...Chapter 9...
Haduh Pak- pak, boleh kuakui tekadmu cukup berani, gemilang mendeklarasikan kemerdekaan kewilayahan di tanah kenegaraan republik. Cuman gimana, ya? Bingung juga cara diri mengutarakan.
Hmmmmh- e- kenapa menjelma macam orang gangguan, dah? Intinya begitu, diri tiada memiliki kelapangan sebagaimana kodrat makhluk hidup.
Ealah, kenapa gak langsung terus terang aja, sih? Terlebih penabuhan gendang perang telah terngiang, bergegas dibunyikan sekencang tenaga seiring lempar jawab diungkapkan bagi kedus belah pihak. Ahhh kampret, gak paham lagi, memang semua cowok tidak pekaan, ya? Di antara sekian banyak keputusan, berbagai kebijakan opsi dengan keanekaragaman manfaat, keambiguan selaku rupa ketidakjelasan malah timbul, berulang-ulang melaksanakan rutinitas tanpa pemberhentian, mengukuhkan ketidakpastian lienar naluriah oposisi selagi atraksi penjatuhan harga diri diutarakan.
Hhhh, jangan harap skakmat yang diberi mampu menghambat kemenangan di depan mata.
“Heeeh, menuduh akibat tak sanggup meneguhkan kebenaran rangkuman? Sangat tidak mengherankan, sih.”
Rasain, emang enak dibalas mengenakan kecacatan? Pffft, tolong jangan mengajakku berdebat, toh juri sudah sedari awal memutuskan kemenangan mutlak teruntuk diri.
Graaaaahhh!
Mendapati esensial kehadiran dipijak, menenggelamkan tahta kehormatan oleh seorang atasan berperilaku kurang ajar, pelayangan bermakna ganda kemudian tersembul, mengkristalisasi kesengajaan sejalan perintah pemikiran, tanpa basa-basi menyampaikan ketidakcakapan sekaligus pembongkaran sebuah aib bagi keproseduran perwalian.
Haahh, aku tidak tahu kalian mempelajari ini dari mana, namun ketidakinginan menyebut nama sebenar tertutup, sanggup menyelimuti dosa besar pada suatu kehadiran bersamaan pengeluaran pistol sedari salah satu kantong. Yeah, benar sekali, benda ini merupakan dalang, suatu alat percobaan pembunuhan demi mengelakkan persentase penusukan sesama keanggotaan.
Fuuuuh.
Omong-omong diri udah gak peduli, loh. Mau kau tewas, atau hidup dengan sebuah kecacatan di bagian tubuh enggan menjadikan niatan menciut. Santai aja kawan, tak perlu tegang macam tuh. Ini cuman pistol, kok. Dan dalam hitungan detik kemuncratan cairan merah akan menimpa, menyebarkan sel-sel nonaktif sewaktu peledakan tengkorak mengungkapkan keberhasilan.
Rileks, menghantarkan nyawa seseorang supaya sedikit lebih dekat dengan kematian merupakan suatu kenormalan karakteristik teruntuk kepribadian. Jadi jangan heran pemegangan teguh, tiada memperlihatkan aksi goyang-goyang tak teratur sebagaimana keawaman manusia sewaktu awal mula menggenggam benda kematian.
Kekerasan luar biasa, aku datang menghampirimu, sobat.
“Hey-hey, perubahan iklim, suhu dan juga kejadian yang menimpa engkau jadikan sebagai alibi fatamorgana? Ditambah kejelasan makna sebenar mengenai Crultostamune enggan kau cebur, menggali keberadaan pada kedalaman sumur? Sehat, nih?”
“...?”
Yeeeh, bisa aja kau ngelak. Tolong untuk tidak mengikutsertakan alibi sebagai penguat argumentasi. Serius, alih-alih menolong, ketidakselarasan di atas lembaran seolah mengkambinghitamkan para cendekiawan atas ketidakbecusan dalam menorehkan pengetahuan.
Haaaahh.
Meski alam bawah sadar untuk kesekian kali membunyikan lonceng kematian, ketidakinginan mengungkap masalah terkini alhasil menombak, membenamkan ketidakinginan kekalahan membayang, segera mewujudkan ketidakhadiran ekspresi sejalan ujung senjata menodong, dikerahkan tepat ke bagian belakang otak, meletakkan posisi diam seiring penarikan ujung pelatuk bersamaan pelontaran nan konyol sedari perpindahan indera pengecap.
Ya ampun, sebegitu banget tidak ingin mendeklarasikan bendera putih? Pak? Sehat, kan? Entah hanya firasat atau keidiotan anak kecil bersemayam persis di kedalaman otak? Aelah, ada ya orang dengan karakteristik se-menyenyebalkan nih? Udahlah salah, gak mau ngaku dan itu belum ditambah percobaan pengungkitan.
Memang lelaki brengs*k!
Udah biarkan, gak perlu ditanggapi seperti menit awal. Meladeni keidiotan tidak lain melahirkan sinergi berlebih lagi menyakitkan.
“Haah-”
“Kuharap persediaan pistol sedia untuk membolongi pengerasan tengkorak.”
