ia hanya bisa menangis. “Ibu, tolong Maya."
Terisak, ia tak ada kekuatan untuk berpindah posisi. Menggerakkan kepalanya pun tak berani. Hingga nafasnya terputus-putus.
Setelah itu, entah mendapat keberanian dan bisikan dari mana, Maya segera berlari menuju pintu dan melepas gantungan bawang. Tujuannya, agar para arwah keluarga Pak Slamet bisa masuk untuk menolongnya. Hingga tak lama, suara benda jatuh pun terdengar dari ruang tengah.
Meringkuk ketakutan, Maya hanya bisa menangis dan menyebut-nyebut sang ibu. Kini tak ada lagi yang bisa menolongnya sepeninggal Bu Siti. Tubuhnya bergetar dan tak berani lagi membuka matanya. Hingga tiba-tiba, ia mendengar suara seorang anak perempuan berbicara di telinga kirinya.
Jangan takut, Mbak.
Maya mencoba membuka matanya perlahan, tak ada siapa pun. Kondisi rumahnya pun kembali hening. Tak ada suara apa pun yang terdengar.
***
“Dik, ini nomor teleponnya. Aku minta dari ibuku,” ucap Agung bersemangat menghampiri Dika yang tengah membersihkan kasur di salah satu kamar hotel, sembari menunjukkan secarik kertas kecil bertuliskan nomor ponsel.
Segera merebutnya, Dika kemudian mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi nomor tersebut.
"Namanya Pak Didin. Beliau bukan dukun, tapi kyai. Hanya saja, kata orang-orang di desanya, beliau bisa melihat hal-hal gaib,” lanjut Agung.
Hingga panggilannya tersambung, Dika segera menceritakan apa tujuannya menghubungi kyai tersebut hingga pembicaraan mereka dalam telepon itu berakhir beberapa menit kemudian.
“Beliau bilang, aku harus mengambil air minum di rumahnya, yang sudah didoakan, untuk menjaga istriku yang sendirian di rumah. Sepertinya beliau tahu seperti apa makhluk yang mengganggu rumahku. Aku takut terjadi apa-apa pada Maya. Apa rumahnya jauh, Gung?” tanya Dika, setelah mengakhiri panggilan dengan Pak Kyai.
Tampak berpikir, Agung melihat arlojinya yang menunjukkan pukul 10 malam.
“Ya sudah, ayo aku antarkan, pakai motorku saja,” ajak Agung bergegas pergi.
Agung dengan handalnya berpamitan pada atasannya untuk keluar hotel dengan alasan ingin membeli air mineral yang sebagian sudah habis.
15 menit kemudian, tiba lah mereka di rumah Kyai Didin. Dika yang tengah cemas, segera turun dari motor Agung dan mengetuk pintu rumah sang kyai. Hingga tak lama, pintunya pun terbuka.
“Siramkan di setiap sudut rumahmu. Hati-hati, jangan lupa sambil dzikir meminta perlindungan Allah SWT. Mereka mengincarmu juga istrimu,” ujar Kyai menyodorkan air dalam botol besar pada Dika.
Mematung, Dika masih kebingungan.
“Stt, stt, Dik. Ayo!” ajak Agung menarik lengan Dika yang masih berdiri di depan pintu, setelah mengucapkan terima kasihnya pada kyai tersebut.
“Le, semoga Gusti Allah menerima amalanmu,” ujar kyai pada Agung, yang telah bersiap di atas motornya.
Melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, Agung mengantar Dika ke rumahnya, tak peduli dengan larangan kampung.
Jalanan malam hari yang sepi, membuat mereka hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai di depan gerbang desa. Dika lalu meminta temannya itu untuk segera meninggalkannya, tapi Agung enggan melakukannya, karena ingin menemani Dika sampai ke rumahnya. Dika yang tak enak hati, meminta Agung untuk kembali ke hotel saja dan menyampaikan izinnya pada atasan mereka bahwa ia akan kembali ke hotel besok pagi.
“Ya sudah kalau begitu, Dik. Jaga diri baik-baik ya, hati-hati. Oh iya, Dik, aku juga ingin meminta maaf bila banyak salah selama ini,” pamit Agung kemudian melajukan motornya.
Mengendap-endap, Dika berjalan menuju rumahnya. Entah mengapa, langkah kakinya kembali membawanya berjalan melewati jalan depan rumah Pak Kades, seperti saat pertama kali ia pulang malam. Padahal, ada akses jalan lain menuju rumahnya.
Kembali ia lihat apa yang ia lihat dulu. Aktivitas yang Pak Kades lakukan, dengan bersimpuh seperti orang yang sedang memuja sesuatu, dengan membawa mangkok tanah liat seperti wadah sesajen. Karena rasa penasaran yang tinggi, Dika memperhatikannya baik-baik, dengan melambatkan langkahnya.
Namun sesuatu membuat langkahnya bukan lagi melambat, melainkan berhenti.
Sosok bertubuh hitam legam besar tampak dengan jelas berdiri di depan Pak Kades yang sedang memujanya.
Sontak Dika berlari kala Pak Kades dan makhluk tersebut melihat ke arahnya.
Sementara itu, Agung yang sedang dalam perjalanan untuk kembali ke hotel, tiba-tiba hilang kendali hingga sebuah truk bermuatan BBM menabrak motornya.
Seketika tubuhnya terlempar jauh dari motornya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
arniya
serem....
2024-11-02
1
Syahrudin Denilo
agung wasalam
2024-08-22
1
Biah Kartika
pak kyai sudah tau klo agung akan tiada, makanya berucap begitu..
2024-08-20
2