...Chapter 15...
“Kedaerahan sih kedaerahan, tapi kenyamanan di tempat terkesan menduduki standarisasi terendah bagi satuan penahanan.”
Wowow, kalem bos. Rileks aja, tak perlu penegasan terkukuh, mendirikan kehadiran untuk menombak di tempat.
Fuaaahh.
Dimaksudkan menyindir harga diri seorang atau memang invasi kebencian sedari awal melanda, pelontaran improvisasi tersembul, sengaja melaksanakan perbuatan sejalan keinginan, mendengarkan berbagai celotehan pedas mengenai keminiman penjagaan markas.
Haih-haih, tidak dapat kuelak tebakan Anda menjurus, gemilang meluruskan perjalanan menuju esensial kebenaran. Terlebih waktu menyaksikan lesung pipi yang tercipta akibat kehadiran bentukan simpul kedua belah bibir. Teramat dalam, bahkan nyaris menenggelamkan akal sehat di kedalaman multiganda proposal kesimpulan. Patut diapresiasi kelebihan Anda dalam melempar, berkuasa menimbulkan berbagai tanda tanya di saat penaruhan telapak berjaya, meletakkan posisi saling berjauhan satu sama lain di atas struktural kekokohan meja pelanggan.
Dia berusaha mengejekku atau macam mana, sih? Bukan bermaksud mencurigai, namun penafsiran terhubung, berupaya memecahkan pemaknaan makna sebenar daripada sikap narasumber terkait.
Hhhh.
“Hanya perasaanmu sahaja, omelan para tetangga kurang lebih juga ikut menceritakan keanekaragaman keinginan semu seperti Anda.”
“Tciiiih.”
Lah ngambek? Kalau kalah ya kalah aja, sobat. Enggak perlu merajuk, mengungkapkan kekesalan atas pelontaran lalu. Efek kalah debat bisa gini, ya? Padahal penasihatan ditujukan teruntukmu semata, loh.
Hmmmh.
Menyadari pembisuan hanya akan menyeret, membawakan nama baik keanggotaan pada kehinaan belaka, upaya percobaan perendahan seketika tersembul, merangkaikan kata demi kata mengenakan kelincahan pengecap, buru-buru menjawab pelayangan sesaat celetukan terwujud, mengkristalisasi kehadiran atas pendasaran ketidaksenangan benak.
Ada kala manusia harus menerima kekalahan, kawan. Bahkan kejayaan orang-orang terdahulu berkemungkinan berakhir, mendapati masa-masa emas makin terperosok dan terus anjlok menuju kehancuran tiada dua. Yah, lonceng penyerahan telah berbunyi, mendengungkan rajutan frekuensi seiring keseksamaan pandangan dipancarkan target menuju kemari.
Terlalu dini memikirkan kesadaran mampu terjebak oleh perancangan matang jebakan, payah. Kejatuhan lagi peniadaan kewibawaan sudah lama diperbuat, merendam kedalaman naluriah pada keterpurukan neraka dalam rentang cukup lama. Jadi berhenti mencela, pikirkan cara lain pencanangan meski kehadiran celah senantiasa terhadang oleh tingginya keteguhan mentalitas.
Gak ada pilihan lain. Ketimbang merenung, memikirkan adakah keinginan target buat merumuskan acuan pembelengguan, teramat disarankan keterbaikan masakan tersiar, melahirkan hawa nafsu untuk selalu melahap dan terus menenggelamkan.
Dikarenakan masing-masing mulut, sementara daging atas piring menantikan jatah giliran terlaksana, pengambilan pisau seukuran ukiran pena hadir, menempatkan barang terkait di telapak kanan, bergegas melangsungkan pemotongan, mengiris-ngiris setiap keempukan sisa steak sampai garpu penghantar merasakan kesukaran.
Etdah, sembarangan aja kalau bicara. Penyantapan berlangsung tiada mengikutsertakan pengecapan berlebih. Itu sangat menjijikkan, puluhan renungan doa dan juga puji syukur terhadap Maha Kuasa seolah hilang, meratapi ketiadaan setiap untaian selaku rasio persentase.
Huuuh, lumayan sulit juga. Sekuat tenaga kelancipan garpu menyerang, pengelakan ke kanan dan kiri selalu tercipta tanpa linear kira-kira.
Santai-santai, hamba gak berniat, memposisikan harga diri untuk melancarkan penilaian. Tenang aja, enggak perlu membenamkan kepanikan seperti tuh. Kenikmatan hidangan depan mata dipastikan takkan pernah, menemui pemberhentian siklus kesenangan pribadi sebagaimana kemauan, Lagian buat apa cepat-cepat diselesaikan? Pelarutan irisan mini tiap santapan berlabuh, mengisikan cairan lambung sedikit demi sedikit agar linear perbincangan mampu bertahan jauh lebih lama.
Haduh,
“Mengesampingkan perbedaan pendapat kita berdua, omong-omong diri memiliki keinginan terpendam yang sudah tidak kuasa kembali ditampung. Teringin mendengarkan?”
Tumben, tetapi bagus juga. Dengan begini kesiagaan berjumpa, enggan mensejajarkan linear sesuai kedudukan di tempat.
