...Chapter 10...
“Bertekad menghilangkan nyawa, tak mempedulikan persentase kesialan menimpa di kemudian hari? Kalem Sin, lebih baik acuhkan ketidakpercayaanmu menuju tempat pembuangan.”
Ealah, di situasi begini masih aja mengutarakan kalimat penenang. Cukup bro, kemuakan telah menjalar ke segala bidang. Pelontaran maaf Anda menampakkan kehadiran di waktu tidak tepat.
Memahami ketidakpercayaan bisa saja mengkambinghitamkan kesadaran untuk pulang lebih awal, suatu tindakan pencegahan kemudian terlaksana, bergegas mengangkat kedua telapak dengan kedudukan sepantar dada, menetapkan kondisi terkait di kala telunjuk kanan bergerak, gemilang memutarkan keberadaan seraya melahirkan lingkaran.
Aduh, aku tahu, kok. Tujuan berdamai serta ketidakinginan menimbulkan rasa kebencian dilayangkan ke lajur mana. Beneran, tindakan pencegahan kriminalitas sekaligus mengukuhkan junjungan nama baik masing-masing di dalam ranah keanggotaan tidak bisa kuanggap begitu buruk. Cuman bagaimana caraku menjelaskan? Masa habis tiket terus diupayakan mundur walau kekecewaaan senantiasa menyertai.
Haaaah, jangan sampai kau membuatku jengkel kembali, wakil payah.
“...?”
Huuuh? Apaan, nih? Perasaan negaraku bertengger berada di antara garis khatulistiwa, deh. Masa iya kesalahan pengaturan dikokohkan atas kehendak Kemahaesaan?
Hmmmmmh.
Merenung, menetapkan keputusan berat atas ketidaksanggupan menampung kesabaran, ketidakinginan mendengarkan celotehan lantas dirangkai, mewujudkan visualisasi kemarahan melalui tindakan penarikan pelatuk, mencoba melaksanakan tugas sebagaimana tatanan keproseduran sesaat kepingan salju menabok, melangsungkan putar-putar manja di sekitar pipi kanan kepemilikan.
Ya apa lagi, bro? Masa iya diri diam, membiarkan ketidakselarasan linear kelogisan mengalir sebegitu deras? Diselidiki, mau tidak mau pelaksanaan mesti diperbuat di kondisi apa pun.
Diakibatkan keberadaan benda tidak biasa mampu eksis, sanggup mempertahankan jati diri untuk memberlangsungkan sudut 360 derajat, kelahiran rasa penasaran nan berlebih spontan hadir, melonjakkan ekspresi terkait secara gila-gilaan, menetapkan kedua kaki ke bagian punggung seiring pengalihan pandangan diperbuat.
Heeeh, dikira aku sebaik hati itu, ya? Gak-gak, kau tetap jadi tahananku. Jangan harap bisa lari dari sini perihal rasa keingintahuan naluriah. Tenang aja, target udah kuamankan, kok. Segala proposal melajukan penggerak bawah akan segera mengakhiri masa aktif nyawa yang telah ditetapkan. Sabar, kalem dan kuasai. Keengganan percaya, sementara waktu kegigihan Anda ditaruh, meletakkan melalui pengarahan ujung benda keramat ke bagian pusat darah melaksanakan pompa manual. Tidak perlu khawatir sebab diri sudah terbiasa menjalani rutinitas begini.
Nah salju, kuharap engkau tak mencoba ikut-ikutan dalam kemunculan perdana kekecewaan.
“Wooooow-”
Gile-gile, ini beneran ada di Indonesia, kah? Rasanya migrasi ke negara empat musim diupayakan berlangsung bagiku seorang. Cendekiawan, tampakkan keberadaan kalian kemari. Diri bener-bener bingung, mendapati ketidakselarasan visual dengan kenyataan lapangan.
Huuuh.
Bertepatan wajah berbalik, menetapkan sudut pandang ke posisi awal punggung, ketidakpercayaan isi hati mendadak tersembul, merangkaikan sepenggal kata berisikan kependekan semata, segera mengungkapkan kekaguman tiada dua atas penggambaran keindahan di kedalaman retina.
Sumpah, bukan tanpa alasan kobaran berkesempatan menghanguskan hutan nan dilindungi, toh penurunan suhu ruang di bawah angka lima terasa, menyegerakan kenaikan bulu kuduk seiring edaran membentuk sudut-sudut pada lingkaran.
Wow, mataku tak dapat berhenti melayangkan rasa syukur. Begitu elegan, sebuah manifestasi kecerdasan umat lampau telah ditemukan di sini.
Wohoooo, bilang dari tadi ngapa, wakil? Ya mana kutahu, bukan? Lagian niatan dia tadi agak ambigu, sih. Namun mengesampingkan kekeliruan hamba terhadap perwalian, torehan-torehan lukisan terus-terusan memanjakan keseluruhan panca indera.
Haih, jujur aku tidak tahu siapa pencetus manusia sudah lama hidup jauh sebelum dinosaurus hidup. Mengira itu hanya tipu daya, sebuah kebenaran mengenai tata cara umat terdahulu melangsungkan rutinitas tersaji pada ukiran-ukiran fenomenal. Terlebih daripada itu, andaikata pengutaraan blak-blakan diperkenankan, perkiraan 500 gambar beraneka ragam terangkai, mewujudkan sebuah keunikan di pendinginan melaksanakan sinergi.
Teramat mantap, generasiku di masa kesusahan. Segala cindera mata beserta gambaran iseng Anda sanggup, mampu direalisasikan ke ranah publik melalui sedikit dorongan penyebaran informasi sedari keanggotaan. Astaga-naga, sulit buat benakku membenamkan kepercayaan. Apalagi waktu membiarkan mata mengekspresikan ketidakdugaan dalam kurun waktu begitu lama. Ukiran mammoth, beberapa tulisan tangan manusia dengan bahasanya, visualisasi manusia purba dengan keceriaan mengangkat daging buruan merupakan salah sekian atas perilaku pencitraan ketakjuban benak.
Sungguh elegan. Nuansa sejuk diiringi ketakjuban tiada dua berjaya tergait, mampu menenggelamkan kesadaran di antara batasan realita dan fiksi. Harap lupakan sementara percobaan pemulangan kesadaran menit lalu, pembisuan rahang mulut terus berjalan, mengakselerasikan diri entah mau sampai kapan di kala edaran memperluas jangkauan.
Maaf-maaf aja, nih. Bukan bermaksud membiarkan tak terurus, penampakan di depan jauh lebih menggoda, takkan dapat dilupakan sekalipun puluhan tahun berlalu. Tetapi ada satu hal yang membuatku heran, deh. Di antara sekian banyak ukiran kebudayaan berbahan dasar es bebatuan, visualisasi tiada mengartikan makna kini terpampang, mendirikan keberadaan di tempat bersamaan peletakan titik tuju menitikberatkan lokasi awal memandang sebagai lokasi terkini.
Aduuuh, ini maksudnya apa, dah? Perasaan setiap penciptaan barang dasar berbau kesenian sudah pasti menghadirkan elemen penggambaran suatu topik. Tapi coba, mengapa bisa ukiran sekiranya 10 meteran terlukis eksis tanpa memaknai lukisan-lukisan sekeliling?
Hmmmh-
Fuu- huuuh? Paan nih? Butiran salju kembali? Ealah, tolong menaruh fokus terlebih dahulu, sobat. Kehadiran candaan dilayangkan pada rentang linear tidak begitu tepat.
Huuuuuh.
Asik mensinergikan isi kepala di atas rata-rata, upaya pemecahan ynag dilaksanakan sel-sel pemikiran seketika berhenti, membekukan akselerasi untuk sementara waktu, tiada sangkaan butiran salju sedari ketinggian datang lagi melakukan sebuah sentuhan di pipi sebelah kiri.
Etdah, maumu apa? Sekedar atraksi guyonan mampu mengkambinghitamkan penyebab sekalian pemusnahan sekalian. Akan tetapi bagaimana caraku menyampaikan pemberontakan? Kejatuhan butiran sendiri memiliki persentase ketidakhadiran kejahilan bagi orang bersangkutan. Perlu banget dilihat? Pandangan hamba sudah cukup letih memerhatikan ukiran semua nih, loh.
B- mustahil, bener-bener suatu ketidakdugaan. Bohong, mana mungkin pendahulu mempunyai keahlian dan tekad melebihi rata-rata manusia normal?
Hhhh.
Sesaat kenaikan berlaku, mencoba memecahkan keingintahuan benak, aksi peletakan arah pandang menuju ke ruas langit spontan mematung, membekukan aktivitas penggerak terkecuali paru-paru, melahirkan sebuah keterkejutan nan besar waktu mendapati rekaan garis-garis panjang terajut seiring mata mengedar.
Gila-gila, bukan lelucon, bukan pula tampilan atraksi badut, keindahan bercampur kemegahan budaya orang lampau kini dapat kusaksikan mengenakan mata kepala pribadi. Ini rantai makanan, kah? Menilik sisi-sisi kasta di antara keunikan ukiran, saling terkait lagi berhubungan dirangkaikan jelas bagi retina. Bermula sedari rerumputan, disambung hewan penyantap serta pelahap tingkatan sedang merealisasikan pengelompokan berdasarkan tatanan mereka terhadap alam sekitar.
Hayya, kesukaran menaruh kepercayaan berulang kali menjerit di kedalaman. Bagaimana diri bisa berhenti, membekukan rasa takjub bilamana pemandangan indah perlahan demi perlahan divisualisasikan. Adakah seseorang di tempat dengan kualitas handphone longgar, memiliki kejernihan tangkapan gambar di atas prakira? Raga berkeinginan memotret, mengabadikan moment terkini untuk bisa dikenang di kemudian hari.
Awalan aku berkehendak merogoh, mencari kehadiran telepon pintar di bagian saku terdalam.
Namun-
Usaha pencarianku seketika terhenti seiring mata menyaksikan kebesaran visualisasi Crultostamune di bagian tengah.
Glek, i- itu dia, kan? Tidak lain apalagi keliru, bener? K- kok aneh, ya? M- mengapa- bulu kuduk nih menaikkan kehadiran tanpa diminta?
Emmmmmm.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments