13. Penolakan Btari

Fauzan terpaksa pulang ke apartemen miliknya. Besok pagi ia akan menemui Btari. Semoga saja gadis itu mau diajak tinggal di rumah punden. Kalau sampai tidak mau, ia akan terus tinggal di apartemen. Dan bisa bisa ia dikeluarkan dari keanggotaan keluarga Maulana oleh sang nenek karena dianggap tidak bertanggung jawab.

Fauzan mengirim pesan pada Btari kalau ingin bertemu dengan gadis itu. Tapi sampai berjam jam lamanya, pesan yang ia kirimkan belum dibaca Btari.

"Kemana saja wanita itu? Selalu saja seperti ini, tiap kali aku mengirim pesan tidak segera dibalas!" Fauzan uring uringan, baru kali ini ada wanita yang mengabaikan pesannya. Padahal Fara atau teman teman wanitanya berharap dihubungi Fauzan baik itu lewat telepon atau hanya sekedar mengirim pesan. Btari memang wanita aneh! Tapi sialnya wanita aneh itu berstatus istrinya dan sekarang menjadi pemegang kunci untuk memperbaiki hubungan dengan sang nenek.

Pagi menjelang, setelah menunaikan sholat subuh sendirian Fauzan membuka HPnya, coba kalau dia tinggal di rumah punden, ia pasti sholat subuh berjamaah dengan seluruh anggota keluarga. Fauzan berdecak jengkel, pesannya masih belum dibaca oleh Btari. Jangan jangan handphone wanita itu hilang.

Sejak insiden pernikahannya dengan Fara dipergoki oleh petugas KUA, wanita itu tidak sedikit pun menghubunginya. Padahal Fauzan tahu saat kejadian itu, Btari ada di sana, tapi segera menghilang entah kemana saat Bu Mulyani mengamuk di acara pernikahannya dengan Fara yang berakhir batal. Tapi pada dasarnya Btari tidak pernah menghubunginya. Wanita itu akan mengirim pesan peringatan kalau hari wajib lapor sudah tiba.

Fauzan segera mengganti pakaian kokonya dengan pakaian santai. Terpaksa ia akan menemui Btari di tempat praktek pijatnya. Dan biasanya praktek pijat Pucang anom bukanya pagi sekali setelah sholat subuh. Fauzan pernah ke sana dua kali untuk kontrol kakinya yang retak.

Tak lama mobil Fauzan sudah menembus pagi yang dingin dan masih berkabut. Fauzan mengendarai mobilnya dengan hati hati, karena jarak pandang matanya terbatas akibat kabut yang masih menguasai jalanan.

Mobil Fauzan sudah memasuki lokasi pijat sangkal putung Pucang anom. Fauzan mencari tempat parkir yang kosong. Oleh tukang parkir ia diarahkan untuk terus. Di sini memang tidak ada tempat parkir khusus untuk mobil para pasien. Kendaraan para pasien diparkir di pinggir jalan sepanjang jalan masuk ke tempat pijat.

Setelah memarkir mobilnya, Fauzan segera berjalan ke halaman. Sudah banyak pasien dan keluarganya yang menunggu. Fauzan tidak heran, pasien pijat sangkal putung memang selalu banyak. Fauzan sudah dua kali datang ke sini untuk mengontrolkan kakinya yang retak. Fauzan melangkah masuk, dan menghampiri petugas yang sedang duduk di belakang meja. Petugas ini bertugas memanggil pasien sesuai urutan nomor.

"Permisi mas .. Bisakah saya bertemu dengan Btari?" Fauzan bertanya dengan sopan.

"Anda siapa? Ada perlu apa mau bertemu dengan mbak Tari?" Si petugas mendongak menetap Fauzan.

"Saya kerabatnya .. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada Btari .. Mulai kemarin handphonenya tidak bisa dihubungi." jawab Fauzan.

"Mbak Tari sedang menangani pasien, dan itu tidak bisa diganggu! Anda bisa datang nanti setelah pasiennya habis." ucap petugas.

"Tidak bisa kah anda memberitahunya, ini sangat penting!" Fauzan memohon, baru kali ini ia memohon pada orang lain.

"Sebentar akan saya tanyakan dulu! Siapa nama anda?" si petugas akhirnya luluh.

"Fauzan Maulana." Fauzan menjawab, ada juga orang yang tidak mengenalinya, jangan jangan ia hanya terkenal di kalangan followersnya saja.

Si petugas penerima pasien bangkit dari kursinya dan berjalan masuk ke salah satu kamar. Fauzan tetap berdiri menunggu. Pandangan matanya mengitari seluruh ruangan. Ruangan ini mempunyai tiga kamar. Masing masing kamar ditempati ahli pijat untuk menangani pasien. Ruangan utama tanpa sekat. Berisi banyak dipan dipan, dimana para pasien sedang tiduran. Mereka adalah pasien yang menginap. Biasanya pasien pasien ini datang dari tempat yang jauh.

Tak lama si petugas sudah menghampiri Fauzan lagi. Ia mengajak Fauzan berjalan ke belakang. Di belakang ternyata ada tempat yang nyaman untuk duduk bersantai. Ada seperangkat sofa yang nyaman untuk diduduki.

"Silahkan tunggu di sini ... Mbak Tari akan menemui anda di sini setelah menangani pasien." ucap Si Petugas.

"Maksudnya saya harus nunggu sampai pasien Btari selesai ditangani semua? Lama sekali." Fauzan protes, Jam sembilan pagi, dia harus segera tiba di rumah sakit, pasien pasiennya menunggu.

"mana saya tahu, kalau tidak mau ya silahkan pergi .. repot amat jadi orang." si petugas menggerutu dan segera pergi meninggalkan Fauzan.

Fauzan mendaratkan bokongnya di atas sofa. Di atas meja sudah tersedia beberapa toples berisi camilan dan air mineral kemasan. Fauzan mengamati sekeliling tenpat ini. Tempatnya nyaman. Semi outdoor. Di sini kita bisa menikmati taman bunga yang terletak persis di depan Fauzan duduk. Ada kolam berisi ikan ikan hias. Dan pancuran yang airnya gemericik lirih. Benar benar tempat yang nyaman untuk menenangkan pikiran.

Entah berapa lama Fauzan menunggu. Rasanya lama sekali. Saat Fauzan duduk di sini, suasana di luar masih remang remang, dan sekarang sudah terlihat terang benderang karena sinar matahari sudah keluar dari peraduannya.

Fauzan sudah terkantuk kantuk menunggu Btari. Tempat yang nyaman, sejuk dan asri membuat Fauzan mengantuk. Tubuhnya sudah setengah berbaring di sofa panjang saat sapaan salam mengagetkannya.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam." Fauzan tersentak dari rasa kantuknya.

Di depan telah berdiri Btari. Wanita itu memakai kulot lebar warna sage dan tunik longgar warna putih dipadu kerudung paris motif yang warnanya dominan sage, membuat Fauzan tertegun, Btari tampak sangat manis.

"Maaf membuat abang menunggu, pasien tidak bisa ditinggal." Btari duduk di sofa berhadapan dengan Fauzan.

"Tidak apa .. Aku mengerti." Fauzan mengubah posisinya, duduk dengan sopan.

"Ada hal penting apa sampai abang menemuiku di tempat ini?" Btari langsung pada intinya, masih banyak pasien yang menunggunya.

"Begini Btari .. Karena pernikahan kita sudah diketahui oleh keluargaku, nenekku meminta kamu harus tinggal di rumah kami."

"Abang tidak menceritakan tentang kondisi pernikahan kita yang sebenarnya pada keluarga besar?" Btari mengernyit heran.

"Sudah Tari .. Aku sudah menceritakan semua! Tapi buat nenek, pernikahan kita adalah pernikahan yang sah dan suci, tidak ada yang boleh mempermainkan sumpah pernikahan! Karena itu beliau memerintahkan aku untuk membawamu tinggal di rumah seperti anggota keluarga yang lain." Fauzan menjelaskan.

"Lalu setelah aku tinggal di rumah Abang, kita akan menjalani pernikahan yang sebenarnya? Bukankah abang masih berhubungan dengan Fara? Kalau kita menjalani pernikahan ini dengan normal, bagaimana hubungan Abang dengan Fara?" Btari keheranan.

"Meski kita tinggal serumah, pernikahan kita tetap pernikahan pura pura .. Setelah enam bulan kita akan bercerai! Mau ya Tari, demi nenekku." pinta Fauzan.

"Maaf aku tidak mau .. Aku tidak mau menjalani sandiwara pernikahan! Aku yakin di sana nanti nenek kamu meminta kita harus menjadi suami istri yang sebenarnya! Aku tidak mau bersuamikan lelaki yang tidak akan pernah mencintaiku." Btari tersenyum kecut.

"Tolong lah Btari .. Aku tidak boleh pulang ke rumah kalau aku tidak berhasil membawamu!" Fauzan merengek.

"Semua hanya demi kepentinganmu ya? abang pikir aku juga tidak punya kepentingan?" Sasmita marah.

"Maaf .. Maaf .. Bukan maksudku seperti itu, aku hanya tidak terbiasa hidup terpisah.dari keluarga, rasanya nelangsa sekali hidup sendirian di apartemen." Fauzan mengiba.

"Lelaki cemen seperti ini kok bisa jadi narasumber yang disukai jutaan orang, orang lemah seperti dia kok bisa jadi sumber inspirasi anak anak muda! Benar benar dunia sudah tidak baik baik saja." Btari mengejek dalam hati, ia sangat kaget melihat kepribadian Fauzan yang ternyata hanyalah lelaki anak mama.

"maaf bang .. Jawabanku tetap sama .. Aku tidak mau .. Kita tetap berpegang pada prinsip yang abang ucapkan di awal pernikahan kita, kalau pernikahan itu hanya sebatas pada buku nikah, kita berdua akan hidup terpisah sampai masa wajib lapor kita habis! Sudah jelas kan bang ..aku pergi dulu, pasienku masih banyak." Sasmita melenggang pergi, meninggalkan Fauzan sendirian.

"Btari .. Jangan pergi! Kita belum selesai bicara! Tolong lah turuti keinginan nenekku!" Fauzan putus asa.

Btari tetap berjalan kembali ke ruang prakteknya tanpa menghiraukan seruan Fauzan.

"Astagaa .. Lagi lagi aku ditolak oleh Btari."

Terpopuler

Comments

Nur Hidayah

Nur Hidayah

hidup gampang susah ya

2024-12-25

0

Rieya Yanie

Rieya Yanie

bntari tokoh wanita yg teguh

2024-05-10

0

lihat semua
Episodes
1 1. Pasien yang tidak diharapkan
2 2. Digerebeg
3 3. pernikahan grebekan
4 4. Hidup sendiri sendiri
5 5. Tentang Dr Fauzan
6 6. laporan bulan pertama
7 7. laporan bulan kedua
8 8. Menikah lagi
9 9. Ricuh
10 10. Pernikahan yang batal
11 11. Menemui Fara
12 12. Penilaian yang salah
13 13. Penolakan Btari
14 14. Sekelumit tentang Btari
15 15. Umi Khadijah bertemu Btari
16 16. Perjuangan Fauzan
17 17. tidak bisa melupakan
18 18. Rencana pembatalan nikah
19 19. Pertengkaran pertama
20 20. Memulai hidup baru
21 21. Statusmu kini anggota keluarga Maulana
22 22. Hidup satu atap bersama
23 23. Pesona Fauzan
24 24. Rumitnya hati Fauzan
25 25. Pilihan untuk Fauzan
26 26. Balasan untuk Fara
27 27. Akal licik Fara
28 28. Rencana nikah siri
29 29. Undangan makan bersama
30 30. Jangan ngelunjak
31 31. Dua sejoli
32 32. Pernyataan cinta
33 33. Makan malam atau pesta?
34 34. Tasyakuran pernikahan
35 35. Tangis Fara
36 36. Kekecewaan Fara
37 37. Mulai oleng
38 38. Surga dunia
39 39. Pagi yang melelahkan
40 40 Niat Farid
41 41. Nyonya Fauzan
42 42. WAR
43 43. Rencana busuk
44 44. Pertunjukan dimulai
45 45. sandiwara bodoh
46 46. Pelampiasan kemarahan
47 47. Terkena getahnya
48 48. Bakat istimewa
49 49. Dibatalkan
50 50. Kembalinya ummu Azizah
51 51. Penantian
52 52. Pengkhianat
53 53. Tidak berselera
54 54. Misi yang sukses
55 55. Resiko punya suami tampan dan kaya
56 56. Badai dalam rumah tangga
57 57. Aku juga istrinya Fauzan
58 58. Tidak sah
59 59. Hanya pasien
60 60. Fara hamil
61 61. Pesan atau curhat?
62 62. Sudah menjadi candu
63 63. Pribadi ganda Fauzan
64 64. Wanita pendusta
65 65. Pernikahan semu
66 66. Terusir
67 67. Kadang di atas kadang di bawah
68 68. Olahraga sore
69 69. Cerita kedua orangtua Btari
70 70. Dua manusia tidak bermoral
71 71. Sekelumit cerita tentang Endang Suningsih
72 72. Bertekad pergi
73 73. Perlawanan bu Endang
74 74. Pernikahan impian
75 75. Rencana Endang
76 76. Pesta pernikahan Farina
77 77. Keluarga toxic
78 78. Selamat Tinggal
79 79. Resmi Berpisah
80 80. Penyesalan Supardi
81 81. Ada yang mau ngajak balikan
82 Arak arakan pengantin heboh
83 83. Mencari Btari
84 85. Seandainya waktu bisa diputar kembali
85 86. Kehamilan simpatik
Episodes

Updated 85 Episodes

1
1. Pasien yang tidak diharapkan
2
2. Digerebeg
3
3. pernikahan grebekan
4
4. Hidup sendiri sendiri
5
5. Tentang Dr Fauzan
6
6. laporan bulan pertama
7
7. laporan bulan kedua
8
8. Menikah lagi
9
9. Ricuh
10
10. Pernikahan yang batal
11
11. Menemui Fara
12
12. Penilaian yang salah
13
13. Penolakan Btari
14
14. Sekelumit tentang Btari
15
15. Umi Khadijah bertemu Btari
16
16. Perjuangan Fauzan
17
17. tidak bisa melupakan
18
18. Rencana pembatalan nikah
19
19. Pertengkaran pertama
20
20. Memulai hidup baru
21
21. Statusmu kini anggota keluarga Maulana
22
22. Hidup satu atap bersama
23
23. Pesona Fauzan
24
24. Rumitnya hati Fauzan
25
25. Pilihan untuk Fauzan
26
26. Balasan untuk Fara
27
27. Akal licik Fara
28
28. Rencana nikah siri
29
29. Undangan makan bersama
30
30. Jangan ngelunjak
31
31. Dua sejoli
32
32. Pernyataan cinta
33
33. Makan malam atau pesta?
34
34. Tasyakuran pernikahan
35
35. Tangis Fara
36
36. Kekecewaan Fara
37
37. Mulai oleng
38
38. Surga dunia
39
39. Pagi yang melelahkan
40
40 Niat Farid
41
41. Nyonya Fauzan
42
42. WAR
43
43. Rencana busuk
44
44. Pertunjukan dimulai
45
45. sandiwara bodoh
46
46. Pelampiasan kemarahan
47
47. Terkena getahnya
48
48. Bakat istimewa
49
49. Dibatalkan
50
50. Kembalinya ummu Azizah
51
51. Penantian
52
52. Pengkhianat
53
53. Tidak berselera
54
54. Misi yang sukses
55
55. Resiko punya suami tampan dan kaya
56
56. Badai dalam rumah tangga
57
57. Aku juga istrinya Fauzan
58
58. Tidak sah
59
59. Hanya pasien
60
60. Fara hamil
61
61. Pesan atau curhat?
62
62. Sudah menjadi candu
63
63. Pribadi ganda Fauzan
64
64. Wanita pendusta
65
65. Pernikahan semu
66
66. Terusir
67
67. Kadang di atas kadang di bawah
68
68. Olahraga sore
69
69. Cerita kedua orangtua Btari
70
70. Dua manusia tidak bermoral
71
71. Sekelumit cerita tentang Endang Suningsih
72
72. Bertekad pergi
73
73. Perlawanan bu Endang
74
74. Pernikahan impian
75
75. Rencana Endang
76
76. Pesta pernikahan Farina
77
77. Keluarga toxic
78
78. Selamat Tinggal
79
79. Resmi Berpisah
80
80. Penyesalan Supardi
81
81. Ada yang mau ngajak balikan
82
Arak arakan pengantin heboh
83
83. Mencari Btari
84
85. Seandainya waktu bisa diputar kembali
85
86. Kehamilan simpatik

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!