...Chapter 14...
“Ohh, benarkah?”
Wiiih, udah tersaji hangat, nih? Mantap-mantap, begini kan ketergesa-gesaan terbayar, memfasilitasi kerongkongan dengan hidangan menggugah selera.
Persiapan menyantap!
Menilik, asik memfokuskan kedua mata narasumber ke bilik retina, pengupayaan interogasi terpaksa tersendat, mengalami kebuntuan atas tuntutan pihak terluar, menghadirkan setumpuk daging empuk berbintang lima berpadu kuah kaldu beraromakan sedap.
Hooooh, sangat terbaik, sobat. Sudah sesuai kerjaan diperbuat, melaksanakan keinginan pelanggan sebagaimana standar koki memasak. Sekarang mari diperhatikan baik-baik, steak daging dengan sebilah pisau kecil dan garpu di sela-sela pemancaran silau terang postur piring di hadapan mata. Lihatlah, setiap irisan dan juga penggorengan dimaksimalkan tidak kurang apalagi melebihi standarisasi suhu.
Huhu? Perhatian juga, kau. Melemparkan puluhan minuman penyedap di saat ketakjuban memenuhi seisi kalbu. Patut diapresiasi, keahlian engkau di bidang menyajikan takkan pernah, berkeinginan melupakan begitu aja sedari kedalaman memori. Penjilatan? Tidak-tidak, aku rasa oposisi memang bertekad, mencoba memupuk kebaikan ke segala macam pihak. Tenang aja, kawanku tercinta. Tak perlu membenamkan kekhawatiran melebihi kebesaran Maha Kuasa. Andaikata kebejatan kehendak berusaha ditampakkan konkret kemari, peledakan isi otak beserta seluruh badan bakal tereka, mewujudkan pemuncratan aliran darah ke sekeliling ruangan.
Hhhh.
Meletakkan pemahaman makanan takkan melahirkan apa pun selain pembusukan, kemauan mengutarakan dialog seketika terhenti, memberlakukan pemblokiran terhadap akselerasi ruang-ruang mulut, penuh kesengajaan mengkristalisasi visualisasi barang logam menyentuh, menorehkan untaian frekuensi nan elegan bagi kedua daun telinga.
Kasih dia apresiasi dulu, lah. Capek-capek menggoreng dibalas akan kelahiran noda bandel di pinggiran piring kinclong? Dasar kurang ajar, mau bagaimana juga dia masih mempunyai hak asasi untuk dijaga sampai mati. Sabar sahabat, walau beban pundak terasa amat menyakitkan, keberlangsungan hidup bakal melaju, berupaya menempuh segala linear yang disediakan Kemahakuasaan.
Tampilkan simpul unik teruntuk masing-masing bibir, keparat!
“Silahkan disantap, sepenuh hati masakan tuh dibuat.”
Ya-ya, diri juga mengetahui pasal tuh. Pelanggan adalah raja, dan pelayan akan mengupayakan berbagai metode demi menyenangkan kemauan pribadi penguasa.
Hoooh.
Dikarenakan keinisiatifan menimbulkan bentukan tipis terhadap kemerahan terluar bibir, percobaan pengirisan daging terus berlangsung, memotong lagi mencuil segumpal daging berukuran jemari keras pada garpu, membiarkan tangan untuk tetap mensinergikan kedudukan seiring penitikberatan berlanjut, mencanangkan acuan terpadu ke lokasi terdepan sesaat keramah-tamahan orang indonesia ditunjukkan.
Huuuh, lezat buat dimasukkan. Teramat serius, buat apa diri bercanda, mengungkapkan ketidakjujuran hanya untuk menyenangkan hati narasumber semata? Woooh, ini beneran daging atau gula lali milik pedagang kaki lima? Tekstur empuk lagi kegurihan tiada dua tercipta, bergegas mewujudkan kehadiran selagi pengoyakan taring gigi terluar dilaksanakan.
Etto, terlalu dini buat mengumbar bisa saja dipaparkan, akan tetapi simpulan ruas-ruas bibir memang disengaja hadir atas keinginan pribadi. Ada alasan dan juga penyebab, jadi bukan sebuah keheranan bentukan senyum terkecil bagi wanita lemah terpampang, menyajikan esensial dalam sekian detik perpindahan jarum berpindah.
Hehehe.
Diakibatkan kegelisahan kalbu untuk selalu memasukkan santapan menuju cairan lambung, pengunyahan sampai detik terkini berlangsung, meletakkan potongan kecil-kecil daging empuk bagi kedalaman rahang, menetapkan pelaksanaan tindakan terkait seiring kegurihan bagi struktural daging terasa jelas bagi indera pengecap.
Humu-humu, boleh kuakui bilamana makanan sangat layak, patut dibawakan ke dalam uji pementasan sembilan besar makanan terenak di dunia. Gak-gak, harap lupakan bahwa makanan di depan adalah sebuah manifestasi pembekuan daging guling, kemudahan gigi kanan-kiri sewaktu menelan dapat terasa, melemparkan bangkai makanan terlezat ke dalam panjangnya kerongkongan selaku kenikmatan terbesar sejauh umur didirikan.
Heeeh, jeli juga. Ketidaksangkaan sama sekali malas, membenamkan keengganan buat timbul apalagi berkesempatan memikirkan makna penenggelaman bagian terkecil. Ingat bro, keberadaan hamba di tempat tengah menjalankan rentetan misi. Sebuah tugas mesti dilaksanakan, dan pembenaman daging secuil adalah keterbaikan opsi di saat ukuran separuh daripada piring depan mata tervisualisasikan. Nyantai aja, raga gak berkemauan buru-buru cabut sedari sini, kok. Sajikan padaku hidangan terbaik kesekian kali sembari keakraban satu sama lain terjalin.
Fiuuuh.
“Hmmmmh-“
Huuu- fuuuh, kira-kira adakah jajanan makanan dengan ciri lembut nan kental akan rasa gurih semasa migrasi dilaksanakan? Bukan gimana-gimana, deh. Salah satu hal yang paling kutakutkan dalam hidup nih adalah keroncongan, tak kuasa menemukan segala sumber daya buat disantap.
Haaah!
Mengingat kenyalnya gumpalan steak daging melanda, gemilang mengobrak-abrik kestabilan perasaan kedalaman kalbu, perenungan kemudian hadir menciptakan ketidakmauan rahang terbuka ke setiap penjuru, terus mematung, meneguhkan kedudukan pada satu garis lurus seiring penyantapan manja berulang-ulang dilangsungkan olehku seorang.
Nah bartender, terkesan konyol mungkin bisa kau utarakan, akan tetapi kehendak menginginkan pemasakan 10 steak daging terwujud dalam hitungan jam ke depan. Usahakan pemanasan kompor di atas standarisasi, toh sisa waktuku untuk singgah kurang daripada empat jam. Bisakah pesanan disiapkan dalam waktu sebegitu singkat? Hamba sangat mengerti, teramat memahami bilamana ketidakkuasaan mampir, menghinggapi pengerjaan penggorengan takkan memasuki kesesuaian arloji jam sisa berdetik.
Huhuhu.
“Omong-omong apa kalian tidak menginginkan sebuah rombakan besar-besaran, kah? M- maksudku penata ulang mengenai sistematika penahanan?”
“...?”
Uhuk, keparat kau, sepersekian kunyahan tertelan, memaksakan kemauan untuk terpupuk tanpa melewati sesi pelembutan.
Graaah!!
Tetap bersinergi, mentransfer setidaknya 20% tenaga teruntuk melangsungkan siklus pencernaan, keempukan daging bernuansa khas bumbu-bumbu dapur seketika terhenti, membekukan prosesi mengunyah bukan didasari keinginan pribadi, meneguhkan ketidakhadiran ekspresi sebagai sebuah ekspresi di saat celotehan timbul, menghadirkan kritik singkat mengenai sistematika keamanan di tempat.
Hmmmh? Tumben banget topik kayak begini diangkat. Gak bermaksud menghantarkan larangan sepihak, melainkan sangat jarang orang yang memiliki niatan untuk memberi, melahirkan sebuah komentar teruntuk baik-buruk kedudukan kemiliteran tempatku berpijak. Bolehlah, dapat diakui keberanian berada di atas angan-angan diteguhkan. Tenang, sanggup mengendalikan diri di kala elap-elap manja puluhan barang diperbuat? Mau bagaimana juga pemaparan lampau berjaya, berkuasa membiarkan garpu dan pisau melayang dalam genggaman bersamaan penghantaran pandang menitikberatkan retina bartender.
Jujur diri terkejut, tiada mendapati kedugaan jikalau Anda bakalan menanyakan seperti nih. Teringin langsung kubalas, sih. Keseluruhan proposal firasat mengatakan bahwa pendiaman hanya akan melahirkan citra buruk bagi sesama keanggotaan. Cuman harap tenang, mohon buat gak melaksanakan tindakan antisipasi demi kelancaran bertugas.
Fuu- fuuuh.
“Hooh? Tidak ada yang perlu kau revisi, kekuasaan kedaerahan memang tercakup sampai sejauh nih.”
Sementara begini dulu, lagian tak bermanfaat kritikan mengkristalisasi, toh bantuan pusat setahap demi setahap datang, senantiasa mengirimkan berbagai macam persenjataan ke seluruh pelosok dengan maksud kemudahan tugas penangkapan tingkat lokal.
Huhuhu.
Memahami pemanasan kepala bakalan memperburuk, bertindak melahirkan lumuran darah tanpa henti teruntuk kesadaran, pendinginan kepala alhasil rilis, menyejukkan sel-sel berpikir di bawah angka biasa, mengutarakan sebuah kalimat yang dirasa sangat tidak logis namun mudah diterima keawaman perihal keminiman kemiliteran bagi sektor terkini.
Humu? Buat apa kalian memfokuskan pada reaksi badan? Perlu diingatkan bahwa raga sekedar bertindak, tak ada kegiatan berlebih ataupun rentetan kemudharatan yang berniat mampir kemari. Lagian harap dipikir kembali, deh. Apa makna penusukan garpu ke inti daging bilamana keinginan menyantap berkemauan dilaksanakan dalam hitungan detik? Ya, aku makan make tangan kiri, dan sangat konyol pisau di dekat tangan diungkap, mengkambinghitamkan ketajaman lancip barang terkait hanya untuk prosesi pelahapan?
Haduh.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments