9. Ricuh

Bu Mulyani dan Btari duduk di jok belakang, sementara kedua petugas KUA yang lain duduk di depan. Mobil menyusuri jalanan yang berdebu. Hari masih pagi, tapi sinar matahari sudah bersinar menyengat.

"bisa lebih cepat gak pak Anwar nyetirnya?" bu Mulyani tidak sabar.

"jalanan padat bu Mul .. Tidak bisa ngebut." Anwar yang bertugas mengemudi menjawab.

"nyalip nyalip lah!" bu Mulyani gemas, ia ingin cepat sampai di hotel, tempat Fauzan akan menikah lagi.

"tidak bisa Bu Mul, nanti kena tilang, malas kalau sudah kena tilang, ngurusnya ribet!" Anwar memberi alasan.

Bu Mulyani tidak membantah, wanita itu hanya bisa berdecak tidak sabar. Bu Mulyani paling tidak suka dengan pengkhianatan. Ingin rasanya ia menampar pipi Fauzan. Laki laki pengkhianat harus diberi pelajaran.

Di hotel Tirta Kusuma, acara masih berlangsung dengan lancar. Prosesi acara lamaran baru saja selesai. Sebentar lagi akan memasuki acara inti yaitu prosesi ijab kabul.

Berulang kali Fauzan mengelap wajahnya dengan tisue. Rasa.cemas dan gugup masih melandanya. Bukan karena tidak siap untuk mengucap sumpah ijab kabul, tapi Fauzan sibuk memikirkan Btari.

"Bagaimana kalau gadis itu tahu kalau aku menikah lagi, akan kah dia marah dan segera meminta cerai?" Fauzan bertanya tanya dalam hati.

"Bukan kah hal ini yang aku inginkan? Segera bercerai dengan Btari? Kenapa sekarang aku merasa berat?" Fauzan bertanya pada dirinya sendiri.

"Mas kamu kenapa, dari tadi aku perhatikan kamu gugup dan gelisah?" Fara berbisik menundukkan kepalanya ke dekat telinga Fauzan.

"aku tidak apa apa ... Hanya sedikit nervous dan gerah." Fauzan berbohong.

"begitu ya? Aku tadi juga mengira seperti itu! Santai saja lah mas!" Fara tersenyum.

"Baiklah ... Acara demi acara telah kita lalui bersama dengan lancar, sekarang kita memasuki acara inti .. Acara yang sudah ditunggu tunggu oleh calon pengantin dan kelaurganya .. Mbak Fara dan Mas Fauzan silahkan duduk di kursi yang sudah ditentukan .. Bapak penghulu sudah menunggu." pembawa acara mengumumkan.

Fara menoleh pada Fauzan, tapi laki laki itu bahkan tidak menoleh padanya. Fara agak heran melihat sikap Fauzan. Meski nervous, setidaknya laki laki itu perduli padanya.

Fauzan bangkit dari kursinya, ia berjalan ke tengah, dimana kursi dan meja untuk acara akad nikah akan dilaksanakan. Di sana sudah menunggu bapak penghulu dan pak Ginanjar, papinya Fara.

Dengan jengkel Fara juga bangkit dari kursinya. Fauzan sama sekali tidak memperdulikannya. Tadi dia berharap Fauzan akan menggandeng tangannya menuju kursi akad nikah.

Fara duduk di samping Fauzan. Para saksi dari masing masing pihak juga sudah duduk di tempatnya masing masing. Proses ijab kabul segera dimulai. Setelah khotbah nasehat pernikahan, ijab kabul segera dimulai. Fauzan dan Fara dikerudungi kerudung putih.

Pak Ginanjar menjabat tangan Fauzan. Fauzan makin gugup, keringatnya keluar sebesar biji jagung. Padahal saat ijab kabul pernikahannya dengan Btari, ia bisa mengucap sekali tanpa perlu menghapal berhari hari.

"Fauzan Maulana bin Zakaria Maulana aku nikahkan engkau dengan putriku Faradina Asha binti Ginanjar dengan mas kawin seperangkat alat sholat .. dan uang tunai sebesar lima juta rupiah dibayar tunai." pak Ginanjar menyentakkan tangan Fauzan.

"Saya terima nikahnya Btari ..." Fauzan tertegun, kenapa nama Btari yang aku sebut?

Fara menoleh ke arah Fauzan dengan keheranan. Nama siapa yang disebut Fauzan. Kenapa namanya aneh dan tidak biasa?

"Silahkan diulangi lagi." penghulu menatap Fauzan.

Ijab kabul terpaksa diulangi lagi. Dan lagi lagi Fauzan salah mengucap. Wajah Fara sudah memerah marah. Apalagi Pak Ginanjar, laki laki itu menatap marah Fauzan.

"Tenang .. Rileks ... Ambil nafas panjang Pak Fauzan ... Jangan gugup!" penghulu memberi arahan.

Fauzan menarik nafas panjang. Antara rasa malu dan gugup, membuat Fauzan seperti orang yang mendadak bodoh. Padahal ia bergelar dokter.

Fauzan memejamkan matanya. Mencoba mengusir kegugupan di hatinya. Setelah dirasa hatinya mulai tenang, ia bersiap mengulang proses ijab kabul. Pak Ginanjar yang masih emosi memulai proses mengucap menikahkan putrinya.

"Fauzan Maulana Bin Zakaria Maulana saya nikahkan engkau dengan putriku Faradina Asha dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar lima juta rupiah dibayar tunai." Pak Ginanjar menyentak tangan Fauzan dengan keras.

"Saya terima nikahnya ... "

"Hentikan ... Pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan!"

Semua orang yang berada di dalam ball room menoleh ke arah sumber suara. Ada dua perempuan dan dua laki laki. Satu perempuan memakai pakaian biasa dan berhijab sementara tiga lainnya berseragam aparatur negara berdiri di ambang pintu. Wajah Fauzan memucat. Ada Bu Mulyani dan Btari.

Bu Mulyani dan salah satu rekan kerjanya maju mendekat ke arah meja tempat dilaksanakan ijab kabul. Wajah penghulu agak memucat melihat kedatangan Bu Mulyani.

"Bisa saya lihat dokumen dokumen pernikahannya?" Bu Mulyani menatap penghulu dengan tajam.

Petugas yang mendampingi Bu Mulyani dengan sigap memeriksa dokumen mana yang legal mana yang tidak.

"Siapa anda .. Mengapa pernikahan anak kami tidak bisa dilanjutkan?" pak Ginanjar murka.

"Rileks pak .. Jangan marah dulu, sebentar lagi akan saya jelaskan!" ucap Bu Mulyani kalem, sementara rekannya memeriksa dokumen pernikahan.

Fara yang duduk di samping Fauzan merasa kesal. Proses ijab kabul pernikahannya berjalan dengan tidak lancar. Firasatnya mulai membisikkan ada sesuatu yang bakal terjadi. Apalagi melihat wajah Penghulu dan Fauzan terlihat memucat melihat kedatangan petugas aparatur negara.

Tatapan Fauzan tertuju pada sesosok tubuh yang masih berdiri menyisih di depan pintu. Btari dan Bu Mulyani .. Bagaimana kedua orang itu bisa datang ke pernikahannya.

"Sekarang saya akan jelaskan mengapa pernikahan ini tidak bisa diteruskan, dokumen pernikahan ini ilegal, karena status pak Fauzan ini sudah menikah! Harus ada surat ijin dari istri pertama." ucap Bu Mulyani.

"Fauzan sudah menikah?" pak Ginanjar terbelalak.

"Benar .. Tiga bulan yang lalu, saya sendiri yang menyiapkan dokumen pernikahan pak Fauzan dan istrinya." jawab Bu Mulyani.

"Fauzan .. apa benar apa yang dikatakan oleh ibu ini?" Pak Ginanjar menatap Fauzan dengan tatapan membunuh.

Fauzan mengangguk, tidak kuasa untuk menjawab. Pak Ginanjar dan Fara berteriak marah karena merasa ditipu. Pak Ginanjar bangkit dari duduknya bersiap menghajar Fauzan. Fara lebih dulu melakukanya, dengan penuh amarah kedua tangannya memukuli Fauzan.

keluarga Fauzan yang duduk agak jauh keheranan melihat keributan yang terjadi di meja ijab kabul. Apalagi saat melihat putranya dipukuli bertubi tubi oleh calon istrinya.

Suasana sangat ricuh terutama di meja.akad nikah. Para tamu undangan saling bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi. Kericuhan makin bertambah saat Pak Ginanjar tiba tiba jatuh ke lantai dengan diara keras.

"papi .. Papi." Fara berteriak histeris memanggil papanya yang sudah tidak sadarkan diri sambil tangannya berada di atas dada kiri. Wajah Pak Ginanjar terlihat sudah membiru.

Terpopuler

Comments

Okto Mulya D.

Okto Mulya D.

Ya Allah, kasihan pak Ginanjar. Fauzan sihhh pinter tapi bodoh, harusnya tuh dari awal tanggal dimundurkan...ngeyelll

2024-12-13

0

Nur Hidayah

Nur Hidayah

cintanya dikamu fara tp jodohnya dibtari semua hrs sbr & iklas

2024-12-25

0

lihat semua
Episodes
1 1. Pasien yang tidak diharapkan
2 2. Digerebeg
3 3. pernikahan grebekan
4 4. Hidup sendiri sendiri
5 5. Tentang Dr Fauzan
6 6. laporan bulan pertama
7 7. laporan bulan kedua
8 8. Menikah lagi
9 9. Ricuh
10 10. Pernikahan yang batal
11 11. Menemui Fara
12 12. Penilaian yang salah
13 13. Penolakan Btari
14 14. Sekelumit tentang Btari
15 15. Umi Khadijah bertemu Btari
16 16. Perjuangan Fauzan
17 17. tidak bisa melupakan
18 18. Rencana pembatalan nikah
19 19. Pertengkaran pertama
20 20. Memulai hidup baru
21 21. Statusmu kini anggota keluarga Maulana
22 22. Hidup satu atap bersama
23 23. Pesona Fauzan
24 24. Rumitnya hati Fauzan
25 25. Pilihan untuk Fauzan
26 26. Balasan untuk Fara
27 27. Akal licik Fara
28 28. Rencana nikah siri
29 29. Undangan makan bersama
30 30. Jangan ngelunjak
31 31. Dua sejoli
32 32. Pernyataan cinta
33 33. Makan malam atau pesta?
34 34. Tasyakuran pernikahan
35 35. Tangis Fara
36 36. Kekecewaan Fara
37 37. Mulai oleng
38 38. Surga dunia
39 39. Pagi yang melelahkan
40 40 Niat Farid
41 41. Nyonya Fauzan
42 42. WAR
43 43. Rencana busuk
44 44. Pertunjukan dimulai
45 45. sandiwara bodoh
46 46. Pelampiasan kemarahan
47 47. Terkena getahnya
48 48. Bakat istimewa
49 49. Dibatalkan
50 50. Kembalinya ummu Azizah
51 51. Penantian
52 52. Pengkhianat
53 53. Tidak berselera
54 54. Misi yang sukses
55 55. Resiko punya suami tampan dan kaya
56 56. Badai dalam rumah tangga
57 57. Aku juga istrinya Fauzan
58 58. Tidak sah
59 59. Hanya pasien
60 60. Fara hamil
61 61. Pesan atau curhat?
62 62. Sudah menjadi candu
63 63. Pribadi ganda Fauzan
64 64. Wanita pendusta
65 65. Pernikahan semu
66 66. Terusir
67 67. Kadang di atas kadang di bawah
68 68. Olahraga sore
69 69. Cerita kedua orangtua Btari
70 70. Dua manusia tidak bermoral
71 71. Sekelumit cerita tentang Endang Suningsih
72 72. Bertekad pergi
73 73. Perlawanan bu Endang
74 74. Pernikahan impian
75 75. Rencana Endang
76 76. Pesta pernikahan Farina
77 77. Keluarga toxic
78 78. Selamat Tinggal
79 79. Resmi Berpisah
80 80. Penyesalan Supardi
81 81. Ada yang mau ngajak balikan
82 Arak arakan pengantin heboh
83 83. Mencari Btari
84 85. Seandainya waktu bisa diputar kembali
85 86. Kehamilan simpatik
Episodes

Updated 85 Episodes

1
1. Pasien yang tidak diharapkan
2
2. Digerebeg
3
3. pernikahan grebekan
4
4. Hidup sendiri sendiri
5
5. Tentang Dr Fauzan
6
6. laporan bulan pertama
7
7. laporan bulan kedua
8
8. Menikah lagi
9
9. Ricuh
10
10. Pernikahan yang batal
11
11. Menemui Fara
12
12. Penilaian yang salah
13
13. Penolakan Btari
14
14. Sekelumit tentang Btari
15
15. Umi Khadijah bertemu Btari
16
16. Perjuangan Fauzan
17
17. tidak bisa melupakan
18
18. Rencana pembatalan nikah
19
19. Pertengkaran pertama
20
20. Memulai hidup baru
21
21. Statusmu kini anggota keluarga Maulana
22
22. Hidup satu atap bersama
23
23. Pesona Fauzan
24
24. Rumitnya hati Fauzan
25
25. Pilihan untuk Fauzan
26
26. Balasan untuk Fara
27
27. Akal licik Fara
28
28. Rencana nikah siri
29
29. Undangan makan bersama
30
30. Jangan ngelunjak
31
31. Dua sejoli
32
32. Pernyataan cinta
33
33. Makan malam atau pesta?
34
34. Tasyakuran pernikahan
35
35. Tangis Fara
36
36. Kekecewaan Fara
37
37. Mulai oleng
38
38. Surga dunia
39
39. Pagi yang melelahkan
40
40 Niat Farid
41
41. Nyonya Fauzan
42
42. WAR
43
43. Rencana busuk
44
44. Pertunjukan dimulai
45
45. sandiwara bodoh
46
46. Pelampiasan kemarahan
47
47. Terkena getahnya
48
48. Bakat istimewa
49
49. Dibatalkan
50
50. Kembalinya ummu Azizah
51
51. Penantian
52
52. Pengkhianat
53
53. Tidak berselera
54
54. Misi yang sukses
55
55. Resiko punya suami tampan dan kaya
56
56. Badai dalam rumah tangga
57
57. Aku juga istrinya Fauzan
58
58. Tidak sah
59
59. Hanya pasien
60
60. Fara hamil
61
61. Pesan atau curhat?
62
62. Sudah menjadi candu
63
63. Pribadi ganda Fauzan
64
64. Wanita pendusta
65
65. Pernikahan semu
66
66. Terusir
67
67. Kadang di atas kadang di bawah
68
68. Olahraga sore
69
69. Cerita kedua orangtua Btari
70
70. Dua manusia tidak bermoral
71
71. Sekelumit cerita tentang Endang Suningsih
72
72. Bertekad pergi
73
73. Perlawanan bu Endang
74
74. Pernikahan impian
75
75. Rencana Endang
76
76. Pesta pernikahan Farina
77
77. Keluarga toxic
78
78. Selamat Tinggal
79
79. Resmi Berpisah
80
80. Penyesalan Supardi
81
81. Ada yang mau ngajak balikan
82
Arak arakan pengantin heboh
83
83. Mencari Btari
84
85. Seandainya waktu bisa diputar kembali
85
86. Kehamilan simpatik

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!