Nih udah kutanggapi, cepat masuk ke sini sebelum kecacatan sepasang panca indera membayangi seumur hidup.
Hhhh.
Diakibatkan tantangan merogoh, mengotak-atik ketidakpahaman dalam naluriah, improvisasi oposisi lantas kujawab, memblokir akses ketidaksenangan untuk sementara waktu, bergegas memasuki lorong dengan panjang entah sampai mana selepas benda pencabut nyawa diletakkan persis di bagian tengah dada.
Bener-bener, bukan tanpa alasan perosotan dilaksanakan. Toh sudah menjadi kewajiban diri menjawab, memecahkan problematika yang dibuat antara catatan cendekiawan dan salah seorang perwalian. Jangan berpikir ini sudah berakhir, penerjunan raga ke dalam lubang menjadi titik awal, sebuah kemajuan daripada penuntasan rasa penasaran.
Ketidaksabaran bertindak, ultimatumku berlaku sampai nyawa kembali ke pangkuan Kemahakuasaan.
Hoooooh.
Bolehlah, lumayan mengasyikkan juga. Soal wali? Ah biarkan saja, toh dia tidak ada tempat melarikan diri selain kegelapan rimbunan pepohonan.
Huhu.
Terus merosot, melangsungkan penerjunan badan tiada kejelasan penapakan kembali dilaksanakan, ketidakaturan perasaan kupendam, menahan gejolak dalam emosi pada rentang waktu ke depan, membiarkan akselerasi melangsungkan sinergi tanpa keharusan berpaling, memutarkan kepala menuju bagian belakang.
Kalem-kalem, aku tahu ini sangat tidak masuk akal buat dipercaya. Tapi tetap, sebagai sesama manusia lagi keanggotaan, kita diperintahkan untuk saling menjaga kepercayaan satu sama lain. Baik wakil, kuturuti sementara apa kemauanmu. Pemupukan senantiasa terlempar, dicoba dilayangkan di tengah ketidakstabilan linear.
Fuaaahhh.
Hmmmh? Baru berakhir juga? Kukira bakal memakan waktu hingga berjam-berjam. Cuman apa boleh buat? Ketidaksejajaran prakira dengan pergerakan realita teramat jelas buat disajikan sebagai pembukaan santapan.
Kaa- fuuuh.
Karena terlampau asik memikirkan rasio sekaligus resiko di bawah sana, ketibaan kaki di atas permukaan lantas timbul, gemilang melaksanakan tindakan terkait sebagaimana kodrat manusia, meletakkan telapak untuk mematung di tempat seusai kejatuhan badan setinggi 0,5 meter diperbuat olehku.
Ya-ya, walau terasa konyol buat diutarakan, keseimbangan badan tidak mengalami problematika, mengukuhkan keselarasan untuk trguh tanpa berkeinginan menabrakkan diri ke bebatuan sekeliling. Lagian membingungkan banget, dah. Gimana ceritanya manusia langsung balik ke posisi awal yakni menapak setelah ketinggian kira-kira separuh daripada satuan meter dijalani?
Sangat membagongkan.
Sekarang waktunya, pemindahan terstruktur, penjemputan akan dilaksanakan segera.
Hoooh!
Terus memantau susunan sel-sel pada tubuh, pemfokusan sudut pandang menjadi alasan pengungkapan volume lalu tersembul, merangkaikan frekuensi seiring ketidakpahaman melanda.
Gak-gak, pendapat Anda sekalian itu bener, kok. Raga masih terpaku pada satu titik sahaja, enggan memvisualisasikan tangkapan gambar yang bisa saja bernilai untuk dijadikan laporan penemuan. Cuman yah- kehadiran orang ini di tempat seketika buyar, memporak-porandakkan isi hati beserta naluriah itu sendiri.
Keajaiban tempaan manusia, aku membutuhkan kehadiranmu sekarang!
Menyadari jaminan keselamatan berada di titik kerambiguan, penampilan benda terharam sepanjang manusia dilahirkan lantas datang, meletakkan kembali barang sesuai kedudukan, mengerahkan ujung buah pistol ke arah punggung bersamaan pembalikan badan menuju lokasi terkait.
Haih-haih, kejatuhan diri kemari bukan didasari niatan pribadi. Andaikata bukan karena dia, ketidaksenangan sudah lama diutarakan selaku kambing hitam keengganan tekad memasuki lubang.
Tanah serupa, tiada kelainan ataupun perbandingan nan besar dengan struktur area pijakan di atas lubang? Cukup unik bisa kuutarakan secara lantang, terlebih ketika penitikberatan pemfokusan dimulai, kehadiran bebatuan sekeliling seolah ditempa, mengukirkan komponen keberadaan dengan maksud menyamaratakan struktural tanah di luaran pepohonan.
Humu, ilmu baru berhasil kudapatkan. Entah umat mana yang mampu melaksanakan nih, namun kuperkirakan kejayaan sumber daya manusia terjamin, bisa diperkirakan melebihi standarisasi kelompok tercerdas pada silsilah generasi.
Hoooooh.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments