Sementara itu di hotel, saat sedang istirahat, Dika dan Agung kembali mengobrol. Kali ini, Dika izin ke kamar Agung, karena ia trauma saat tidur di kamarnya. Ia lalu meminta Agung untuk melanjutkan ceritanya kala itu.
“Ya pokoknya kasus itu sampai ada di berita televisi dan di koran-koran. Entah bagaimana sekarang perkembangan kasusnya,” ujar Agung.
Mengajaknya diskusi, Dika kembali menceritakan kejadian di hotel yang ia alami, termasuk bertemu satpam jadi-jadian bernama Slamet yang ternyata adalah salah satu korban kasus pembunu**n itu.
“Menurutmu apa maksudnya dia bilang begitu? Mau minta tolong apa? Logikanya saja, kejadian ini sudah lama, pelakunya telah dihukum dan para korban telah dimakamkan, lalu apa lagi masalahnya? Kalau pun mau minta tolong, kenapa malah mereka ganggu aku?” protes Dika pada temannya itu.
Mengangkat kedua bahunya, Agung mengaku tak paham dengan hidup Dika yang horor. “Tapi aku rasa, mungkin memang mereka sedang meminta tolong. Apa ada yang tidak sempurna saat prosesi pemakamannya ya? Atau ada bagian tubuh mereka yang masih hilang atau tak ikut dikubur bersama. Siapa tahu.”
Merasa sependapat dengan temannya, tapi ada perasaan tak setuju juga dalam benaknya.
Hingga Agung pun meminta Dika untuk tak lagi membahasnya karena ia mulai merinding. “Sudah, kalau mau tidur di sini, cepat tidur. Jam 2 nanti aku harus tugas lagi karena ada yang mau check out.”
Ingin membuktikan apakah benar jika warga yang membahas kasus ini, maka akan didatangi dalam mimpi oleh arwah para korban, Dika mencoba segera tidur, berharap ia akan menemukan jawabannya.
Hingga saat terlelap, ia kembali mendengar samar-sama suara seorang perempuan yang pernah didengarnya dulu, tapi kali ini juga diikuti dengan suara laki-laki seperti suara satpam bernama Slamet yang ia temui kemarin.
Dia harus mati...
Mereka semua harus mati...
Tolong kami...
Mereka jahat...
Tak hanya itu, dalam mimpinya juga terpampang jelas wajah satpam itu sedang berdiri bersama tiga perempuan di samping kirinya. Mereka terlihat kompak menggerakkan tangannya seakan memberi kode pada Dika untuk mengikutinya. Hingga hal itu membuat Dika bangun gelagapan.
Nafasnya kembali tak teratur, tubuhnya penuh keringat dingin.
Sementara itu di tempat lain, seorang laki-laki bernama Dio yang baru saja pulang lembur dari kantornya, merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Tapi saat ia menoleh, tak ada siapa-siapa. Hingga beberapa kali itu terjadi.
Saat menaiki motornya, ia seperti merasa ada yang duduk di belakangnya. Motornya juga terasa berat. Tak diindahkannya, ia berlalu melajukan kendaraannya.
Sosok perempuan terlihat duduk di jok motor belakang Dio, menyengir ke arahnya.
***
Keesokan paginya, Bu Siti mengantar Maya pulang ke rumah, setelah mengajak sarapan bersama dengannya.
“Ingat kata-kata Ibu semalam ya, jangan lagi membahasnya jika kamu tak ingin diganggu. Ibu khawatir dengan kondisi janinmu. Mereka itu suka dengan janin. Jadi, patuhi saja aturan kampung ini biar kita semua aman,” jelasnya.
Bu Siti juga mengingatkan Maya untuk terus berdoa, agar ia selalu dilindungi.
Setelah memastikan Maya baik-baik saja saat sendirian di rumah, Bu Siti pamit pulang karena harus membantu sang suami di kebun.
Maya pun mengucapkan terima kasihnya dan kembali masuk rumah. Meski masih ada rasa takut, tapi ia mencoba memberanikan diri karena hari sudah pagi, sehingga tak mungkin jika makhluk-makhluk itu akan menampakkan dirinya. Dibukanya semua jendela dan pintu, agar sirkulasi udaranya baik dan cahaya matahari bisa masuk ke dalam rumah.
Bermaksud ingin menyapu halaman belakang rumahnya, tak sengaja ia melihat ada sebuah botol tanah liat berbau kemenyan di sana. Setengah menutup hidung, diambilnya botol itu. Diperhatikannya baik-baik benda aneh yang kini sudah berada di tangannya.
“Kata Bu Siti, benda yang seharusnya ada di setiap rumah warga hanya lah kalung bawang. Jadi tak seharusnya benda ini ada di sini, tapi kenapa tiba-tiba ada? Perasaan dari kemarin-kemarin aku tidak melihatnya,” batinnya.
Terlalu lama jika harus menanyakan hal ini pada suaminya yang baru akan pulang sore hari nanti, ia memutuskan untuk menghancurkannya. Dipukulnya botol itu dengan parang yang ada, hingga menjadi serpihan-serpihan kecil. Debu yang berada di dalamnya pun bertaburan.
“Tak peduli apa maksud benda ini ada di sini, tapi yang jelas ini sudah tidak benar dan tak ada manfaatnya! Dasar kampung aneh!” umpatnya.
Saat masih menumpahkan kekesalannya, ia dikejutkan dengan suara gedoran pintu yang begitu keras.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Syahrudin Denilo
kyknya bukan roni pelakunya
tapi pak kades dan komplotannya
2024-08-22
2
Biah Kartika
mgkin proses pemakaman mereka gak beres di lakukan pak kades dan para ajudannya
2024-08-20
1
Fitri nur Jannatin
nginep di bu siti aja deh pas sendirian
2024-08-13
1