Merangkaikan segumpal rajutan kata berisi acuan improvisasi, penjiplakan tindakan tanpa diperkirakan terlaksana, menyamaratakan tindakan subjek pada penorehan plagiasi, menetapkan perintah salin dan tempel seiring peletakan jemari per telapak diupayakan saling menjauh.
Hoho, sudah merasa sedikit jagoan, kah? Tiada perkiraan, hasutan kedua kali datang, mengupayakan keberadaan buat datang kembali, memberi sketsa kasar kehendak mencoba mengajakku bergabung atau menuruti segala perintah darinya.
Adudududuh.
“Apa?”
Gak perlu banyak tingkah, tunjukkan bagaimana caramu memikat seorang tulang rusuk selaku salah seorang ternama keanggotaan.
Huaaah!
Didasarkan sepengetahuan alis kodrat kepribadian, pemegangan gelas bir menggunakan kedua telapak kemudian berhenti, menghanguskan siklus kelegaan sewaktu tegukan penyedap berjalan, menjatuhkan barang terkait ke lokasi awal sajian minuman berbarengan penelengan eksis, memposisikan kemiringan kiri bagi kedudukan tengkorak.
Kok bisa ketahuan? Padahal diri sudah berupaya menyembunyikan ini sedari kalian semua. Oke-oke, tidak dapat kuelak jikalau ketidakpahaman dicetuskan oleh kemauan tersendiri. Mau bagaimana pula, kawan? Suka tak suka rentetan aktivitas menyebalkan harus diperbuat. Penipuan berskala besar hingga mencapai titik genosida suatu kaum mesti eksis, buru-buru dilaksanakan sebagai persyaratan apakah tugas berjalan dengan baik atau tidak.
Haaah, kuharap institusi pusat mempunyai sebuah jaminan, kartu penolong terhadap setiap perbuatan keji kedaerahan anggota waktu menjalankan misi.
“Bagaimana- jika kita saling menukar satu sama lain?”
Haah? Seriusan, nih? Wuih, keren kali gaya pikirmu. Sama sekali tak disangka kegemilangan ide pikir mengkristalisasi kehadiran.
Fuuu- huuuuh.
Entah memang niatan berusaha membawa lari atau bermaksudkan lain, pemaparan hasil rajutan kemudian timbul, menyenggajakan pengutaraan terlahir sejalan kodrat, mencoba mempertanyakan keluangan waktu di saat kedalaman naluriah mendapati kesukaran titik pasti pembicaraan ingin dilarikan ke mana.
Baik coba diperhatikan seksama, lekukan bibir nan kecil berpadu kemunculan lesung pipi di kedua belah bagian. Gak berniat berpikir gimana-gimana, tetapi kelicikan diupayakan tersembul, meracik rayuan-rayuan manja berpadu pengupayaan alam bawah sadar ditaruh pada nikmat keduniawian.
Udah jangan berisik, biarkan ia menggoreng, melangsungkan rutinitas pemasakan berlebih agar luapan hati mampu dikeluarkan secara berkala. Ruang khusus, kuperkenankan kekosongan diambil alih olehmu seorang. Beri saja sedikit masa, mencegah ketidakstabilan perasaan naluriah yang berpotensi mengacaukan jalannya penugasan.
Hhhh.
“Hmmmh? Adakah penyegar kehidupan disangkutpautkan dalam agenda pertukaran?”
Kalem aja, gak perlu tegang-tegang kayak begitu, sobat. Diri sudah terbiasa bertemu banyak orang, dan di antara keramaian tersebut, kesadaran berkuasa, mampu memilah kelompok yang memang diperkenankan dijadikan rekan sepengertian.
Hihi.
Mendapati kekakuan melanda, berkesempatan mengoyak keseluruhan ikatan terpadu persaudaraan bagi menit awal, kalimat basa-basi lantas datang, diusahakan timbul sesuai kehendak hati, menyematkan kebodohan di luar prakira agar perseteruan menurun, menjalin rasa saling mengerti satu sama lain sekaligus pemblokiran tindakan pengacau di kemudian hari.
Persetan akan mulut besar kalian, visualisasi kekonyolan diperkenankan hadir bukan berdasarkan keminiman sumber daya manusia, syalan. Lagian coba dipikir, buat apa keidiotan diharuskan tersembul bilamana pengorekan tak dikambinghitamkan selaku alasan terkuat?
Ada-ada aja, deh.
“Tentu saja lebih dari itu, kejayaan bahkan suatu kegemilangan dapat dirasa kedua belah pihak selama masing-masing tuntutan dipenuhi sebagaimana mestinya.”
“....”
Maaf buat diutarakan, namun raga mempunyai kesukaran buat menaruh kepercayaan terhadap orang lain. Khususnya pada engkau, orang antah-berantah yang tersembul tanpa disengajakan linear pikiran. W- walau begitu,sedikit menarik. Asal permintaan barang terpenuhi, kegirangan tanpa diintuisikan buat timbul juga bakal mengkristalisasi dengan sendirinya.
Hmmmmh.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments