...Chapter 2...
“Aduuuuh.”
Tolong untuk tidak asal menghakimi, penyebab kejatuhan sendiri bukan diakibatkan, diawali oleh tingkahku seorang. Astaga, buruk banget caramu berpikir, coba refresh, buang semua kejahatan selaku awal mula kriminalitas.
Fuuuuuuuh.
Dikarenakan kebosanan menyaksikan tanah basah di antara tindihan badan, dalam posisi tengkurap pembalikan badan tanpa basa-basi berlangsung, melangsungkan perpindahan sesuai kata hati, menghadapkan kepala dan juga dada untuk mengarah ke langit-langit, menghindari penyebaran rasio luka di tiap anggota.
Hey-hey, aku gak bermaksud santai manja, loh. Toh kematian nyaris saja merenggut, hampir berjaya untuk memulangkan nalar bilamana kesigapan enggan dijadikan opsi teratas.
Jaga saja kau makhluk. Tidak lama lagi kita akan saling mengadakan perbincangan di balik jeruji besi!
“Hmmmmh-”
“Kerja bagus, saudari Sinta.”
Haah? Sapa? Owh, wakil ketua keanggotaan. Kukira siapa, tahu? Haha, biasa aja, kok. Lagian problematika seperti nih mampu tertangani bahkan di tangan pemula sekalipun.
Hehehe.
Asik merenung, membersihkan kotoran asing di antara sela-sela pakaian kemiliteran, seorang wanita bertubuhkan ramping total lalu datang, menghampiri diri tiada prakira, menyanjung kesuksesan keberadaan dalam menunduk, mengambil alih kemenangan atas jatuhnya oposisi.
Seriusan, deh. Ak- saya tidak merasa kenapa-napa, kok. Terima kasih atas kunjunganmu, dan silahkan melihat-lihat lokasi penahanan. Lagian dia pengawas, salah seorang perwakilan lembaga dalam mengatur, memutuskan bagaimana baiknya ruangan penahan dibentuk.
Huhuhu, penjeblosan eksklusif akan menantimu, makhluk payah.
“Ahahaha, inimah bukan apa-apa ketimbang misi-misi awal.”
Serius, bukan bermaksud menjilat, tingkat kesusahan waktu menangani G-7. Ampun dah, terbang-terbangan mulu macam burung. Udahlah susah, akselerasi narasumber terbilang begitu lincah. Ditambah daripada itu, lava biru berkekuatan sepantar inti bumi senantiasa terluap melalui muntahan.
Hauuuuuhh.
Memahami atasan hadir, menampakkan keberadaan tepat ke hadapan wajah, pujian pada menit lalu kemudian terbalas, merespon segera pemaparan di kala ketidakseimbangan datang lagi memerdekakan sebagian besar bagian.
Tenang-tenang, aku mampu nanganin ini, kok. Santai saja, tidak perlu kecemasan Anda jadikan sebagai tameng pelindung. Kalem, modal berdiri doang bayi pun bisa jalanin. Yah walau agak nyut-nyutan, tapi ini semua demi tata krama sesama keanggotaan.
Huuuuuh.
“Hmmmh, gitu, kah? Eh tapi itu kakimu kelihatan bengkak, lebih baik mendapatkan obat sebelum misi baru kembali dijalankan.”
Ada benar juga ucapan Anda, terlebih mereka sama sekali tidak, enggan mengatur kelelahan sebagai penundaan perburuan. Diri diminta siap, senantiasa berjaga di barisan paling depan.
Semangat!!
Meski pengupayaan kesempurnaan terus diperbuat entah seberapa lama, rasa nyeri lagi ketidaksanggupan memijak lebih lama pun hadir, berjaya merongrong kelemahan untuk tersembul, tanpa sengaja melonggarkan keberadaan dan nyaris menurunkan keseimbangan andaikata pegangan nihil, menarik diri supaya balik ke posisi awal.
Iya-iya, Bu. Aku janji gak bakalan nakal lagi. Kemudian hari nasihat Engkau bakal teringat tersimpan rapi tanpa resiko ditumpuk terlalu lama. Hohoho, badanku telah dibopong, suka atau tidak diri mesti menerima pertolongan kali nih.
Oke kawan-kawan, segera hantarkanku ke unit rawat. Diri sama sekali enggan melewati kegemilangan di dalam ruangan serba putih.
Ayo buruan!
“Hmmmh-”
Baik, perjalanan telah menemui garis start. Tenanglah, beratku gak lebih daripada 50 kg. Dikira aku serupa, tiada perbandingan berbeda dengan raksasa tadi?
Hhhh.
Melangkahkan kaki untuk pergi, perpindahan badan lantas segera dilaksanakan pembopong, mencoba menghantarkan keberadaan tepat ke titik tujuan meski dua orang wanita harus dijadikan penahan terhadap dua sisi.
Heeeeh, hebat sekali kau, wakil. Mampu membawa, memerintahkan armada untuk bertugas di kala tugas lain menunggu mampu Anda langsungkan sekalipun desakan menghampiri sedari segala sisi.
Kinerja bagus, kuucap melalui lubuk terdalam.
“Hmmmh-”
Ini kalian gak ada niatan untuk melangsungkan perbincangan? Ah sudahlah, biarkan keheningan melanda kekosongan hati. Kita juga gak terbiasa bercakap satu sama lain, tahu?
Humu-humu.
Terus mengupayakan perpindahan tanpa pemaksimalan tenaga alias dibantu, pembekuan entah bagaimana bisa lahir, mengkristalisasi keberadaan untuk muncul, mewujudkan kehadiran dalam melangsungkan akselerasi tidak bukan teruntuk kesembuhan diri sendiri.
Mungkin terasa lelah, malas menyampaikan sesuatu atau malah ketidakakraban terasa di antara kita bertiga.
Uuuuuhhhh.
“Urghhhhh-”
“Tunggu di sini dulu, dokter bakal segera merespon panggilan tugas.”
Oooghey, santai aja, bro sekalian. Aku bukan lagi seorang anak kecil dengan jurus meminta sebagai penyelesaian problematika.
Fufufu.
Tetap diam, menihilkan fungsi mulut dalam hitungan menit, pembaringan badan di atas ranjang rawat unit segera diperbuat, bergegas melangsungkan tindakan secara pelan-pelan, menaruh kehadiran sesuai standar pertolongan bersamaan pengeluaran nasihat teruntuk diri semata.
Kalem bro, aku tahu bilamana kalian termasuk sebagai anak buah wakil. Raga paham, sangat memahami tingginya beban yang dianut, namun kesukaran serta kesuraman kerjaan mengurusi makhluk-makhluk nih terbayar, dibalas melalui kemurahan bercampur kelapangan dada di kala parameter bisa mengalami ketidakkonsistenan.
Fiuuuuhhhh, akhiran aku mesti bersantai sebagaimana waktu liburan? Rileks, lanjutkan saja pekerjaan, diri sudah merasa baikan semasa ranjang empuk berhasil, berjaya mempersatukan keberadaan tanpa mengalami kata pisah.
Hehehe.
“Ya, sekali lagi terima kasih atas kebaikan kalian.”
“Hmmmmh.”
Baik juga, prasangka ketidakmampuan berekspresi mampu patah, dihancurkan begitu hina atas serangkai tindakan.
Maafkan kekhilafan hati, sedari kedalaman lubuk raga takkan mengulangi kekeliruan konyol baik esok, lusa dan di kemudian hari.
Huaaaaahhhh.
Memahami kedua narasumber mempunyai tugas dengan tingkatan beban melebihi rutinitas keseharian, ajuan pamit undur diri lantas terbalas, merespon niatan masing-masing narasumber melalui penggalan lisan, mengutarakan kesungkanan diri karena telah rela meluangkan waktu sesaat pembentukan lekukan bibir dihadapkan condong ke langit malam.
Haaah, beruntung kali bertemu orang seperti mereka. Mampu berbuat, sigap menjalankan amanah tak mempedulikan kemalasan ataupun beban berat di kedua pundak senantiasa kalian junjung, dijaga tetap eksis seiring pengembangan waktu.
Baik, mengingat kepergian oposisi berlalu sekitar 10 detikan, penantian pengobatan mulai berjalan dimulai detik terkini.
“Ahhhh, siap.”
Ahahaha, terlalu sibuk memerhatikan sampai lupa menerangkan. Aku udah selesai pengobatan, kok. Waktu dokter datang, diri tidak sengaja mengubur, memendam kesadaran diri ke hadapan sekalian untuk melanjutkan cerita. Maaf-maaf, ini murni keteledoranku. Lagian diri merasa senang, bahagia atas penurunan rasa ngilu di sekujur tubuh.
Terima kasih sedalam-dalamnya, pak dokter.
Di sinilah aku, sebuah tempat kramat selaku tempat pembiakan dan juga keberlangsungan ekosistem skala besar. Terus terang diri tak menyangka, sama sekali tak menduga keabnormalan mampu timbul, menyarang sekaligus memberikan teror berlebih teruntuk umat manusia. Apa tadi, manusia berupa setengah hewan? Gak paham lagi, diri sama sekali enggan, melahirkan kebingungan tiada dua atas anatomi tubuh.
Hhhh.
“Eh, kau dah melihat ciri-ciri makhluk itu belum?”
“Ih iya, menggelikan banget buat dipandang, deh.”
Perasaan pengejaran diri menit lalu sama sekali tiada menampakkan hal menjijikkan, namun mengapa hal di luar fakta lapangan tersaji, mampu diumumkan melalui ruang terbuka?
Haaaaahhh.
Bersambung….
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments